Keenan menghentikan mobilnya di depan toko kue Nadine. Ia menatap toko itu yang sepi. Etalase itu masih menyisakan beberapa kue di dalamnya.
Setelah membuka safety beltnya, ia keluar dari mobil. Ia menaruh kacamata hitam yang ia pakai ke atas kepalanya. Perlahan kakinya melangkah mendekati toko itu. Saat ia berdiri di depan etalase itu, ia melihat Nadine langsung berdiri dari duduknya dan tampak terkejut melihat kedatangannya.
Sore itu, Nadine memang memutuskan untuk menjaga toko saat ibunya pergi bekerja. Ia pikir jika ia menjaga sampai malam, kue-kue yang masih tersisa akan bisa terjual.
“Ini rumahmu?” itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Keenan. Matanya memindai toko lalu kembali pada Nadine yang terdiam di depannya. Gadis itu pasti tidak menyangka bahwa ia yang akan ada di hadapannya.
Nadine masih mematung di tempatnya saat mata Keenan melihat isi etalasenya. Ia menatap beberapa kue yang masih ada di etalase itu.
“Kalau kamu…”
“Aku ambil semuanya.” potong Keenan. Ia mengetuk-ngetuk jarinya di atas etalase saat Nadine masih saja terdiam.
Saat ketukan jari laki-laki itu semakin kencang, Nadine akhirnya mengambil boks dan membungkus semua kue yang ada di etalase itu. Setelah membungkusnya Nadine memberitahu jumlah yang harus dibayar.
“Tujuh puluh tiga ribu.” kata Nadine. Ia melihat laki-laki itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet dari sana.
Keenan mengeluarkan lima lembar seratus ribuan lalu menatap Nadine di depannya. Ia menaruh satu sikunya di atas etalase dan mengibas-ngibaskan uangnya di depan wajah Nadine.
Nadine menghela napas dan berusaha sabar. Ia menatap Keenan yang tampak menatapnya dengan tatapan mencemooh.
“Ambil sisanya.” tepat saat Keenan mengatakan itu, ia melepaskan uang dari tangannya hingga lima lembar uang seratus ribuan itu jatuh di depan Nadine dan mendarat di lantai. “tidak perlu berterima kasih.” kata laki-laki itu lagi.
Keenan mengambil plastik berisi boks kuenya lalu kembali ke mobilnya. Saat ia menyalakan mobil, ia masih melihat gadis itu terdiam di tempatnya, dengan tatapan terarah padanya yang penuh kebencian
Hilangnya mobil mewah Keenan dari pandangannya membuat orientasi gadis itu kembali. Ia menunduk, menatap lima lembar uang seratus ribuan yang ada di dekat kakinya.
Nadine mengambil uang itu. Jika laki-laki itu mengira ia akan mengambil kelebihan uang dan berterima kasih, laki-laki itu salah. Ia akan mengembalikan sisa uang pada Keenan besok. Ia berjualan kue, bukan mengemis. Kelebihan uang yang laki-laki itu berikan jelas hanya untuk merendahkan harga dirinya.
***
Emma turun dari taksi lalu masuk ke dalam rumahnya. Rumah itu sepi, seperti biasanya. Ia langsung mendekat ke arah tangga saat mendengar sebuah suara.
“Dari mana saja kamu?”
Langkah kaki Emma berhenti dan ia menoleh. Ia melihat ibunya ada di ruang tamu dengan beberapa berkas di atas meja. Ibunya masih memakai setelan kemejanya.
“Main.” jawab Emma. Ibunya bekerja sebagai pengacara di sebuah firma hukum milik keluarga. Hal yang membuat wanita itu selalu sibuk setiap hari. Wanita itu berangkat pagi-pagi dan pulang larut malam. Emma jelas bingung melihat wanita itu sudah sampai rumah jam segini. Padahal ini baru jam setengah sembilan malam. Dan lebih bingung lagi mendengar basa-basi wanita itu yang terdengar menggelikan di telinganya.
“Bagaimana sekolahmu?” wanita itu kembali bertanya saat Emma belum sempat melanjutkan langkahnya.
Emma mendecih. Terasa aneh mendengar kalimat itu keluar dari mulut ibunya. Dibanding kepedulian, kalimat itu justru terdengar seperti ejekan di telinganya.
“Baik.” setelah mengatakan itu, Emma kembali berjalan dan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia masuk ke dalam kamar dan setengah membanting pintu untuk menutupnya. Ia melempar tasnya asal lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang empuknya.
Emma tidak tahu kenapa ia begitu benci dengan ibunya hingga mendengar suara wanita itu saja bisa merusak moodnya sedemikian rupa.
Emma telah berusaha sekeras mungkin untuk menghindari keluarganya. Ia selalu mengakhiri sarapannya saat salah satu anggota keluarganya masuk ke ruang makan. Habis atau tidak makannya, ia akan langsung berangkat sekolah. Saat kedua orangtuanya pulang, ia selalu memastikan sudah ada di kamarnya, karena ia benci harus berbasa-basi seperti tadi.
Telah bertahun-tahun Emma merasa bahwa ia hanya hidup seorang diri di rumah itu. Ia telah menghabiskan banyak hari dengan menjalani hidupnya dengan kesepian, tanpa perhatian, depresi karena terasa tidak dianggap dan tidak diinginkan. Emma telah melalui itu semua sampai akhirnya menjadi percaya diri seperti sekarang. Ia telah bisa melangkah dengan kepala menatap lurus dan berpikir bahwa ia kini berbeda dengan Emma yang dulu.
Namun saat melihat ibunya berbicara, atau menatapnya, atau hanya sekadar berbagi atmosfer pun, semuanya kebahagiaannya menguap begitu cepat. Di depan ibunya, kebahagiaan yang Emma bangun dengan kerja keras langsung meninggalkannya. Di depan ibunya, Emma merasa begitu kecil. Memorinya akan langsung memutar kejadian di mana ia tahu bahwa ibunya pilih kasih, tidak menganggapnya penting, selalu menjadikannya yang kedua, dan tidak pernah memperhatikannya. Semua kesakitan langsung mendatanginya dan kadang menetap beberapa saat. Itu adalah alasan kenapa Emma selalu berusaha menghindari keluarganya. Emma merasa hidupnya sudah cukup dengan Axel yang ada di sampingnya. Ia tidak membutuhkannya apapun lagi, termasuk keluarganya. Ia hanya beruntung keluarganya kaya dan paling tidak ia bisa menikmati harta kedua orangtuanya.
***
Mila keluar dari rumah melalui pintu garasi dan langsung melihat Joseph yang baru turun dari mobil. Wanita itu terdiam dan menatap Joseph dari atas sampai bawah. Seragam yang dipakai anak majikannya itu, sama dengan seragam anaknya. Ia menelan ludah dan mengulas senyum dan sedikit menunduk saat laki-laki itu melewatinya. Matanya mengikuti Joseph yang masuk ke dalam rumahnya melalui pintu utama. Mila masih berdiri di tempatnya saat melihat punggung Joseph menghilang dari pandangannya.
Mila sama sekali tidak menyangka bahwa ia bekerja di rumah seseorang yang mungkin teman anaknya. Ia menelan ludah lalu berpikir, mereka mungkin tidak satu kelas, atau bahkan tidak satu angkatan. Ia tidak akan sanggup jika mereka berdua saling mengenal. Ia takut Nadine akan malu. Ia takut jika laki-laki itu memberitahu teman-teman Nadine jika ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangganya. Tapi, ia tidak mungkin berhenti begitu saja. Uang yang ia hasilkan dari pekerjaan ini sangat lumayan. Majikannya juga baik dan tidak cerewet. Ini adalah pekerjaan terbaik yang bisa ia dapatkan saat ini.
Mila mencoba menarik napas panjang agar lebih tenang. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Seperti katanya, mereka berdua belum tentu saling mengenal. Dengan pemikiran itu, Mila akhirnya kembali melangkahkan kakinya menuju kediamannya.
***
Nadine punya banyak hal yang harus ia kerjakan setiap pagi. Bagun tidur, ia mulai mencuci bajunya, sedang ibunya bersiap untuk membuka toko. Setelah selesai dengan cucian yang ia jemur, ia membersihkan kamarnya dan kamar ibunya. Ia menyapu dan mengepel hingga lantainya bersih. Setelah selesai dengan pekerjaan rumah, barulah ia mandi dan menyiapkan kebutuhan sekolahnya. Nadine sudah memulai kegiatan itu selama beberapa hari dan ternyata memang melelahkan. Sepulang sekolah, jika ia mendapat duduk di bus, ia pasti akan ketiduran saking lelahnya.
Setelah berpakaian rapi, ia menyantelkan sebelah tali ranselnya di bahunya dan menuruni tangga. Ia bisa melihat ibunya sedang menata kuenya di etalase. Ibunya memang selalu buka pagi-pagi karena biasanya, ada yang membeli kue-kuenya untuk sarapan, atau bekal ke sekolah maupun ke kantor.
“Morning…” Nadine menyapa lalu mengecup pipi ibunya pelan.
“Sarapan dulu.” Mila menghela tubuh Nadine untuk duduk di salah satu kursi.
Nadine menatap ke meja makan dan melihat sudah ada nasi dengan lauk ayam goreng dan sayur sop. Melihat itu air liur Nadine nyaris tumpah. Ia meminta ibunya untuk ikut duduk untuk sarapan bersama. Mila mengangguk lalu mengambil tempat di depan Nadine, dipisahkan oleh meja makan kotak yang ukurannya tidak terlalu besar.
“Sekolah kamu gimana?” Mila bertanya. Ia bingung bagaimana mencari informasi apakah Nadine mengenal anak majikannya atau tidak. Atau mungkin ia tidak perlu mencari tahu.
“Baik.” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Nadine. Sejak dulu Nadine memang jarang bercerita mengenai sekolahnya pada keluarganya. Mereka selalu memilih topik lain sebagai bahan obrolan. Sejak dulu, kehidupan Nadine di sekolah memang tidak begitu baik sehingga Nadine lebih suka menyembunyikannya dari kedua orangtuanya.
Ibunya hanya tahu bahwa ia anak yang manja karena di rumah selalu dilayani. Ibunya tidak tahu bahwa ia tidak punya teman dan kini malah jadi orang paling dibenci di sekolahnya.
Mila mengangguk saat sudah memulai suapan pertama. Mereka makan sambil mengobrol. Mila bertanya pada anaknya akan ke mana setelah lulus sekolah, dan mengambil jurusan apa. Nadine terdiam lalu menggeleng pelan. Ia belum memikirkan itu. Ia mungkin bisa berusaha untuk mendapatkan beasiswa, namun apa ia rela melihat ibunya bekerja tanpa ada yang membantu. Ia berpikir bahwa kini yang terpenting adalah menstabilkan keuangan mereka dahulu.
Nadine terpikir untuk bekerja selepas lulus sekolah. Ia selalu berpikir bahwa kuliah masih bisa menunggunya. Ia tidak mau menjadi egois. Meski mendapatkan beasiswa, ia tahu bahwa tetap ada banyak kebutuhan yang harus ibunya penuhi.
***
Emma baru saja memulai sarapannya saat melihat kakaknya masuk ke dalam ruang makan dan duduk di depannya. Gadis itu menghela napas karena ia baru saja memulai suapan pertama pada sarapannya. Ia tidak tahu kenapa laki-laki itu sudah ada di meja makan sepagi ini.
“Kamu masih makan makanan seperti itu?” Ethan, kakak laki-laki Emma melirik isi piring Emma yang hanya berisi telur dadar, satu lembar roti gandum dan beberapa potong tomat juga brokoli kukus. “lama-lama kamu bisa benar-benar jadi kambing.” tambahnya. Ia mendekatkan secangkir kopi yang baru saja disajikan oleh asisten rumah tangganya.
Emma diam. Ia fokus pada isi piringnya. Ia tidak pernah merasa memiliki kakak dan yang harus ia lakukan adalah tak mengacuhkan laki-laki itu.
Emma membenci laki-laki itu. Sejak kecil, ia sudah tahu bahwa kedua orangtuanya lebih menyayangi Ethan. Tiap kali mereka bertengkar, ibunya akan selalu membela Ethan meskipun laki-laki itu yang salah. Ibunya tidak pernah mendengarkannya dan hanya mendengarkan Ethan yang kadang berbohong demi melindungi dirinya sendiri. Ibunya sama sekali tidak percaya padanya dan akan memarahinya karena mereka bertengkar.
Saat itu, biasanya ibunya akan langsung membawa Ethan ke kamar untuk memenangkannya, sedang Emma akan duduk di ayunan di halaman rumah dan menangis. Emma pernah berpikir bahwa ia benci terlahir sebagai perempuan. Jika ia adalah seorang laki-laki, apakah ibunya juga akan sayang padanya seperti sayang pada Ethan.
Tidak peduli laki-laki itu banyak masalah, orangtuanya akan selalu membelanya. Sejak kecil, laki-laki itu sudah temperamen sehingga ia sering sekali terlibat baku hantam di sekolah, laki-laki itu tidak terlalu pintar dan lebih suka menghabiskan uang orangtuanya untuk foya-foya. Tapi kedua orangtuanya seakan tidak melihat itu. Mereka masih terus berpikir bahwa Ethan kelak akan sadar. Mereka berdua tetap fokus pada Ethan meskipun laki-laki itu semakin tidak terkontrol hidupnya.
Itulah alasan kenapa laki-laki itu besar kepala. Laki-laki itu tidak segan bilang padanya bahwa orangtua mereka hanya menyayanginya, dan Emma sama sekali tidak berarti bagi keluarga.
Sejak dulu, ia tahu bahwa laki-laki itu tidak akan jadi apa-apa. Ia tahu bahwa meski laki-laki itu dilimpahi oleh perhatian dan kasih sayang yang luar biasa besar, laki-laki itu tidak akan bisa membanggakan kedua orangtuanya. Ia kini hanya menunggu laki-laki itu hancur, menunggu laki-laki itu jatuh dalam lubang besar yang dibuatnya sendiri. Hingga saat itu tiba, kedua orangtuanya akan sadar bahwa semua yang ia lakukan pada Ethan adalah sebuah kesia-siaan. Mungkin saat itulah orangtuanya akan mulai melihat keberadaannya.
***
Keenan sedang memainkan game dalam ponselnya. Ia duduk di bangkunya. Dua teman di sebelah dan di depannya melakukan hal serupa, fokus pada benda pipih masing-masing. Sesekali kata makian keluar dari mulut Keenan.
Keenan masih asik dengan ponselnya saat Nadine mendatanginya dan menjulang di depannya. “Wait.” Keenan tahu siapa yang berdiri di hadapannya saat ia mengatakan itu.
Nadine tidak punya waktu untuk menunggu laki-laki itu menyelesaikan permainannya. Ia mengeluarkan uang sudah ia siapkan dari dalam saku kemejanya dan menaruhnya di atas meja.
“Kembalianmu.” kata Nadine. Ia sudah hendak membalik badan pergi saat sebelah tangannya tertahan. Ia kembali menoleh dan menatap Keenan yang sedang menatapnya. Ponsel laki-laki itu sudah diletakkan di atas meja.
“Aku tidak mengambil kembali uang yang sudah kukasih.” kata laki-laki itu. “anggap saja itu tip dariku.” katanya lagi, “melihat bagaimana keadaanmu, aku tahu uang segitu akan sangat berharga.”
“Aku tidak butuh tip darimu.” kata Nadine sambil sekuat tenaga melepas cengkraman Keenan pada pergelangan tangannya.
Nadine sudah kembali berjalan saat Keenan berkata, “kamu mungkin tidak, tapi ibumu pasti butuh.” langkah kaki Nadine berhenti. Ia menatap Keenan dengan seringai mengejeknya. Laki-laki itu sudah berdiri dari duduknya.
Nadine kembali mendekati Keenan dan berdiri di depannya. “aku ataupun ibuku tidak butuh belas kasihanmu.” kata Nadine dengan nada sarat tekanan. “kami berjualan, bukan mengemis.” Nadine menggunakan sebelah tangan untuk meninju bahu laki-laki itu. Tidak begitu keras, hanya untuk memperingati laki-laki itu bahwa mulai saat ini, ia tidak akan diam saja.
TBC
LalunaKia