Ilana sedang belajar di kamarnya saat ibunya masuk dengan piring berisi buah potong di tangannya.
“Terima kasih…” kata llana saat piring itu diletakkan di sebelahnya.
“Mama dengar akan ada ujian bahasa inggris minggu depan.” kata Helen. Ia melihat anaknya mengangguk. “dengar… kali ini, ibu mau kamu dapat nilai tertinggi di kelas.” Helen menatap tangan anaknya yang sedang menulis tiba-tiba berhenti.
Ilana menoleh lalu menggeleng pelan. Ia tidak bisa lagi memberikan ibunya bayang-bayang semu. Ia telah menyadari bahwa kemampuannya memang hanya sampai sini. Belakang, ia bahkan sudah malas belajar karena tahu bahwa sekeras apapun ia berusaha, ia tidak akan bisa melampaui Nadine juga Joseph. Ia sudah berjuang selama dua tahun dan kini sadar, mungkin ia memang ditakdirkan ada di bawah Nadine.
Ilana mulai berpikir bahwa menjadi peringkat dua ataupun tiga bukanlah sesuatu yang buruk. Ia bisa menjanjikan akan masuk tiga besar. Apakah itu tidak cukup?
“Ilana pikir posisi dua atau tiga tidak buruk. Ilana bisa janji agar tetap bertahan di tiga besar.” kata Ilana dengan nada pelan. Ia melihat ibunya yang semula duduk di tepi ranjang, kini berdiri dan menghampirinya.
“Tidak buruk katamu?” sebelah tangan Helen terangkat untuk mencengkram rahang Ilana. Helen mengangkat wajah Ilana untuk menatapnya. “jangan pernah kamu berpikir untuk berhenti. Mama ingin kamu mendapatkan nilai terbaik kali ini.”
“Lakukan apapun agar bisa mendapatkan nilai tertinggi. Lakukan apapun, meski harus dengan cara kotor sekalipun.” kata Helen dengan nada pelan namun sarat tekanan. Ia menatap tepat ke manik mata Ilana. Cengkraman di rahang gadis itu mengerat. “ibu akan menghukummu lebih berat jika kamu gagal kali ini. Ibu tidak peduli bagaimana cara kamu mendapatkannya. Ibu hanya mau hasilnya.” cengkraman itu terlepas, ia membalik badan dan keluar dari kamar.
Ilana menarik napas saat mendengar pintu kamarnya tertutup. Semua kalimat-kalimat ibunya berputar-putar di otaknya. Ia tahu ibunya tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Tapi, ia tidak pernah ingin berbuat curang. Selama ini, ia telah belajar mati-matian dan tidak pernah berpikir untuk melakukan cara kotor demi mendapatkan nilai yang ia inginkan. Ia tidak mengerti kenapa ibunya tega memintanya melakukan itu, hanya demi sebuah nilai tertinggi.
***
Joseph dan Nadine bertemu lagi di taman meski mereka tidak janjian. Namun kini mereka bertemu saat matahari sudah tenggelam. Joseph membeli dua cup es krim dan memberikan salah satunya pada Nadine yang langsung mengucapkan terima kasih. Joseph tahu mood gadis itu masih juga belum membaik setelah sejak di sekolah, setelah banyak anak-anak yang memanggilnya anak koruptor ditambah dengan senyum mengejek.
“Kamu baik-baik saja?” Joseph bertanya karena melihat gadis itu sejak tadi hanya terdiam. Gadis itu menatap lurus-lurus ke beberapa orang yang sedang berkumpul dan bernyanyi dengan gitar tak jauh dari tempat mereka duduk.
Nadine mengangguk. Ia menoleh dan mencoba tersenyum kecil. “aku hanya merasa bingung…” kata gadis itu. “aku merasa marah saat orang memanggilku anak koruptor, namun aku tidak benar-benar bisa marah.” katanya lagi. “aku pikir itu memang benar, tapi bukankah itu bukan kesalahanku?”
Joseph tidak mengatakan apapun.
“Rasanya sangat menyakitkan saat kita marah namun tidak bisa melampiaskannya.” kata Nadine lagi. “saat aku ingin membalas mereka agar mereka tak memanggilku seperti itu lagi, seperti ada yang selalu berbisik ‘kenapa marah? kamu memang anak koruptor’.” Nadine tersenyum sinis.
“Aku tidak tahu sampai kapan predikat itu akan melekat padaku. Apakah itu akan terus mengikuti sepanjang hidupku.”
Ini adalah kali pertama Nadine mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya pada orang lain. Entah kenapa, ia kini percaya bahwa laki-laki itu tak seperti temannya yang lain. Dan ia merasa sedikit lega setelah menceritakan itu.
“Orang-orang akan bosan dan melupakan itu.” itu adalah kalimat yang dipilih Joseph untuk sedikit menenangkan gadis itu.
“Menurutmu begitu?” Nadine melihat laki-laki itu mengangguk.
“Jika kamu bisa tetap percaya diri meski semua orang memanggilmu seperti itu, mereka akan sadar kalau kamu tidak terpengaruh dengan itu. Mereka akan berhenti dengan sendirinya.” papar Joseph.
***
Joseph masih ada di kelas saat beberapa temannya sudah keluar untuk masuk ke ruang laboraturium. Joseph menatap Ilana yang juga masih ada di dalam kelas. Joseph sudah berdiri dari duduknya saat melihat Ilana mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Joseph melihat gadis itu mengeluarkan beberapa butir obat lalu menelannya dengan bantuan air mineral. Setelah itu, gadis itu berdiri dan membawa buku-bukunya keluar dari kelas.
Ini bukan kali pertama Joseph melihat itu. Ia pernah beberapa kali melihat gadis itu menelan obat diam-diam. Saat itu, ia berpikir bahwa gadis itu mengidap penyakit yang mengharuskannya mengonsumsi obat. Tapi semakin ke sini, ia melihat gadis itu sangat sehat.
Joseph berjalan keluar kelas lalu menuruni tangga untuk mencapai lantai dasar. Ia mendekati laboratorium dan duduk di sebelah Emma saat melihat gadis itu melambai padanya.
“Kamu ke mana kemarin?” Joseph berbisik tepat saat seorang guru wanita masuk ke dalam lab.
Emma tidak menjawab, ia hanya mengulas senyum tipis. Joseph tak bertanya lagi. Mereka mulai fokus pada guru yang sudah memulai materi.
***
Keluar dari lab, beberapa anak memilih menaruh buku-bukunya di loker lalu langsung pergi menuju kantin juga ruang makan. Setelah menaruh buku-bukunya di loker, Joseph dan Emma berjalan beriringan menuju ruang makan.
“Apa kamu tahu kalau Ilana sering mengonsumsi obat diam-diam?” Joseph bertanya dengan nada pelan saat mereka berdua menaruh nampan di atas meja dan duduk berhadapan.
“Kamu melihatnya?” Emma bertanya.
Joseph mengangguk, “beberapa kali.”
“Itu vitamin.” kata Emma. Ia melihat Joseph sudah memulai suapan pertama.
“Oh…” hanya itu yang keluar dari mulut Joseph.
“Ibunya selalu meminta Ilana mengonsumsi vitamin agar sehat.” kata Emma, “terbukti, selama hampir tiga tahun ini, absensi dia selalu penuh karena jarang sakit.” jelas Emma. “gadis itu sudah seperti mutan karena punya banyak kegiatan tapi tidak pernah sakit.”
“Boleh aku duduk di sini?” keduanya menoleh dan melihat Nadine berdiri di samping meja mereka.
“Silahkan.” Emma mempersilakan dengan ramah. Joseph mengulas senyum tipis pada gadis itu.
“Bukankah tidak bagus mengonsumsi vitamin secara terus menerus?” Joseph kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Emma.
“Ilana hanya menuruti ibunya.” kata Emma setelah selesai mengunyah dan menelan isi mulutnya. “Obsesi untuk mendapatkan peringkat pertama sebenarnya bukan milik Ilana, tapi milik ibunya.” saat Emma mengatakan itu, Nadine ikut menatap gadis itu yang duduk di sebelahnya.
Emma mengangguk saat melihat Nadine menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “dulu aku satu SMP dengannya.” kata Emma lagi.
“Aku tahu kalau Ilana sebenarnya sudah muak dengan obsesi ibunya. Tapi dia tidak bisa melawan.” Emma melanjutkan ceritanya. “aku pernah mendengar bahwa ibunya suka sekali main tangan. Aku pernah beberapa kali melihat lebam di beberapa bagian tubuhnya.”
Joseph teringat oleh lebam yang ia lihat di lengan gadis itu. Ia mengingat lagi pergaulan gadis itu di sekolah, juga di tempat lesnya. Gadis itu selalu sendiri dan nyaris tidak pernah terlihat begitu dekat dengan orang lain, selain dengan teman sebangkunya. Jika semua obsesi itu memang milik ibunya, berarti gadis itu telah mengorbankan masa sekolahnya.
Nadine yang pertama kali menengadah dan melihat orang yang sedang mereka bicarakan masuk ke dalam ruang makan dan langsung masuk ke dalam antrean.
Nadine ingat dia pernah iri dengan kehidupan gadis itu yang baginya terasa sempurna. Namun saat mendengar cerita Emma, ia tahu bahwa gadis itu kesakitan. Ketiganya menatap Ilana yang tampak mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan nampan yang ada di tangannya. Langkah kaki gadis itu lalu membawanya pada meja kosong yang ada di pojok paling belakang.
“Kenapa ibunya melakukan itu? maksudnya… kenapa ibunya begitu terobsesi dengan posisi pertama?” pertanyaan itu keluar dari mulut Nadine. Ia tidak bisa lagi mengenyahkan rasa penasarannya.
Emma menggeleng, “aku tidak tahu sejauh itu.” kata Emma. “aku mendengar itu semua dari mulut ke mulut. Tidak ada yang pernah benar-benar tahu. Tapi entah kenapa aku percaya.” tambahnya.
“Saat duduk di kelas satu sekolah menengah, dia tampak normal seperti yang anak lainnya. Bergaul, mengobrol, punya teman. Saat itu, dia memang selalu ada diperingkat pertama meski punya kehidupan normal. Entah kenapa tiba-tiba dia berubah. Mulai menarik diri dan belajar lebih keras daripada biasanya.” Emma menceritakan itu dengan nada pelan agar tidak ada yang bisa mencuri dengar. “dan itu terjadi sampai sekarang.”
Joseph tanpa sadar melempar pandangan ke arah Ilana yang duduk menghadap ke arahnya. Gadis itu duduk seorang diri dan fokus pada makanannya.
Ketiganya sudah mulai kembali fokus pada makanan masing-masing saat tiba-tiba Keenan menjatuhkan bobotnya di samping Joseph, tepat di depan Nadine yang langsung menengadah dan menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
“Hai… anak koruptor.” Keenan mengatakan itu sebagai kalimat sapaannya pada Nadine. Laki-laki itu sudah mengambil sendok dan memulai suapan pertama.
“Jangan jadi seperti ayahmu.” kata laki-laki itu lagi setelah ia berhasil mengosongkan mulutnya. “cukup ayahmu saja yang mempermalukan keluarga dan menjadi public enemy.” kata Keenan lagi. “dia bahkan menjadi pengecut karena lebih memilih bunuh diri dibanding mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Joseph dan Emma ikut kesal mendengar kata-kata laki-laki itu. Joseph baru saja ingin meminta laki-laki itu diam saat Nadine mengambil botolnya dan menyiram Kenan hingga wajah laki-laki basah.
Joseph dan Emma saling pandang. Tidak menyangka Nadine akan melakukan itu.
Keenan terkekeh lalu menyeka wajahnya yang basah.
“Kalau kamu mau menghinaku, silahkan. Tapi jangan pernah membicarakan ayahku.” kata Nadine dengan nada marah yang tidak bisa lagi disembunyikan. Semua mata sudah menghujam keduanya. “dia sudah meninggal. Biarkan dia tenang.” kata gadis itu lagi. Kini dengan nada yang lebih lirih.
Kekehan mengejek Keenan terdengar lagi, “kalau saja ayahmu tidak memilih bunuh diri, mungkin hidupmu tidak akan seburuk ini. Kalau saja dia mau bertahan, anak dan istrinya tidak mungkin menjadi sasaran kebencian orang. Kamu menanggung dosa besar yang ayahmu lakukan.”
“CUKUP!!!” Joseph yang mengatakan itu. Ia sudah berdiri dan mengambil kerah kemeja Keenan yang tampak tidak takut sama sekali.
“Jangan korbankan kenyamanan hidupmu untuk membela anak koruptor ini.” Keenan mengatakan itu pada Joseph dengan nada rendah dan dalam. Ia secara terang-terangan meminta laki-laki itu untuk menjauhi Nadine.
“Kamu sudah keterlaluan.” Tangan Joseph masih mencengkram kerah kemeja Keenan yang masih tampak tenang.
“Apa mengatakan yang sejujurnya itu bisa dibilang keterlaluan?” Keenan menatap Joseph tepat ke manik matanya.
“Setidaknya biarkan dia makan dengan tenang.” kata Joseph sambil melepas cengkeramannya dengan sedikit dorongan.
“Jangankan makan. Jika aku bisa masuk ke dalam mimpi gadis itu, aku akan tetap mengganggunya.” Keenan mengatakan itu sambil menatap ke arah Nadine. Ia menyeringai lalu kembali berkata, “bagaimana rasanya dibela oleh seseorang? apa kalian berdua berpacaran?” Keenan mengatakan itu sambil menatap Nadine dan Joseph bergantian. Keduanya terdiam. Sama sekali tidak menyangka jika Keenan bisa berpikiran seperti itu.
Nadine tidak kuat lagi mendengar omong kosong Keenan. Ia memutuskan untuk menyelesaikan makannya. Ia membawa serta nampan makannya yang isinya masih tersisa setengah menuju pojok ruangan.
Nadine baru berjalan beberapa langkah saat gadis itu jatuh tersungkur. Gadis itu jatuh karena tersandung kaki seorang gadis yang dengan sengaja melakukan itu.
“SAMPAH.” Gadis yang dengan sengaja membuat Nadine jatuh itu berdiri dari duduknya, membawa nampannya dan berjalan keluar dari ruang makan.
Tawa Keenan meledak. Emma membantu Nadine berdiri. Kemeja gadis itu sedikit kotor karena terkenan makanan yang ia bawa. Emma langsung mengajak Nadine buru-buru keluar dari sana.
“Lihat, kalau kamu berpikir hanya aku yang membenci Nadine, kamu salah.” Keenan menatap Joseph yang masih berdiri di sebelahnya. “ada banyak orang di sekolah ini yang membenci gadis itu dan kamu tidak akan bisa membungkam mereka.”
***
“Keenan memang iblis dengan wajah malaikat.” Emma mengatakan itu di toilet saat Nadine sedang membersihkan kemejanya yang sedikit kotor. Nadine menatap Emma melalui pantulan cermin di depannya. Gadis itu menyandar di tembok di belakangnya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Padahal dia lebih sampah karena sama sekali tidak berguna. Dia hanya tahu merisak orang-orang.” kata Emma lagi. “jangan pernah dengarkan dia. Anggap saja dia orang gila yang berkeliaran di sekolah ini.”
Nadine tersenyum mendengar kata-kata gadis itu. Entah kenapa sumpah serapah gadis itu membuat perasaannya lebih baik.
“You makes me better. Thanks.” kata Nadine.
TBC
LalunaKia