CHAPTER DUA PULUH TIGA

1936 Kata
Pagi itu, hujan mengguyur kota Jakarta dengan intensitas lumayan deras. Joseph sudah menyelesaikan sarapannya, dan setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, ia pergi keluar dari rumah. Ia naik ke mobilnya yang sudah ada di depan dan membiarkan supirnya membawanya ke sekolah. Mobil itu keluar dari komplek perumahannya dan bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan. Mata laki-laki itu memicing saat kendaraan roda empatnya bergerak mendekati halte bus. Wiper yang terus bergerak untuk membersihkan kaca mobil dari air hujan yang masih turun. Dalam jarak pandangnya yang terbatas, ia meminta supirnya untuk berhenti di depan halte karena ia melihat Nadine berdiri seorang diri di sana. Sesaat setelah mobil itu berhenti di depan halte, Joseph membuka kaca mobilnya dan sedikit berteriak, “ayo masuk.” Nadine terdiam dan tampak berpikir. Ia melirik penunjuk waktu di pergelangan tangannya. Ia sudah menunggu bus selama hampir setengah jam dan tidak ada yang lewat. Ia tidak mengerti apa yang salah dengan hari ini hingga bus yang biasa ia tumpangi tak juga terlihat di pelupuk matanya. Nadine tidak punya pilihan lain, ia bisa telat masuk ke sekolah jika terus memaksa untuk menunggu bus. “Ayo masuk…” suara Joseph kembali menyadarkan Nadine dari semua pemikirannya. Langkah kakinya mendekat, sebelah tangannya membuka pintu dan melesak di samping Joseph. Joseph mendengar gadis itu mengucapkan terima kasih, juga bercerita bahwa ia sudah menunggu setengah jam dan tidak ada satu bus pun yang lewat. Gadis itu mengeluh karena ini adalah pertama kalinya. “Aku pikir ini karena hujan deras, tapi… rasanya tidak mungkin.” kata Nadine di akhir kalimatnya. Ini adalah kalimat terpanjang yang gadis itu ucapkan padanya, pikir Joseph. Gadis itu bahkan bercerita tanpa diminta. Ia hanya mengulas senyum untuk menanggapi gadis itu. “Maaf aku terlalu banyak bicara.” kata Nadine saat ia sadar bahwa ia telah bercerita terlalu jauh. “Tidak apa-apa.” balas Joseph. Mendengar gadis itu mengoceh jelas lebih menyenangkan dibanding keheningan yang akhirnya menyelimuti mobil itu. Nadine menatap keluar jendela. Hujan sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Genangan air terlihat di mana-mana. Pikiran Nadine melayang pada kenangan sebelum keluarganya bangkrut. Jok mobil itu mengingatkannya pada mobil mewahnya yang selalu mengantar dan menjemputnya setiap hari. Dulu, pemandangan di luar jendela tidak pernah menarik perhatiannya. Ia lebih suka berselancar di dunia maya, atau mengambil potret dirinya sendiri, atau membuka e-commerce dan menghabiskan uang. Kini semuanya hanya bisa ia kenang. Kenangan yang entah kenapa kadang terasa menyakitkan jika diingat. *** Keenan berdiri di depan loker milik Nadine. Kotak penyimpan yang tempo hari ia rusak kini sudah dibetulkan hingga berfungsi dengan baik. Kali ini, ia tidak ingin merusaknya lagi. Benda-benda yang ada di dalam loker tidak ada yang cukup berharga untuk ia rusak. Keenan menoleh pada temannya yang langsung mengulurkan kertas dalam tangannya. Ia mengambil kertas itu dan menempelkannya di pintu loker Nadine. “Anak koruptor. Dihidupi dari uang haram. Hidup mewah hasil mencuri uang rakyat. Sampah masyarakat.” Ia membaca tulisan yang ia tulis dengan tinta merah. Ia berpikir bahwa tulis itu sudah lebih dari cukup. Siswa-siswa yang berlalu-lalang di depan loker itu sempat mencuri pandang lalu akhirnya melanjutkan perjalanannya. Tidak ada yang mau berurusan dengan Keenan yang masih berada di sana. “Keenan, lihat.” Felix meminta Keenan menghampirinya yang sedang menyandar di tembok koridor dan menatap ke bawah. Keenan mendekat hingga akhirnya melihat Nadine berjalan berdua dengan Joseph dengan satu payung yang melindungi keduanya. Sebuah mobil mewah yang ada di sana meyakinkannya bahwa mereka datang bersamaan. Matanya mengikuti keduanya hingga keduanya sampai di koridor sekolah. Joseph menaruh payung di tempat yang disediakan dan berjalan beriringan dengan Nadine yang tampak tersenyum. Keduanya tampak membicarakan sesuatu yang jelas tidak bisa ia curi dengar. Sebelah tangan Keenan mengepal kuat. Giginya gemelutuk karena amarah yang perlahan naik ke kepalanya. Ia tidak tahu sejak kapan mereka terlihat sedekat itu. Sebelumnya, ia tidak pernah melihat Nadine dekat dengan siapapun. Sejak dulu gadis itu selalu sendiri dan tidak pernah bergantung pada orang lain. Kini, melihat gadis itu dekat Joseph jelas menginjak-injak harga dirinya. Gadis itu menolak perasaannya dan kini tertawa bersama laki-laki itu. Gadis itu selalu menolak pulang bersamanya dan kini, mereka berdua berangkat bersama. Keenan melihat keduanya menghilang dari pandangan saat menaiki tangga. Keenan membalik badan lalu pergi dari sana. Kedua temannya mengikuti langkah kaki Keenan yang lebar-lebar. *** Joseph baru saja membuka lokernya saat melihat Nadine berdiri di depan lokernya. Gadis itu terdiam dan hanya menatap pintu lokernya dengan raut wajah begitu sulit diartikan. Joseph yang penasaran akhirnya mendekati gadis itu dan terkejut melihat kertas di pintu loker gadis itu. Nadine tidak tahu apa yang ia rasakan. Jika Keenan merusak barang-barangnya, ia bisa melawan. Namun jika Keenan melakukan ini, ia tidak bisa berbuat apapun. Untuk marah pun sepertinya ia tidak pantas. Semua kalimat yang dituliskan di kertas itu benar. Ia memang anak seorang koruptor. Ia pernah dihidupi dengan uang haram. Ia pernah merasakan hidup mewah hasil ayahnya mencuri uang rakyat. Dan ayahnya memang sampah masyarakat. Kenangan membawanya pada saat pertama kali ayahnya menjadi tersangka kasus korupsi itu. Media sosialnya dipenuhi oleh makian karena ayahnya korupsi. Nadine memang cukup aktif di media sosial untuk memamerkan kekayaannya. Namun ia tidak menyangka bahwa orang-orang yang dulu menyukai dan mendukungnya kini berbalik menyerangnya. Dalam semalam, Nadine dihantui oleh semua komentar yang menyerukkan sumpah serapah dan makian padanya. Nadine akhirnya memutuskan untuk menutup akun media sosialnya saking tidak kuatnya. Mereka semua membuat mentalnya down. Dan itu juga yang kini dilakukan oleh Keenan. Semua lamunan Nadine tersadar saat melihat Joseph mengambil kertas itu, meremasnya menjadi gulungan dan membuangnya di tempat sampah. Nadine lalu mendekati lokernya, membuka kuncinya dan mengambil beberapa buku. “Anak koruptor.” suara itu terdengar saat Nadine hendak pergi dari lokernya. Gadis itu menoleh dan melihat seorang gadis yang mengatakan itu baru saja melewatinya bersama satu temannya dan menatapnya dengan tatapan mencemooh. Dulu, orang-orang menahan diri untuk merisaknya karena tahu bahwa Keenan akan membalas. Kini, saat Keenan memutuskan untuk menjadikannya lawan, ia tahu bahwa banyak orang yang akan lebih berani. Nadine sudah harus siap dengan semua yang akan terjadi kedepannya. *** Emma masih ada di kamarnya saat hujan sepertinya tidak akan reda dalam waktu dekat. Ia berdiri di depan jendela kamarnya dan menatap halaman rumahnya yang basah. Tetes hujan membuat kaca jendelanya basah dan membatasi arah pandangnya ke luar. Ia sudah memakai seragamnya dan menyiapkan keperluan sekolahnya. Tapi ia sama sekali tidak ingin pergi ke sekolah. Udara dingin itu membuatnya malas dan ia tahu bahwa bergelung dibawah selimutnya jelas akan terasa lebih menyenangkan dibanding pergi ke sekolah. Ia akhirnya kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi tepat saat ponselnya berdering. Nama Axel ada di layarnya. Ia menswipe layar untuk mengangkat panggilan itu. Setelah berbicara dengan orang di seberang sambungan, ia mengambil tasnya di meja belajar lalu keluar dari kamar dan menuruni tangga. Ia membuka pintu rumahnya tepat saat mobil Axel berhenti di halaman rumahnya. Ia melihat laki-laki itu menurunkan kaca mobilnya dan mengisyaratkan agar dirinya melesak ke kursi sebelahnya. Emma tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Ia membiarkan beberapa tetes air hujan membasahi rambutnya. Axel memang datang untuk menjemputnya, seperti biasa. Namun saat Emma bilang bahwa ia sedang malas ke sekolah, laki-laki itu mengajaknya pergi keluar agar ia tidak bosan. Keinginannya untuk bergelung di bawah selimut tebalnya seharian ia kubur jauh-jauh. Ia tahu akan lebih baik menghabiskan waktu dengan laki-laki itu. *** Mood Keenan buruk seharian ini sehingga ia melampiaskannya pada Haikal. Haikal telah berjuang menyelesaikan harinya yang baginya, ini yang terburuk karena Keenan benar-benar tidak membiarkannya bernapas lega. Laki-laki itu sudah menyuruhnya membeli sarapan pagi-pagi, lalu memintanya mengerjakan tugasnya. Saat jam istirahat, ia kembali dipaksa untuk membelikan laki-laki itu makan siang, kali ini dengan uang jajan miliknya yang tidak seberapa. Keenan makan di kelas dengan nasi goreng yang sudah ia belikan. Laki-laki itu menyuruhnya stay di sana dan melarangnya untuk pergi ke ruang makan. Mereka hanya berdua di kelas itu. Haikal mendengar Keenan mengeluh karena nasi goreng itu tidak enak dalam mulutnya. Laki-laki itu lalu mendorong boks yang isinya masih tersisa setengah itu hingga butiran-butiran nasi itu mengotori lantai. Keenan menyuruhnya membersihkannya tanpa alat apapun. Dengan kedua tangannya, Haikal memunguti nasi-nasi yang berserakan itu. *** Joseph menatap Nadine yang ada di depannya. Gadis itu tengah mencurahkan seluruh fokus pada makan siangnya. Joseph tahu bahwa kejadian tadi pagi jelas mengganggu pikiran gadis itu. Ia tahu ada banyak hal yang berkelit dalam otak kecil gadis itu. Tapi Joseph tidak bisa melakukan apapun. “You ok?” Joseph akhirnya bertanya. Ia melihat Nadine menengadah lalu mengangguk. “aku tahu aku tidak berhak mengatakan ini. Tapi, kamu harus mulai menutup telinga dari omongan-omongan orang lain.” papar Joseph. Nadine hanya mengulas senyum tipis. Ini adalah yang terburuk dari hidupnya. Sepanjang hari ini, sudah tidak terhitung berapa orang yang memanggilnya dengan sebutan anak koruptor, pencuri uang rakyat juga sampah masyarakat. Nadine pikir ia bisa melewatinya, namun ternyata rasanya sangat sulit. Ia kini berpikir kenapa semua harus dilimpahkan padanya. Ia tidak bisa memilih untuk lahir di keluarga seperti apa, ia tidak pernah tahu jika ayahnya menghidupinya dari hasil korupsi, ia tidak tahu apapun dan kini semua orang mengatakan itu seolah-olah ia yang melakukan itu. Nadine hanya berpikir bahwa ini tidak adil untuknya. *** Emma pergi berjalan-jalan dengan Axel hari itu. Axel hanya ada satu mata kuliah hari itu dan memutuskan untuk membolos. Mereka berdua pergi ke mall, jalan-jalan, berbelanja, makan dan ditutup dengan pergi menonton di bioskop. Mereka keluar dari bioskop saat jam menunjukkan pukul tiga sore. Menghabiskan hari bersama laki-laki itu memang selalu membuat waktu terasa berjalan dengan cepat. Mereka sedang turun dengan eskalator menuju lantai dasar saat ponsel laki-laki itu berdering. Emma melihat laki-laki itu merogoh saku celananya dan menerima panggilan yang masuk. Tak berapa lama, laki-laki itu menutup panggilan dan mengembalikan benda pipih itu ke sakunya. “Siapa?” Emma bertanya. “Kakakku. Dia bilang dia ada di apartemenku.” jawab Axel, “ayo ke sana, aku akan mengenalkanmu padanya.” Axel mengambil tangan Emma dan membawanya ke parkiran. Selama ini, Emma memang belum [pernah bertemu dengan kakak laki-laki itu. Alex, kakak Axel sedang menempuh studi S2 di luar negeri sehingga ia hanya sering mendengar ceritanya dari Axel. Axel juga pernah beberapa kali menunjukkan fotonya. Laki-laki dengan tubuh tegap dan rahang tegas dan tatapan meneduhkan. Berbeda dengan Axel yang cenderung cuek, Alex sepertinya tipe laki-laki itu yang memiliki rencana jelas di hidupnya. Alex juga punya segudang prestasi di bidang akademik. Beberapa hari yang lalu, Axel bercerita jika kakaknya akan datang ke Jakarta untuk berlibur. Kurang dari satu jam, mobil Axel sudah melesak di basement apartemen. Mereka langsung naik ke lantai unit laki-laki itu. Setelah memasukkan kombinasi angka, Axel membuka pintu dan melihat kakaknya sedang terduduk di ruang tamu dengan ponsel di tangannya. Emma menatap laki-laki itu yang akhirnya menengadah dan menatapnya sambil mengulas senyum tipis. Axel menarik tangannya untuk mendekat lalu menjabat tangan laki-laki itu. “Kenapa tidak mengabari? aku bisa menjemputmu di bandara.” kata Axel sesaat setelah mereka duduk di sofa lainnya di depan laki-laki itu. Emma melirik ke samping soda dan melihat ada koper berukuran sedang di sana. “Tidak perlu.” kata Alex. “you must be Emma.” kata Alex pada gadis itu yang langsung mengangguk. Adiknya sudah banyak bercerita tentang gadis itu. Axel selalu bercerita betapa cantik pacarnya dan kini ia percaya. Gadis itu memang cantik. “Iya… bagaimana, bukankah dia sesuai dengan semua yang kuceritakan.” kata Axel dengan nada bangga. Ia melihat kakaknya mengangguk sambil tersenyum kecil. Sementara Axel dan Alex mengobrol dan melepas rindu, Emma sesekali mencuri pandang ke Alex. Laki-laki itu sama rupawannya seperti Axel. Namun garis wajah Alex terlihat lebih tegas, dengan wajah yang terlihat lebih dewasa. Tutur kata laki-laki itu juga lembut dan suara berat yang begitu enak di dengar. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN