CHAPTER DUA PULUH TUJUH

1922 Kata
“Congrats Ilana. You got the highest score.” Tepat saat guru bahasa inggris mengatakan itu, semua pasang mata langsung menghujam Ilana. Beberapa orang bahkan bertepuk tangan untuknya. Ilana hanya mengulas senyum kaku. Ia bernapas lega meski tidak benar-benar lega. Itu bukan hasilnya sendiri. Itu hasil sempurna karena ia berbuat curang. Itu hasil ia mencuri soal ujian itu. Ilana langsung merasa rendah diri. Orang mungkin berpikir kini ia sangat senang karena meski bukan nilai ujian semester, yang penting ia bisa melampaui Nadine yang kini ada di posisi ketiga. Tapi, ia sama sekali tidak bangga pada dirinya dirinya. Entah kenapa perasaannya mendadak menjadi tak enak. Ia merasa gelisah karena tahu bahwa mungkin ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya. Jika ia tidak mencuri soal ujian, ia tidak akan mendapatkan nilai itu. Masih ada ujian-ujian lain yang harus ia kerjakan dan ia tidak mungkin terus menerus mencuri soal. Beberapa orang memberikan selamat pada Ilana atas nilai ujiannya. Ilana merasa sangat aneh mendapatkan ucapan-ucapan itu. Beberapa orang bahkan memujinya dan memintanya mempertahankan posisinya. Orang-orang secara tersirat berpikir bahwa ia lebih pantas untuk posisi itu dibanding Nadine. “Aku pikir dia akan berteriak kegirangan saat namanya dipanggil karena nilai tertinggi oleh guru.” kata Emma saat mereka makan siang di meja yang sama. Ketiganya menatap Ilana yang duduk sendiri tak jauh dari meja mereka. “Saat namanya disebut, wajahnya tetap datar dan hanya mengulas senyum kaku.” kata Emma lagi. “Mungkin dia terlalu shock dan tidak percaya.” kata Joseph. Kali ini ia menatap Nadine yang duduk di depannya, “kamu baik-baik saja?” tanyanya. Emma mengikuti arah pandang laki-laki itu dan melihat Nadine mengulas senyum tipis sambil mengangguk pelan. “Pasti rasanya aneh.” kata Emma. “kamu selalu mendapatkan nilai tertinggi dari kelas satu.” tambahnya. Nadine terkekeh pelan. “Ya… rasanya aneh. Rasanya aneh ada di posisi ketiga.” kata Nadine sambil menyuapkan sendok berisi naik dan daging ke dalam mulutnya. “Tenanglah, ini hanya ujian biasa, bukan ujian semester. Kamu masih punya banyak waktu.” kata Emma sambil menepuk pundak Nadine dua kali. Nadine tersenyum sambil mengangguk pelan. Entah kenapa Nadine merasa lebih rileks saat berada di antara Emma dan Joseph. Mereka semua jago membuat tragedi menjadi komedi. Nadine marsakan hidup normal yang kemarin hanya ada dalam bayang-bayangnya. Dan rasanya memang menyenangkan. “Ilana… congratulations.” suara itu menggema di ruang makan. Semua pasang mata menatap Keenan yang baru saja masuk ke ruangan itu. Semua mengikuti gerakan laki-laki itu yang langsung menghampiri Ilana dan duduk di depannya. “Aku dengar kamu mendapat nilai tertinggi dalam ujian bahasa inggris.” kata Keenan sambil mengulurkan sebelah tangannya. Ilana tidak tahu kenapa berita itu menyebar begitu cepat. Dan ia tidak mengerti kenapa itu penting bagi orang lain. Ia menatap Keenan lalu ke tangan yang diulurkan padanya. Ia memilih untuk tak mengacuhkannya. Ia tidak memerlukan ucapan selamat dari siapapun, termasuk laki-laki itu. Itu membuatnya lebih merasa bersalah atas kecurangan yang ia lakukan. Keenan menarik tangannya saat tahu bahwa Ilana tidak akan menjabat tangannya. “Bagaimana perasaanmu? apa kamu merasa di atas angin sekarang?” tanya laki-laki itu. Sesuai dugaan Ilana, laki-laki itu memang datang hanya untuk mengejeknya. “Aku mau menarik ucapanku saat aku bilang bahwa kamu ditakdirkan untuk selalu ada dibawah Nadine.” kata Keenan. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Ia melirik Nadine yang berada tak jauh dari tempatnya. “Hidup Nadine sudah terlalu rumit. Wajar jika gadis itu tidak bisa mempertahankan posisinya.” kata Keenan dengan keras hingga Nadine menengadah dan menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. “Kamu seharusnya melakukan itu dari dulu.” kata Keenan. “jika Nadine terlempar keluar dari tiga besar, bukankah Nadine akan mendapatkan peringatan dari sekolah karena ia hanya anak beasiswa.” kata laki-laki itu. Kini Ilana menengadah dan menatap laki-laki. Ia tidak mengerti maksud laki-laki itu. “bukankah kamu ingin membuat Nadine lebih hancur lagi?” lagi, Keenan mengatakan itu keras-keras sehingga mencuri perhatian semua orang yang ada di sana. Ilana menggeleng. Ia memang membenci Nadine karena gadis itu tak pernah bisa ia kalahkan, tapi ia tidak sejahat itu. Ia tidak pernah berpikir untuk menghancurkan gadis itu. “Jujur saja. Bukankah kamu senang jika Nadine hancur? kamu akan lebih mudah menggantikan posisinya.” “I never thought like that.” sentak Ilana. Ia perlu membela diri sebelum semua orang berpikir bahwa ia benar-benar menginginkan Nadine keluar dari sekolah karena tak lagi layak mendapatkan beasiswa. Sungguh, pikiran seperti itu sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya. “Benarkah? tapi jika kamu punya kesempatan, kamu pasti menginginkannya, kan?” “Aku bukan kamu, Keenan.” kata Ilana dengan nada penekanan yang jelas. "kalau kamu benci Nadine, bencilah sendiri, jangan sangkut pautkan aku.” katanya lagi. Ilana berdiri lalu membawa nampannya dan keluar dari ruang makan. Keenan membuat perasaannya semakin buruk. “Jangan percaya omongan Keenan. Ilana tidak seburuk itu.” kata Emma pada Nadine. Ia sudah mengenal Ilana tiga tahun di sekolah menengah pertama dan ia tahu masalah Ilana hanya sikap dinginnya. Itu pun ia pikir ada pengaruh dalam keluarganya. “Aku tahu.” kata Nadine. Mereka bertiga kembali melanjutkan makan. Keenan sudah keluar dari ruang makan dan tempat itu kembali tenang. “Karena Joseph tidak jadi mentraktirmu, bagaimana kalau nanti aku yang traktir.” ajak Emma. “Ayo ke kedai pasta langgananku.” Emma melihat Nadine tampak berpikir, “ayolah. Kamu juga.” Emma mengajak Joseph yang langsung mengangguk. Nadine akhirnya ikut mengangguk. *** Ilana baru saja masuk ke dalam rumahnya saat mendengar ibunya menyambutnya dengan ramah. “Sini sayang…” Helen ada di ruang tamu dan menepuk sisi sebelahnya yang kosong. Mengisyaratakan agar Ilana duduk di sana. “Mama sudah dengar kalau kamu dapat nilai tertinggi dalam ujian bahasa inggris.” Helen tersenyum lebar sambil menatap anaknya. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap rambut Ilana pelan. “Dengar, bukankah itu mudah jika kamu fokus dan belajar lebih keras.” kata Helen. Ilana hanya terdiam. Bisakah ibunya bersikap seperti itu setiap hari. Bisakah ibunya berkata lembut dan mengusap kepalanya meski ia tidak mendapatkan nilai tertinggi. Bisakah ibunya melakukan itu secara cuma-cuma, tanpa menaruh beban yang begitu berat di pundaknya. “Libur les dulu hari ini. Ayo pergi berjalan-jalan. Ibu akan membelikan apapun yang kamu mau.” Ilana menatap ibunya yang senyum merekahnya belum juga hilang. Ia berpikir, jika di ujian lain ia tidak mendapatkan posisi tertinggi, apakah senyum merekah itu akan langsung hilang. Apakah usapan lembut di rambutnya akan berubah menjadi jambakan kuat. Tentu saja. Hal yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan perhatian ibunya hanya dengan nilai tertinggi yang harus ia dapatkan. Hal yang ia rasa sangat sulit jika ia tidak berbuat curang. Dan bagaimana jika ibunya tahu jika ia berbuat curang? bagaimana jika ibunya tahu jika hasil memuaskan yang ia dapatkan adalah dari mencuri soal ujian. Apakah ibunya akan memarahinya, ataukah mendukungnya? Ilana selalu ingat bahwa ibunya hanya perlu hasil, bukan prosesnya. Ia yakin ibunya tidak peduli dengan cara yang ia lakukan. Ibunya hanya peduli dengan hasil akhir yang memuaskannya. *** Emma, Nadine dan Joseph masih ada di kedai pasta itu kendati isi piring mereka sudah habis. Menyisakan air dalam gelas yang tinggal setengah. Mereka masih sibuk mengobrol. Ada terlalu banyak bahan obrolan yang mereka punya dan mereka sepertinya tidak akan bosan jika melakukannya selama berjam-jam. Kedai pasta itu ada di dalam mall. Di lantai paling dasar dengan dinding transparan yang bisa membuat mereka melihat ke luar. Nadine awalnya merasa sedih karena tidak menyangka bahwa akan ada di posisi ketiga dalam ujian bahasa inggris. Ia telah berpikir bahwa ia tidak merasa lengah. Ia tidak mengurangi jam belajarnya. Ia tetap belajar sekeras mungkin setiap hari. Nadine marasa buruk, tapi Emma dan Joseph meyakinkannya bahwa ia masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk kembali mendapatkan posisinya. “Itu Ilana.” kata Emma. Joseph dan Nadine mengikuti arah pandang Emma ke pintu masuk. Mereka melihat Ilana dan ibunya masuk ke kedai itu dengan paper bag di tangan kanan kirinya. “Sepertinya Ilana baru saja mendapatkan reward dari ibunya.” kata Emma saat melihat bahwa gadis itu membawa begitu banyak barang belanjaan. Mata ketiganya masih mengikuti gerak Ilana diam-diam sampai gadis itu dan ibunya menempati meja tak jauh dari mereka. Ilana menyadari keberadaan teman-temannya saat ia menempati meja pilihan ibunya. Ia melihat ketiganya sedang asik mengobrol dan bercanda. “Bukankah itu Nadine dan Emma?” Helen mengikuti arah padang Ilana dan menyadari bahwa tiga orang yang menempati meja itu adalah teman-teman sekolah anaknya. “dan Joseph?” tambahnya saat melihat laki-laki yang ada di antara keduanya. Ilana hanya mengangguk sebagai jawaban tercepat. Kedatangan seorang pelayan membuat Ilana mengalihkan fokusnya. Ia memberitahukan pesanannya dan melihat pria berseragam itu mencatat. “Seharusnya kamu bersyukur, Ibu memberi semua yang kamu butuhkan. Lihat Nadine, wajahnya terlihat kusam dan tidak menarik lagi. Kamu tahu dia tinggal di mana sekarang?” Helen melihat Ilana menggeleng cepat. Benarkan? benarkah dirinya harus bersyukur. Haruskan ia mensyukuri hidupnya yang terasa seperti di neraka. Haruskah ia mensyukuri hidupnya yang penuh dengan obsesi ibunya, sumpah serapan dan pukulan. Haruskah ia mensyukuri hidupnya yang menyedihkan. Ilana menatap lagi teman-temannya itu. Mereka tampak normal seperti anak remaja pertengahan pada umumnya. Jalan bersama teman, menghabiskan waktu bersama teman dan mengobrol panjang lebar. Hal yang Ilana tahu tidak akan bisa ia rasakan dan ia tidak pernah boleh bermimpi seperti itu. Ia tidak boleh memimpikan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia wujudkan. Joseph menoleh dan mencuri pandang ke arah meja Ilana. Meja itu tampak sepi. Meski bersama ibunya, gadis itu juga lebih banyak diam. Gadis itu lebih suka menatap layar ponselnya, begitu juga ibunya. Hanya dengan melihat mereka berdua, Joseph tahu bahwa hubungan keduanya memang tidak baik. Joseph merasa kasihan pada Ilana. Ia tahu gadis itu kesepian. Gadis itu nyaris tidak memiliki sahabat karena tak dekat dengan siapapun, ditambah hubungan dengan ibunya juga buruk. Ia tidak tahu bagaimana gadis itu bisa bertahan dengan kehidupan seperti itu. Apakah gadis itu tidak ingin berubah. Paling tidak gadis itu harus punya teman yang bisa mendengarkan ceritanya juga berbagi keluh kesah. Jika gadis itu tidak bisa mendapatkan kebahagiaan di rumah, seharusnya gadis itu bersosialisasi dengan baik di luar. “Aku harus sampai di rumah sebelum jam lima.” kata Nadine saat Emma kembali mengajak mereka berpindah ke kedai kopi. Meski tak minum kopi, Emma senang ada di sana dan melihat teman-temannya menghabiskan isi cupnya. Tak peduli ia hanya minum air mineral, ia hanya senang karena bisa berkumpul dengan teman-temannya. Atau mungkin karena ia malas pulang ke rumah. Tidak ada yang bisa ditemuinya di rumah. Tidak pernah ada yang menyambutnya. Tidak pernah ada yang membuatnya ingin segera kembali ke rumah. Satu-satunya yang ia rindukan dari rumah besarnya hanyalah ranjang empuknya. Nadine tidak ingin terlena. Meski kini ia punya teman-teman baik, ia tidak ingin melupakan komitmennya untuk tetap membantu ibunya. Ia tidak akan melupakan bagaimana kini ibunya sedang berjuang demi hidup mereka. “Oke… jadi kita sampai di sini?” tanya Emma. Ia melihat Nadine dan Joseph mengangguk. Mereka berdua akhirnya berdiri dan keluar dari kedai pasta itu. “Aku bisa memberimu…” “Tidak usah.” Nadine memotong kalimat Joseph. Ia tahu laki-laki itu akan mengatakan apa. Ia tahu kalau laki-laki itu hendak menawarkan tumpangan padanya. “Bareng Joseph saja. Dia bisa mengantarkanmu sampai halte terdekat.” kata Emma yang membuat Nadine langsung menggeleng. “Aku akan naik bus saja.” Nadine pamit pada kedua temannya dan berjualan keluar mall. “Dia beradaptasi dengan keadaannya dengan sangat baik.” kata Emma sambil menatap punggung gadis itu yang menjauh. Baginya tidak mudah menerima keadaan yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kehidupan sebelumnya. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN