Empat Puluh Sembilan

2163 Kata
"Harusnya tadi kamu membawa mobil," keluhku begitu menatap ke angkasa yang didominasi oleh kegelapan. Kerlip-kerlip bintang yang sebelumnya ada tertimpa tanpa sisa. Sama pula dengan bulan yang menggantung di tengah-tengah. "Ah benar. Langitnya gelap sekali." Sam naik ke atas motornya, langsung menyalakan mesin. "Cepat, sebelum hujannya turun." Aku memanjat naik ke boncengan. Lalu itu baru beberapa meter dari cafe dan gerimis mulai berjatuhan. Sam melanjutkan kecepatan, membuat gedung dan kendaraan yang aku lewati hanya seperti sekelebat bayangan. "Damn!" umpatnya begitu hujan deras mengguyur. Tubuhku dalam sekejap basah. Kedinginan merambat kemana-mana. Sam membelokan motor ke jalan pintas. Hujan pula semakin lebat hingga membuat dia akhirnya mengambil keputusan untuk berhenti di depan toko yang telah tutup. Wajar, jam sudah menunjukkan pukul 10. Kami tadi terlampau banyak bercerita, dari hal penting hingga tidak. Semuanya diangkat menjadi topik, membuat waktu tanpa terasa berlalu semakin larut. "Lain kali pokoknya kamu harus bawa mobil," ujarku seraya memeras ujung seragam sekolah. Hah, lihatlah kami ini. Masih dengan seragam sekolah di jam selarut ini. Lalu kusut pula karena terguyur hujan. Sungguh pemandangan yang tidak pantas sekali. "Aku kira juga begitu." Sam melepas jaketnya. Jangan harap bisa aku pakai sebab itu sudah sangat basah. Tetesan air berjatuhan begitu dia memerasnya. Sangat banyak dan semakin menyakinkan aku bahwa hujan tadi memang sungguh lebat. Dia meletakkan jaket tersebut kemudian pada bangku kayu. Aku juga menurunkan totebag yang aku sandang. Untungnya aku membawa yang model kulit, jadi ada kemungkinan isinya tidak terlalu basah. Ah sialan, aku meninggalkan jaket bulu di loker. Harusnya tadi aku bawa agar dapat membantu. "Mau peluk?" Sam merentangkan kedua tangannya. Belum menyebalkan sampai melihat senyum menggoda di bibirnya. "Gak jelas!" semburku lanjut memeras ujung seragam sekolah. Berharap itu membuat dingin yang menyergap berkurang sedikit. Tapi sepertinya tidak akan berhasil karena biarpun air di seragam berkurang, nyatanya udara akibat hujan mendingin berkali lipat dari biasanya. "Ayolah ini gratis." Cowok satu ini malah mengajak ribut. Tidak tahu apa bahwa aku sudah hampir meledak karena keadaan ini? "Seria, ayo. Aku siap memelukmu." "Tidak tertarik." Aku mendudukkan diri di bangku kayu dan memeluk tubuh. Sialan, udaranya benar-benar menusuk. "Tapi aku tertarik menyerahkan tubuh." Dia ikut duduk di sebelahku. "Yakin tidak mau?" "Tidak!" "Kalau begitu biar aku saja." Sam memelukku dari samping. Dingin yang awalnya terasa berubah menjadi kehangatan. Apalagi kalau bukan karena kulit lengannya yang menyentuh tengkukku, juga hembusan nafasnya. "Jangan melepaskan. Tubuhmu membutuhkan aku." Astaga pedenya dia. Tapi memang tidak salah, tubuhku memang membutuhkan kehangatannya. Tidak-tidak. Aku tidak boleh begini. Kulepaskan kedua tangannya segera. Akan semakin berbahaya jika itu berlama-lamaan menempel padaku. "Rambutku berantakan sekali." "Masih cantik kok." "Gombal!" "Itu adalah kenyataan." Kami kemudian sama-sama diam. Sam mengisi waktu dengan menatap padaku, sementara aku pula tengah berusaha merapikan rambut basahku agar tidak terlihat begitu jelek. Padahal mau diapa-apain tetap juga jelek karena sudah terlanjur lepek. Akhirnya aku menyerah, menurunkan tangan ke atas paha. Hujan masih lebat. Butiran-butiran besarnya menimbulkan bunyi yang cukup menganggu telinga. Aroma tanah kemudian naik ke udara. "Sam, kamu suka hujan?" "Tidak bisa dibilang suka, tapi juga tidak bisa dibilang tidak suka. Aku malah tidak peduli." Sudah aku duga. Memang jarang cowok menyukai hujan. Itu hanya ada di kebanyakan novel-novel dan film saja. "Butirannya jatuh menyakitkan dan terkadang mendinginkan hati. Begitu yang orang-orang katakan, namun aku tidak merasakannya sama sekali. Jadi aku tidak peduli." "Kamu mati rasa." "Mungkin, karena semua rasa itu telah menjadi milik kamu." "Berhenti menggombal atau aku akan memukulmu." Benar, dia harus diancam agar tidak semakin menjadi gila. "Tidak bolehkah diganti dengan ciuman atau pelukan? Keduanya juga boleh, aku menerima suka rela." Plak Aku benar-benar melampiaskannya. Memukul lengan Sam hingga berbunyi nyaring. Kemerahan kemudian muncul di sana. Bodo amat. Siapa suruh menyebalkan. Dia pula malah tergelak tak tentu arah. Semakin membuat aku yakin untuk melabelinya selaku orang gila. "Kamu sendiri, suka hujan?" "Tidak sama sekali." "Kenapa?" "Karena hujan menyebalkan! Membuat tubuhku kedinginan dan merusak suasana cerah." Aku bahkan mengangkat kedua tanganku, menunjukkan pada Sam bahwa hujan telah membuat tubuhku mengigil. Itu adalah bukti kenapa aku tidak menyukai hujan. Eksistensinya membuat aku sakit. Ia merengkuh aku masuk ke dalam dadanya. "Kamu membutuhkan aku." Deru nafasnya kemudian terasa menyapu telinga. "Meski untuk saat ini saja. Kamu membutuhkan aku." Tangannya naik ke lenganku yang dingin dan mengelus-elus pelan. Kehangatan perlahan tercipta, membuat pembenaran bahwa aku memang membutuhkan tubuhnya. Setidaknya untuk saat ini. "Kamu bilang tidak menyukai hujan," lanjutnya sedikit menaikkan suara, menepis gemuruh hujan yang terus-menerus menganggu."Apa kamu tidak takut Tuhan akan menghukum? Hujan memang terkadang menyebalkan, tapi kamu tidak mungkin lupa pelajaran IPA. Semua tumbuh-tumbuhan datang dari air, hewan-hewan dan 90 persen tubuh kita." "Kita tidak membicarakan tentang air, tapi hujan." "Mereka bertautan. Hujan turun ke bumi, mengalir ke sungai-sungai dan mengisi sumur." Iya juga. Jika hujan tidak turun sungai-sungai akan mengering. Mata air tanah pun begitu karena hanya menerima panas sepanjang waktu. Biji-bijian tidak dapat tumbuh, hewan herbivora kemudian akan mati karena tidak mendapatkan makanan, berlanjut dengan hewan karnivora yang tidak dapat menemukan mangsa, lalu berakhir dengan kami selalu manusia yang kelaparan. Tidak ada tumbuhan dan hewan. Tidak ada bahan produksi dan pangan. Kehidupan pada akhirnya akan selesai. "Terkadang apa yang tidak kita sukai adalah hal yang paling berarti." Aku mendongakkan kepala, mendapat suguhan langsung rahangnya yang tegas. "Lalu kenapa aku bisa tidak menyukainya? Katamu itu sangat berarti, harusnya menimbulkan perasaan suka bukan?" "Sesuatu yang berarti tidak memiliki efek begitu. Berbeda dengan 'suka', dia memberikan efek yang menggebu-gebu. Membuat kita ditunggangi oleh perasaan ingin yang kuat. Namun sesuatu yang berharga berbeda. Lebih banyak orang yang tidak menyadarinya. Karena begitulah hukum alam. Sengaja mempermainkan sebagai bayaran sebelum memberikan hal berarti yang sangat berharga." "Misalnya?" "Papamu. Dia sangat berarti, bukan? Memberikan kamu kenyamanan berupa rumah, perlindungan dan nafkah. Tapi dari itu semua kamu tidak dapat menyukainya karena beberapa sikapnya saja. Padahal kamu sadar, tanpa papamu kamu tidak lah sempurna. Dia berarti, tapi kamu tidak dapat menyadari penuh." "Padahal jelas terlihat di depan mata," gumamku pelan. Hal berarti memang sulit ditemukan daripada apa yang disukai. "Kamu sendiri, kenapa bisa tidak peduli akan hujan?" "Karena memang itu tidak penting. Hujan atau panas, hanya pikiran dan hati kita saja yang dapat dikontrol. Seberapa huru hara sekelilingmu atau seberapa menyebalkan hujan membasahi bumi, itu tidak akan penting jika kamu tidak mementingkannya." Dia yang seperti ini entah kenapa membuat aku semakin tertarik. Maksudku, Sam berbeda dari rumor bertebaran di udara. Dia tidak hanya brandalan, namun punya sisi untuk memahami kehidupan. Sisi itu tidak dapat dimengerti semua orang. Lalu karena dia mengerti maka aku dapat mengatakan bahwa Sam adalah sosok yang lurus. Di saat yang sama membuat aku merasa senang karena dapat berkembang ke arah yang positif dimana tidak semua orang dapat memberikannya. "Pikiran, itu sangat hebat ya?" Sam mengangguk. "Sangat. Ketika kamu dapat mengontrolnya maka kamu dapat mengontrol sekitar. Tapi.." Pandangannya melurus pada hujan yang terus berjatuhan. Meredup pelan bersama seulas senyum manis. "Sepertinya aku suka hujan." "Kenapa?" Tadi bukannya dia bilang tidak peduli. Masa dalam sekejap pikirannya berubah. Meskipun aku tahu pikiran memang dinamis, namun terdengar aneh kalau langsung berubah dalam hitungan menit. Pandangannya jatuh padaku. Sorot lembut adalah yang ia bawa. "Karena dia membuat kamu tidak memiliki pilihan selain memelukku." *** "Jangan langsung tidur, mandi dulu. Aku akan membuatkan sup hangat." Begitu sampai di rumah dia segera memberikan perintah. Aku suka perhatiannya yang terakhir. Terkesan sulit diabaikan karena biar bagaimanapun hal tersebut jarang dilakukan seorang pria kepada perempuan. Jadi mau tidak mau aku merasa sangat sepesial. Astaga sepertinya otak ini bermasalah karena guyuran air hujan. "Mau sesuatu selain sup?" Lihatlah! Dia bahkan menawarkan hal lain. Padahal harusnya dia egois untuk segera pulang karena tubuhnya sudah basah kuyup begitu. "Aku mau coklat panas," teriaku sebelum menutup pintu. Hal yang pertamakali aku kerjakan adalah mandi. Sisa-sisa air hujan harus segera dihilangkan agar tidak menyebabkan sakit di kemudian hari. Usai mandi aku memakai turtleneck dan membalut lagi dengan jaket bulu tebal. Sebagai bawahan aku mengenakan celana panjang bahan wol. Itu belum cukup meminimalisir sejuk, jadi aku menggunakan kaos kaki sebagai alas. Tentunya suhu AC juga aku turunkan. "Karena dia membuat kamu tidak memiliki pilihan selain memelukku." Kalimat itu berputar di kepalaku saat aku menatap bayangan wajah di cermin. Sialan, senyum tanpa diminta tertarik begitu saja. "Cih darimana dia mendapatkan kalimat tersebut?" "Aku merangkainya sendiri." "Sam!" Mengejutkan saja. Untung aku tidak tengah lebih gila dari menggumamkan kalimat tadi. "Kelihatannya kamu memikirkanku." "Sok tahu!" Aku meletakkan sisir kembali pada tempatnya dan menaiki ranjang. Kutarik selimut sebatas perut sebelum bersandar pada kepala ranjang. Sam dengan hati-hati meletakkan satu mangkuk sup hangat ke meja bersama minuman coklat. Asap dari kedua hidangkan tersebut masih mengudara, menunjukkan benar akan kehangatannya. "Ayo biar aku suap." Tangan kirinya meraih mangkuk sementara tangan kanannya meraih sumpit. "Aku masih punya dua tangan." Niatku ingin merebut surut karena dia langsung menjauhkan mangkuk dari jangkauan. "Tapi aku mau memanjakan ratuku." "Ewww dasar tukang gombal." Kurebut paksa mangkuk. Dia tidak melawan. Jelas saja, jika dia melawan maka isinya akan tumpah. Pekerjaannya pun menjadi sia-sia. Sekarang mari kita coba sup buatannya. Aku kira dia akan membuat cream soup atau sup ayam dan kentang, ternyata malah sup bihun. Untung saja aromanya menggoda, jadi tanpa berpikir begini dan begitu aku langsung menyeruputnya. Kuahnya merah dan kental. Tapi setelah sampai di lidah rasanya tidak terlalu pedas, malah ada sedikit manis. Seimbang sih, jadi semakin lezat di lidah. "Hey pelan-pelan, aku tidak akan merebut sup itu darimu." Aku mengangkat wajah. Mungkin akan seperti orang bodoh karena aku tidak menyangka bahwa di mata Sam kini aku sudah seorang orang kelaparan. Bagaimana bisa? Biasanya sekalipun lapar aku tetap mampu megontrol diri untuk makan dengan santai? Huwaaaa, jadi malu. Kelihatan benar aku menyukai masakannya. "Enak?" "Biasa saja." Dia tidak boleh dipuji, nanti jadi terlalu percaya diri. Parahnya bisa saja menjadikan aku bahan ledekan. Apalagi sampai menyangkut pautkan hal tersebut dengan perasaan. Hell no ya! "Benarkah? Tapi kenapa wajahmu menampilkan reaksi yang lain." Tidak aku tanggapi, malah melanjutkan makan dengan hati-hati. Tidak boleh lagi seperti orang kelaparan. Satu atau dua menit aku masih dapat santai akan Sam yang menopang dagu dan mengirim tatapan intens. Tapi setelah lebih dari sepuluh menit aku jadi merasa risih. Tangan yang santai membawa bihun ke mulut perlahan menjadi kaku. Akhirnya aku tidak tahan dan memutuskan menghujam tajam matanya. "Berhenti menatapku seperti itu sebelum aku mencolok matamu dengan sumpit ini." Dia terkekeh kecil saja. Memang aku tidak punya aura yang dapat membuatnya takut, namun aku tidak main-main. Jika dia masih seperti itu, maka aku dengan senang hati akan mencolok matanya. Kalimat ancaman yang pertama membuat aku sedikit aman melanjutkan makan, akan tetapi ternyata Sam tidak jera. Dia masih mengirim tatapan intens. Sialannya aku tertarik untuk melirik berulangkali dan membuat kekesalan semakin menggunung. "Sam!" bentakku. "Woah telingamu memerah." Panas menjalari pipiku, turut sampai ke telinga. Damn! Kini pasti benar-benar merah. Buru-buru aku mengeluarkan kebohongan. "Itu karena makanan ini sangat pedas." Bibirnya memecah tawa, tapi dia tidak mengeluarkan kalimat ledekan. Cih! Pasti karena mengetahui aku berbohong, namun di saat yang sama takut aku lebih marah lagi. Argh, kenapa jadi terkesan dia manis sekali. Dia menahan diri untuk menjaga hatiku. Tahan Seria! Jangan terharu. Dia hanya menjaga hatimu, tepatnya itu tentang hatinya sendiri. Bukan tentang hatiku. "Baiklah." Aku menghindar saat telapaknya tangannya menjulur. Tetap saja akhirnya dia berhasil mengelus pipiku. "Aku akan pulang. Habiskan makan kamu dan segera tidur." Dia menarik tangannya kembali dan menyembunyikan di balik saku hoodie. Aku dengar dari maid dia segera memesan pakaian sebelum menunju dapur, mandi dan kemudian bertukar pakaian. Bahkan ia meminta supir mengirimnya mobil. Hujan masih rintik-rintik di luar sana. Malah sepertinya akan berubah menjadi semakin lebat berdasarkan langit yang begitu gelap. Pilihan tepat memang baginya untuk pulang mengendarai mobil. "Sekarang?" Kalimat itu tidak masuk ke dalam saringan di pikiranku, langsung keluar begitu saja. Jadi aku terkejut setelahnya. Kenapa aku seolah enggan dia pergi? Kan gila sekali. "Jika kamu mau, aku bisa tidur di sebelahmu." "Aku tidak sedang bercanda, Sam." Kepalanya mengangguk kecil. "Ke rumah utama?" "Tidak, bangkel." Kutahan sumpit di pinggir mangkuk. Seiring detik hatiku terasa semakin menyerap kalimat Sam. Itu berakhir dengan secuil kasihan, iba atau mungkin kekhwatiran. "Apa hubungan kamu dan orangtuamu sangat buruk?" "Tidak juga, mereka selalu hangat menyambutku. Hanya saja aku tidak dapat merasakan kenyamanan. Mereka seolah tidak bersalah." "Kamu mau mereka meminta maaf?" "Tidak juga. Aku hanya mau mereka mengakui kesalahan. Tapi bukan hal terlalu penting." Terlalu katanya? Aku mengerti kalau begitu. "Tapi setidaknya itu termasuk sedikit penting, bukan? Sam, mengakui kesalahan adalah hal yang sangat sulit. Mereka pasti juga merasakan hal seperti itu, namun aku yakin sebagai orangtua mereka memiliki rasa bersalah akan kamu." "Nanti pasti ada waktunya dimana mereka akan mengakui, jujur akan semua yang terjadi baik di depan maupun belakang layar. Tapi hanya jika kamu meluluhkan hati itu dapat terjadi. Langkah pertama cobalah berbaur di rumah utama. Biar bagaimanapun itu adalah rumah kamu." Nafasnya menghela berat saat menarik tatapan dariku. Beberapa detik kemudian dia kembali menatapku dengan senyum. "Karena itu adalah perintah kesayanganku, maka aku akan setuju." Aku tidak setuju dia menyerahkan dirinya untuk diperintah, namun untuk saat ini sepertinya bukan masalah. Terlebih aku juga dapat menyakini diri untuk tidak memerintahnya berlebihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN