CHAPTER DUA PULUH ENAM

2166 Kata
Ilana menatap foto dalam galeri ponselnya. Jam sudah menunjuk hampir tengah malam. Ia telah menatap soal ujian bahasa Inggris itu. Bisikan-bisikan itu masih berdebat di dalam pikirannya. Ilana masih punya waktu agar tidak menyesalinya. Yang perlu ia lakukan adalah menghapus foto itu dan menganggap ia tidak pernah melihatnya. Tapi, Ilana tidak bisa mengenyahkan itu begitu saja. Ini adalah penyelamatnya. Dengan ini, ia bisa mendapatkan nilai sempurna dan ibunya tidak akan menghukumnya. Ilana berpikir bahwa ini adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya lepas dari hukuman ibunya kali ini. Ilana tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ini adalah saat yang ia tunggu-tunggu. Ia akan tetap mengambil kesempatan ini meski nanti akan menyesal. Ilana akhirnya mengambil salah satu buku kosong dan mencatat soal beserta jawaban paling sempurna yang ia cari dari buku catatannya. Ia mengerjakan soal itu hingga baru tidur menjelang jam dua pagi. *** “Sudah siap untuk ujian bahasa Inggris hari ini?” Joseph bertanya saat ia menghampiri Nadine yang baru saja mengambil beberapa buku di lokernya. “Tentu.” jawab Nadine. Mereka berdua jalan beriringan menuju kelas. “Kalau nilaimu lebih tinggi dariku, aku akan mentraktirmu.” kata Joseph. “Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan berusaha untuk mendapatkan nilainya tertinggi?” Nadine mengatakan itu sambil menatap Joseph yang mengangkat bahu. “Meski tak berusaha keras pun, aku pikir aku tetap bisa mendapatkan nilai tertinggi.” kata Joseph dengan nada Jumawa. Nadine meninju pundak laki-laki itu pelan sambil tersenyum. Nadine bingung kenapa ia bisa merasa sesantai ini. Setelah menjadi anak yang bisa tetap bersekolah karena beasiswa, Nadine selalu berusaha mempertahankan nilai-nilainya. Ia selalu siaga dari saingannya. Ia takut jika ia lengah, ia terlempar keluar dari tiga besar dan pasti akan membuatnya dapat teguran dari sekolah. Nadine tidak pernah tahu kenapa ia menurunkan kewaspadaannya dan kini bisa tertawa begitu lepas bersama Joseph, laki-laki yang menjadi saingan terberatnya. Atau mungkin ia memang sudah percaya diri. Nadine tetap belajar lebih keras dan merasa yakin bahwa ia akan bisa menghadapi laki-laki itu. Mereka bersaing mendapatkan nilai terbaik, bukan berarti mereka harus bermusuhan, pikir Nadine. “Hai… Nadine…” suara itu terdengar bersamaan dengan ruang teater yang terbuka. Keenan berdiri di depan pintu dan melihat Nadine dan Joseph yang berjalan menuju ke arahnya. Nadine dan Joseph tak mengacuhkan laki-laki itu. Mereka berdua tetap berjalan hingga melewati Keenan yang langsung menahan geram. “Nadine si anak koruptor.” kata itu akhirnya keluar dari mulut Keenan. Ia melihat Nadine menghentikan langkahnya dan membalik badan menatapnya. Keenan tersenyum, “aku menyapamu dengan baik, tapi kamu malah menoleh saat aku memanggilmu anak koruptor.” kata Keenan. “apa kamu mulai terbiasa dan melupakan namamu sendiri?” “Aku hanya tidak suka namaku keluar dari mulut kotormu itu.” kata Nadine dengan nada menantang. Ia tidak takut pada laki-laki itu. Ia tahu yang bisa membelanya adalah dirinya sendiri. Tak peduli seburuk apapun kehidupannya, laki-laki itu tidak berhak menginjak-injaknya. Keenan menyeringai melihat kobaran keberanian itu dalam mata Nadine. Tak ada lagi Nadine yang menunduk saat dipanggil dengan sebutan anak koruptor dan sebagainya. Tak ada lagi Nadine yang merasa malu. Keenan memasukkan sebelah tangannya pada saku celananya dan mendekat ke arah Nadine yang masih menatapnya dengan tatapan tajam. “Tidak usah berusaha terlalu keras.” kata Keenan. “sekuat apapun kamu mencoba mengenyahkannya, julukan-julukan itu akan tersemat padamu sampai mati.” tambahnya, “aku akan memastikan semua orang di sekitarmu tahu bahwa kamu adalah anak koruptor. Orang yang mencuri uang rakyat, juga sampah masyarakat.” Keenan menatap tepat ke manik mata gadis di depannya. “Ayo jalan.” Sebelah tangan Joseph menyenggol lengan Nadine. Memberitahu gadis itu bahwa tidak ada gunanya berbicara dengan laki-laki itu. Nadine tersadar lalu membalik badan dan mulai mengekori Joseph yang sudah berjalan lebih dulu. “Jangan campuri urusanku, pirang.” Keenan mengatakan itu dengan sedikit berteriak. Joseph dan Nadine mengacuhkan Keenan. Joseph berusaha sekuat tenaga agar tidak terpancing. Baginya berhadapan dengan Keenan hanya membuang-buang waktu. Waktunya jelas terlalu berharga jika harus dihabiskan untuk laki-laki itu. Sebelah tangan Keenan terkepal. Ia benci diabaikan. Ia benci tidak didengarkan. Ia melangkah dengan cepat mendekati Nadine dan Joseph yang masih terus berjalan dan menendang pinggang Joseph hingga laki-laki itu jatuh tersungkur. “Keenan!!!” Nadine menyentak dan melotot pada Keenan. “Kenapa kamu marah padahal aku tidak menyakitimu?” Keenan bertanya pada Nadine yang kini mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu Joseph berdiri. “sejak kapan kamu peduli pada orang lain?” tanya Keenan dengan nada mengejek. “Kamu punya masalah apa denganku?” Joseph mendorong d**a Keenan dengan kedua tangannya hingga laki-laki itu mundur beberapa langkah. Keenan mendesis, “aku tidak perlu punya masalah jika ingin berurusan dengan orang lain.” jawab Keenan. Ia mendekat dan menatap Joseph dengan bias kebencian yang begitu kental. Bel masuk menggema. Membuat semua anak yang masih berada di koridor berbondong-bondong menuju tangga. “Ayo…” Nadine mengambil lengan Joseph hingga laki-laki itu berbalik dan berjalan di sampingnya. Keenan menatap dua punggung itu menjauh dengan amarah yang menggebu-gebu. Amarah yang belum sempat ia lampiaskan dan kini terasa memenuhi dadanya. “Kamu tidak apa-apa?” Nadine bertanya pada Joseph saat mereka menaiki tangga menuju lantai tiga. “Tidak apa-apa.” Joseph meraba pinggangnya yang terasa nyeri. *** Ilana menatap soal ulangan bahasa inggris di depannya. Semuanya sama. Ia masih tidak percaya jika ia benar-benar mendapatkan soal itu terlebih dahulu. Semua soal itu sudah melekat di otaknya, juga jawaban yang sudah ia persiapkan sejak semalam. Ilana menarik napas panjang. Ia mengambil pulpen dari tempatnya lalu mulai mengerjakan soal-soal itu. Ia telah berkali-kali berdoa semoga Tuhan mengampuni dosanya kali ini. Ilana bergerak dengan lambat. Meski ia bisa menyelesaikan soal itu dalam waktu setengah jam, ia memilih untuk mengikuti ritme teman-temannya. Membaca soal, berpikir, lalu menuliskan jawaban. Ia tidak ingin ada orang yang curiga padanya. Ia tetap melakukannya dengan hati-hati sambil terus mengingat jawaban yang sudah ia siapakan agar tidak ada yang terlewat. Saat bel yang menandakan waktu pelajaran menggema, beberapa anak maju ke dalam dan menaruh kertas jawabannya di meja guru, begitu juga Ilana. Yang lainnya menulis lebih cepat karena belum selesai, yang lain lagi pasrah saat ada satu atau dua jawaban yang masih kosong. Ilana tidak pernah merasa setenang ini setelah menyelesaikan ulangan. Biasanya ia masih dihantui oleh nilai yang kira-kira akan ia dapat. Ia tidak pernah benar-benar bisa tenang sebelum nilai keluar. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada semacam kelegaan yang memenuhi perasaannya. Seandainya ia mendapatkan perasaan ini tanpa harus berbuat curang, mungkin rasanya akan lebih menyenangkan. *** “Benarkah?” mata Emma membulat saat Joseph bercerita bahwa tadi pagi, ia di tendang oleh Keenan hingga jatuh tersungkur. “Itulah alasan utama kenapa aku tidak pernah ingin dekat dengan siapapun.” kata Nadine dengan nada lirih. Ia menyesal pada apa yang terjadi pada Joseph. Ia sadar bahwa ia menyebabkan laki-laki itu ada di posisi yang sulit. Ia seharusnya tidak dekat dengan laki-laki itu. Ia seharusnya cukup tahu diri bahwa dirinya memang sepertinya ia ditakdirkan untuk tak memiliki teman. “Keenan membenciku dan aku jadi public enemy. Semua orang yang dekat denganku pasti akan ikut terseret.” kata gadis itu lagi. “Keenan itu sinting. Dia bahkan mencari masalah dengan semua orang yang ditemuinya.” kata Emma. Memberitahu Nadine untuk jangan berpikir seperti itu. Joseph mengangguk, membenarkan kata-kata gadis itu. Ketiganya masih asik mengobrol saat sepasang mata memperhatikan meja mereka. Ilana tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini, Nadine bisa begitu dekat dengan Joseph dan Emma. Fokus Nadine terarah sepenuhnya pada Nadine yang terlihat beberapa kali mengulas senyum dan tertawa. Gadis itu berbeda. Gadis itu terlihat… normal. Ilana tahu bahwa sejak dulu, Nadine tidak memiliki teman. Gadis itu merasa terlalu spesial dan fokus pada dirinya sendiri. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Nadine membuka diri. Pemandangan itu tampak aneh bagi Ilana. Ia jelas tahu bahwa Nadine mengaggap Joseph adalah saingan, sama sepertinya. Ia tahu jelas bahwa gadis itu juga merasa bahwa keberadaan Joseph sebagai sebuah ancaman untuk posisinya. *** Haikal membuka pintu menuju rooftop sekolahnya dan merasakan teriknya sinar matahari langsung menerpanya. Ia memindai sekeliling untuk memastikan hanya ada dirinya sendiri di rooftop sekolahnya itu. Ia mencari tempat yang paling teduh di sana, dengan sebelah tangannya yang memegang sebuah bungkus makanan. Ia bersembunyi di bagian samping bangunan kecil tempat ia masuk ke sana agar terhalang matahari. Kedua tangannya mengeluarkan burger, juga es kopi yang ia beli di kantin dari bungkusannya. Haikal sengaja pergi ke sana karena tidak ingin bertemu dengan Keenan. Ia menghindari laki-laki-laki itu supaya bisa menikmati makan siang dengan tenang, dan akhirnya terpikirkan tempat ini. Ia sadar tidak akan ada orang bodoh yang ke sini disaat matahari bersinar begitu terik. Angin yang berembus saja terasa panas saat menerpa kulitnya. Tidak akan ada orang iseng yang datang ke sana di saat ruang makan dan kantin jelas lebih nyaman dengan fasilitas pendingin ruangan. Tapi Haikal tidak punya waktu untuk mengeluhkan tempat itu. Tempat itu jelas sempurna baginya saat ini. Ia mulai menggigit burgernya dan mengunyahnya pelan. Ia lupa kapan terakhir makan dengan tenang. Biasanya ia mengunyah dengan cepat, dengan matanya yang terus menatap pintu ruang makan dengan cemas. Ia pernah berusaha bersembunyi di tempat-tempat lain seperti toilet yang ada di lantai dasar, atau di lab bahasa, juga di ruang teater yang sepi. Tapi Keenan selalu mendapatkannya. Jika sudah begitu, Keenan akan memperingatinya untuk tidak bersembunyi darinya. Tapi Ia tidak bisa terus menerus menuruti perintah laki-laki itu. Jika ia tidak bisa melawan, paling tidak ia harus menghindar. Dan mulai saat ini, ia akan melakukannya. Ia telah mendapatkan tempat yang sempurna untuk bersembunyi dan ia akan selalu ke sini untuk makan siang. Setelah menghabiskan burgernya, ia menyesap es kopinya. Membiarkan minuman itu menghilangkan sisa rasa burger di mulutnya. Ia menyeka keringat yang mulai keluar di dahinya dengan punggung tangannya. Haikal lalu melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada lima belas menit lagi sampai bel masuk berbunyi. Ia sudah kepanasan dengan tubuh yang mulai berkeringat. Tapi jika ia turun sekarang, ia bisa saja bertemu dengan Keenan dan kembali menjadi pelampiasan rasa kesal laki-laki itu. Ia menggeleng. Ia akan turun saat bel berbunyi. Dengan begitu, Keenan tidak akan memiliki kesempatan untuk mengerjainya. *** “Kamu dari mana saja?” Keenan berteriak saat melihat Haikal masuk ke dalam kelas. Bel masuk berbunyi beberapa detik yang lalu. Hal yang membuat Haikal langsung turun dari tempat persembunyiannya. Keenan mengisyaratkan agar laki-laki itu mendekat dengan tangannya. “Dari mana saja?” Keenan bertanya lagi saat laki-laki itu sampai di depannya. “A…aku sakit perut sehingga bolak-balik ke toilet dan klinik.” Haikal berbohong. Ia memilin jari-jarinya karena gugup. Keenan menatap wajah putih Haikal yang memerah. Ia baru saja hendak berdiri dari duduknya saat guru bahasa mandarin masuk ke dalam kelas. Semua anak kembali dalam posisi siap. Keenan berdecak lalu menyuruh Haikal kembali ke kursinya. Haikal menghela napas. Ia berhasil kali ini. *** Ilana keluar dari minimarket dengan beberapa batang cokelat dan minuman kaleng di tangannya. Ia memelankan langkah hingga akhirnya benar-benar berhenti saat melihat Nadine ada di halte yang ada di seberangnya. Gadis itu duduk di bangku besi bersama beberapa orang lainnya. Sebuah bus berhenti di depan halte dan menghalangi pandangan Ilana. Saat bus kembali melaju, Nadine masih ada di sana, padahal bus sebelumnya kosong. Ilana memutuskan untuk duduk di depan minimarket itu dan membuka minuman kaleng di tangannya. Ia tidak mempedulikan supirnya yang menunggu di mobil yang terparkir di pelataran minimarket. Ilana meneguk minuman kalengnya dengan tatapan terarah lurus-lurus pada Nadine yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ilana masih di sana saat seorang wanita turun dari boncengan motor dan menghampiri Nadine di halte. Nadine tersenyum dan memeluk wanita itu sekilas. Itu ibunya Nadine, kata Ilana dalam hati. Wanita berpakaian sederhana dengan rambut panjang yang diikat. Sebelum jatuh miskin, wanita itu cukup sering terlihat ke sekolah untuk menjemput Nadine. Dalam balutan baju sederhana, tidak mengubah tatapan wanita itu pada anaknya. Tatapan itu tetap hangat dan penuh kasih sayang. Ilana menatap keduanya duduk di bangku yang disediakan. Sebelah tangan wanita itu terangkat untuk mengusap kepala Nadine yang tersenyum. Hati Ilana terasa nyeri. Ia tidak tahu kapan terakhir kali ibunya melakukan itu padanya. Yang selalu ia ingat adalah tangan ibunya yang menjambak rambutnya hingga ia kesakitan. Ibunya tidak pernah menunjukkan kasih sayang padanya seperti yang dilakukan ibu Nadine pada anaknya. Ia berpikir, apakah jika Nadine tidak ada di posisi pertama, ibunya tetap akan melakukan itu padanya. Mengusap rambutnya dengan pelan, lalu memeluknya. Tentu saja. Suara dalam hati menghardiknya. Ibu sesungguhnya akan selalu sayang pada anaknya apapun kondisi anaknya. Tidak seperti ibunya. Ilana meringis perih. Orang berpikir bagi anak, harta adalah segalanya. Adalah penting memenuhi semua kebutuhan anaknya mulai dari yang sekunder sampai yang tersier. Ada yang berpikir bahwa barang-barang mewah akan menyenangkan hati anaknya. Mereka sibuk mencari uang dan berharap bisa membahagiakan anaknya tanpa perlu repot-repot ada di sampingnya. Tapi bagi Ilana yang semua kebutuhannya terpenuhi, ia tetap merasa kosong. Tidak ada barang semahal apapun yang bisa menggantikan kehadiran orangtua di sisinya. Apalagi dengan semua obsesi ibunya yang nyaris membuatnya gila. Hanya melihat Nadine dan ibunya yang baru saja naik ke dalam bus yang sudah melaju meninggalkan halte, membuat Ilana sadar bahwa hidupnya sangat sangat buruk. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN