Joseph masuk ke kafetaria bimbingan belajarnya dan langsung melihat Ilana yang sedang duduk di salah satu meja seorang diri. Joseph mendekat ke kasir untuk memesan satu cup es kopi lalu memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada perempuan berseragam itu. Joseph menerima kembalian lalu menunggu hingga pesanannya siap.
Setelah mendapatkan cup pesanannya, ia tidak ragu untuk mendekati meja Ilana. Gadis itu menengadah namun tak protes saat melihat Joseph duduk di depannya.
Ilana mengembalikan fokusnya pada benda pipih di tangannya. Joseph menyesap isi cupnya melalui sedotan yang mencuat di tengah lalu memerhatikan Ilana yang hari ini memakai kaos berwarna merah dengan rambut panjangnya yang di kuncir kuda. Gadis itu diam seperti biasa.
“Aku mau berterima kasih untuk kejadian di kantin tadi.” Joseph yang akhirnya membuka pembicaraan. Ilana menyadarkannya bahwa jika ia memukul laki-laki itu sampai babak belur pun, ia melakukan hal yang sia-sia. Keenan akan sangat senang karena akhirnya ia mengikuti permainan laki-laki itu. Keenan senang kalau akhirnya ia marah. Keenan merasa berhasil. Keenan tidak langsung membalas setiap ia memukulnya karena laki-laki itu ingin bermain-main lebih lama dengannya. Namun Nadine dan Ilana menganggalkannya. Menahannya untuk tak lepas kendali.
Melalui cerita Emma, ia bahu tahu jika Keenan sama sekali tidak suka diabaikan. Laki-laki itu tidak suka jika umpan yang ia berikan sama sekali tidak menarik korbannya. Atas dasar itulah, ia dan Nadine berpikir bahwa hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah mengabaikannya. Menutup kedua telinga dan berlaku seolah-olah semua itu sama sekali tidak pernah terjadi. Mereka berjanji untuk selalu berjalan dengan tubuh tegap dan percaya diri.
Ilana menengadah. Ia menatap Joseph lalu mengangguk dan mengembalikan fokusnya pada benda pipih di sebelah tangannya.
Selama beberapa saat, suasana terasa sangat canggung. Joseph begidik membayangkan bagaimana Ilana bisa hidup seperti itu. Gadis itu sepertinya memang memiliki kehidupan sosial yang buruk, lebih buruk dari Nadine yang kini mulai bisa membuka diri.
“Kamu sudah lama belajar di sini?” Kembali, Joseph membuka pembicaraan. Berharap kecanggungan itu mencair. Namun sepertinya sia-sia karena ia melihat gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban tercepat.
Joseph menghela napas berat, “apa kamu memang selalu seperti ini?” pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Joseph.
Ilana lalu menengadah dan menatap Joseph kerutan di dahinya. Ia diam, menunggu laki-laki itu menjelaskan maksudnya.
“Maksudku… selalu diam. Jarang berbicara. Fokus pada duniamu sendiri.” kata Joseph akhirnya.
Ilana masih terdiam. Ia mencerna kalimat demi kalimat yang masuk ke telinganya. Ia bingung bagaimana harus menjawab itu. Haruskan ia menjawab karena ibunya melarangnya terlalu dekat dengan siapapun. Atau karena ia tidak ingin orang tahu lebih dalam kehidupannya yang menyedihkan. Atau karena ia memang sepertinya lupa bagaimana cara menjalin hubungan dengan orang lain. Ilana telah lama merasa hidup sendiri. Ilana tidak pernah bergantung pada orang lain dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ilana pernah merasakan punya sahabat, namun itu sudah lama sekali dan ia sudah lupa bagaimana rasanya. Satu-satunya yang agak dekat dengannya hanya teman sebangkunya. Itupun, mereka juga hanya berbicara jika ada hal yang perlu dibicarakan. Selebihnya, Ilana fokus pada dirinya sendiri, buku pelajaran juga ponselnya.
“Ya… aku memang seperti itu.” Ilana akhirnya mengatakan itu karena bingung harus menjawab seperti apa.
“Kenapa?” Joseph tidak tahu kenapa ia mengeluarkan kata itu. Tapi ia tidak menyesal karena ia tidak bisa mengenyahkan rasa penasarannya kali ini.
“Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kamu menanyakan itu.” kata Ilana. Memberitahu Joseph secara tidak langsung bahwa ia tidak menyukai pertanyaan itu.
“Maaf… aku hanya… penasaran.” kata Joseph akhirnya. Ia berdehem pelan lalu menyesap kembali isi cupnya yang tinggal setengah.
“Joseph.” suara yang melengking itu membuat Joseph dan Ilana menoleh ke asal suara. Mereka berdua melihat Emma tersenyum lebar sambil mendekat ke meja mereka.
“Hai… Ilana.” sapa Emma dengan ramah saat ia duduk di samping Joseph. Ilana hanya mengulas senyum tipis. “ah, kepalaku panas.” Emma mengeluh sambil memegang kepala dengan sebelah tangannya. Axel sedang sibuk akhir-akhir ini sehingga ia yang tidak punya banyak kegiatan diluar sekolah, akhirnya pergi ke tempat lesnya. Di tempat ini, setidaknya ia punya teman yang bisa diajaknya mengobrol.
“Kalau kamu rajin belajar, kamu akan terbiasa.” kata Joseph. Ia melihat Emma langsung menggeleng pelan.
“Cukup kamu saja yang bersaing dengan Nadine dan Ilana di kelas. Aku tidak mau.” kata Emma. Ilana menengadah lalu menatap Emma yang langsung menunjukkan seraut wajah menyesal.
“Maksudku… kalau aku rajin belajar lalu tiba-tiba jadi pintar, aku bisa masuk dalam pusara persaingan kalian.” papar Emma.
“Aku tidak pernah punya niat bersaing dengan siapapun. Hasil yang aku dapatkan ya hasil belajarku, aku tidak pernah peduli nilaiku bagus atau tidak.” kata Joseph. Sungguh, kedua orangtuanya tidak peduli dengan nilai yang ia dapatkan. Orangtuanya hanya ingin ia selalu berbuat baik dan berpikir bahwa mereka tidak bisa memintanya menguasai semua mata pelajaran. Nilai yang ia dapatkan, tidak berasal dari tekanan dirinya sendiri ataupun orangtuanya. Ia hanya kebetulan pintar dan suka belajar.
Ilana kini menatap Joseph. Ia tidak tahu apa maksud keduanya membicarakan itu di depannya. Ia merasa bahwa keduanya sedang berusaha mengejeknya melalui obrolan itu.
“Ilana… ayo ikut kami ke restoran ramen yang ada di perempatan jalan. Ramen di sana katanya enak.” Ajak Emma. Sengaja mengubah pembicaraan saat melihat raut wajah Ilana tampak kesal. Ia tahu pembicaraan mereka mungkin menyinggung gadis itu dan ia sama sekali tidak bermaksud begitu.
“Sejak kapan kamu makan ramen?” Ilana bertanya. Ia tahu jelas bahwa gadis itu hanya makan buah dan sayur.
Emma terkekeh, “tentu saja tidak. Aku akan salad atau apapun yang bisa ku makan.” kata Emma.
“Kamu mengajak orang lain makan ke tempat enak, sedangkan kamu sendiri tidak bisa menikmatinya.” ujar Ilana.
“Aku tidak perlu makanan enak. Aku perlu ada di tempat yang ramai.”
“Kamu bisa pergi sendiri. Di sana sudah pasti ramai.” kata Ilana.
Emma berdecak, “aku tidak bisa mengobrol dengan sembarangan orang.” keluh gadis itu. Ia menatap Ilana dan menunjukkan raut wajah manis agar gadis itu mau ikut.
“Ayolah… biar lebih ramai.” kata Emma saat Ilana tampak tak akan memberi jawaban yang ia inginkan.
Joseph melihat gadis itu tampak berpikir, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Tapi Emma tidak menunggu jawaban gadis itu. Emma langsung berdiri lalu menarik tangan Ilana. Sedikit memaksanya untuk berdiri.
“Ayo… Joseph.” kata Emma yang langsung membuat Joseph ikut berdiri dan mengekori keduanya. Mereka bertiga berjalan menuju ke perempatan tak jauh dari tempat bimbingan belajar mereka. Joseph tidak pernah berpikir bahwa gadis itu akan menerima ajakan Emma. Dan entah kenapa Emma bisa tiba-tiba mengobrol seperti mereka sudah biasa melakukannya.
Emma membuka pintu kedai ramen itu dan menempati salah satu meja kosong dekat jendela. Setelah mereka duduk di sana, pelayan berseragam hitam itu menghampiri meja mereka dan memberikan tiga buah buku menu.
“Salad dan air mineral, satu.” kata Emma tanpa membuka buku menu. Membuat Joseph dan Ilana langsung menoleh ke arahnya. “tidak ada gunanya membuka buku menu.” kata Emma sambil terkekeh pelan. Setelah Ilan dan Joseph memesan, pelayan itu menyebutkan kembali pesanan mereka dan pergi dari sana.
Kedai ramen itu cukup ramai. Setengah meja yang ada di sana terisi. Pelayan hilir mudik mengantarkan pesanan dan membereskan meja.
Suasana terasa begitu canggung. Namun Emma berhasil membuat ketegangan itu mencair perlahan. Ilana masih tak banyak bicara. Ia membuka mulut hanya untuk mengobrol dengan Emma. Sedang Emma berusaha mencari topik yang bisa membuat Joseph dan Ilana ikut mengobrol.
Pesanan mereka datang bersamaan. Ilana menatap Emma dengan sepiring salad di depannya. Ia dan Emma pernah lumayan dekat saat berada di tahun pertama sekolah menengah pertama. Namun semenjak kematian kakaknya, Ilana mulai menjauh hingga seperti orang asing. Ilana tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu. Tapi gadis itu mengalami perubahan drastis yang sama sekali tidak ia sangka.
Dulu, gadis itu gemuk karena suka sekali makan. Kulit wajahnya gelap dengan rambut yang tampak tidak terawat. Sampai pada akhirnya, ia melihat perlahan gadis itu berubah. Bobot tubuh gadis itu perlahan turun, hingga akhirnya menjadi sekurus sekarang. Kulitnya pun semakin putih dan terawat. Gadis gemuk dengan wajah kusam yang dulu ia kenal tiba-tiba berubah menjadi gadis paling cantik di sekolah sampai saat ini. Dan setelah sekian lama, akhirnya ia tahu bahwa gadis itu mengurangi karbo dan makanan manis. Gadis itu sepertinya mendapatkan tubuh idealnya dengan mengorbankan makanan kesukaannya.
“Dulu kamu benci sayur.” kata Ilana di sela-sela makan mereka. Ia tidak akan pernah lupa saat Emma bilang bahwa ia benci sayur, saat Ilana menyuruhnya banyak makan sayur karena sehat.
Emma terkekeh. Setelah menelan isi mulutnya ia berkata, “aku mungkin membencinya sampai sekarang.” Emma meneguk air mineralnya, “tapi aku harus memakannya jika tidak ingin kelaparan.” tambahnya.
“Dia tidak pernah mendengarkan, saat aku bilang bahwa dia tidak akan langsung bertambah gemuk jika sesekali makan enak.” kata Joseph.
“Dia takut ketagihan.” kata Ilana yang langsung membuat Emma mengangguk.
“Benar. Aku takut tidak bisa berhenti dan semua usahaku sia-sia.”
Berada satu meja dengan orang lain terasa aneh bagi Ilana. Ia biasanya hanya seorang diri. Ia selalu pergi dari satu restoran ke restoran lain seorang diri. Memesan, makan lalu pulang. Ia tidak pernah makan sampai selama ini karena diselingi dengan obrolan.
Ia sendiri bingung kenapa ia menurut saat Emma menarik tangannya. Mereka tidak pernah mengobrol. Hanya gadis itu yang suka menyapanya dan hanya ia balas dengan senyum kecil. Mereka tidak pernah benar-benar seperti saat berada di tahun pertama sekolah menengah. Namun ia tahu bahwa saat itu, dirinyalah yang lebih banyak berubah. Dia menarik diri dan mulai suka menyendiri. Sedangkan Emma yang dulu terlihat agak pendiam mulai menebar pesonanya. Gadis itu berubah menjadi gadis ceria dan lebih percaya diri dengan perubahan fisiknya. Semua orang menyukai gadis itu. Mereka berdua sama-sama berubah dan berkebalikan.
Tapi Ilana sadar bahwa Emma tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Emma tidak berubah padanya. Gadis itu masih suka menghampirinya dan mengajaknya mengobrol. Tapi ia lah yang seakan akan menutup akses untuk gadis itu mendekat. Ia lah yang membentengi diri hingga perlahan keduanya menjadi semakin jauh.
Ini rasanya seperti bertemu teman lama. Bagi Ilana, Emma memang tidak berubah selain fisiknya yang semakin kurus dan cantik. Dan Ilana menyukainya. Ia suka saat ia punya hal lain untuk dipikirkan selain belajar. Ia merasa otaknya sedikit beristirahat dan ia berhenti mengkhawatirkan apapun.
***
Nadine sedang antre di kasir toko bahan-bahan kue dengan sebelah tangan membawa keranjang. Ia memang baru saja berbelanja kebutuhan kue sesuai list yang diberikan ibunya. Ia sudah mengelilingi toko yang memuat berbagai macam bahan kue itu hingga semua list dari ibunya terpenuhi.
Setelah orang di depannya menyelesaikan transaksi, ia maju dan menaruh kernajangnya di atas meja kasir. Ia membiarkan wanita berseragam itu menscan barcode di barang belanjaannya.
“Totalnya dua ratus tiga puluh lima ribu.” kata wanita itu. Nadine mengeluarkan tiga orang seratus ribuan lalu memberikannya. Setelah mendapatkan kembalian, ia membawa barang belanjaannya yang sudah di masukkan ke dalam plastik dan keluar dari toko.
Toko bahan kue itu tak jauh dari rumah sehingga memilih berjalan kaki. Ia menyusuri trotoar yang ramai. Mobil dan motor memenuhi halaman resto dan kedai yang berjejer di sebelahnya. Jalan raya tak kalah ramai.
“Nadine.” ia mendengar suara itu saat ia baru saja melewati sebuah minimarket. Nadine menoleh dan melihat Joseph yang berdiri di depan minimarket dengan sebelah tangannya memegang kantong belanjaan.
“Hai…” Nadine menyapa saat melihat laki-laki itu menghampirinya, alih-alih masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di pelataran minimarket.
“Dari mana?” Joseph bertanya saat ia sampai di depan gadis itu.
“Belanja bahan kue.” Nadine sedikit mengangkat kantong plastik di tangan kanannya. “kamu baru pulang les?” Nadine bertanya dan mulai melangkah saat melihat Joseph berjalan.
Joseph mengangguk, lalu melongok ke dalam kantong yang ada di tangannya.
“Mobilmu?” Nadine bertanya karena melihat laki-laki itu terus berjalan.
“Tidak apa-apa. Supirku akan berjalan mengikuti pelan-pelan.” kata Joseph tepat saat ia berhasil mengambil dua buah es krim dari dalam plastiknya. Ia memberikan salah satunya pada gadis di sebelahnya.
“Tidak. Itu pasti titipan adikmu.” kata Nadine.
“Iya. Tapi aku beli banyak.” kata Joseph. Masih mengulurkan es krim itu pada Nadine sambil terus berjalan.
Nadine akhirnya menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Kedua berjalan beriringan sambil memakan es krim dalam tangan masing-masing. Tak banyak yang mereka bicarakan selama perjalan.
Sejak foto-fotonya dan Joseph beredar sampai diedit sedemikian rupa, Nadine pernah berpikir untuk tak ingin lagi dekat dengan siapapun, termasuk Emma. Ia berpikir bahwa memang ia seharusnya seorang diri dan tidak pernah berteman dengan siapapun. Ia tahu bahwa semua orang yang dekat dengannya akan mendapat giliran untuk berurusan dengan Keenan. Nadine tidak ingin lagi mengecewakan orang yang ada didekatnya.
Namun, Emma dan Joseph tidak ingin lepas begitu saja. Keduanya selalu bilang bahwa apapun yang terjadi mereka akan selalu ada di sampingnya. Mereka bilang mereka akan menemaninya melewati semuanya. Untuk pertama kalinya, Nadine mendapatkan sumber kekuatan dari orang lain. Dan untuk pertama kalinya, Nadine merasa bahwa Joseph dan Emma benar-benar berharga baginya.
Mendekati ruko milik Nadine, Joseph pamit. Ia tidak ingin ibu gadis itu tahu bahwa ia mengenal anaknya. Ia tidak akan pernah melupakan raut wajah Mila yang terkejut saat melihatnya pulang ke rumah masih dengan seragam lengkapnya. Wanita itu pasti tidak menyangka jika ia dan anaknya belajar di sekolah yang sama. Ia melihat sedikit raut wajah khawatir dalam tatapan wanita itu. Mungkin wanita itu berharap bahwa ia tidak mengenal anaknya, atau ia tidak tahu pasti apa yang ada di pikirannya.
TBC
LalunaKia