CHAPTER TIGA PULUH

2396 Kata
Helen menatap pintu rumahnya yang terbuka. Ia melihat Ilana masuk dan memberikan salam. Gadis itu hanya menatapnya sekilas dengan tatapan datar “Ada ujian fisika besok?” Helen bertanya dan melihat gadis itu mengangguk. Gadis itu masih berdiri di depan tangga. Ilana memang selalu diam dan tidak pernah menceritakan apa yang terjadi di sekolahnya. Itu yang membuatnya sejak Ilana sekolah selalu berusaha untuk dekat dengan guru-guru di sekolah anaknya. Ia tidak segan memberikan makanan atau barang-barang untuk guru-gurunya dengan imbalan informasi. Cukup berhasil karena guru-guru itu selalu menghubunginya jika akan ada ujian, tugas atau yang lainnya. Guru-guru Ilana juga selalu memberitahukan nilai gadis itu padanya. Hal yang membuat ia lebih tahu apa yang terjadi di sekolah dibanding orangtua lainnya. “Belajarlah. Mama yang akan mengantar makan malam ke kamarmu.” kata Helen. Ia melihat anaknya mengangguk lalu berjalan menaiki tangga. Ia menatap punggung gadis itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya. Helen merasa wajar jika anaknya tidak suka berbicara. Pasalnya, gadis itu memang tidak memiliki banyak teman. Ia yang sengaja melarang gadis itu untuk berteman terlalu dekat dengan seseorang, karena baginya itu tidak penting dan hanya akan mengganggu fokus gadis itu untuk belajar. Ia ingin anaknya mencurahkan semua fokusnya pada sekolahnya. Ia telah berusaha agar gadis itu tak merasa kesepian. Ia memberikan gadis itu gadget terbaru, pakaian, sepatu, jam dan tas model terbaru, kartu kredit tanpa batas dan tak pernah marah dengan apa saja yang gadis itu beli. Ia memenuhi semua kebutuhan gadis itu agar gadis itu lebih bersemangat dalam belajar. Ia berpikir bahwa ia sudah memberikan semua yang terbaik untuk Ilana. Itu adalah alasan kenapa ia selalu marah jika Ilana tidak berhasil mendapatkan posisi pertama. Ia merasa bahwa semua yang ia berikan sia-sia. Ia selalu ingin Ilana memberikan yang terbaik untuknya, seperti ia yang juga berusaha memberikan semua yang terbaik untuk gadis itu. Namun nyatanya sampai saat ini, Ilana belum juga dapat mewujudkannya. Selama di sekolah menangah pertama, gadis itu selalu berhasil mendapatkan peringkat pertama. Gadis itu juga selalu mendapatkan nilai tertinggi dalam semua tugas dan ujian. Namun saat disekolah menengah atas, ia tidak mengerti apa yang terjadi pada anaknya. Gadis itu bahkan tidak bisa satu tahun saja mengungguli Nadine. Gadis itu selalu ada di bawah Nadine dan membuatnya kesal setengah mati. *** Ilana sudah setengah jam berada di meja belajarnya. Buku dan catatan fisikanya terbuka namun ia sama sekali tidak menyentuhnya. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ada banyak hal yang berputar di otak kecilnya. Ia ketakutan menghadapi hari esok. Ia membayangkan tidak akan dapat mengerjakan soal fisika secara sempurna. Ia takut dengan ibunya, juga penilaian teman-temannya. Ia takut jika teman-temannya mengejeknya karena tak lagi bisa melampaui Nadine. Ilana tidak pernah menyangka bahwa semuanya akan menjadi sebesar ini. Ia tidak menyangka bahwa semuanya akan berbuntut panjang. Ia tidak pernah memikirkan efeknya akan sebesar ini pada dirinya. Ilana menghela napas lalu menggeleng. Memikirkan semuanya bukan jalan keluar. Tidak akan ada yang dapat menyelesaikan masalahnya jika ia hanya terus memikirkannya. Ia akhirnya menatap buku fisika di depannya. Ia tidak punya hal lain yang bisa ia lakukan selain berusaha. Ya. Ia tidak akan lagi mengkhawatirkan semua. Ia telah berjanji bahwa ia tidak akan melakukan hal curang lagi. Semua yang akan terjadi adalah sesuatu yang harus ia tanggung akibat kesalahannya. Ilana fokus pada materi fisika yang akan keluar dalam ujian. Ia terus berusaha memahami rumus dan menguraikan beberapa soal yang ada di bukunya. Ia terus belajar kendati waktu terus menunjukkan waktu semakin malam. Ia berkutat dengan buku-bukunya sampai jam menunjuk pukul dua pagi. Jam itu terlihat saat ia mulai tak bisa menahan kantuknya. Ia menguap lalu merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Sekali lagi, ia menatap rumus-rumus juga materi-materi fisika yang ada di bukunya. Ia menghela napas panjang lalu memutuskan untuk beristirahat. Setelah membereskan buku-bukunya dan menyiapkan jadwal esok, ia menjatuhkan bobotnya ke atas ranjang dan langsung terlelap. *** Rumor itu menggulung semakin besar seperti bola salju. Nadine merasa ada yang aneh saat ia baru saja menyusuri koridor lantai satu. Tatapan yang baginya sangat sulit diartikan. Ia tidak tahu apa saja yang sudah terjadi sepagi ini sehingga tatapan seperti itu di arahkan padanya. Nadine menghela napas dan berusaha menegakkan wajahnya. Tidak peduli tatapan mereka semua terasa menelanjanginya, ia perlu percaya diri untuk membentengi dirinya. Ia menaiki tangga menuju lantai tiga. Saat mencapai anak tangga paling atas, ia menatap papan pengumuman yang dipenuhi oleh anak-anak. Lalu tiba-tiba saja semua mata yang ada di sana menghujamnya. Nadine menelan ludah. Seperti ia tahu bahwa sebentar lagi akan ada bola api yang menghantamnya. Mencoba mengabaikan tatapan itu, Nadine berjalan mendekati papan pengumuman itu. Melihat kedatangannya, beberapa orang yang tadi memenuhi tempat itu sambil berbisik-bisik langsung menyingkir, ada juga yang langsung pergi dari sana. Nadine menatap papan pengumuman itu. Matanya menatap beberapa foto yang terpajang di sana. Foto-fotonya bersama Joseph. Ada foto di mana ia hendak naik ke mobil laki-laki itu, beberapa foto saat mereka duduk di taman di dekat rumahnya, juga foto ia dan Joseph di restoran. Tunggu… itu adalah foto saat Emma mentraktirnya makan. Tapi sosok Emma tak ada dalam foto itu. Hanya ada dirinya dan Joseph yang duduk berhadapan dengan senyum tersungging di bibir masing-masing. Ia menggeleng. Ini tidak benar. Ia tidak mengerti kenapa foto-foto itu ada di sini. Dan yang lebih parah, salah satu foto itu di edit seolah-olah hanya mereka berdua yang ada di sana, padahal mereka bertiga dengan Emma. Sebelah tangan gadis itu terulur untuk mencabut foto-foto itu dari papan pengumuman. Ia tidak perlu bertanya-tanya siapa yang menempel ini karena ia sudah tahu jawabannya. Pertemuannya dengan Keenan kemarin ternyata semakin memperburuk keadaan. Laki-laki itu benar-benar tidak melunak. Sepertinya memang tidak ada yang bisa menghentikan laki-laki itu. Meski ia melawan sampai titik darah penghabisan pun, laki-laki itu tidak akan menghentikan apa yang ia mulai begitu saja. Laki-laki itu tidak akan menghentikan sesuatu yang terasa menyenangkan buatnya. Laki-laki itu memang tidak punya hati. Saat Nadine membalik badan, ia langsung berhadapan dengan Joseph yang berdiri di belakangnya, entah sejak kapan. “Keenan?” Joseph bertanya sambil mengulurkan sebelah tangannya. Nadine memilih mengangkat bahunya, namun tetap memberikan apa yang laki-laki itu minta. Joseph menatap foto-foto dalam tangannya dengan amarah yang sudah memenuhi kepalanya. Rumor itu tidak bisa diredam dan sekarang malah semakin membesar. “Ini pasti ulahnya. Aku harus menemuinya.” Joseph sudah berbalik dan siap mencari keberadaan Keenan saat sebelah tangannya ditahan oleh Nadine. Gadis itu menggeleng. “Dia sudah keterlaluan. Dia jelas mengedit foto ini.” “Apa yang akan kamu lakukan padanya akan sia-sia.” kata Nadine. “Cih, dasar jalang.” seorang gadis lewat dan melirik ke arah tangan Nadine yang masih bertengger di lengan Joseph. Reflek, Nadine langsung melepas pegangannya. “Jaga mulutmu.” Joseph sedikit berteriak pada gadis yang baru saja melewatinya. “sudah begini dan kamu mau diam saja?” Joseph menatap Nadine yang menunjukkan raut wajah sulit diartikan. Nadine bukan diam saja. Tapi ia tahu bahwa apapun yang mereka lakukan pada Keenan tidak akan pernah berhasil. *** “Kenapa rumor itu semakin tidak terkendali?” Emma mendekati meja Joseph dan Nadine lalu membanting tasnya ke atas meja karena kesal. Nadine akhirnya menceritakan hal yang baru saja ia ceritakan pada Joseph. Bahwa kemarin ia menemui Keenan dan meminta laki-laki itu menghentikan semuanya. Dan setelah ia memohon untuk tak menyeret Joseph dalam masalah mereka, laki-laki itu benar-benar tidak mau mendengarkannya dan semakin menjadi-jadi. “Kalian tahu apa yang dibicarakan orang tentang kalian?” Emma menatap Nadine dan Joseph bergantian. Keduanya saling pandang lalu menatap Emma dengan raut kebingungan. “mereka berpikir kalian berdua sudah berhubungan…” Emma tidak sanggup melanjutkannya dan ia pikir keduanya akan mengerti maksudnya. “Maksudmu…?” Nadine menatap Emma yang mengangguk. “Lebih jelasnya, kamu melakukan itu demi uang.” kata Emma lagi yang langsung membuat Nadine terdiam. Seperti ada tumpukan es besar yang jatuh di atas kepalanya dan masuk ke otaknya sehingga ia sulit berpikir. “Tenanglah… tidak semua orang peduli dengan rumor itu.” kata Emma sambil mengusap sebelah tangan Nadine di atas meja. “mereka yang membicarakan dan membesar-besarkan hanya orang-orang yang tidak suka denganmu.” tambahnya. Nadine hanya tersenyum kaku. “Aku harus menemuinya.” kata Joseph pada Nadine. Memberitahu gadis itu bahwa ada yang perlu ia bicarakan pada Joseph. Tak peduli laki-laki itu mau mendengarkannya atau tidak. Tak peduli laki-laki itu mau berhenti atau tidak. Ia hanya perlu berbicara dengan laki-laki itu, atau mungkin melampiaskan kemarahannya. “Jangan.” larang Nadine. “Kalau kamu mau diam saja, silahkan. Tapi kali ini aku tidak akan diam saja.” *** Keenan sedang makan siang di kantin saat Joseph mendekatinya dan langsung duduk di depannya tanpa diminta. “Senangnya dapat tamu kehormatan.” kata Keenan saat melihat Joseph duduk di depannya. Ia menaruh garpu yang baru saja ia pakai untuk memakan dumpling lalu menyesap jus jeruknya. “Aku tidak datang ke sini untuk berbasa-basi.” kata Joseph langsung. Ia menatap Keenan yang menatapnya dengan tenang. Seakan laki-laki itu siap menerima amukannya, atau mungkin karena laki-laki itu sama sekali tidak peduli padanya. “Kebetulan… aku juga tidak suka berbasa-basi.” Keenan menaruh kedua sikunya di atas meja dan menatap Joseph lebih dekat. “Rumor yang kamu sebarkan sudah keterlaluan.” ujar Joseph. “orang-orang mengira Nadine menjual dirinya.” tambah Joseph. “Kenapa ambil pusing dengan rumor. Kalau namanya rumor, kan, belum tentu benar. Jelaskan saja kalau memang kenyataannya tidak seperti itu.” jawab Keenan dengan enteng. “Kami jelaskan sampai mulut kami berbusa pun, mereka tidak akan percaya.” kata Joseph. Kini nada suaranya sedikit meninggi. “Kalau begitu… mungkin itu memang benar.” jawab Keenan sambil mengedikkan bahu. Joseph berdiri, memajukan sedikit tubuhnya dan menarik kerah kemeja laki-laki itu. “Jaga mulutmu. Aku sudah cukup bersabar selama ini.” kata Joseph dengan nada pelan namun sarat tekanan. Keenan terkekeh. Sama sekali tidak takut dengan ancaman laki-laki itu. “Kalau kalian tidak bisa meyakinkan mereka, diam saja.” ujar Keenan. “rumor itu akan hilang dengan sendirinya.” Keenan masih mempertahankan sikap tenangnya. Cengkraman di kerah kemejanya juga belum mengendur dan Joseph masih menatapnya dengan tatapan tajam. “Kamu bahkan sengaja mengedit foto seakan-akan aku hanya berdua dengan Nadine. Padahal Emma juga ada di sana.” Joseph mengeratkan cengkramannya saat melihat laki-laki itu terkekeh pelan. “Aku hanya… iseng.” kata Keenan yang akhirnya membuat Joseph kehabisan kesabaran. Ia melayangkan satu tinjunya pada Keenan yang langsung jatuh dari kursinya. “Kamu mau memukulku sampai babak belur pun, aku tidak berhenti, Pirang.” kata Keenan sambil mengusap sudut bibirnya yang terasa nyeri. “aku akan melakukan apapun yang aku suka dan tidak ada satu orangpun yang dapat menghentikanku.” Joseph mendekati Keenan dan bersiap melayangkan satu pukulan lagi tepat saat sebelah tangannya tertahan. Ia menoleh dan menatap Ilana yang berdiri di sebelahnya. Sebelah tangan wanita itu menahan pukulannya pada Keenan. “Jangan melakukan hal yang sia-sia.” kata Ilana. Ia melepaskan tangannya saat merasakan otot tangan laki-laki itu melemas. “Wow… aku tidak menyangka kamu begitu populer.” kata Keenan. “Emma, Nadine dan sekarang Ilana.” Keenan melihat dua orang itu langsung menatap ke arahnya. Ilana mendesis lalu pergi dari sana. Dengan buku fisika yang ada di tangannya, ia pergi ke lantai paling atas dan masuk ke ruang favoritnya. Mata pelajaran fisika ada di jam terakhir sehingga ia masih punya waktu untuk mengulang semua materi yang sekiranya akan keluar di ulangan nanti. *** Emma, sebagai anak dengan pergaulan luas di sekolah itu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu dari teman-temannya. Itu menjadi sebuah kesempatan baginya untuk menjelaskan bahwa rumor itu sama sekali tidak benar. Gadis itu menceritakan dengan sabar mengenai hubungan mereka bertiga, juga foto editan itu. Emma tidak bosan menjelaskan setiap ada yang bertanya padanya. Ia tahu bahwa itu mungkin tidak berpengaruh besar, namun ia berharap cerita itu akan keluar dari mulut satu ke mulut lainnya sehingga tersebar luas. Ia tahu bahwa Nadine sudah cukup tertekan karena rumor itu. Ada beberapa orang yang meneriakinya dengan sebutan kasar seperti jalang, gadis memalukan, murahan dan yang lainnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menenangkan gadis itu. Nadine terlihat begitu tegar, namun ia tahu bahwa gadis itu jelas tidak baik-baik saja. Sekuat apapun Nadine terlihat tak acuh dengan orang-orang yang mengganggunya, ia tahu bahwa gadis itu sakit hati. Gadis itu hanya tidak ingin menunjukkannya. Gadis itu menyembunyikan semua perasaannya karena tidak ingin terlihat lemah. Emma tidak bisa menjanjikan apapun pada gadis itu. Ia hanya bilang bahwa semua akan berakhir. Rumor itu hanya akan berputar lalu menguap. Ia meminta Nadine percaya bahwa ia akan bisa melewati semuanya. Dan dalam prosesnya, ia dan Joseph akan selalu ada di samping gadis itu. *** Ilana sudah menyelesaikan semua soal, namun ia masih menahan kertas jawaban itu di mejanya. Ia membaca berulang-ulang jawabannya yang ia tahu tidak sempurna. Ada beberapa soal yang tidak begitu ia ingat jawabannya. Ia lalu menoleh pada Nadine yang duduk di bagian belakang. Gadis itu tampak fokus dengan lembaran soal dan jawaban di atas mejanya. Dengan semua yang sedang terjadi dengan gadis itu, akan sangat mengejutkan jika gadis itu bisa mendapatkan nilai tertinggi. Ia hanya berharap gadis itu lengah kali ini. Mendengar bagaimana orang-orang membicarakan Nadine memang cukup mengerikan. Mereka semua seakan percaya bahwa Nadine benar-benar berhubungan dengan Joseph demi uang. Memang tidak semua orang membicarakannya. Rumor-rumor itu hanya dibicarakan oleh orang-orang yang membenci Nadine. Seakan mereka senang membicarakan gadis itu di belakang. Tatapan gadis itu lalu beralih pada Joseph yang duduk di sebelah Nadine. Laki-laki itu sepertinya sudah selesai mengerjakan. Kertas soal dan lembar jawabannya sudah ditumpuk di sudut mejanya dan laki-laki itu sedang memainkan kuku jarinya. Tatapan mereka bersirobok saat Joseph menengadah dan menatapnya. Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat dengan raut wajah sulit diartikan. Ilana yang pertama kali memutus kontak tepat saat bel berbunyi. Ia dan teman-temannya yang lain berdiri dan mengumpulkan soal beserta kertas jawaban di meja guru. Nadine menghela napas saat ia keluar dari kelas. Ia tahu bahwa ia tidak mengerjakan soal itu dengan sangat baik. Ia telah belajar dengan sangat keras semalam dan rasanya semua menghilang saat pagi ini ia datang ke sekolah dan menyadari bahwa rumor mengenai kedekatannya dengan Joseph sudah menggulung begitu besar. Nadine tahu bahwa ini bukan usaha terbaiknya. Namun ia tidak bisa terus menerus seperti ini. Saat ia sadar bahwa Keenan tidak akan bisa berhenti, ia tahu bahwa ia harus benar-benar menutup telinganya. Ia tahu bahwa dengan seperti ini, Keenan akan semakin senang karena berhasil mempengaruhinya. Ia harus membuat semua yang Keenan lakukan terasa sia-sia. Itu satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk melawan laki-laki itu. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN