Joseph masuk ke kafetaria yang ada di lembaga pendidikannya dan terkejut melihat Emma ada di salah satu meja yang ada di sana. Gadis itu duduk seorang diri dengan laptop terbuka di atas meja. Ada satu botol air mineral di sampingnya.
“Emma…” Joseph memanggil saat berjalan mendekat.
“Hai…” wanita itu tersenyum dan melihat Joseph duduk di kursi di depannya.
“Kamu les di sini juga?” laki-laki itu bertanya dan melihat Emma mengangguk. Gadis itu melepas fokusnya dari layar di depannya dan menjauhkan jari-jarinya dari papan ketik.
“Kenapa aku tidak pernah melihatmu?”
“Karena aku jarang masuk.” Emma tersenyum. “aku hanya sesekali masuk ke kelas. Bagiku sudah cukup belajar di sekolah. Aku di sini hanya formalitas saja.”
“Bukankah itu namanya membuang-buang uang?” Joseph tahu bahwa biaya di lembaga pendidikan itu tidaklah murah. Lembaga pendidikan itu khusus memberikan pengajaran dengan kurikulum yang berbeda dengan sekolah negeri biasanya. Mereka fokus mengajarkan kurikulum internasional untuk anak-anak yang berasal dari international school.
“Orangtuaku tidak peduli dengan itu. Mereka bahkan tidak peduli jika aku menghabiskan uang mereka untuk apa saja. Mereka sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.” papar Emma.
Joseph menatap wajah Emma yang tiba-tiba terlihat murung. Ini tidak pernah terlihat sebelumnya. Emma yang Joseph kenal adalah gadis periang yang selalu menebar keceriaan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia tidak mendapati raut wajah seperti itu sebelumnya. Gadis itu sepertinya mempunyai permasalahan keluarga yang cukup kompleks. Tapi Joseph sama sekali tidak bertanya atau berusaha mencari tahu lebih jauh. Ia harus menghargai privasi gadis itu. Ia siap mendengarkan jika memang gadis itu siap bercerita padanya.
Tidak butuh waktu lama untuk gadis itu kembali ke mode cerianya. Ia menutup laptop setelah menyimpan tugasnya dan menatap Joseph yang baru saja berdiri lalu mendekati salah satu penjual untuk memesan makanan.
Tak lama laki-laki itu dengan satu porsi dimsum di tangannya.
“Kamu sudah selesai kelas?”Joseph bertanya saat ia menggigit satu dimsumnya. Ia tidak menawarkan makanannya pada Emma karena tahu Emma tidak akan memakannya. Laki-laki itu melihat Emma mengangguk lalu tatapan gadis itu kembali pada ponsel di tangannya.
“Sudah mau pergi?” Joseph bertanya saat melihat gadis itu memasukkan laptop dan bukunya ke dalam ransel.
Emma tersenyum lalu mengangguk. “aku duluan, ya.” kata gadis itu sambil berdiri. Joseph hanya mengangguk sebagai jawaban tercepat. Josep menatap punggung gadis itu yang keluar dari kafetaria. Tatapan lalu terlempar ke luar. Melalui dinding transparan kafetaria, ia melihat seseorang baru saja keluar dari mobilnya. Laki-laki itu memakai kaos yang dilapisi jaket. Sebelah tangannya membuka kacamata hitam yang ia pakai.
Joseph masih menatap laki-laki itu saat melihat Emma masuk dalam bingkai penglihatan. Gadis itu berdiri di depan laki-laki itu. Laki-laki itu tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Emma. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil.
“Jadi itu pacarnya.” kata Joseph pada dirinya sendiri. Ia berpikir bahwa keduanya terlihat cocok. Laki-laki itu tampan, tinggi dengan kulit sawo matang. Rahang tegas laki-laki itu juga alis tebalnya memberikan nilai plus.
***
“Seragam kamu kenapa?” Mila bertanya saat ia melihat Nadine keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang terlihat kotor di tangannya.
“Eh?” Nadine melihat Ibunya berada di anak tangga teratas dan kini mendekat ke arahnya. “nggak apa-apa, Ma, tadi Nadine nggak sengaja nabrak teman yang lagi bawa kopi. Jadi tumpah.”
Mila mengambil seragam itu dari tangan anaknya dan menelitinya. “beneran?” wanita itu bertanya dengan nada penasaran.
“Iya. Sini, mau Nadine cuci.” Nadine hendak mengambil kembali seragamnya saat ibunya menahannya.
“Nanti Mama aja yang cuci. Kamu lanjutin belajar aja.” kata wanita itu.
“Nggak apa-apa, Nadine aja.” Nadine tidak mau kalah. Ia merasa bahwa sekarang sudah waktunya ia melakukan semuanya seorang dirinya. Di tengah kesibukannya, ibunya masih harus mencuci bajunya, membereskan dan membersihkan rumah. Hal yang tahu pasti sangat menguras tenaga ibunya. Ia sudah mulai berpikir bahwa ia akan melakukan bagiannya seorang diri sehingga ibunya bisa menghemat tenaganya.
“Biar Ma…”
“Ma…” potong Nadine langsung. “Nadine udah besar. Kalau cuma sekadar cuci piring dan cuci baju, Nadine bisa.” kata gadis itu. Berusaha meyakinkan ibunya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Tapi kan kamu…” Mila menggantungkan kalimatnya.
“Ma, nggak terbiasa bukan berarti nggak bisa. Pokoknya mulai hari ini, Nadine akan cuci semua baju-baju, juga piring bekas makan. Juga bersihkan dan beresin lantai atas. Kita bagi tugas biar ibu nggak kelelahan.” jelas Nadine.
***
Ilana memakan spaghetti di dalam mobil dam perjalanan pulang dari tempat les. Kembali, asisten rumah tangga itu menitipkan makanan pada supirnya untuk diberikan padanya. Nadine sudah menahan diri karena sisa uang yang dipegangnya terbatas. Jika tidak benar-benar lapar, ia akan menahannya untuk lain waktu. Biasanya ibunya memberikan uang jajan dalam bentuk kartu kredit. Ibunya tidak pernah membatasi pengeluarannya karena bagi ibunya, uang bukanlah sebuah kesulitan baginya. Di akhir bulan, wanita itu akan mengecek pengeluaran kartu kreditnya. Wanita itu tidak pernah komplain dengan semua uang yang ia habiskan untuk jajan atau membeli buku. Wanita itu termasuk royal dalam hal uang padanya. Ilana bisa membeli apapun yang ia suka.
Tapi, hal ini memang kadang terjadi. Ia dihukum tidak diberikan uang jajan. Itu artinya kartu kreditnya akan ditahan dan ia sama sekali tidak diberi pegangan uang. Uang cash yang ada di tangannya biasanya jika ia membelanjakan teman sebangkunya dan temannya menggantikan dengan uang cash. Jumlah itu jelas tidak banyak, makanya ia akan menggunakannya jika benar-benar butuh.
Selesai dengan kotak makannya, ia mengelap bibirnya dengan tisu. Berusaha menghapus jejak makanan di bibirnya. Ibunya tidak boleh tahu kalau ia mendapatkan makanan itu, karena keadaan akan semakin runyam. Ibunya pasti akan marah besar padanya dan menambah waktu hukuman. Dan yang paling parah, ibunya mungkin akan memecat asisten rumah tangganya. Asisten itu sudah bekerja dengan keluarganya selama belasan tahun. Wanita paruh baya itu pasti sudah sangat tahu bagaimana hidupnya. Nadine tidak pernah ingin orang lain tahu hidupnya. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa menyembunyikan diri dari orang-orang yang ada di rumahnya.
***
Emma melirik sekelilingnya dengan tidak nyaman. Tempat itu ramai, dengan riuh musik dan orang berbincang-bincang. Bau alkohol dan rokok menguar dari berbagai sisi. Ini bukan kali pertama Axel membawanya ke bar. Tidak peduli jika ia tidak nyaman dan selalu bilang pada Axel bahwa ia tidak ingin ke tempat seperti itu lagi, laki-laki itu tidak pernah benar-benar menuruti kata-katanya. Setelah beberapa kali, Emma tetap saja tidak terbiasa ada di tempat seperti itu.
Axel adalah mahasiswa jurusan hubungan internasional semester empat. Laki-laki itu memang terkadang sering berkumpul dengan teman-temannya di tempat-tempat seperti ini. Axel tidak peduli jika ia membenci kebisingan, laki-laki itu akan tetap mengajaknya untuk ikut.
Mereka mengelilingi satu meja kotak. Selain dirinya dengan Axel, ada dua pasangan lagi di sana. Emma mengenal semuanya karena mereka sering bertemu. Di atas meja, ada botol berisi minuman alkohol dengan lima buah gelas, juga satu gelas berisi jus jeruk pesanannya. Ia tidak pernah mau mencoba alkohol meski Axel sering memaksanya.
Sementara Axel dan teman-temannya sibuk mengobrolkan sesuatu yang sama sekali tidak ia mengerti, Emma sibuk menscroll media sosialnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Axel yang duduk di sebelahnya. Sebelah tangannya merangkul lengan laki-laki itu.
Emma sibuk dengan dunianya sendiri. Memang ada beberapa pembicaraan antara Axel dengan temannya yang tidak bisa ia ikuti. Baginya, berada di sebelah laki-laki itu sudah lebih dari cukup.
Emma menengadah saat melihat keempat teman Axel berdiri dari duduknya. Dua wanita itu pamit pada Axel juga dirinya sambil mengulas tersenyum.
“Mereka pulang?” Emma bertanya. Axel menatap ke arahnya dan mengangguk. Ia menatap wajah Emma lekat-lekat. Wajah dengan kulit putih mulus. Ia mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap pipi gadis itu.
“Kamu ngantuk?” Axel bertanya dan melihat gadis itu menggeleng pelan. Ia memajukan wajahnya untuk mengecup bibir gadis itu. Tidak cukup, ia melumatnya pelan hingga akhirnya ciumannya terbalas. Sebelah tangan Axel mengusap lengan gadis itu hingga akhirnya sampai ke lehernya.
Emma yang memutus ciuman mereka. Ia melirik sekeliling yang ramai. Meski meja mereka ada di ujung dan tahu bahwa tidak ada orang yang memerhatikan mereka karena sibuk dengan urusannya masing-masing, ia tetap takut jika ada orang yang mungkin mengenalnya.
“Kenapa?” Axel berbisik. Wajahnya masih berada sangat dekat dengan Emma yang matanya terlihat memindai sekeliling.
“Takut ada yang lihat.” jawab Emma dengan nada pelan. Axel tersenyum lalu mengambil dagu gadisnya agar menatapnya.
“Let’s go to my place.” bisik Axel.
Yang dimaksud tempat oleh Axel adalah apartemen laki-laki itu. Emma pernah beberapa kali ke sana hanya untuk menonton film atau menghabiskan waktu berdua. Tapi, Emma tidak pernah ingin ke sana lagi. Terakhir kali mereka menghabiskan waktu di apartemen itu, Axel membujuknya untuk berhubungan badan. Omongan laki-laki itu sama seperti laki-laki pada umumnya. Berjanji bahwa akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu, atau tidak akan meninggalkannya. Tapi ia tidak pernah ingin melakukan itu, meski pada Axel yang begitu dicintainya. Ia takut mereka benar-benar kebablasan dan tidak punya kekuatan untuk kembali. Baginya, ciuman dan sentuhan laki-laki itu sudah cukup. Ia tidak bisa memberikan laki-laki itu yang lebih lagi. Terakhir kalinya, ia bisa menolak dan laki-laki itu mengerti. Namun kali ini, Axel belum tentu akan mengerti. Emma takut ia terbuai oleh kata-kata laki-laki itu dan akhirnya melepaskan keperawanannya. Ia tahu seberapa cintanya pada laki-laki itu. Emma bahkan terkadang berpikir bahwa ia sanggup melakukan apapun untuk laki-laki itu agar tak kehilangannya.
“Hei…” suara itu membuyarkan lamunan Emma. “bagaimana?” tanya laki-laki itu. Sebelah tangan laki-laki itu mengusap paha Emma yang hari itu terbalut jeans ketat.
“Sudah malam. Akhir-akhir ini mama selalu datang ke kamarku setelah pulang kerja. Dia akan marah kalau aku pulang telat.” Emma berbohong. Ibunya jelas tidak akan melakukan itu. Ia berbohong agar Axel bisa mengantarnya pulang alih-alih mengajaknya ke apartemennya.
“Really?” Axel menatap ke manik mata Emma dan melihat gadis itu mengangguk pelan.
Emma melihat Axel menghela napas dan bisa melihat raut wajah kecewanya dari penerangan yang minim di sana.
“Besok aku ada kegiatan sampai malam, mungkin kita tidak bisa bertemu.” kata Axel sambil mendekatkan wajahnya dan menyelipkan sejumput rambut Emma ke belakang telinganya. “i will miss you.” setelah mengatakan itu, Axel kembali mengecup bibir Emma dan melumatnya pelan. Sebelah tangan laki-laki itu menyusup ke balik kaos Emma dan mengusap kulitnya yang lembut.
Emma merasakan gelenyar aneh saat merasakan tangan Axel mengusap bagian belakang tubuhnya. Masih dengan ciuman laki-laki itu yang begitu intens, tangan laki-laki itu naik dan mengusap kulit punggung gadis itu.
Emma melepaskan ciumannya sebelum laki-laki itu lepas kendali. Ia menatap wajah Axel yang tampan meski penerangan di sekeliling mereka mimin. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap pipi laki-laki itu. Orang-orang yang melihat mereka sebagai pasangan akan selalu bilang bahwa mereka berdua cocok, karena ia cantik dan laki-laki itu tampan. Orang bilang mereka terlihat sangat serasi dan cocok satu sama lain.
Baginya memang benar. Laki-laki itu sangat tampan, tak hanya itu, laki-laki itu telah sangat berjasa karena mengubah hidupnya menjadi lebih berarti. Emma selalu berpikir bahwa ia sangat beruntung bertemu dengan laki-laki itu.
TBC
LalunaKia