CHAPTER DUA PULUH

2253 Kata
Selesai dengan makan siangnya, Ilana pergi ke ruang favoritnya dengan beberapa buku di tangannya. Seperti biasa, ia perlu mengendap-endap untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya. Setelah berhasil masuk, ia langsung menaruh bukunya di atas meja dan menjatuhkan diri di sofa. Ia menyandarkan punggungnya lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. Matanya menatap buku di atas meja lurus-lurus. Ilana berpikir, ia telah belajar begitu keras, namun tidak pernah mendapatkan hasil sesuai keinginannya. Ibunya tidak pernah mau tahu apa yang terjadi padanya ataupun siapa yang ia hadapi. Ibunya tidak mengerti dan akan selalu memilih hukuman daripada mendengarkannya. Ia tahu ini semua tidak akan berakhir di sini. Ibunya sudah punya rencana panjang untuk pendidikannya hingga S3 dan ibunya akan terus menuntutnya agar mendapatkan posisi pertama. Ilana menggeleng. Ia mulai merasa muak dengan semuanya. Ia akhirnya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu merebahkan dirinya di sofa. Alih-alih belajar, ia malah membuka media sosialnya dan berselancar di dunia maya. Ilana masih ada di ruangan itu saat mendengar derap langkah mendekat. Ilana terjaga. Ia langsung bangun dari posisi tidurnya, membawa bukunya lalu berdiri di belakang pintu. Ia sudah berjaga-jaga jika pintu itu tiba-tiba terbuka. Namun kekhawatirannya sepertinya tidak akan terjadi. Ia masih ada di sana saat mendengar beberapa orang berbincang. Suaranya terdengar sangat dekat seperti mereka benar-benar ada di depan pintu itu. Nadine menempelkan sebelah telinganya ke pintu untuk mencuri dengar. Itu Keenan. Kata Ilana dalam hati. Bersama teman-temannya, laki-laki membicarakan insiden di kantin. Mereka tertawa saat Keenan bercerita bagaimana ia menyemburkan isi mulutnya yang berisi air ke nampan, lalu bagaimana ia menawarkan gadis itu meneruskan makannya dengan imbalan lima juta rupiah. Keenan tidak akan melupakan ekspresi gadis itu tadi. Campuran antara terkejut, malu juga marah. Ilana masih di posisinya dan mendengar saat Keenan menyusun rencana untuk kembali mengerjai Nadine. "Di jam terakhir, mereka akan masuk ke ruang bahasa. Ambil sepatunya dan sembunyikan. Aku ingin melihat gadis itu menyeker sampai depan halte." Ilana mendengar itu. Hingga tak lama, suara bel sebagai tanda jam istirahat berakhir menggema. Ilana mendengar derak langkah menjauh hingga akhirnya benar-benar hilang. Ilana membuka kunci, lalu perlahan membuka pintu itu. Matanya menyapu sekeliling dan setelah memastikan bahwa Keenan dan teman-temannya tidak ada di sana, ia buru-buru mengunci ruangan itu lalu kembali ke kelasnya. Ada Satu pelajaran sebelum pelajaran yang mengharuskan mereka pergi ke ruang bahasa. Ilana berkutat dengan pikirannya sendiri. Haruskah ia memberitahu Nadine mengenai rencana Keenan? Atau lebih baik membiarkannya saja. Ilana tidak pernah mau mencampuri urusan orang lain. Baginya hidupnya sendiri sudah sangat merepotkan. Ia tidak mau membuang-buang waktu untuk mengurusi hal lain. Saat guru di depannya baru saja memberikan tugas, Ilana menoleh ke belakang. Ke arah Nadine yang sedang fokus pada bukunya. Ilana menggeleng. Ia memikirkan sesuatu di saat yang tidak tepat. Ia mengumpulkan kembali fokusnya untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru. Waktu bergulir begitu cepat. Sinyal jam pelajaran selesai berbunyi. Beberapa anak memasukkan bukunya ke dalam tas lalu mempersiapkan untuk pelajaran selanjutnya. satu-persatu anak sudah mulai ke luar kelas untuk menuju laboraturium bahasa. Ilana masih ada di mejanya saat melihat Nadine melewatinya. Joseph mengekor di belakang gadis itu. Ilana belum memutuskan akan melakukan apa dengan informasi yang ia punya. Ia berdiri dan ikut keluar sambil terus berpikir. Bagaimana jika Nadine tidak percaya dan tidak mau mengikuti sarannya. Ia sudah sampai di rak sepatu yang ada di depan lab bahasa. Nadine ada di sebelahnya, sedang membuka ikatan tali sepatunya. “Sepatumu sebaiknya bawa masuk saja.” Ilana mengatakan itu saat ia masih berdiri di depan rak sepatu sedangkan Nadine baru saja akan menaruh sepasang sepatunya di rak yang disediakan. Tak hanya Nadine yang kebingungan, tapi juga Joseph yang ada di belakang Nadine. “Kenapa?” Nadine bertanya. Joseph sudah menaruh sepatu di kotak namun ia masih berada di sana. Ilana kebingungan harus menjawab apa. Ia akhirnya memilih untuk membuka sepatunya, menaruhnya di rak dan masuk ke dalam lab, meninggalkan Nadine dan Joseph yang kebingungan. “Dasar aneh.” kata itu keluar dari mulut Nadine. Ia akhirnya menaruh sepatunya di rak, lalu masuk ke dalam. Joseph masih berada di depan rak. Ia menatap sepasang sepatu berwarna hitam milik Nadine. Joseph berpikir bahwa Ilana pasti punya alasan kenapa ia mengatakan itu. Gadis itu hanya tidak ingin memberitahukan. Setelah berpikir, Joseph memutuskan untuk membawa sepasang sepatu milik Nadine ke dalam lab bahasa. Ia mengambil tempat di samping Nadine yang selalu kosong. Tidak pernah ada yang mau duduk di sebelah gadis itu. Seperti gadis itu kuman yang harus dijauhi. “Kenapa?” Nadine bertanya saat Joseph menaruh sepatu itu di bawah mejanya. “Ilana pasti punya alasan kenapa menyuruhmu membawa masuk sepatumu.” kata Joseph. “setelah semua yang terjadi akhir-akhir ini, kamu harus lebih berhati-hati.” saat Joseph mengatakan itu, seorang guru laki-laki masuk dan memulai pelajaran. Nadine terdiam. Otaknya berpikir bahwa apa yang dikatakan Joseph ada benarnya. Ia seharusnya lebih berhati-hati dengan barang pribadinya. Keenan saja bisa merusak lokernya demi mengotori seragamnya, apalagi ini hanya sepatu yang ditaruh di rak tanpa kunci. Ia lalu melirik Ilana yang tadi mencoba memperingatkannya. *** “Kalian yakin?” Keenan bertanya saat kedua temannya menghadap padanya dan bilang bahwa sepatu Nadine tidak ada di rak seperti yang lainnya. Kedua teman Keenan, David dan Felix mengangguk. Keenan mendesis. Ia seharusnya sadar bahwa Nadine akan lebih berhati-hati setelah insiden ia merusak loker gadis itu dan menumpahkan kopi ke seragam putihnya. Ia seharusnya tidak lagi melakukan hal-hal seperti itu. Ia seharusnya memikirkan sesuatu yang lebih besar. Merusak barang-barang gadis itu hanya permainan kecil dan membuang-buang waktunya. Keenan mengangguk. Ia harus memikirkan rencana lainnya. Ia akan memastikan bahwa gadis itu benar-benar menyesal karena telah menolak perasaannya. Kedua temannya kembali ke mejanya saat wanita paruh baya dengan setumpuk buku di tangannya masuk ke dalam kelas. Keenan membenarkan posisi duduknya namun tidak benar-benar memperhatikan guru yang sudah memulai pelajaran. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. *** Keenan berhenti saat melihat bus di depannya berhenti. Ia menatap ke depannya dan melihat Nadine baru saja turun dari bus. Saat bus itu sudah mulai berjalan, Keenan tidak juga menekan pedal gas. Ia menatap Nadine yang berjalan pelan. Saat punggung gadis itu semakin jauh, ia menjalankan mobilnya pelan-pelan. Ia terus menatap punggung dengan ransel biru muda itu hingga akhirnya ia melihat Nadine masuk ke sebuah toko kue. Keenan menghentikan mobilnya. Ditatapnya ruko dua lantai dengan toko kue di bawahnya. Dari tempatnya, Keenan masih bisa melihat Nadine berdiri di samping ibunya yang sedang menatap kue ke dalam etalase. Keenan menatap lurus-lurus ke arah Nadine yang sedang tertawa bersama ibunya. Setelah semua yang ia lakukan pada gadis itu, gadis itu nyatanya masih bisa tertawa di rumahnya. Gadis itu pasti tidak menceritakan apa yang telah ia alami di sekolah. Ibunya pasti tidak tahu kalau Nadine dibenci, dimusuhi, dan mendapatkan pelakukan tidak enak di sekolahnya. Keenan mendecih. Ia meneliti ruko itu baik-baik. Ruko yang luasnya mungkin hanya seperempat ruang tamu di rumah gadis itu sebelumnya. Ia tidak mengerti bagaimana gadis itu bisa tinggal di sana. Dan lebih tidak mengerti lagi kenapa ego gadis itu masih begitu tinggi setelah tahu bahwa ia bisa hidup lebih baik dengan menerima perasaannya. *** Joseph dan Emma sedang menempati satu meja di kafetarian tempat les mereka. Beberapa buku terserak di atas meja. Emma bertanya pada Joseoph mengenai beberapa materi matematika yang tidak ia mengerti dan laki-laki itu menjelaskannya dengan sabar. Emma tidak pernah peduli dengan nilai-nilainya. Jika ia ada di posisi terakhir saat akhir semester pun ia tidak peduli. Jika orang menganggapnya cantik tapi bodoh pun ia tak apa. Ia tidak pernah stres jika nilai ujian atau nilai tugasnya jelek. Ia lebih stres jika ada jerawat yang muncul di wajahnya. Nilai-nilai itu tidak pernah berarti baginya, juga bagi orangtuanya. Orangtuanya hanya peduli pada kakak laki-lakinya. Mereka selalu memberikan yang terbaik untuk kakaknya. Bagi mereka, keturunan laki-laki itu harus pintar dan lebih diperhatikan karena akan menjadi penerus perusahaan keluarga. Mereka mungkin lupa jika mereka punya anak perempuan. “Aku benci matematika.” keluh Emma saat ia baru saja berhasil menyelesaikan tugasnya dan menyadari otaknya terasa panas. “Ayo beli es cokelat.” ajak Joseph yang langusng mendapat gelengan keras dari gadis itu. “Ayolah.” kata laki-laki itu. “Cuma kemarin saja. Aku tidak mau lagi.” kata Emma. Ia telah menahan diri dengan segala minuman dan makanan manis, ia tidak ingin semua usahanaya gagal hanya karena Joseph terus bilang padanya bahwa makan atau minum manis sesekali tidak akan membuatnya gemuk. Ia takut mindset itu akan benar-benar tesimpan di otaknya, lalu ia lupa dengan semua usahanya. Ia takut jika Axel meninggalkannya. Ia tidak ingin kehilangan laki-laki itu. Ia tidak akan mengorbankan semua usahanya yang sudah ia jalani sampai saat ini. Ia tidak akan lagi terpengaruh oleh kata-kata Joseph. “Baiklah.” Joseph menutup bukunya lalu berdiri dan menghampiri kasir untuk memesan satu es cokelat dan satu botol air mineral. Emma sedang membereskan buku-bukunya saat Joseph kembali dan mengulurkan satu botol air mineral untuknya. Emma mengucapkan terima kasih lalu membuka penutup botol dan menyesap isinya pelan. “Kamu mau langsung pulang?” Emma bertanya pada Joseph yang sedang membereskan bukunya. “Aku mau ke toko buku.” “Di mall sana?” Emma menunjuk ke arah mall yang jaraknya tak jauh dari tempat bimbingan belajar mereka. Joseph mengangguk sebagai jawaban tercepat. “Aku ikut. Aku juga mau ke sana.” kata Emma. *** Ilana terkekeh saat membaca novel di tangannya. Sebelah tangannya bergerak untuk membalik tiap lembar. Tawa pelan tidak bisa benar-benar lepas dari bibirnya. Ia sedang berada di sebuah toko buku. Setelah membeli beberapa buku untuk kebutuhan belajarnya, ia pergi ke rak yang memajang novel humor dan mengambil salah satu yang plastiknya sudah terbuka. Ia lalu mencari bangku kosong yang disediakan di toko buku itu dan membacanya. Ia yang membutuhkan beberapa buku terpaksa meminta izin ibunya dan wanita itu akhirnya memberikan kembali kartu kreditnya dengan catatan, hanya untuk membeli buku dan harus dikembalikan sesampainya Ilana di rumah. Sejak dulu, ia memang sangat suka membaca termasuk novel-novel remaja. Dulu ia suka membeli beberapa buku dan membacanya di rumah. Namun ibunya memang tidak pernah membiarkan Ilana sedikit saja merasa senang. Ibunya selalu bilang bahwa membaca novel hanya membuang-buang waktunya. Ibunya lalu membuang semua novel-novelnya. Sejak saat itu, Ilana tidak pernah membeli buku selain buku untuk belajar. Ia hanya bisa membaca saat ia pergi ke toko buku. Setidaknya, ia bisa membaca buku tanpa takut ketahuan oleh ibunya. “Hai Ilana.” Ilana menengadah saat mendengar seseorang menyapanya. Ia melihat wajah Emma menyembul dari salah satu rak yang ada di sana. Ia hanya mengulas senyum tipis. Ia tidak mengerti kenapa bisa ada anak seceria Emma. Setiap pagi, gadis itu selalu masuk ke dalam kelas dan menyapa teman sekelasnya dengan nada riang. Gadis itu selalu tersenyum seakan-akan gadis itu sama sekali tidak memiliki masalah di hidupnya. Gadis itu menjalani hidupnya dengan sangat bahagia seperti remaja pertengahan pada umumnya. Gadis itu seperti tidak punya beban dan tampak menikmati hidupnya. Emma juga suka menyapanya meski ia tidak membalas sedikitpun. Gadis itu sepertinya berusaha menularkan keceriaan padanya namun gagal, dan gadis itu tampak tidak peduli ia jika hanya menatapnya dengan wajah dingin. Rupanya tak hanya Emma yang ada di sana, wajah Joseph ikut menyembul saat sosok Emma sudah tidak terlihat. Laki-laki itu mencoba mengulas senyum dengan kaku lalu tubuhnya hilang ditelan rak yang ada di sana. Ilana melajutkan bacaanya yang tinggal beberapa lembar lagi karena buku itu memang tipis. Ia kembali pada dunia imajinasi yang membuat bibirnya tidak berhenti melengkung membentuk senyuman. Jika bisa, Ilana ingin waktu berhenti sehingga ia menghabiskan banyak waktu dalam dunia imajinasinya. *** “Kenapa selalu menyapa Ilana padahal dia tidak pernah membalas sapaanmu?” Joseph bertanya saat keduanya berada di rak yang dipenuhi oleh berbagai judul komik. Semakin lama di kelas itu, Joseph semakin tahu bagaimana sifat-sifat temannya, termasuk Emma yang begitu ceria. Gadis itu selalu menebarkan aura keceriaan dan kebahagiaan buat orang-orang di sekitarnya, mungkin kecuali untuk Ilana dan Nadine yang lebih suka menjawab sapaan gadis itu dengan tatapan dingin. “Tidak apa-apa. Aku hanya suka melakukannya.” kata Emma sambil kembali berjalan dan kini pergi ke rak dengan buku-buku kumpulan resep masakan. Ada yang perlu diperbaharui dari makanannya. Ia baru ingat bahwa ia sudah lama tidak membelikan buku resep untuk membantu dietnya pada asisten rumah tangganya. Ia mulai bosan dengan menu yang itu-itu saja, sedang asisten rumah tangganya yang sudah paruh baya itu memiliki keterbatasan untuk menjangkau internet untuk mencari resep-resep baru sesuai dengan kriteria dietnya. Jadi mau tak mau, Emma yang harus memberikan buku resep pada wanita itu agar makannya lebih bervariasi dengan berbagai penjelasan mengenai apa saja yang ia makan dan tidak. Asisten rumah tangganya tidak terlalu pintar masak karena sejak wanita itu bekerja di rumahnya, ia hanya menyiapkan sarapan berupa roti atau kadang nasi goreng untuk keluarganya. Tidak pernah ada yang makan siang ataupun makan malam di rumah sehingga ibunya tidak terlalu keberatan dengan skill memasak asisten rumah tangganya yang terbatas. Yang penting rumah selalu rapi dan bersih saat ia pulang. “Aku akan ke kasir.” kata Joseph sambil menenteng tas berisi buku-buku pilihannya. Emma mengangguk sambil berdecak. Ia melirik ke kantong dalam tangan Joseph, “tidak heran kamu bisa menggeser posisi Nadine.” “Ini untuk persiapan tes masuk kuliah.” kata Joseph yang langsung membuat mulut Emma membulat. Emma melihat laki-laki itu menjauh dan pergi mendekati kasir. Seharusnya Emma tidak harus kaget. Mungkin orang lain yang harusnya kaget karena ia masih terlihat santai. Semua teman-teman sekolahnya mungkin sudah melakukan hal yang sama. Mereka mungkin sudah berpikir akan masuk ke kampus mana ataupun jurusan apa. Tidak sepertinya yang masih saja terlihat santai. Emma bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan selepas lulus. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN