CHAPTER DUA PULUH LIMA

1762 Kata
Selama beberapa hari ke depan, Nadine mulai terbiasa dengan julukan-julukan yang tersemat padanya. Semenyakitkan apapun panggilan itu, ia tahu bahwa ia tidak bisa membungkam mulut mereka satu persatu, yang bisa ia lakukan adalah menutup kedua telinganya sendiri. Hanya itu yang bisa membuatnya bertahan. Ia menjalani hidupnya di sekolah seperti biasa. Kini ia lebih dekat dengan Joseph juga Emma. Hal yang juga disadari oleh anak-anak lain. Mereka makan siang di meja yang sama dan kerap mengobrol jika ada kesempatan. Teman-teman Emma sudah memperingati gadis itu untuk tidak terlalu dekat dengan Nadine. Semua orang tahu bahwa konflik gadis itu dengan Keenan belum selesai dan mereka takut jika Emma ikut terseret. Tapi Emma tak mendengarkan mereka. Ia adalah gadis yang suka bergaul dan akan berteman dengan siapa saja, termasuk Nadine yang kini mulai membuka diri. Sepulang sekolah, mereka pergi ke perpustakaan umum untuk belajar. Emma yang tidak punya kegiatan akhirnya mengikuti keduanya. Tapi, belajar memang sepertinya tak begitu cocok dengan Emma. Ia mulai bosan saat belum satu jam ia duduk di samping Nadine, tepat di depan Joseph. Saat keduanya masih sibuk mengerjakan tugas sekolah mereka, Emma sibuk berselancar di dunia maya. Ia juga melakukan selfie dan mengunggahnya di story instagramnya. Gadis itu memang cukup aktif di media sosialnya. Dengan paras cantik dan stylenya yang selalu trendi, gadis itu bisa dengan mudah menarik orang untuk menjadi pengikutnya. Emma pernah berpikir bahwa ia ingin menjadi selebgram. Ia merasa itu akan sangat cocok dengan dirinya. “Ayo cari camilan di bawah.” ajak Joseph. Ia melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. “Ayo.” jawab Emma. Ia langsung membereskan buku-bukunya. “Aku harus pulang.” kata Nadine. Ia mulai menutup buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam ranselnya. “Kenapa buru-buru?” Emma bertanya saat melihat Nadine sepertinya baru menyadari bahwa waktu bergulir begitu cepat. “Aku harus membantu ibuku.” jawab Nadine. Ia tidak menyangka waktu sudah semakin sore saking asiknya ia mengerjakan tugas dan berdiskusi dengan Joseph. Ia harus buru-buru sampai di rumah karena harus menggantikan ibunya menjaga toko. “i’m leaving.” kata Nadine sambil menyantelkan tali ransel ke punggungnya dan pergi dari sana. “Hati-hati.” Emma dan Joseph mengatakan itu nyaris bersamaan dan menatap Nadine yang melambai padanya. *** Ilana menatap halaman rumahnya yang luas dari jendela kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Gadis itu masih terjaga. Buku-bukunya masih terserak di meja belajarnya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia pikirnya. Tapi ia sadar bahwa otaknya terasa penuh. Tubuhnya lelah, tapi ia tahu bahwa ia tidak akan bisa memejamkan matanya. Ibunya telah memberi peringatan pada Ilana mengenai keinginannya. Ibunya terus bersikeras bahwa kali ini ia harus mendapatkan nilai tertinggi di ujian bahasa inggris. Ilana kebingungan. Ia tidak bisa fokus belajar karena tekanan ibunya. Belum memulai, ia merasa sudah kalah. Menghadapi Nadine saja sudah sulit, kini ia harus menghadapi Joseph. Ia merasa beban di pundaknya semakin berat. Ia tidak ingin hidup seperti ini. Ia ingin menjalani hari-hari seperti anak normal lainnya. Ia ingin punya banyak hal yang bisa dikenang dari masa sekolahnya. Tapi ia tahu bahwa selama ia dan ibunya masih hidup, kehidupan seperti itu tidak akan pernah ia dapatkan. Ibunya akan selalu memegang kendali dalam kehidupannya, entah sampai kapan. Ia kembali ke meja belajarnya dan menatap sebuah foto yang ada di sana. Sebelah tangannya terulur untuk mengambilnya. Ia menatap potret dirinya dan kakak perempuannya yang sedang tersenyum ke arah kamera. Sebelum kakaknya pergi meninggalkannya, ia masih bisa tersenyum, ia masih berpikir bahwa mereka berdua bisa melalui ini sama-sama, bahwa mereka bisa saling menguatkan sampai akhirnya bisa mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Tapi akhirnya Elena, kakak perempuannya meninggalkannya. Tuhan mungkin begitu sayang pada gadis itu sehingga tidak ingin gadis itu terus-menerus menderita. Tuhan ingin Elena bahagia di surganya. Sebelum kakaknya meninggal, Elena lah yang berada di posisi sulit. Ibunya mencurahkan segala obsesinya pada Elena. Saat itu, Ilana bisa hidup dengan tenang karena Elena lah yang menjadi korban keegoisan ibunya. Elena tidak pernah bermain seperti anak seusianya. Gadis itu terus menerus belajar demi memenuhi semua ekspektasi ibunya. Tidak jarang Ilana mendengar gadis itu menangis karena sudah tak kuat karena kerap mendapatkan perlakukan buruk jika nilainya tidak sesuai dengan keinginan ibunya. Dulu Ilana tidak bisa melakukan hal lain selain memeluk kakaknya. Ia tahu bahwa tidak ada yang bisa mengurangi penderitaan kakaknya. Elana telah berjuang keras namun tetap dipukul jika lengah sedikit saja. Ilana tahu bahwa Elena pernah berpikir untuk bunuh diri. Tapi akhirnya Elena memilih bertahan demi dirinya. Kakaknya tidak ingin semua obsesinya dilimpahkan pada Ilana. Gadis itu berjuang sampai akhir demi Ilana. Ia tidak ingin Ilana menjalani kehidupan sepertinya. Ia ingin Ilana bisa seperti anak-anak seusianya. Elena pernah berjanji jika ia sudah bekerja, ia akan mengajak Ilana untuk pergi dari rumah. Elena berpikir bahwa lebih baik mereka hidup berdua. Elena sedang berusaha mewujudkan mimpi sederhananya, hingga akhirnya gadis itu pergi selama-lamanya dari hidup Ilana. Elena meninggal karena kecelakaan. Nyawa gadis itu tidak bisa diselamatkan dan ia langsung menggantikan posisi gadis itu. Semua obsesi ibunya yang ada di pundak Elena akhirnya dilimpahkan pada Ilana, sampai sekarang. Kini Ilana tahu persis apa yang Elena rasakan dulu. Keinginan bunuh diri karena merasa putus asa akan hidup yang kebebasannya dirampas, juga pukulan demi pukulan yang diterimanya kerap mendatanginya. Namun jika keinginan itu datang, Ilana kerap mengingat Elena. Bagaimana Elena berjuang untuk tetap hidup demi dirinya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan hidupnya. Ia tahu Elena tidak akan suka ia pergi dari dunia ini dengan cara seperti itu. Ia akan berjuang untuk mewujudkan mimpi Elena yang belum sempat gadis itu raih, yaitu hidup dengan bebas. *** Haikal turun dari mobil dengan rasa malas yang luar biasa. Akhir-akhir ini Keenan semakin keterlaluan. Ia sepertinya sudah merasa lelah karena setiap hari harus menghadapi laki-laki itu. Ia kehilangan semangat hidupnya. Ia merasa hidupnya sia-sia. Ia berpikir sampai kapan ia akan mengalami ini. Kelulusan yang ia pikir akan datang sebentar lagi nyatanya terlalu lama jika harus berhadapan dengan Keenan setiap hari. Belakangan ini, ia menghabiskan waktu di rumah dengan mengurung diri di kamar. Ia merasa marah pada dirinya sendiri. Ia merasa tidak berguna karena selalu diam saat Keenan merisaknya. Hari-hari Haikal sangat buruk akhir-akhir ini dan mengakibatkan ia tak fokus belajar. “Bersemangatlah sedikit.” suara itu terdengar tepat saat sebuah tangan melingkari lehernya. “seharusnya kamu tersenyum karena pagi ini begitu cerah.” Seringai Keenan begitu dekat. Haikal menghela napas berat dengan tidak ketara. Ia menunduk dan memerhatikan langkah kakinya yang teratur. “Raut wajahmu membuat moodku tidak baik. Kamu tahu kan akibatnya kalau moodku tidak bagus?” kata-kata Keenan membuat Haikal kembali menengadah. Haikal mencoba tersenyum kaku. “terlambat.” Keenan mengurai tangannya dari leher laki-laki itu. Ia melepaskan tasnya dan memberikannya pada Haikal. “Bawakan tasku sambil berjalan jongkok.” perintah Keenan. Haikal menghentikan langkahnya dan menatap Keenan dengan tatapan memelas. Ia berharap kali ini Keenan bisa berbelas kasih padanya. Kelas mereka ada dilantai tiga, akan sangat melelahkan jika ia harus berjalan jongkok menaiki tangga hingga sampai di kelasnya. “Semangat.” Keenan menepuk pundak laki-laki itu dan jalan lebih dulu. “jangan sampai aku melihatmu berdiri. Awas saja.” Keenan mengacungkan satu lengannya pada Haikal. Memberitahu laki-laki itu jika ia akan memberinya pelajaran jika laki-laki itu tidak mengikuti perintahnya. Haikal menelan ludah. Ia mulai berjongkok, sedang kedua tangannya memeluk tas milik Keenan. Ia mulai bergerak. Haikal mengacuhkan tatapan-tatapan kasihan yang mengikutinya dalam perjalanannya menuju kelas. Ia berhenti beberapa kali karena merasakan kakinya sudah bergetar. Ia menarik napas dalam-dalam lalu kembali melanjutkan perjalanan. Peluh sudah membasahi dahi laki-laki itu. *** “Ilana, nanti tolong kumpulkan tugas yang lain dan taruh di meja saya ya.” Seorang guru fisika berkata pada Ilana yang duduk di bangku paling depan. “Iya, Miss.” kata Ilana. Sepeninggal guru itu, suasana tetap terkondisikan. Semua anak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ilana berkali-kali menguap. Semalam ia tidur kurang dari tiga jam. Ia tidak punya pilihan lain, ia mengambil satu butir obat dari kotak obatnya dan meminumnya secara diam-diam. Akhir-akhir ini, ia sudah mulai mengurangi vitamin-vitamin yang ibunya berikan. Ia merasa semakin lama, vitamin-vitamin itu semakin banyak dan ia sudah mulai muak harus mengonsumsinya setiap hari. Tapi kali ini ia benar-benar membutuhkan obat itu untuk menahan kantuknya. Jika ia memaksakan diri, ia mungkin akan tidur pulas di mejanya. Satu persatu, kertas tugas itu diletakkan di atas mejanya. Semakin lama semakin bertumpuk. Setelah menyelesaikan miliknya, Ilana meletakkan lembaran kertas miliknya di atas tumpukan itu. Ia menunggu hingga yang lainnya selesai. Saat bel istirahat berbunyi, beberapa anak langsung menyerbu mejanya dan mengumpulkan tugas itu. Anak-anak mulai keluar dari kelasnya. Ilana membereskan tumpukan kertas itu dan membawanya keluar kelas. Ia berjalan menyusuri koridor lalu turun sampai ke lantai dasar dan berbelok ke kanan, ke ruang guru yang ada di ujung koridor. Ia mengetuk pintu itu dan masuk. Ruang itu besar, dengan meja-meja dan kursi yang sebagian kosong. “I want to put this task on Miss Arni desk.” Ilana mengatakan itu saat seorang guru bertanya keperluannya datang ke ruang guru. Guru wanita berkacamata itu mengangguk lalu kembali pada komputer di depannya. Beberapa guru sudah meninggalkan mejanya dan pergi ke ruang makan. Tenaga pengajar dan karyawan di sekolah itu juga memiliki ruang makan yang terpisah dari ruang makan murid di sana. Ilana pergi ke meja guru fisika itu. Meja itu kosong. Ia menaruh tumpukan kertas itu di sudut meja. Ia kembali berjalan dan langkah kakinya memelan saat ia hampir melewati meja guru bahasa inggris yang kosong. Ia memindai sekeliling dan melihat bahwa hanya ada tiga orang guru di ruangan itu dan tengah sibuk dengan layar komputernya masing-masing. Ilana memindai meja itu dan tatapannya terarah pada sebuah map berwarna cokelat yang ada di pojok meja. Ia merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak liar. Dilihatnya lagi tiga orang guru yang duduk membelakanginya. Ilana berjalan mendekati meja itu. Sebelah tangannya membuka map cokelat itu. Kertas berisi soal ujian untuk kelasnya terlihat. Ilana menelan ludah. Ia memilin-milin kedua jarinya. Selama beberapa saat, otak Ilana terasa penuh, seakan otaknya diminta bekerja lebih keras dari biasanya. Ada yang berbisik bahwa ia seharusnya tidak melakukan itu. Bisikan itu menyuruhnya untuk buru-buru pergi dari sana. Namun ada bisikan lain yang tak kalah kuat. Bisikan itu menyuruhnya untuk mengambil kesempatan yang ada. Bisikan itu bilang bahwa ini adalah jawaban atas semua keinginan ia dan ibunya. Dengan ini, ia akan bisa dipastikan mendapatkan nilai tertinggi di ujian itu. Bisikan itu bilang bahwa Ilana seharusnya bersyukur karena mendapat kesempatan itu. Sebelah tangan Ilana menarik kertas itu hingga terlihat sepenuhnya, sementara sebelah tangannya yang lain mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Dalam sekejap, soal-soal ujian itu terabadikan dalam galeri ponselnya. Ilana kalah menahan diri. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN