CHAPTER TIGA PULUH DUA

1605 Kata
Ilana menatap guru fisika yang baru saja masuk ke dalam kelas. Setelah memberikan salam, guru wanita itu berdiri di depan mejanya dan memindai sekeliling. Wanita berpakaian rapi itu bilang bahwa ia akan memberitahukan siapa yang mendapatkan nilai paling tinggi dalam ulangan beberapa hari yang lalu. Ilana yang sejak pagi sudah merasa tidak tenang, semakin gelisah. Ia memilin jari-jarinya yang mulia berkeringat. Kelas mendadak terasa hening. Ia tahu tidak hanya dirinya yang menantikan ini, tapi juga Nadine dan Joseph, juga anak-anak lain yang penasaran. Ilana tidak siap. Sungguh. Ia tidak siap jika pada akhirnya ia akan kembali ke posisi tiga. “Nilai tertinggi untuk ujian fisika kemarin didapat oleh… Joseph.” Ilana menghela napas kasar. Tubuhnya terasa lemas seakan tulang-tulangnya patah. Ia tahu bahwa ia tidak akan lagi mendapat posisi pertama. Tapi entah kenapa rasanya tetap mengecewakan. Ia pikir ia sudah cukup mengerti dan berpikir bahwa mendapatkan hasil yang didapat dengan jujur jauh lebih baik dibanding dengan berbuat curang. Wajah yang pertama kali hadir di otaknya adalah wajah ibunya. Ia menelan ludah dan memikirkan bahwa nanti, ibunya pasti akan marah besar. Ilana telah memberikan ibunya harapan. Dan saat harapan ibunya semakin besar, Ilana menghancurkannya. “Setelahnya ada Ilana, lalu Nadine.” guru itu menyambung kalimat sebelumnya. Tak hanya Ilana yang kecewa. Tapi juga Nadine. Lagi-lagi, ia tidak bisa mendapatkan nilai tertinggi. Ia sebenarnya tidak terlalu kaget. Dengan semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini, ia tahu bahwa hal itu mengambil sebagian fokusnya. Tapi ia selalu berusaha optimis dan percaya bahwa ia akan bisa bertahan. Namun ternyata ia salah. Lagi, ia harus puas ada diposisi ketiga. *** Ilana tak makan siang. Saat bel istirahat berbunyi, ia memutuskan untuk naik ke lantai paling atas dan masuk ke dalam ruangan favoritnya. Ruangan paling ujung yang ada di dekat pintu menuju rooftop. Ia bergerak mondar-mandir di ruangan itu sambil menggigiti kuku jarinya. Kakinya menghentak-hentak lantai keramik ruangan itu. Untuk pertama kalinya, gadis itu merasa tak takut jika ada orang yang mendengar suaranya di dalam ruangan itu. Baginya, tidak ada yang lebih menakutkan dibanding amukan dan pukulan ibunya. Saat ini, ibunya mungkin sudah tahu jika ia tidak mendapatkan nilai tertinggi. Entah gurunya yang memberitahu atau ibunya bertanya, yang jelas informasi itu sudah sampai ke telinga ibunya. Ilana sudah bisa menebak bahwa saat ini, ibunya sedang berdiri mondar mandir di ruang tamunya. Ibunya pasti sama gelisahnya dengan dirinya. Ibunya mungkin sedang mencoba menenangkan diri karena amarah sudah menguasainya. Ibunya mungkin sedang berpikir akan melakukan apa untuk menghukumnya. Ilana mendesah lalu menjatuhkan diri di sofa yang ada di sana. Ia menarik napas dalam-dalam. Ia harus menyiapkan diri. Ia telah memutuskan untuk menerima semua yang akan terjadi jika ia tidak berhasil mendapatkan nilai tertinggi. Ia telah menguatkan tekad untuk tak pernah merasa menyesal karena memilih jujur. Ilana mengangguk saat merasakannya hatinya mulai tenang. Ia sadar bahwa ini bukan pertama kalinya kemarahan ibunya akan mendatanginya. Ia telah merasakan itu begitu lama dan ia sudah terbiasa, sebelum akhirnya ia berbuat curang dan mendapatkan apa yang ibunya inginkan. Sejak saat itu, ia merasa harus berusaha kembali membiasakan diri. Ia telah merasakan bagaimana ibunya memperlakukannya dengan begitu baik sehingga ia perlu lebih keras untuk menyadarkan diri bahwa ia akan bisa melalui ini. Bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Ilana hanya perlu bersikap seperti biasanya. Mendengarkan, merasakan lalu melupakan. *** Nadine mengaduk-aduk nasi dalam nampannya. Ia telah berusaha untuk menyembunyikan perasaan kecewanya di depan Joseph dan Emma yang ada di depannya. Tapi ia tidak berhasil. Ia tidak bisa bersikap biasa saja padahal perasaannya tak enak. Emma dan Joseph saling pandang saat melihat bahwa Nadine sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Sejak Nadine berada di posisi ketiga dalam ulangan bahasa Inggris, mereka berdua tahu bagaimana gadis itu belajar lebih keras agar tidak pernah lagi merasakan ada di posisi ketiga. Wajar saja jika gadis itu kecewa. “Usahamu tidak sia-sia. Ini karena beberapa hal yang terjadi padamu belakangan ini.” kata Emma yang membuat Nadine langsung menengadah. Nadine tersenyum kecil. Merasa tak enak karena keduanya pasti mengetahui bagaimana perasaannya. “Aku tidak apa-apa. Hanya sepertinya… perlu membiasakan diri.” kata Nadine sambil mengambil nasi dengan sendok dan memasukkannya ke dalam mulut. “Jangan biasakan diri. Kamu harus mempertahankan apa yang perlu kamu pertahankan.” kata Joseph sambil menatap Nadine yang terdiam. “kalau kamu membiasakan diri, kamu mungkin akan lengah dan keluar dari tiga besar.” *** Ilana sudah tidak bisa menangis meski ibunya sudah menamparnya dua kali dan menyerukkan sumpah serapah yang sudah memenuhi telingannya. Ia bisa. Ia ternyata lebih tegar dari yang ia perkiraan. Ia masih terduduk di depan ibunya yang tampak belum puas memarahinya. “Kenapa kamu mengecewakan Mama lagi, Ilana?” Helen menjambak rambut Ilana hingga gadis itu menengadah dan menatapnya. “kemarin kamu sudah melakukan yang terbaik. Kenapa sekarang kamu begini lagi?” Helen tidak bisa menyembunyikan nada jengkel dalam suaranya. Ilana menatap wajah ibunya yang sudah memerah dan tatapan tajamnya yang terasa menusuk tepat ke manik matanya. “Ilana tidak pernah melakukan yang terbaik.” kata gadis itu dengan nada lirih. “Apa maksudmu?” “Ilana mencuri soal bahasa Inggris, makanya Ilana bisa mendapatkan nilai sempurna saat itu.” kata gadis itu akhirnya. Ia tidak lagi bisa menyimpan itu dan membohongi ibunya. Ia tidak ingin lagi memberi harapan pada ibunya. Ia ingin ibunya tidak lagi berekspektasi terlalu tinggi karena nilai bahasa Inggrisnya yang sempurna. Ia ingin wanita itu sadar bahwa memang hanya segini kemampuannya. Tarikan di rambut Ilana mengendur hingga akhirnya terlepas sepenuhnya. “mencuri soal?” Helen mengulang salah satu kalimat gadis itu. Ia melihat gadis itu mengangguk. “Lalu… kenapa kamu tidak melakukannya lagi?” tanya Helen yang langsung membuat Ilana menatapnya tatapan tidak percaya. Ia tahu bahwa ibunya memang sudah segila itu obsesinya. Tapi ia benar-benar tidak menyangka jika wanita itu benar-benar menyuruhnya kembali mencuri soal. Melakukannya sekali saja sudah membuatnya dihantui rasa bersalah yang begitu besar. Ilana menggeleng. “Ilana tidak mau. Ilana tidak akan lagi berbuat curang dengan alasan apapun.” Ilana tidak tahu darimana ia punya keberanian itu. “Kamu sudah melakukannya sekali. Pasti akan lebih mudah untuk kedua kali dan seterusnya.” kata Helen. “Tidak.” kata Ilana. “aku bisa lebih baik dari itu.” “Lebih baik katamu?” Helen mencengkeram lengan anaknya. “kalau kamu bisa lebih baik, kamu tidak akan kalah dari Joseph.” Ilana meringis saat merasakan cengkraman di lengannya menguat. “Lakukan lagi, Ilana. Lakukan apapun demi mendapatkan nilai tertinggi.” paksa Helen. Ilana yang tadinya sama sekali tidak ingin menangis, akhirnya merasakan matanya berkaca-kaca saat mendengar ibunya mengatakan itu. Sekali lagi, ia menyadari bahwa ibunya sama sekali tidak peduli padanya. Bahwa ibunya hanya mementingkan nilai dan tidak pernah mengerti perasaannya. Satu titik air mata Ilana jatuh. Ia tidak pernah merasa tidak diinginkan seperti ini. Ibunya tidak pernah tahu bagaimana ia menanggung beban akibat kecurangannya. Ibunya tidak tahu bagaimana kecurangan itu terus membayanginya, bahkan saat ia tidur. Ibunya tidak pernah tahu dan tidak mau tahu. Ilana menggeleng. Ia sudah muak. Selama ini, ia sudah cukup menuruti semua keinginan ibunya hingga mengabaikan keinginan dirinya sendiri. “Ini bukan pertanyaan, Ilana. Ini permintaan.” kata Helen. Ia masih tidak ingin menyerah. Ia tidak pernah menyangka bahwa hasil terbaik yang anaknya dapatkan adalah hasil mencuri soal. Ia tidak pernah membayangkan Ilana akan sanggup melakukan itu. Namun seperti katanya, ia tidak peduli pada proses gadis itu. Yang ia perlukan hanya hasil yang sesuai dengan keinginannya. “Ilana tidak mau. Ilana sudah cukup merasa bersalah atas kecurangan kemarin. Ilana merasa sangat buruk.” jelas gadis itu diselingi isak tangis, yang sama sekali tidak menyentuh hati Helen. “Kamu tidak punya pilihan. Kamu yang telah memilih jalan itu, dan nyatanya kamu tidak bisa menjadi yang terbaik tanpa berbuat curang.” papar Helen. “Kalau Mama memaksa, Ilana akan bilang pada Miss Elina jika Ilana mencuri soal itu.” saat Ilana mengatakan itu, satu tamparan mengenai pipinya. Panas langsung menjalar di pipinya. “Jangan coba-coba.” Helen melotot, menatap Ilana yang semakin sulit dikendalikan. Ia tidak mengerti apa yang merasuki anaknya sehingga ia berpikir untuk mengancurkan hidupnya dengan mengakui kesalahannya. "jangan coba-coba jika kamu tidak ingin hidupmu hancur." “Hidup Ilana sudah hancur, Ma. Hidup Ilana sudah hancur karena semua obsesi Mama.” Ilana tak kuat lagi. Ia tidak mengerti darimana ia mendapatkan keberanian untuk melawan ibunya. Tapi ia tidak ingin berhenti. Lain kali ia belum tentu memiliki keberanian seperti ini lagi. Helen menarik napas panjang saat ia tahu bahwa anaknya sedang dalam kondisi tak stabil. Ia sadar bahwa pembicaraan mereka tidak akan menemui kesepakatan yang sama. “Masuk ke kamar.” perintah Helen. Ilana sekuat tenaga menahan tangisnya. Ia berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya, meninggalkan ibunya yang masih berada di ruang tamu. Ilana kembali menangis saat ia sampai di kamarnya. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuknya dan kembali terisak. Ilana tidak pernah ingin hidup seperti ini. Sungguh, ini bukan hidup yang ia inginkan. Ia ingin hidup seperti anak seusianya. Ia tidak peduli dengan yang lainnya, ia hanya ingin memiliki ibu yang bisa menyayanginya. Ia merasa beban ini terlalu berat untuknya. Ia tidak sanggup menanggungnya lagi. Wajah Elena tiba-tiba terlintas di pikirannya. Tangis gadis itu, wajah kelelahannya, wajah murungnya. Ia kini benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi gadis itu. Tidak terhitung berapa kali ia mendengar kata menyerah dari mulut Elena. Namun gadis itu tidak benar-benar menyerah, demi dirinya. Gadis itu tahu jika ia menyerah, semua obsesi ibunya akan dilimpahkan padanya. Tapi kini ia tidak sanggup lagi. Ia tidak akan lagi menuruti semua keinginan ibunya. Kini ia ingin hidup untuk dirinya sendiri. Ia ingin melepaskan tali yang telah lama mengikat lehernya. Ia ingin mengambil kebebasan yang telah lama direnggut darinya. Ia akan mulai memberontak. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN