Lima Puluh

2156 Kata
"Kamu melupakan pacarmu." Bibir merahnya nan sehat maju beberapa centimeter. Bukannya membuat ketampanannya berkurang, justru malah membuat dia kian menggemaskan. Jika aku ada di sana, maka aku dengan semangat akan menarik bibirnya tersebut. Siapa suruh menggemaskan. "Seria.." Ekspresinya kian tampak dongkol. Lagi, membuat dia kian menggemaskan. Apa aku aneh? Bukannya terintimidasi untuk segera membuat klarifikasi, malah tertawa kecil lebih dulu sebagai intro. "Semalam aku kehujanan. Saat pulang aku langsung tidur." Pupil matanya yang awalnya redup kini melebar. "Kehujanan?" Aku mengangguk kecil. "Itu saat pulang sekolah. Hujannya begitu lebat." Tidak sepenuhnya salah. Aku memang kehujanan setelah pulang sekolah. Meskipun itu begitu larut, pada kenyataannya kami memang baru pulang dari sekolah. "Kamu tidak menggunakan mobil?" Aduh, Ian. Kenapa kamu bertanya lanjut. Aku jadi terpaksa membuat kebohongan lagi. "Aku pulang dengan mobil, hanya saja sebelum itu aku terkena hujan di lapangan saat pelajaran olahraga dan saat menuju parkiran. Kamu tahu, aku sangat payah jika berhubungan dengan hujan. Meskipun hanya sedikit, tapi tubuhku langsung melemah." "Kamu sudah tahu. Lain kali segera menghindari hujan. Aku jadi curiga kamu sengaja hujan-hujanan." Kugelengkan kepala. "Aku tidak suka hujan. Mana mungkin aku sengaja hujan-hujanan." "Benarkah? Aku kira perempuan kebanyakan menyukai hujan. Bagi kalian hujan memiliki arti dramatis, kan?" "Tidak bagiku. Hujan tetaplah hujan. Air yang turun dari langit, tidak ada arti dramatis sama sekali." Aku meletakkan siku pada meja dan menopang dagu. Memusatkan kembali pandangan pada Ian yang tampil di layar ponsel. "Kamu sendiri bagaimana, suka hujan?" Ian menggeleng. "Aku suka musim panas. Langit sepenuhnya biru cerah dan awan-awan berarakan seperti kapas. Lalu aku bisa piknik di pinggir pantai, menikmati hamparan pasir putih dan gulungan ombak sembari membaca buku. Jika langit cerah rasanya semua menjadi penuh positif." "Bulan depan biasanya akan didominasi oleh cuaca panas. Mungkin kita bisa mewujudkan apa yang kamu katakan tadi." "Piknik di pantai?" "Iya, pasti seru. Kita akan menghabiskan waktu bersama dengan suasana damai dan positif." "Baiklah, itu janji kamu." "Loh kok jadi janji?" "Ayolah, buat aku merasa senang, Seria." Kalau sudah begitu keinginannya, maka aku pun hanya ingin menurut saja. Lagipula tidak ada juga yang dirugikan dari janji tersebut. Ian menoleh melewati bahunya. Dua orang cowok dalam balutan seragam yang sama dengannya mendekat. Tampak mengeluarkan kata, namun tidak dapat aku dengar jelas. "Seria, kelas akan dimulai. Aku juga mau ke perpustakaan untuk mencari buku." "Ya, sepertinya aku juga harus memutuskan panggilan. Aku belum makan apa-apa dan waktu istirahat tinggal beberapa menit saja." "Lain kali jangan telepon aku di waktu istirahat jika kamu begitu." Yah dia jadi marah. Harusnya terharu dong karena kekasihnya ini rela mengorbankan diri untuk berbicara dengannya. "Aku akan menelepon lagi nanti malam. Dadah." Ia melambai. Lengkungan senyum menemani aksi tersebut, membuat aku ikut tertular untuk tersenyum. "Dadah." Detik berikutnya panggilan video terputus. Aku mengerutkan bibir akan hambar yang langsung menyeragap d**a. Cepat sekali efeknya menghilang. Jadi terkesan memaksa diri untuk selalu ingin berkomunikasi dengannya. "Sepertinya kamu memiliki pacar yang sempurna." "Tentu saja." Aku menarik sandwich dari kotak Nayala. Masih ada beberapa di dalamnya, jadi aku kira bukanlah masalah jika mengambilnya satu. "Dia manis, lembut, pintar dan tampan. Sepenuhnya tipe idamanku." "Kalau begitu Sam adalah kebalikan darinya. Kasar, galak, buruk rupa dan tidak pintar. Pantas saja kamu tidak menyukainya." Gigiku mempercepat kunyahan. Kalimat Nayala tidak benar sepenuhnya, jadi itu terasa mengganggu di telinga. "Sebenarnya dia tidak sepenuhnya kasar." Mata Nayala menyeragap tidak sabar. "Maksudnya?" "Aku tahu kamu juga mengerti. Sam bersikap kasar hanya kepada orang tertentu. Kamu dan aku, kita sama-sama hampir tidak pernah mendapatkan hal tersebut darinya. Benar kan?" "Wow kamu dapat menarik esensi penting dari seorang Sam yang kompleks." Ia menopang dagu. Tersenyum puas seperti ledekan yang memuakkan. "Kamu sepertinya mulai memperhatikan Sam dengan detail." "Dih untuk apa aku memperhatikannya begitu." Jelas-jelas ini hanya karena aku sering berinteraksi dengannya. Secara tidak langsung membuat aku lama-lama melihat setiap hal yang ada pada diri Sam. Nayala mengembangkan bahu. Menarik lagi sandwich dari tempatnya dan mengigit dalam ketenangan. "Jangan terlalu keras dipikirkan. Itu hanya membuat hati kamu semakin ingin menolak. Nanti akan ada waktunya tutup rahasia tersebut terbuka dengan sendirinya. Mungkin dua atau tiga bulan lagi." "Ck, kalimatmu terlalu dramatis." Kuambil lagi sandwich dari kotaknya. Mengigit sedikit dan menatap ke lapangan yang kosong. Istirahat pertama begini siapa yang luang. Pasti masih sibuk mengerjakan PR jam pelajaran berikutnya atau mengisi perut. "Aku terbiasa berada di dekatnya. Lama kelamaan aku juga dipaksa paham akan dirinya. Ah, menyebalkan." "Kenapa?" Kenapa ya? Tidak tahu juga sih. Aku hanya secara naluri tidak menyukainya. Seakan itu bukanlah hal bagus, meski aku tidak mengerti dimana letak keburukannya. "Apa kamu khawatir esensi-esensi dirinya yang kamu temukan membuat jatuh hati? Hah? Apa yang dia katakan? Jatuh hati? Bukan hanya berlebihan, tapi mustahil. Aku telah menyukai Ian. Hatiku miliknya seorang. Tidak mungkin kan juga milik Sam? *** "Kamu mengancam Seria?" Aku menahan tangan Nayala, menarik mundur untuk tetap di depan kelas. Kusandarkan tubuh pada dinding, siap mendengarkan percakapan kedua orang di sebelah. "Dia mengatakan itu? Astaga, aku bahkan tidak melakukan apa-apa. Kenapa dia sejahat itu?" Sudah aku duga. Dia pasti akan memasang wajah tidak bersalah kepada Sam. Sungguh teknik menjijikkan dan murahan. "Ponselmu." Bagus, Sam. Periksa ponselnya. Jika bukti berkata, maka mulutnya pasti akan berhenti mengarang cerita. "Untuk apa?" Hoho, sepertinya dia takut. Kalau begitu, paksa Sam! Itu kunci bagi kamu untuk melihat kebenaran bahwa memang dia yang salah. "Kemarikan!" Yas! "Kau mengirim pesan pada Ian Hirataga, bukan?" Hayo, Sam udah tahu loh. Sekarang dimana bukti bahwa dia menganggap kamu seperti berlian? Mungkin dulu memang begitu,tapi kini? Sam sepertinya sedikit merubah cara memandangnya pada Adelin. "Lihat sendiri, aku tidak mau menjelaskan. Biar bukti saja yang berkata." Dih, sudah bersalah malah sok benar. "Ah iya, semalam aku beradu mulut dengannya. Aku mengatakan dia seharusnya meninggalkan kamu jika memang sungguh tidak menyukai." "Lalu?" "Dia bilang itu bukan urusanku. Ya memang, namun dia malah semakin marah dan mengatakan kamu adalah b***k yang bebas dia perintah. Ini gara-gara kamu." Adelin sialan. Dia membuat-buat cerita. Mana ada aku mengatakan Sam b***k yang bebas diperintah. Dasar perempuan j*****m! "Kenapa dengan aku?" "Kamu terlalu memanjakannya, Sam. Dia jadi semakin besar kepala dan berpikir kamu bisa dipijak seenaknya." Bilang saja kamu cemburu, iri dan dengki. Meski begitu harusnya dia tidak membuat-buat cerita. Itu malah membuat dirinya buruk di mata Sam. Ya kalau begitu harusnya jangan salahkan jika Sam memilih berjalan ke araku. Toh dia sendiri yang tidak pantas lagi untuk dijadikan tempat bertahan. "Tidak mengapa. Itu hanya sementara. Setelah misiku selesai dia akan berada di kakiku." Perutku mencelos mendengarnya. Apa itu benar-benar Sam? Ataukah Adelin yang berkata? Tapi tidak, itu benar-benar suara Sam. Suara berat, kasar dan dalam miliknya. Keluar dengan tegas seolah memang isi hatinya yang paling valid. Dia sungguh menginginkan aku berada di kakinya. Posisi rendah itu paling dekat dengan b***k. Apa itu yang dia maksud? Akan menggunakan aku untuk diperintah ini itu? Perkataan Adelin dan Paman Sam menjadi benar. Dia memang hanya menganggap aku alat. Sam sialan! Kamu benar-benar mempermainkan aku. Semua yang telah kamu lakukan, kata-kata manis dan perhatian ternyata hanyalah sekumpulan cara untuk mencapai tujuan. Sama sekali bukan ketulusan hati. Tapi kenapa aku menemukan semuanya sebagai ketulusan? Seolah memang begitulah yang dia maksud. Aku jadi merasa paling bodoh karena mengetahui bahwa ketulusan tersebut hanyalah drama. Benar kata Adelin, sepertinya aku salah paham. Tanganku terkepal erat. Di dalam hati berjanji untuk tidak akan luluh lagi akan kalimat-kalimat Sam. Dia penipu! Aktor sialan! "Tunggu dulu," kata Nayala setengah berbisik. Aku menggeleng. Tidak ada lagi yang perlu ditunggu. Semuanya jelas, Sam hanya menganggap aku alat. Apa yang dia berikan resmi hanyalah kepalsuan. Bodohnya aku tanpa sadar membwa seluruh pemberian Sam ke dalam hati. Kini saat kalimatnya berputar-putar di kepala aku dapat merasakan goresannya. Sialan! Tanpa membuat suara, aku membawa kaki meninggalkan kelas tersebut. Beputar untuk mengambil jalan depan. Sam tidak perlu tahu aku mendengar semua kebenarannya. Karena aku yakin jika dia tahu, dia pasti akan membuat drama lagi. Menjebak aku untuk percaya sebelum akhirnya sungguh dijatuhkan dalam lubang kekecewaan. "Seria, kamu kenapa?" Mungkin kekesalan terlalu kentara di wajahku. Mila sampai berjengkit kaget. Argh, kenapa Sam seolah begitu berarti? "Tidak kenapa-kenapa." Kujatuhkan tubuh di kursi dan menarik tangan untuk memijat pelipis. Entah karena efek hujan semalam atau hura-hura di dalam pikiran, tapi pusingnya terasa jelas. Tangan besar Zion menyentuh bahuku bersama dengan wajahnya yang menunduk memperhatikan. "Nyai, sakit kepala?" Kutepis tangannya. "Tidak." Dia mengulurkan tangan ke dahiku. Aih, bocah satu ini tidak bisa apa tidak mengurusi aku? "Dahi kamu panas loh." "Aku tidak kenapa-kenapa." Sayangnya perkataan Zion telah berhasil memancing sahabat-sahabatku untuk berkumpul. Ya ampun, aku mau ketenangan loh. "Minggir-minggir, nyai saya butuh ketenangan. Bakteri, setan, iblis, buaya, semuanya menjauh!" Teriakan Zion yang tiba-tiba menghentikan kaki mereka. Disitulah aku mengambil kesempatan untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Padahal kenyataannya kepalaku kian terasa pusing. Panas pun ikut menguasai wajah. Fix, aku demam. *** Perlahan kelopak mataku terangkat. Langit-langit putih menyambut. Dilanjutkan oleh bau obat yang kuat. Awalnya aku kira adalah UKS, tapi setelah memendarkan mata aku baru sadar bahwa aku berada di rumah sakit. Klek Mataku menyerang cepat pintu. Knopnya berputar, tak lama terdorong ke depan, memunculkan sosok tinggi dengan seragam yang sama dengan milikku. "Kenapa bisa seperti ini sih?" Wajahnya menggeram gusar. Belum aku mengatakan apa-apa dia sudah mengusak-usak kasar wajahnya. "Argh, hrusnya semalam aku membawa mobil." Seperti yang sudah-sudah. Dia seolah peduli padaku. Kali ini bentuknya adalah kekhwatiran yang terlalu solid hingga aku yakin dapat lupa bahwa dia adalah seorang aktor—hanya memerankan skenario yang disusun, bukan nyata dari pikiran dan hatinya. Untung saja aku mendengar kalimatnya tadi pagi, itu jadi senjata kepala ini untuk tidak salah paham kembali. "Acting yang sempurna." Dia menurunkan telapak tangan yang menutupi wajahnya. "Kamu bilang apa?" "Acting kamu sempurna." Kerutan-kerutan halus bermunculan di dahinya yang penuh jerawat. Sebelum ini aku akan mengira itu sebuah kebingungan, namun sekarang aku yakin itu adalah seknario untuk melindungi kebohongannya semata. "Maksudnya?" "Ya acting kamu." Aku meluruskan tatapan ke langit-langit ruangan. Pusing masih sedikit terasa di kepala, mengingatkan aku akan rasa sakit yang lebih parah sebelum ini. Rasa sakit yang menjadi sebab aku dilarikan ke rumah sakit. Tadinya aku penasaran apakah dia yang membawa aku kemari, namun apa gunanya itu? Hanya sebuah bagian dari skenarionya untuk tujuan pribadi, bukan kekhwatiran tulus. Memikirkannya saja berhasil menyulut panas di dadaku, memaksa bibir melontarkan lava-lava untuk membunuhnya. "Kamu bertindak seolah sangat peduli, padahal hanya untuk memanipulasi. Aku memang jahat karena mempermainkan hati kamu. Tapi apakah tindakan kamu itu tidak terlalu keterlaluan?" Terdengar suara kursi bergeser. Tanpa menoleh, aku yakin ia kini telah duduk di sampingku. Aura gelapnya menguar jelas bersama aroma maskulin. Siapa lagi kalau bukan dia kan? "Aku tidak pandai mengambil kesimpulan. Sering kali malah tersandung oleh pikiran sendiri. Aku takut itu berbeda dengan apa yang kamu maksud." Kehangatan menyentuh tanganku. Memaksa aku untuk segera menariknya kembali. Itu karena segala keburukannya yang baru aku terima. Jika tidak maka pasti aku akan tetap egois menerima, meski tahu itu adalah kesalahan. "Jelaskan dengan benar." Dia menahan tanganku untuk pergi. "Aku akan mendengarkan." Aku benci suaranya yang tetap mengalun lembut. Seolah dia sungguh menganggap mengerti bahwa aku dapat hancur hanya dengan suara kerasnya. Maksudku, dia bertindak seakan tahu benar cara memperlakukan aku. Manis. Hanya seandainya jika aku tidak mendengarkan perkataannya tadi pagi. "Kenapa harus aku?" Kumiringkan kepala ke padanya. "Harusnya kamu yang menjelaskan. Apa maksud dari semua permainan kamu ini? Apakah begitu menyenangkan membuat seseorang sujud di kakimu?" Bibirku tertarik kecil. Baru sadar juga bahwa di sini bukan hanya dia yang jahat, tapi juga aku. "Tidak salah juga. Aku terlalu jahat. Memaksa kamu menetap, tapi enggan memeluk kamu penuh. Malah mendorong kamu pada yang lain dan di saat yang sama tetap memasang rantai pada leher kamu sebagai kendali." Dia mengulurkan tangan ke pipiku. Rasa hangat yang menjalari menjadi dingin saat sampai ke dasar hati. Dia bukan seperti tindakannya. Aku tidak boleh salah paham lagi. "Aku tidak pernah berniat membalas dendam akan apa yang kamu lakukan. Tapi aku jujur, ada hari dimana aku merasa kesal akan cara kamu memperlakukan aku. Kamu bertindak seolah aku adalah anjing. Di beberapa waktu membuat kamu ingin memeluknya, di lain waktu pula membuat kamu risih. Mendorongnya pergi dan ya, tetap mengalungkan rantai." Wajahnya mendekat. Mendorong hidungnya dan milikku saling bersinggungan. Mata kami saling terperangkap. "Pada akhirnya aku kalah oleh perasaanku. Aku mulai tidak peduli bahkan jika kamu menganggap aku hanya anjing mainan. Itu membuat harga diriku serasa dipijak. Aku marah, terkadang jadi memaksa dir untuk menaklukkan kamu hingga sujud di kakiku. Karena dengan begitu aku dapat memiliki kamu sepenuhnya." Wajahnya kian mendekat. Kepalaku dapat menangkap maksud apa yang akan terjadi berikutnya, tapi sedikitpun organ-organku enggan bergerak. Bibir yang empuk dan lembut kemudian terasa menekan bibirku dalam. Awalnya hanya menempel rapat. Tapi kemudian bergerak menghisap bibir atasku, lalu beralih pada bibir bawahku. Punggungku menegang. Sepenuhnya menyadari apa yang terjadi harus segera dihentikan, tapi itu tidak terjadi. Aku pasrah atas bibirnya yang terus menekan, menyesap dan membelai. Kepalanya jatuh ke perutku yang terbalut selimut. Detak jantungnya terdengar cepat, sama seperti deru nafasnya. "Maaf." Di sela-sela sesak dan pasrah. Jadi membuat hatiku terasa aneh ketika mendengarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN