CHAPTER DUA PULUH DELAPAN

1864 Kata
Ilana membuka kedua matanya dengan napas terengah-engah. Peluh membanjiri wajahnya. Bibirnya bergetar. Ia bangun dari posisi tidurnya dan mengambil gelas yang ada di atas nakas. Ia menyesap air dalam gelasnya hingga tersisa setengah dan merasa sedikit tenang. Ilana baru saja bermimpi bertemu Elena. Ia senang bertemu gadis itu. Dalam mimpinya gadis itu terlihat begitu bahagia. Wajahnya bersinar dengan gaun putih seperti puteri. Tapi dalam mimpinya, Elena mengaku kecewa karena tindakannya mencuri soal ujian. Gadis itu bilang bahwa jangan sampai Ilana kehilangan jati dirinya. Jangan sampai Ilana melakukan hal itu kedua kali, atau berkali-kali hanya demi memenuhi obsesi ibunya. Elena takut Ilana tidak bisa berhenti. Elena takut obsesi ibunya melekat terlalu kuat hingga akhirnya menjadi obsesi Ilana. Ia tidak ingin adik kecil yang sangat ia sayangi menjadi sosok menakutkan yang akan melakukan segala cara demi ibunya. Elena percaya bahwa Ilana bisa melakukan hal yang lebih baik dari itu. Ilana mengusap wajahnya. Mengusap air mata yang tidak ia sadari sudah meloloskan diri dari kelopak matanya. Ia menangis. Ia menyesal karena membuat Elena kecewa. Ia menyesal melakukan hal ilegal karena takut pada Ibunya. Tapi ia jelas tidak memiliki cukup keberanian untuk mengaku pada pihak sekolah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika semua anak di sekolahnya tahu jika ia mencuri soal ujian bahasa inggris itu. Ia tidak sanggup menghadapi itu. Ia tidak sanggup membayangkan akan seperti apa hidupnya. Bisakah ia menyimpan semuanya selamanya? Bisakah ia melupakan bahwa ia pernah melakukan itu dan melanjutkan hidupnya seperti biasa? Bisakah Elena memaafkannya jika ia berjanji tidak akan melakukan tindakan ilegal itu lagi? *** Haikal semakin ahli bersembunyi dari Keenan akhir-akhir ini. Ia berangkat lebih siang daripada biasanya agar sampai di sekolah diwaktu yang mepet dengan bel berbunyi. Saat bel istirahat berdering, ia akan langsung keluar kelas dan menuju kantin. Biasanya ia sudah memesan makan siang di kantin sebelum masuk ke kelas sehingga saat ia turun di jam makan siang, pesanannya sudah siap. Setelah itu itu akan pergi ke rooftop sekolahnya dengan hati-hati. Ia menghabiskan waktu makan siangnya di tempat itu lalu kembali ke kelas saat bel sudah berbunyi. Hal itu terus ia lakukan selama beberapa hari terakhir dan itu cukup berhasil. Biasanya jika bertemu Keenan, itu karena ia salah perhitungan atau ia benar-benar sial. Haikal tidak peduli jika kulit putihnya memerah karena sinar matahari yang menyengat, ataupun tubuhnya yang selalu banjir keringat karena panas. Itu jelas lebih baik daripada berurusan dengan Keenan yang tidak punya hati. Meski sedikit merepotkan, hal itu membuat hidupnya sedikit lebih tenang. Setidaknya itu berhasil membuat pertemuannya dengan Keenan diluar jam belajar menjadi lebih sedikit. Kedua mata laki-laki itu membulat saat mendengar suara pintu terbuka. Ia diam, berusaha tidak menimbulkan suara apapun. Suara langkah terdengar hingga akhirnya ia bisa melihat seorang gadis berseragam berjalan mendekati tembok pembatas di rooftop itu. Mata Haikal memicing hanya untuk menatap gadis itu yang kini menunduk ke salah satu pot yang ada di sana. Dengan sebelah tangannya, gadis itu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang ia tanam di pot itu bersama tanaman lain. Dari dalam kotak, gadis itu mengambil sebuah rokok dan pemantik api. Haikal masih terus menatap Ilana yang kini menyalakan rokoknya dan menyesap ujungnya, lalu mengembuskan asapnya melalui mulut. Ilana melakukan itu sesekali. Jika perasaannya sedang tidak baik-baik saja atau jika ia sedang banyak pikiran. Ia menyimpan beberapa batang rokok dan pemantik api di sebuah kotak kecil dan menanamnya di pot yang ada di sana. Haikal masih berada di persembunyiannya. Ia berusaha agar tidak ketahuan namun tetap diam-diam mencuri pandang ke arah Ilana yang tampak kacau. Ia ingat gadis itu pernah berbuat baik padanya beberapa kali. Gadis itu pernah memberinya makan, membantunya berdiri, ataupun hal-hal kecil lainnya setelah ia dirisak oleh Keenan. Hal-hal kecil yang selalu menyentuh hatinya. Dibalik wajah dingin gadis itu, ia tahu bahwa gadis itu penuh kehangatan. Hal yang bisa ia lihat hanya dari sorot matanya. Hal yang mungkin hanya ia yang bisa melihatnya. Haikal tidak pernah berterima kasih pada gadis itu atas kebaikannya. Ia terlalu takut. Ia takut jika Keenan melihatnya mendekati Ilana, laki-laki itu akan mengganggu gadis itu. Selama ini tak pernah ada yang mau dekat dengannya karena takut pada Keenan. Mereka takut tertimpa sial. Mereka takut diseret dalam konfliknya dengan Keenan yang tak berkesudahan. Semua orang takut ikut menjadi korban Keenan kalau dekat dengannya. Haikal mengintip Ilana yang tampak menikmati lintingan nikotinnya. Gadis itu tampak tak terganggu dengan panas yang menerpanya. Gadis itu sedang duduk di beton memanjang yang ada di sana dan menunduk. Rokok gadis itu terjatuh dan Haikal melihat bahu gadis itu bergetar. Apa dia menangis? Haikal bertanya pada dirinya sendiri. Ia tidak akan mendapatkan jawaban jika tak melihat dengan mata kepalanya sendiri sehingga ia fokus pada Ilana yang kini terlihat terisak. Sebelah tangan gadis itu terangkat untuk mengusap air matanya. Haikal sama sekali tidak punya pikiran untuk menghampiri gadis itu. Ia tidak ingin mengganggu gadis itu. Ia tidak ingin gadis itu tahu bahwa sejak tadi ada yang melihatnya merokok dan menangis. Ia ingin gadis itu melakukan apa yang ia mau di sana. Ia hanya memerhatikan gadis itu yang kini isakannya perlahan terdengar. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu. Ia pikir gadis itu seharusnya senang karena untuk pertama kalinya, ia berhasil mengalahkan Nadine dalam ulangan bahasa inggris. Meski terkesan sepele, ia tahu itu sangat berarti untuk gadis itu. Ia tidak mengerti kenapa sekarang gadis itu justru menangis. Ilana mengusap wajahnya kasar. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ia merasa begitu menyesal. Jika ia diberi kesempatan untuk mengulang waktu, ia tidak akan melakukan itu. Ia tidak akan berhenti di depan meja guru bahasa inggris, membuka amplop dan memotret soal itu. Ilana merasa begitu buruk. Ini adalah kali pertama ia berbuat curang demi ibunya. Dengan hasil itu, ia melihat bagaimana ibunya memperlakukannya dengan sangat baik. Ilana takut ia hilang kendali. Ia takut jika ia sanggup melakukan itu lagi demi perlakuan ibunya yang lebih baik. Ilana takut ia sanggup melakukan kecurangan itu lain kali. Ilana menginjak lintingan nikotinnya yang masih tersisa setengah lalu menarik napas dalam-dalam hingga sedikit tenang. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya. Ia tidak akan tergoda lagi. Ia yakin ia bisa lebih baik dari ini. Setelah merasa tenang, Ilana membuang putung rokok itu untuk dan mengembalikan kotak kecil ke tempat persembunyiannya. Ia berdiri dan berjalan pelan menuju satu-satunya pintu yang ada di sana sebagai akses keluar-masuk. *** “Kamu yakin hanya makan itu?” Alex bertanya saat melihat isi piring Emma hanya berupa sayur dan buah. Ia, Axel dan Emma sedang makan malam bersama di sebuah restoran. dan Dari sekian banyak menu yang menggugah selera, gadis itu hanya memesan sayur dan buah potong. Itu pun dengan porsi yang sangat kecil. Emma mengangguk sambil tersenyum kecil. Lambungnya sudah terbiasa. Ia merasa bahwa semenjak ia menjalani diet sesuai keinginan Axel, lambungnya sepertinya menyusut karena porsi makan yang bagi orang-orang kecil sudah sangat cukup baginya. “Dia harus begitu biar bisa mempertahankan tubuh kurusnya. Lihat, kulitnya terlihat bersinar karena ia hanya makan makanan sehat.” Axel yang mengatakan itu. “Bukankah kamu masih masa pertumbuhan. Kamu perlu banyak makan untuk bisa beraktivitas.” Kali ini Alex menatap Emma yang sudah memulai suapannya. “Ini lebih dari cukup.” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Emma. “Lihat, dia menyukainya. Makanan itu yang membuatnya berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa cantik.” Axel mengatakan itu sambil tersenyum ke arah Emma yang mencoba tersenyum kaku. Ini membuat Emma tak nyaman. Ia tidak nyaman saat Alex menatapnya dengan tatapan bingung campur kasihan. Laki-laki itu tidak tahu bahwa ia hanya mengikuti keinginan adiknya. Laki-laki itu tidak tahu jika Axel yang memaksanya. “Tapi kamu sudah terlalu kurus Emma. Kamu sebaiknya berkonsultasi dengan ahli gizi.” Alex memberikan saran pada Emma seakan Ema yang menginginkan gaya hidup seperti itu. Emma ingin kurus, namun ia sadar bahwa ia memang sudah dibatas tidak wajar. Namun Axel menyukainya yang seperti ini. Jika ia sedikit saja menaikkan berat badannya, laki-laki itu akan langsung menyadarinya. “Tidak…tidak… Emma cantik dengan tubuh kurusnya. Ia tidak boleh bertambah gemuk sedikitpun.” kata Axel yang membuat sebelah alis Alex terangkat. Alex memilih menutup pembicaraan saat ia tahu bahwa mungkin Axel ada dibalik kondisi gadis itu. Mereka mulai fokus pada isi piring masing-masing. Axel dan Alex lebih banyak berbicara berdua sedang Emma hanya diam dan memerhatikan. Alex melihat Emma yang lebih dulu menghabiskan isi piringnya. Gadis itu menyesap air mineral dalam botolnya. Dari sekian banyak menu minuman yang ada di sana, gadis itu memilih air mineral. “Kamu juga tidak minum-minuman manis?” Alex bertanya lagi. Kini membuat Emma menengadah dan menatapnya. Gadis itu mengangguk. Emma sebenarnya bisa memesan jus tanpa gula. Namun ia lebih suka jus buatan sendiri karena buahnya sudah pasti segar. Jika diluar, ia lebih suka minum air mineral. Ia bisa menghabiskan tiga liter dalam sehari karena itu juga bisa menahan rasa laparnya. “Gula terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan.” ujar Axel. “Tapi tidak masalah jika dalam porsi yang cukup.” kata Alex. Ia melihat Axel menggeleng pelan. “Gula membuat ketagihan. Emma sudah berjuang dengan keras untuk mengurangi gula hingga saat ini. Jangan buat semua usahanya sia-sia.” Sekali lagi, Emma hanya mengulas senyum tipis. Ia berharap keduanya berhenti membicarakannya. Ia benar-benar tidak nyaman saat ada dua orang laki-laki di depannya berdebat mengenai berat badannya. *** Ilana masuk ke dalam kamarnya dan langsung menjatuhkan diri di ke ranjangnya. Ia memiringkan tubuhnya dan menatap paper bag yang ada di pojok kamarnya. Itu adalah hasil belanjaannya kemarin. Itu adalah reward dari ibunya. Ibunya membelikannya beberapa potong baju baru, ponsel keluaran terbaru, jam mahal juga sekotak perhiasan. Lihat, ibunya menggelontorkan banyak uang hanya karena Ilana mendapatkan nilai tertinggi dalam ulangan bahasa inggris. Hal yang belum tentu bisa Ilana dapatkan lagi untuk mata pelajaran lain. Ia berpikir, bagaimana jika ia mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian akhir semester, ia pikir ibunya mungkin akan membelikannya mobil, atau rumah. Ilana tidak membutuhkan barang-barang itu. Barang-barang itu tidak ia buka dan langsung ia taruh di sana. Ia merasa tidak berhak mendapatkannya. Ia tidak ingin menyentuh barang-barang itu. Barang-barang itu mengingatkannya pada kesalahan yang ingin ia lupakan. Pada kesalahan yang tak ingin ia ulangi lagi. Ia berdiri dari posisi tidurnya dan turun dari ranjang. Ia mendekati barang-barang itu dan menyembunyikannya di dalam lemarinya. Ia melirik jam yang masih ada di pergelangan tangannya. Ia tidak punya banyak waktu untuk terus memikirkan kesalahannya. Hidupnya harus terus berjalan. Ia mengganti seragamnya dengan sepotong kaos dan berangkat ke tempat les. Ia telah melakukan kesalahan hingga akhirnya mendapatkan nilai terbaik. Ia tidak tahu bagaimana harus bertahan. Ia bingung harus berusaha sekeras apa untuk mendapatkan nilai tertinggi tanpa harus berbuat curang. Ilana pikir ia hanya perlu mempersiapkan diri. Amarah ibunya, sumpah serapah ibunya, juga pukulan ibunya mungkin akan mendatanginya tak lama lagi. “Ingat Ilana… Kamu harus mempertahankan apa yang telah kamu raih. Kamu bisa dalam pelajaran bahasa inggris. Mama yakin kamu bisa juga di pelajaran lain. Mama yakin ini adalah waktunya. Mama percaya kamu nggak ada mengecewakan Mama.” kata Helen saat Ilana pamit untuk pergi ke tempat les. Kalimat itu terasa semakin memberatkan beban di pundaknya. Tapi ia tahu bahwa sejak awal, ini adalah kesalahannya. Ia memberikan sesuatu yang mungkin tidak akan bisa ia pertahankan. Hingga akhirnya wanita itu berharap lebih padanya. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN