CHAPTER SEMBILAN BELAS

1587 Kata
Nadine sampai di mejanya dan menaruh paperbag berisi sweater Joseph di atas meja. Joseph yang sedang main memainkan game dalam ponselnya menengadah lalu menoleh ke arah Nadine yang mengucapkan terima kasih. Joseph hanya mengangguk lalu mengambil paperbag itu dan menaruhnya di samping kursinya. Tatapannya kembali pada game dalam ponselnya. Nadine menaruh tasnya lalu kembali melirik laki-laki di sebelahnya yang tampak sibuk dengan dunianya sendiri. Lihatnya, laki-laki itu terlihat begitu santai. Laki-laki itu sama sekali tidak terlihat seperti anak yang gila belajar. Tidak terlihat seperti anak dengan prestasi gemilang di kejuaraan di luar sekolah. Laki-laki itu seperti anak biasa. Anak-anak yang biasanya mengisi waktu di sekolahnya dengan bermain game, atau bermain bola di lapangan. Laki-laki itu tidak berusaha dengan keras namun bisa menggeser posisi yang sudah sangat keras ia pertahankan. Bukankah itu tidak adil. Untuknya, juga untuk Ilana yang ia tahu bagaimana usaha kerasnya untuk menggeser posisinya. Tapi ia tahu ia tidak bisa menilai laki-laki itu hanya dari kesehariannya di sekolah. Memang ada orang-orang yang lahir dengan otak yang jenius, namun bukankah semua harus dipertahankan. Atau mungkin laki-laki itu belajar lebih keras saat di rumah. Nadine tidak mengerti kenapa ia repot-repot memikirkan itu. *** Ilana naik ke lantai empat dan pergi ke ujung lorong. Ia memelankan langkahnya dan menatap sekeliling, memastikan bahwa tidak ada orang di lantai itu. Lantai itu memang selalu sepi karena berisi ruangan-ruangan untuk menyimpan barang-barang. Juga aula besar yang biasanya hanya digunakan jika ada acara-acara penting. Ia mendekati sebuah pintu sambil merogoh salah satu saku ranselnya untuk mengambil sebuah kunci. Ilana berhenti di depan ruangan favoritnya. Setelah memindai sekeliling sekali lagi dan memastikan bahwa ia satu-satunya orang yang ada di lantai itu, ia memasukkan kunci pada lubangnya, dan membuka pintu itu. Ia masuk lalu kembali mengunci ruangan itu dari dalam. Ilana menjatuhkan diri di sofa yang ada di sana lalu menghela napas. Ia mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya. Ya, kotak makan itu kembali dititipkan kepada supirnya. Ia berpikir bahwa asisten rumah tangganya akan melakukan itu sampai hukumannya berakhir. Isi kotak bekalnya kali ini adalah nasi goreng dengan topping seafood yang tampak menggugah selera. Ilana yang sudah kelaparan langsung mengambil sendok yang juga ada di kotak dan memakan bekalnya. Ia menikmati sarapannya di ruangan itu. Dengan rasa sepi yang menyelimutinya. Ilana menemukan tempat itu saat berada di semester awal kelas dua. Ia sedang turun dari rooftop dan melewati ruangan itu yang sedang dibersihkan oleh petugas kebersihan. Beberapa barang sudah dipindahkan ke lantai dasar dan sisanya dibiarkan ada di sana. Saat itu, Ilana mengobrol dengan penjaga sekolah yang juga ada di sana dan bertanya akan jadi apa ruangan itu. Pria itu bilang bahwa ruangan itu akan dibiarkan kosong. Dan saat itulah Ilana merasa bahwa tempat itu akan menjadi tempat yang cocok untuknya menyendiri. Ilana biasanya menyendiri di rooftop sekolah. Namun saat siang, tempat itu jelas tidak bersahabat karena panas. Ilana akhirnya mencuri kunci itu dari penjaga sekolah. Ya. Ia mencurinya karena tahu bahwa ia tidak akan diberikan jika ia berbicara langsung. Tempat itu menjadi tempat persembunyiannya sejak itu sampai sekarang. Dan tidak pernah ada yang mencoba masuk ke sana, termasuk si penjaga sekolah yang mungkin tidak menyadari bahwa kunci itu telah terpisah dari belasan kunci yang ia satukan dan selalu ia bawa ke mana-mana. *** Keenan masuk ke ruang makan dan melirik seisi ruangan. Beberapa orang yang menarik perhatiannya ada di sana, Haikal, Nadine, juga Joseph yang berada di meja terpisah. Ia mengantre untuk mengambil makanan dan berpikir akan duduk di mana ia nanti. Setelah isi dalam nampannya penuh, ia akhirnya mendekati meja Nadine yang ada di tengah. Membuat Haikal mau tak mau menghela napas lega lalu mulai mempercepat makannya. Nadine sedang menyuapkan sendok berisi nasi dan daging saat melihat Keenan menjatuhkan diri di kursi di depannya. Laki-laki itu tersenyum. Nadine masih mengunyah dan menatap laki-laki itu yang sebelah tangannya sudah mengambil sendok dan tampak mengaduk-aduk sayur di dalam nampannya. Nadine sama sekali tidak ingin menghindari laki-laki itu yang juga sedang menatapnya. Laki-laki itu memulai suapan pertama dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Nadine kembali terfokus pada nampan di depannya. Ia mengenyahkan rasa risih karena menyadari bahwa Keenan duduk di depannya dan menatapnya secara terang-terangan. Keduanya makan dalam diam. Tidak ada yang membuka pembicaran. Hal yang sangat disyukuri Nadine. Namun ternyata ketenangan Nadine tidak bertahan lama. Disela-sela makanya, Keenan mengambil botol air mineral miliknya dan membuka tutupnya. Laki-laki itu menyesap air mineralnya, lalu tanpa aba-aba apapun menyemburkan isi mulutnya hingga mengenai nampan Nadine yang ada di atas meja. Nadine menahan napasnya saat melihat isi nampannya sudah bercampur dengan air dari mulut Keenan. Ia hanya beruntung karena laki-laki itu tidak menyembur ke arahnya. “Maaf..” kata laki-laki itu, “airnya tidak enak.” ujarnya, sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangannya. Kejadian itu cukup untuk mengundang semua mata yang ada di sana untuk langsung menatap ke arah mereka berdua. Nadine berdecak. Alasan laki-laki itu tidak masuk akal, dan memang laki-laki itu sangat senang memperlihatkan kebodohannya. Nadine sedang tidak ingin berdebat. Ia kelelahan karena pagi ini bangun lebih pagi dari biasanya untuk mencuci baju dan membersihkan rumah, seperti janjinya pada ibunya semalam. Nadine menarik napas panjang lalu berdiri, dan bersiap meninggalkan meja itu saat sebelah tangan Keenan menahanya. “Aku sudah minta maaf.” kata laki-laki itu. “duduklah.” Kedua mata Nadine memicing, hanya untuk menatap Keenan yang baru saja memintanya kembali duduk. Apa laki-laki itu memintanya melanjutkan makan dengan makanannya yang sudah bercampur dengan air liur laki-laki itu. “Kamu memintaku melanjutkan makan dengan makanan yang sudah penuh dengan air liurmu?” Nadine mengatakan itu sambil sekuat tenaga mengempaskan cengkeraman tangan Keenan hingga terlepas. Semua pasang mata sudah menghujam ke arah mereka berdua. Keenan memutar bola matanya lalu berkata, “aku akan memberikanmu uang lima juta jika kamu mau menghabiskan isi nampanmu.” tawar Keenan. Ia tahu dengan kondisi gadis itu sekarang, uang lima juta itu pasti terasa sangat besar. “Aku tidak butuh uangmu.” Nadine membalik badan, membawa nampannya dan meninggalkan meja. Ia tidak peduli lagi meski perutnya belum kenyang. Moodnya sudah rusak karena laki-laki itu. Saat ini, laki-laki itu mungkin sedang tertawa di mejanya karena berhasil membuatnya marah. Ia menaruh nampan bekas pakainya di tempat seharusnya lalu keluar dari ruang makan. Keenan terkekeh pelan lalu menatap punggung Nadine yang baru saja menghilang di balik pintu ruang makan. Ia lalu melirik sekeliling, ke orang-orang yang sudah mulai mengembalikan fokusnya ke nampan di depannya, atau ke orang di sebelahnya. Hanya ada satu pasang mata yang masih menatapnya. Keenan menyeringai saat matanya bertemu dengan mata biru Joseph. *** Nadine sedang berada di taman belakang sekolah saat Joseph duduk sebelahnya. Laki-laki itu menaruh satu kotak berisi seporsi dimsum yang ia beli dari kantin di tengah bangku, memisahkan mereka berdua. Joseph tahu bahwa saat Keenan duduk di depan Nadine, Nadine juga baru saja duduk di sana. Ia tahu bahwa nampan gadis itu mungkin masih tersisa setengah lebih. Apa yang sudah masuk ke dalam perut gadis itu mungkin belum cukup untuk mengenyangkannya. Nadine melirik laki-laki itu dan dimsum di sebelahnya sekilas lalu mengembalikan pandangannya ke depan. Ke hamparan rumput hijau yang menyegarkan mata, juga ke beberapa anak yang sedang duduk di bawah pohon rindang dan tampak berbincang-bincang. Joseph mengikuti arah pandang gadis itu. Tapi Joseph sadar bahwa ia tidak seharusnya ada di sana. Ia pikir dimsum yang ia beli tidak akan disentuh gadis itu karena gadis itu akan malu. Ia baru saja hendak berdiri dan meninggalkan laki-laki itu saat Nadine berkata, “jangan pergi.” tanpa menoleh ke arahnya. Joseph terdiam sebentar lalu kembali duduk. Selamat beberapa saat, tidak ada yang membuka pembicaraan. Nadine tahu tidak ada yang bisa ia sembunyikan dari laki-laki itu. Semua orang tahu bagaimana kehidupannya di sekolah yang menyedihkan. Sebagai nilai plus, laki-laki itu tahu di mana ia tinggal. Nadine sebenarnya sudah merasa ingin menangis sebelum Joseph duduk di sampingnya. Ia merasa sakit hati dengan perbuatan Keenan. Kalimat laki-laki itu di ruang makan saat menyakiti hatinya dan semua orang mendengarnya. Ia menyesal karena tidak sanggup melakukan apapun. Ia seharusnya memberikan laki-laki itu pukulan, atau mungkin melemparkan isi nampannya ke arah laki-laki itu. Ia seharusnya bisa melakukan salah satu dari itu. Nadine membutuhkan Joseph ada di sampingnya agar ia tidak merasa sendiri. Jika sendiri, ia tahu ia akan kembali menangis. Mereka tidak perlu membicarakan apapun. Mereka hanya perlu berdiam diri. Nadine tahu ia akan merasa malu jika harus menangis di samping laki-laki itu. “Makanlah.” Joseph menggeser kotak berisi dimsumnya lebih dekat ke arah Nadine. Nadine melirik sekilas lalu tersenyum kecut, “sudah berapa kali aku memintamu untuk tidak mencampuri urusanku.” kali ini nada suara Nadine tampak pelan. Kebingungan kenapa laki-laki itu sama sekali tidak mendengarkan peringatannya. Nadine berbicara lagi karena melihat Joseph tak mengucapkan sepatah katapun, “Aku sudah berurusan dengan Keenan. Semua orang yang dekat denganku, ataupun yang membantuku, akan terkena masalah juga.” Nadine memberitahu bahwa semua peringatannya bukan omong kosong. Ia ingin memberitahu Joseph bahwa Keenan sanggup melakukan apa saja, meski Joseph sebenarnya sudah tahu. “Pertama, aku tidak dekat denganmu. Kedua, aku tidak membantumu.” kata Joseph. “aku hanya… kebetulan lewat.” ia melirik dimsum yang ada di sampingnya. Kalimat itu membuat Nadine tersenyum. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia tersenyum. Ia akhirnya mengambil dimsum itu dengan garpu kecil dan menggigitnya. Joseph mengulas senyum tipis saat melihat itu. Ia mengembalikan tatapannya ke depannya karena ingin membuat gadis itu nyaman. Mereka duduk di sana sampai bel masuk berbunyi. Tidak ada yang mereka bicarakan. Keduanya tidak berusaha membuka pembicaraan lain. Joseph hanya menemani gadis itu di sana yang akhirnya menghabiskan dua potong dimsum yang dibelinya. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN