Mila keluar dari kamar lalu menatap pintu kamar anaknya yang masih terbuka setengah. Ia menoleh ke dalam kamar dan melirik jam dinding. Sudah jam setengah satu malam. Setelah ke kamar mandi, ia mendekati pintu kamar Nadine dan melihat gadis itu masih sibuk dengan buku-buku di atas meja lipatnya.
“Kamu perlu istirahat, Nadine.” kata Mila sambil membuka pintu lebih lebar dan masuk ke dalam kamar. Nadine menoleh dan hanya mengulas senyum tipis.
Mila tahu ada banyak kekhawatiran dalam benak anaknya. Gadis itu bercerita bahwa Ilana merebut posisinya sebagai nilai tertinggi dalam ulangan bahasa inggris. Tidak cukup, gadis itu menempati posisi ketiga. Gadis itu khawatir jika ia keluar dari tiga besar dan akan mendapatkan teguran dari pihak sekolah. Mila menyadari bahwa akhir-akhir ini anaknya belajar lebih keras dari biasanya.
“Nadine… tidak apa-apa untuk ada di posisi tiga, atau keluar dari tiga besar sesekali.” kata Mila saat ia duduk di samping anaknya. “yang harus kamu tahu, meski beasiswa kamu dicabut sekalipun, ibu akan berusaha untuk memastikan kamu tetap bisa melanjutkan sekolah di sana.” kata Mila lagi. Mila akan melakukan apapun demi anaknya. Nadine tidak pernah tahu bahwa Mila kerap merasa sedih saat menyadari bahwa Nadine tidak memiliki waktu untuk menikmati hidupnya seperti anak-anak sebayanya. Ia sedih melihat Nadine belajar terlalu keras, membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, kurang istirahat hanya demi mengurangi bebannya. Beban yang sebenarnya memang kewajibannya sebagai orangtua tunggal gadis itu.
Nadine menggeleng pelan. “Nadine melakukan ini karena Nadine suka. Nadine merasa aneh saat guru menyebutkan nama selain namaku sebagai peraih nilai tertinggi. Nadine tidak ingin itu terjadi lagi. Ini bukan semata-mata karena beasiswa. Nadine hanya merasa perlu mempertahankan hal yang telah lama menjadi milik Nadine.” kata gadis itu.
Mila mengangguk, ia mengambil sebelah tangan Nadine dan mengusapnya pelan. “Mama cuma nggak mau kamu kehilangan masa muda kamu. Hidup kita mungkin sangat jauh dari sebelumnya, tapi Mama yakin akan ada banyak hal menyenangkan yang bisa kamu lakukan.”
Nadine mengangguk lalu tersenyum kecil. “Nadine udah selesai. Mama juga istirahat, ya.” kata gadis itu. Mila mengangguk lalu mengecup pucuk kepala anaknya dan keluar dari kamar.
***
Nadine menuruni tangga dan melihat ibunya sedang sibuk menatap kue-kue ke dalam mika lalu memasukkannya ke dalam plastik. Etalase itu sudah penuh dengan kue-kue fresh namun rolling door belum dibuka.
“Kenapa Mama belum membuka toko?” Nadine bertanya saat ia sampai di anak tangga terakhir.
“Mama mau mengantar pesanan dulu.” kata Mila sambil memasukkan mika berisi kuenya ke dalam plastik.
“Ke mana?” Nadine bertanya lagi.
“Komplek di belakang.” jawab Mila. Akhir-akhir ini ia memang menerima lumayan banyak pesanan untuk acara-acara keluarga, dan beberapa di antaranya minta diantar. Mila tidak keberatan jika lokasinya tidak terlalu jauh.
“Biar Nadine yang menjaga toko sampai Mama kembali.” ujar Nadine sambil membuka rolling door.
“Tidak usah. Nanti kamu terlambat.” tolak Mila.
“Tidak apa-apa.” kata Nadine, “kita bisa kehilangan pelanggan yang biasanya.”
Mila akhirnya menyerah, ia pamit pada Nadine dan berjanji akan secepatnya kembali. Dan memang benar seperti dugaan Nadine, sepeninggal ibunya toko itu mulai kedatangan pembeli langganannya. Nadine melayaninya dengan ramah. Selain langganan mereka, beberapa orang lewat yang melihat toko mereka ramai terkadang ikut membeli karena pasaran dan akhirnya menjadi langganan. Nadine bersyukur karena usaha ibunya terbilang lancar. Kue-kue ibunya nyaris habis setiap hari. Jika masih sisa, biasanya ibunya akan membagikannya pada anak jalanan di sekitar ruko mereka.
Nadine melirik jam analog di pergelangan tangannya setelah melayani pembeli terakhir. Hari sudah semakin siang dan tanda-tanda kedatangan ibunya belum juga terlihat. Ia menatap jalanan di depannya dan melihat beberapa bus yang seharusnya ia naiki lewat. Salah satu alasan Nadine selalu berangkat lebih pagi adalah karena saat itu, bus masih relatif kosong sehingga ia bisa mendapatkan duduk. Semakin siang, bus itu semakin penuh dan ia harus siap untuk berdiri dan berdesakan.
Ia pergi keluar dan menatap jalanan. Sosok ibunya belum terlihat. Ia kembali ke dalam dan mendekati meja. Sudah ada sayur bayam dan telur dadar di atasnya. Ia mengambil piring dan mengisi perutnya sambil menunggu ibunya.
Nadine makan dengan cepat dan saat isi piringnya habis, ibunya kembali dengan napas terengah-engah. Ia jalan terburu-buru karena takut anaknya terlambat berangkat ke sekolah.
“Maaf Mama lama.” kata Mila.
“Pas sekali. Nadine baru selesai sarapan.” gadis itu mencuci piring dan gelas bekas pakainya di bak sink lalu berpamitan pada ibunya.
“Hati-hati…” kata Mila.
Nadine mengangguk dan melihat sebuah bus baru saja lewat di depannya dengan muatan yang tidak terlalu penuh. Nadine berlari, mencoba mengejar bus itu. Ia sekuat tenaga berlari agar bisa sampai di halte sebelum bus itu, atau paling tidak tiba bersamaan. Selain karena hari sudah siang, bus itu tampak nyaman dengan beberapa kursi kosong yang terlihat.
Nadine mengeluarkan seluruh tenaganya. Ransel di punggungnya bergoyang mengikuti gerakannya. Ia menatap cemas bus yang semakin dekat dengan halte, namun semakin jauh darinya.
Langkah Nadine semakin cepat saat bus akhirnya berhenti di halte. Pintu otomatisnya sudah terbuka dan beberapa orang di halte mulai naik.
“Please wait…” Nadine sedikit berteriak. Namun bus itu jelas tidak akan mendengarnya. Bus itu hanya berhenti di halte-halte dan akan langsung jalan setelah semua penumpang di halte naik ke dalam bus.
“Oh… s**t…” Nadine menghentikan langkahnya saat melihat roda bus itu kembali berputar. Ia menatap bagian belakang bus yang mulai menjauh sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Nadine masih pada posisinya saat ia melihat mobil yang sudah sangat ia kenal berhenti di depan halte.
“Ayo masuk…” wajah Joseph menyembul dari kaca mobil bagian belakang yang terbuka. Nadina tersenyum lalu kembali berjalan menghampiri mobil itu dan melesak di samping Joseph.
“Kenapa kamu lari-larian?” Joseph bertanya saat roda mobilnya sudah kembali berputar.
“Aku mengejar bus.” Nadine becerita.
Joseph tertawa saat mendengar gadis itu bercerita. Ia telah seringkali menawari tumpangan pada gadis itu karena mereka searah, namun gadis itu selalu menolak.
Nadine kini tak ingin bergantung pada siapapun, apalagi masalah kecil seperti berangkat dan pulang sekolah. Ia telah berjanji untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Lagipula ia sudah terbiasa menggunakan angkutan itu dan baginya itu tidak buruk.
Dan yang paling penting, ia tidak ingin ada orang yang menyalah artikan kedekatannya dengan Joseph. Ia tidak ingin orang-orang mengira ia mendekati Joseph hanya karena ingin memanfaatkan laki-laki itu. Ia tidak benar-benar yakin, tapi ia tahu akan ada orang yang berpikir seperti saat ia turut menikmati fasilitas laki-laki itu.
***
Keenan baru saja hendak keluar dari mobilnya tepat saat mobil Joseph berhenti di belakang mobilnya. Laki-laki itu berjalan ke koridor lalu menatap Nadine dan Joseph yang keluar dari mobil itu.
“Pemandangan yang sangat indah pagi ini.” kata Keenan.
Nadine menghela napas saat ia melihat seringai laki-laki itu. Ia tidak mengerti kenapa sudah dipertemukan oleh Keenan pagi ini. Hal yang ia tahu akan selalu membuat moodnya menjadi buruk.
Joseph mensejajarkan langkahnya dengan Nadine, juga berusaha mengabaikan Keenan yang sudah mengekor di belakang Nadine.
“Kenapa memilih Joseph?” tanya laki-laki itu. Ia masih terus melangkah di belakang Nadine. Menjaga jaraknya beberapa langkah dari gadis itu. “kenapa memilih Joseph sebagai orang yang kamu manfaatkan.” kata Keenan lagi.
“Apa karena Joseph anak baru? apa dia tidak benar-benar tahu siapa kamu? atau apa yang sudah kamu berikan padanya?” Saat Keenan mengatakan itu, langkah kaki Nadine memelan hingga akhirnya berhenti. Ia membalik badan dan menatap Keenan dengan kernyitan dahi.
“What are you talking about?”
Joseph menghela napas. Ia berhenti dan ikut berbalik. Tidak peduli berapa kali ia meminta Nadine untuk mengabaikan Keenan. Ia tahu Nadine selalu mencoba dan selalu gagal juga.
“Ya… apa yang sudah kamu berikan pada Joseph sampai bisa ikut menikmati fasilitasnya. Mobil mewah, makan di restoran dan hal lain lagi yang tidak orang tahu.” Keenan mengatakan itu dengan santai. Seakan ia sama sekali tidak sadar bahwa kalimat yang keluar dari mulutnya sangat melukai hati Nadine.
“Aku tahu bahwa menjadi miskin memang tidak mudah. Apalagi kamu biasa hidup dengan mewah. Ada banyak orang yang rela melakukan apapun untuk merasakan kembali berbagai kemewahan yang dulu mereka punya.”
“Jaga mulutmu!” Joseph maju dan melayangkan tinjunya ke arah Keenan yang langsung mundur beberapa langkah. Ia harus menghentikan laki-laki itu sebelum laki-laki itu berhasil memengaruhi pemikiran orang-orang yang ada di sana dengan omong kosongnya.
“Kamu harusnya tidak marah kalau itu memang tidak benar.” kata Keenan sambil mengusap wajahnya yang baru saja mendapatkan pukulan. Keenan masih begitu tenang.
Satu pukulan Joseph hampir melayang lagi kalau saja Nadine tidak menahan sebelah tangannya.
Nadine tahu bahwa keadaan akan sulit dikendalikan jika Keenan hilang kendali. Ia harus menjauhkan Joseph. Ia tidak ingin laki-laki itu terlibat masalah lebih jauh dengan Keenan.
“Ayo pergi dari sini.” kata Nadine sambil menggandeng lengan Joseph menjauh dari sana.
“Aku belum selesai bicara.” Keenan berteriak saat melihat keduanya menjauh. Namun ia sama sekali tidak ada keinginan untuk mengejar keduanya dan menyelesaikan omongannya. Ia masih punya banyak waktu untuk melakukan itu.
***
Emma menaiki tangga menuju lantai tiga dengan terburu-buru. Gosip yang beredar di sekolah itu sudah sampai di telinganya dan kini ia perlu mendapatkan penjelasan. Kakinya melangkah dengan cepat, namun dengan senyum terus tersungging di pipinya kala ia menyapa teman-temannya di sepanjang koridor.
Saat sampai di kelas, ia langsung mendekati Nadine dan Joseph yang sedang sibuk dengan bukunya masing-masing.
“Kalian berdua pacaran?” Emma bertanya sambil menaruh ranselnya di atas meja. Ia duduk di depan Joseph dan melihat keduanya tampak saling pandang.
Keduanya menggeleng bersamaan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Emma bertanya lagi. Semakin membuat Joseph dan Nadine kebingungan.
“Ada apa?” Nadine balik bertanya dengan nada kebingungan.
“Semua anak membicarakan kalian.” kata Emma, “katanya kalian berdua pacaran. Lebih parah, orang-orang bilang kamu memanfaatkan Joseph.” Emma memberitahukan gosip yang sudah tersebar di sekolah itu.
Nadine berdecak. Ia tahu bahwa Keenan tidak akan diam dan membiarkannya pergi begitu saja. Laki-laki itu diam karena laki-laki punya rencana yang lebih jahat.
Joseph akhirnya menceritakan apa yang terjadi dengan mereka bertiga tadi. Ia menceritakan dengan detail pada Emma agar gadis itu tidak termakan gosip yang sepertinya tidak akan bisa dikendalikan.
Kalimat makian keluar dari mulut Emma. Ia tahu bahwa Keenan bisa melakukan apapun. Namun tidak pernah menyangka bahwa laki-laki itu akan memilih rumor murahan seperti itu menyerang Nadine. Rumor yang ia tahu tidak akan bisa dikendalikan oleh keduanya.
Nadine terdiam. Ia sadar bahwa ia sudah menyeret Joseph terlalu jauh ke dalam konfliknya dengan Keenan. Ia harus bicara dengan laki-laki itu, berdua saja. Ia perlu meminta laki-laki itu berhenti menarik Joseph dalam masalah mereka. Ia melihat bahwa Joseph sudah berusaha sabar. Jika tadi laki-laki itu sudah berani memukul Keenan, itu tandanya laki-laki itu mulai kehilangan kesabarannya. Hal yang memang Keenan inginkan.
***
Nadine tidak berubah pikiran sampai bel pulang berbunyi. Beberapa saat yang lalu, ia telah mengirim pesan pada Keenan untuk minta bertemu. Ia bilang kalau ia akan menunggu laki-laki itu di taman belakang sekolah setelah jam pulang.
Nadine membereskan bukunya dan melihat beberapa temannya mulai meninggalkan kelas. Ia, Emma dan Joseph berjalan beriringan menuju lantai satu. Sepanjang hari itu, Nadine menyadari bahwa semua anak menatapnya dengan tatapan begitu sulit diartikan. Ia tidak tahu gosip itu sudah sebesar apa dan ia tahu ia tidak akan bisa meredakannya. Hanya Keenan yang bisa membereskan hal itu dan ia akan meminta laki-laki itu melakukannya.
“Aku ada perlu ke ruang guru.” kata Nadine saat ia mencapai anak tangga terakhir di lantai dasar.
“Oke… Bye…” Joseph dan Emma jalan menjauhi Nadine yang ikut melambai dan melengkungkan senyum tipis. Nadine berjalan pelan menuju ruang guru sambil menatap Joseph dan Emma yang mengambil jalan berlawanan. Saat keduanya tak terlihat, ia berbelok ke koridor yang menyambung ke taman belakang sekolah.
Saat ia sampai di sana, ia memindai sekeliling dan melihat laki-laki itu duduk di salah satu bangku yang ada di sana dengan minuman kaleng di sebelah tangannya.
Ia menarik napas panjang lalu mendekat hingga berdiri di depan laki-laki itu yang langsung menengadah.
“Apa yang mau kamu bicarakan? aku tidak punya banyak waktu.” Keenan mengatakan itu sambil melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Memberi isyarat bahwa ia punya banyak kegiatan yang lebih penting daripada menemui gadis itu.
“Rumor apa yang kamu sebarkan pada anak-anak?” tanya Nadine.
“Rumor? bukankah itu kenyataan?” jawab Keenan.
Nadine menghela napas berat, “Masalahmu denganku, jadi jangan libatkan Joseph.”
Keenan terkekeh. Ia menaikkan sebelah kakinya ke kaki lainnya. “Kenapa? bukankah dia pacarmu. Kalian harus sepenanggungan.”
“Kami tidak pacaran.” Nadine mengatakan itu dengan nada menyentak. Mencoba memberitahu laki-laki itu bahwa ia menyimpulkan terlalu cepat.
“Oh, ya?”
“Semua orang yang dekat, belum tentu berpacaran.” kata Nadine.
“Aku tahu. Tapi sepertinya it tidak berlaku bagimu. Sejak dulu, kamu tidak pernah dekat dengan siapapun. Semua orang jelas merasa aneh jika tiba-tiba kamu dekat dengan si Pirang itu.” kata Keenan. Kali ini ia berdiri dan membuat Nadine mundur dua langkah. “semua semakin mencurigakan karena kamu sekarang tidak punya apa-apa.” katanya lagi.
“Tidak… orang lain tidak ada yang peduli padaku. Kamu yang sengaja membuat rumor itu dan akhirnya membuat mereka berpikir sepertimu.” cecar Nadine.
“Mungkin juga…” ujar Keenan, “kalau itu tidak benar, bilang saja kalau itu tidak benar. Kamu berhak membela diri.”
“Hanya kamu yang bisa meredakan rumor itu.” kata Nadine.
“Aku tidak suka menarik sesuatu yang sudah aku lempar.” kata Keenan, “biarkan saja, rumor itu akan mereda dengan sendirinya.”
“Kumohon… aku tidak suka kamu menyeret Joseph dalam masalah kita.”
“Menyeret?” Keenan tersenyum sini, “dia yang masuk, bukan aku yang menyeret.”
Kalimat itu membuat Nadine semakin sadar bahwa ia menyesal dekat dengan laki-laki itu. Tapi sebelumnya, laki-laki itu memang sudah selalu menolongnya.
“Kenapa Nadine? kenapa Joseph saat aku bisa menawarkan lebih.” kata Keenan dengan nada rendah. Ia mendekat dan memegang pergelangan tangan Nadine.
Nadine menggeleng. Laki-laki itu sudah salah menilainya. Laki-laki itu tidak mengerti bahwa ia dan Joseph sama sekali tidak memiliki hubungan yang spesial.
“No, No… We’re just friends.” kata Nadine. Ia menarik tangannya hingga pegangan laki-laki itu pada lengannya terlepas.
“Just friends, huh?” kata Keenan dengan nada tidak percaya. “kalau begitu, bisakah kita berteman juga? bisakah aku mengantarmu ke rumah? bisakah kita makan berdua diluar? bisakah kita mengobrol?” rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Keenan dengan nada rendah.
Keenan dan Joseph berbeda, pikir Nadine. Keenan seorang perisak yang tidak akan tahu bagaimana seharusnya menjalin pertemanan. Nadine akhirnya menggeleng pelan. Membuat Keenan langsung mendorong bahunya hingga punggung gadis itu menempel di batang pohon.
“Kenapa? Kenapa denganku tidak bisa sedangkan dengan si Pirang itu bisa?” sebelah tangan laki-laki itu masih bertengger di bahu Nadine, untuk menahan tubuh gadis itu agar tidak bisa bergerak.
“Kamu harus berubah Keenan. Kamu tidak bisa berteman dengan orang lain dengan sikap seperti itu.” Nadine mencoba memberi pengertian.
“Tidak… tidak ada yang salah denganku.” kata Keenan.
“Kamu tidak bisa hidup seperti itu selamanya.”
Keenan tertawa sinis, “lalu aku harus seperti apa? sepertimu? seperti Joseph? atau seperti Haikal?” tanya Keenan. “aku tidak bisa hidup seperti itu dan diinjak-injak orang lain. Jika tidak menginjak, aku yang akan diinjak.” Keenan melepaskan tangannya dari bahu gadis itu.
“Terserah. Aku hanya meminta kamu untuk tidak mengganggu Joseph.” Nadine menegakkan tubuhnya dan menatap Keenan yang sepertinya tak peduli dengan semua yang keluar dari mulutnya.
“Kamu tahu, kan, aku tidak perlu alasan untuk mengganggu seseorang. Kadang aku memilihnya secara acak, kadang aku memilih yang ada di depanku. Meski Joseph tak dekat denganmu, aku tetap akan mengganggunya kalau aku mau.”
TBC
LalunaKia