Keenan baru saja keluar dari kelasnya tepat saat bel pulang berbunyi. Ia menyusuri lorong lantai tiga lalu berhenti di depan kelas Nadine. Ia melongok lewat jendela. Ia melihat gadis itu sedang membereskan buku-bukunya. Joseph baru saja berdiri dan keluar dari kelas. Nadine satu-satunya yang tersisa.
Keenan masih menatap Nadine yang sedang menutup resleting ranselnya lalu menggantungkannya ke punggung. Gadis itu lalu berjalan pelan mendekati pintu.
Keenan maju beberapa langkah dan bersembunyi dibalik satu daun pintu yang tertutup. Sebelah kakinya ia ulurkan saat Nadine lewat hingga gadis itu jatuh tersungkur. Suara tubuh Nadine yang membentur lantai langsung mengundang semua mata yang ada di koridor, tak terkecuali Joseph yang sudah mendekati tangga.
“Ups… maaf.” kata Keenan saat melihat Nadine mencoba berdiri lalu mengusap kedua lututnya yang baru saja bergesekan dengan lantai.
Nadine berdiri dan menatap Keenan yang berusaha menunjukkan seraut wajah bersalah yang justru membuatnya muak.
“Stop bothering me!” kata Nadine sambil melotot ke arah Keenan yang justru terkekeh pelan.
Keenan maju selangkah hingga lebih dekat lalu menarik kerah jas gadis itu. “jangan pernah menatapku seperti itu.” kata Keenan. Ia menarik jas Nadine hingga gadis itu lebih dekat dengannya. Ia tidak memedulikan tangan gadis itu yang sudah memukul-mukul tangannya. “tatapan seperti itu tidak akan pernah bisa membuatku berhenti. Tidak ada yang bisa membuatku berhenti.” nada suara laki-laki itu dalam dan penuh tekanan. Nadine masih menatap laki-laki itu. Berusaha tidak terintimidasi oleh tatapannya.
“Meski tidak bisa membuatmu berhenti, aku akan pastikan akan selalu melawan. Kamu harus tahu kalau aku tidak akan diam saja.” Nadine mengatakan itu sambil mencengkeram lengan Keenan yang masih mencengkram kerah jasnya.
Laki-laki itu mendecih lalu melepas cengkramannya pada jas gadis itu dengan sedikit dorongan hingga gadis itu mundur beberapa langkah. Ia tahu bahwa lawannya kali ini tidak bisa dianggap remeh. Peringatan darinya untuk tidak melawan pada gadis itu jelas tidak akan gadis itu hiraukan.
“Ayo buktikan.” Keenan mengatakan itu lalu memindai sekeliling. Ia berjalan ke salah satu siswa terdekat yang sedang memegang satu cup berisi s**u. Dan dalam hitungan detik, Keenan melempar isi cup itu ke wajah Nadine hingga mengotori seragamnya. Semua anak yang melihat tercengang, tidak terkecuali Joseph yang sudah berjalan mendekati keduanya.
“Ayo buktikan kalau kamu akan melawan.” kata Keenan, lagi-lagi dengan nada mengejek yang sangat melukai hati Nadine.
“Anak koruptor sepertimu tidak pantas ada di sekolah ini.” Nadine mendengar kalimat itu keluar dari mulut Keenan. Ia menunduk, menatap titik-titik cokelat yang mengotori lantai. Kini dirinya tak kalah kotor. Ia mengusap wajahnya agar bisa menghilangkan cokelat yang mengotori wajahnya.
“Kamu butuh bantuan?” tanya Keenan, “ada si pirang di sini.” kata Keenan saat menyadari Joseph tengah berjalan mendekatinya.
Joseph mendekati Nadine yang masih menunduk di tempatnya. Ia menarik sebelah tangan Nadine hingga gadis itu berbalik dan berjalan mengikutinya. Nadine masih menunduk saat melewati beberapa anak yang masih berada di koridor dan menyaksikan semuanya. Ia tidak tahan lagi. Ia ingin menangis.
“Kamu tidak bisa apa-apa Nadine.” Keenan sedikit berteriak agar gadis itu mendengarnya. “jangankan membalas, menatapku saja kamu tidak sanggup.” tambahnya.
Nadine menatap tangannya dalam genggaman Joseph. Ia mati-matian menahan tangisnya saat mereka menuruni tangga hingga ke lantai dasar. Joseph berhenti di depan toilet wanita yang berada di sudut paling ujung di lantai dasar itu.
Ia menatap Nadine yang masih menunduk di depannya. Ia tahu gadis itu sedang mencoba menahan tangisnya. Ia baru saja hendak mengatakan sesuatu saat Nadine tiba-tiba masuk ke dalam toilet. Ia mengangguk, lebih baik gadis itu menangis di sana, dibanding dihadapannya.
***
“Anak koruptor sepertimu tidak pantas ada di sekolah ini.” kalimat itu terus berputar di otaknya, seperti sebuah roll film. Dari semua kalimat yang keluar dari mulut Keenan, itulah yang paling menyakiti hatinya. Bahkan lebih sakit dibanding semua perlakukan laki-laki itu akhir-akhir ini. Ia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat itu. Ia tidak pernah menyangka akan ada yang menyematkan itu padanya. Ia tahu bahwa itu adalah sebuah kebenaran. Ayahnya memang seorang koruptor, yang mungkin juga di cap sebagai pengecut karena lebih memilih bunuh diri daripada menjalani masa hukumannya.
Nadine berjongkok lalu menaruh kepalanya di atas lututnya. Ia menangis. Hatinya terasa sakit kala mengingat bagaimana Keenan mengatakan itu. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan wajah dan seragamnya yang lengket karena noda cokelat itu.
Setelah merasa bahwa ia sudah terlalu lama menangis, ia mengambil napas dalam-dalam untuk menahan tangisnya lalu berdiri. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca wetafel. Keadaannya sudah benar-benar mengenaskan. Sebagian rambut, wajah dan jas sekolahnya lengket karena cokelat itu.
Nadine membuka jasnya dan menaruh di sebelahnya. Ia lalu menyalakan kran dan membasuh wajahnya, juga sebagian rambutnya. Bagian atas kemeja putihnya terkena noda karena tidak tertutupi jas. Ia menyeka noda itu dengan air meski tahu noda itu tidak akan hilang dengan mudah. Ia menghela napas.
“jangankan membalas, menatapku saja kamu tidak sanggup.” Kalimat itu teringat lagi olehnya. Benar kata laki-laki itu. Ia sebenarnya tidak punya power apapun. Ia harus mengaku bahwa semua omongannya mengenai melawan balik terdengar seperti bualan belaka.
Ia menyeka wajahnya dengan tisu lalu memasukkan jasnya yang kotor ke dalam tasnya lalu keluar dari toilet. Ia berhenti saat melihat Joseph masih ada di luar. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya di tembok dan menoleh ke arahnya.
“Aku menyimpan kaos bersih di lokerku. Pakailah.” Joseph mengulurkan kaos hitam miliknya ke arah Nadie yang terdiam dan menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
Nadine tidak mengerti kenapa laki-laki itu masih ada di sana, lebih tidak mengerti lagi kenapa laki-laki itu meminjamkan kaos miliknya. Dari sekian banyak orang di sekolahnya, laki-laki itu yang datang dan menarik tangannya, menunggunya selesai menangis dan kini menawarkan bantuan. Dari sekain banyak orang di sekolah ini, hanya hati laki-laki itu yang tergerak. Ia berpikir, apakah laki-laki itu tidak tahu bagaimana sikapnya dulu? apakah tidak ada yang menceritakan pada laki-laki itu betapa buruknya ia dulu.
Joseph mengambil sebelah tangan Nadine dan menaruh kaos di telapak tangan gadis itu saat melihat gadis itu masih terdiam.
Nadine menatap kaos hitam dalam telapak tangannya lalu kembali ke toilet untuk mengganti seragamnya.
“Aku bisa memberimu tumpangan karena kita searah.” kata Joseph saat Nadine keluar dari toilet dan sudah berganti baju. Nadine tampak berpikir, haruskah ia menerima kebaikan laki-laki itu lagi.
Nadine akhirnya menggelang pelan. “Terima kasih.” kata gadis itu. Joseph tidak memaksa, mereka beriringan menuju gerbang sekolah. Saat Joseph menghampiri mobilnya yang ada di pelataran sekolah, Nadine berjalan menuju gerbang sekolah. Saat itu jam dua siang. Matahari sedang panas-panasnya.
Nadine berjalan menuju halte tempat ia menunggu bus. Ia tidak tahu kenapa hari ini matahari terasa lebih menyengat daripada biasanya. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusap peluh di dahinya. Tubuhnya mulai berkeringat saat ia sampai di halte.
Halte itu ramai, di d******i oleh anak sekolah yang ada di sekitar sekolahnya. Mungkin hanya dirinya siswa Global Central yang naik bus. Yang lainnya jelas dijemput oleh supir, atau menaiki taksi. Tidak ada yang mau panas-panasan dan berdesak-desakan sepertinya yang tidak punya pilihan lain.
Melihat ramainya halte, ia sudah bisa memastikan bahwa ia tidak akan dapat tempat duduk. Gadis itu sudah terlalu sering berdiri dan kini tahu bahwa bangku kosong yang bisa ditempatinya adalah sesuatu yang sangat berharga.
***
Selepas pulang sekolah, Nadine langsung tertidur. Ia sudah sangat kelelahan. Baginya, tidak ada tidur yang paling nyenyak selain saat benar-benar lelah.
Ia bangun saat jam menunjuk pukul setengah lima sore. Ia bangun dari posisi tidurnya dan menatap kaos milik Joseph yang masih melekat di tubuhnya. Ia taidak tahu kenapa laki-laki itu begitu baik padanya. Ia tidak tahu kenapa saat laki-laki itu mempunyai pilihan untuk menutup mata dan telinga, laki-laki itu tidak melakukannya. Ia tahu bahwa hubungan Joseph dan Keenan sudah tidak baik karena Keenan memanggil laki-laki itu sebutan si pirang. Dan ia tahu bahwa dengan membantunya, Joseph akan semakin terlibat pada puasara konflik antara dirinya dan Keenan.
Nadine tidak pernah mau itu terjadi, namun ia tidak bisa mengindahkan bantuan laki-laki itu yang sebenarnya sangat ia butuhkan.
Nadine masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Saat ia turun ke lantai satu, ia melihat ibunya sedang membersihkan etalase.
“Mama sudah mau berangkat?” Nadine bertanya saat melihat etalase yang sudah kosong.
“Iya, kuenya sudah habis semua.” kata Mila. Ia melihat anak semata wayangnya yang sedang meneguk air dalam gelasnya. “kamu mau pergi?”
Nadine menggeleng, lalu berkata, “Nadine ikut mama saja, ya. Nadine bisa bantu Mama membersihkan rumah itu.”
Mila langsung menggeleng. Menolak mentah-mentah usulan anaknya. “kamu pergi ke taman aja. Di komplek itu ada taman yang ramai saat sore. Kamu bisa santai di sana.”
“Untuk umum?” Nadine bertanya. Ia tahu bahwa masuk ke dalam komplek itu bahkan harus meninggalkan tanda pengenal saking ketatnya.
“Mereka punya dua taman, yang di depan bisa untuk umum karena belum masuk ke kompleknya. Sedangkan yang di dalam memang khusus untuk yang tinggal di sana.”
***
Nadine mengikuti saran ibuya. Saat Ibunya bekerja, ia pergi ke taman yang di maksud. Taman itu luas dan berada diluar komplek karena pos keamanan masih jauh di depan. Ia berjalan pelan mengikuti jalan setapak taman itu. Anak-anak kecil terlihat berlarian dan mengelilingi besi panjat, juga ayunan yang ada di sana.
Nadine bergerak semakin ke ujung dan melihat beberapa orang yang sedang bermain skateboard. Tempat itu dibuat secara khusus untuk permainan itu dengan beberapa rintangan atau obstacle yang ada di sana. Nadine menatap satu orang yang sedang asik melaju dengan skateboard di kedua kakinya. Rambut mencolok laki-laki itu langsung membuat Nadine mengenalinya.
Nadine memutuskan untuk duduk di sana dan menatap ke tengah. Ke orang-orang yang sibuk dengan papan berodanya masing-masing. Nadine menatap Joseph yang bergerak dengan lincah menyelesaikan beberapa rintangan yang ada di sana dengan sempurna.
Tatapan keduanya bersirobok saat Joseph menepi di seberang Nadine. Laki-laki itu menyeruput air dalam botol minumnya dan menatap Nadine yang juga sedang menatapnya. Ia tidak tahu apa yang gadis itu lakukan di sana karena ini adalah pertama kalinya ia melihatnya di sini.
Setelah melapaskan dahaganya, ia menaiki skateboardnya untuk mendekati Nadine dan duduk di sebelahnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Joseph bertanya.
‘Tidak ada. Aku hanya berjalan-jalan.” jawab Nadine. “aku tidak pernah mengira kamu bisa bermain itu.” Nadine melirik pada papan beroda yang ada di sebelah Joseph.
“Tidak terlalu mahir, tapi cukup untuk mengisi waktu luang.”
Nadine berdecak, “sebagai anak yang beberapa minggu ini berhasil ada di posisi pertama, kamu masih punya waktu luang?” Nadine kini tahu bahwa hidup Joseph sempurna. Laki-laki itu tampan, pintar, kaya dan masih punya waktu menikmati hidupnya. Jika harus ada hidup seseorang yang membuat iri, mungkin itu adalah hidup Joseph.
Joseph tersenyum, “aku tidak pernah mengejar posisi itu.” katanya.
“Kalau begitu, jangan berusaha terlalu keras di tugas dan ujian berikutnya.” kata Nadine yang langsung membuat Joseph terkekeh. Ia menatap Nadine yang juga tersenyum dengan pandangan mengarah ke depan. Gadis itu melunak. Joseph tidak pernah berpikir jika gadis itu akan tersenyum di sebelahnya. Setelah sekian lama menampakkan raut wajah dingin, senyum gadis itu jelas lebih enak dilihat.
Nadine menoleh dan melihat Joseph juga sedang menatap gerombolan anak yang masih asik bermain. Ia punya banyak pertanyaan di kepalanya mengenai kebaikan laki-laki itu, namun bingung harus memulai dari mana.
Nadine akhirnya berdehem dan berkata, “apa kamu tahu bagaimana aku sebelumnya?” itu adalah pertanyaan yang dipilih Nadine.
Joseph menoleh dan menatap Nadine dengan tatapan kebingungan.
“Kamu pasti tahu bahwa sebelum aku jatuh miskin, aku adalah anak yang sombong dan…” Nadine tidak menyelesaikan kalimatnya karena bingung harus memakai kata apa untuk mendeksripsikan dirinya yang begitu buruk.
Joseph mengangguk, “aku tahu. Aku cukup banyak mendengarnya.”
“Lalu, kenapa kamu tidak bersikap seperti yang lain?” Nadine melihat Joseph tampak berpikir.
“Entahlah. Aku berpikir kalau kamu seharusnya punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahanmu. Bukan malah dijauhi, dimusuhi apalagi diperlakukan seperti itu.” papar Joseph.
“Mungkin karena aku memang pantas mendapatkannya.” kata Nadine.
Selama beberapa saat, mereka berdua diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Anak-anak yang tadi sibuk dengan papan berodanya mulai menepi dan beristirahat. Langit terlihat mulai memerah, pertanda sebentar lagi akan kembali ke peraduannya.
“Kenapa kamu di sini? bukannya di dalam komplek mereka juga punya taman yang lebih bagus.” Nadine yang akhirnya memecah keheningan.
“Taman di dalam sepi. Aku suka ke sini karena ramai.” jawab Joseph, “kamu sendiri? ini pertama kalinya aku melihatmu di sini.”
“Ibuku menyuruhku ke sini saat aku bingung ingin melakukan apa.” kata Nadine. “tadinya aku pikir taman ini hanya untuk yang tinggal di sini. Ternyata ini terbuka untuk umum.”
Mereka akhirnya mulai membicarakan banyak hal.
Saat itu, Nadine merasakan kenyaman yang tidak pernah ia dapatkan pada orang lain. Untuk pertama kalinya, ia merasa mendapatkan teman mengobrol yang menyenangkan. Sosok yang bisa melihatnya dari kacamata berbeda. Nadine berpikir, inikah jawabannya saat ia mempertanyakan bagaimana rasanya memiliki sahabat. Ia tahu bahwa hubungan keduanya masih terlalu jauh untuk dikatagorikan sahabat. Namun ia tahu bahwa dengan siapapun, laki-laki itu bisa menjadi sahabat yang baik.
TBC
LalunaKia