"Entah sudah berapa kali dia menarik aku untuk tetap berada di sisinya, lalu di menit berikutnya dia akan memaksa aku terbang kepada perempuan lain. Kamu adalah salah satunya yang dia paksa hatiku terima. Memang ada gelombang di antara aku dan kamu, tapi itu hanya teman. Sekalipun lebih, kamu dan aku juga saling tahu bahwa kita telah memutuskan untuk tidak pernah menganggapnya serius. Tapi dia terus memaksa perasaaaku seolah aku adalah budaknya. Aku kira bahkan b***k juga memiliki perasaan."
Aku memejamkan mata erat-erat. Membiarkan suara Sam dari speaker ponsel berlanjut.
"Mungkin aku di matanya bukanlah manusia. Melainkan benda mati yang dikendalikan dan tidak memiliki perasaan."
"Terdengar jahat, tapi hanya jika dia berada di kakiku saja aku dapat memilikinya penuh. Maksudku, dia tidak akan memiliki pilihan lain selain menerima tanganku. Del, aku hanya ingin diterima olehnya. Aku sadar bahwa tidak ada yang pantas dari rupa maupun tingkahku untuk dia terima. Tapi aku sangat menginginkannya. Hanya dia saja. Apa itu begitu salah?"
Kepasrahan dalam suaranya ikut membuat aku terenyuh. Aku telah salah sangka. Mengira Sam ingin menjadikan aku b***k sungguhan, padahal akulah yang pertama kali memperlakukannya sebagai b***k. Kini saat hukum newton 3 terjadi aku malah merasa tidak terima. Padahal ini adalah balasan yang setimpal.
Kenapa aku sejahat ini?
Aku telah mengetahui bahwa hidup Sam menyedihkan sejak lama. Di saat-saat tertentu aku akan bertingkah seolah mengerti dan ingin membuatnya baik-baik saja. Namun itu tidak pernah terimplementasi. Karena pada akhirnya aku tetap hanya memperalatnya saja. Alih-alih meringankan luka, aku justru menambahnya lagi dan lagi.
"Seria, kamu sepertinya harus segera memotong tali. Sam semakin tersiksa, aku jadi tidak dapat menahan diri untuk membantu."
"Aku juga, Nay," kataku setengah berteriak. "Aku juga! Aku ingin segera memotong tali. Tapi aku masih tidak bersedia hancur. Itu sangat menakutkan untuk terjadi."
"Jadi kamu akan menjadikan Sam tumbal selamanya?"
Aku membuka mata. "Tidak, aku tidak akan menjadikan dia tumbal selamanya. Aku akan segera mencari cara dalam waktu sebulan ini."
Tok Tok Tok
Mungkin Bibi Feli, jadi aku langsung berseru. "Masuk."
Aku menanti-nanti pintu dibuka, melupakan Nayala di sebrang sana yang masih mendengarkan.
"Kenapa malah bermain ponsel?"
Mata papa tertuju langsung pada ponselku yang menyala. Aku tercengir lebar, kemudian mengatakan pada Nayala untuk memutuskan panggilan. Dia setuju dan panggilan kami pun berakhir.
"Ayo makan."
Kusandarkan tubuh pada punggung ranjang di saat papa menarik kursi.
"Sam bilang kemarin kalian hujan-hujanan. Kenapa kamu jadi begitu pelupa akan kesehatan kamu?"
"Aku tidak lupa, Pa. Tapi keadaannya darurat."
Guratan kesal hadir di wajah papa. Masih sama saat dia memberikan aku semangkuk bubur ayam hangat.
"Papa yang membuat ini?"
"Mama," koreksinya sembari mengendurkan guratan kesal yang ada. Kini itu menjadi penuh khawatir. Aku pun tak dapat mengelak perasaan bersalah. Harusnya aku tidak sakit. Jadi papa tidak perlu khawatir. Namun apa yang sebelumnya terjadi tidak dapat dihindari. Aku terpaksa berlapang d**a dengan genangan rasa bersalah.
"Saat papa berusia tujuh tahun papa sudah tidak lagi mengenal dunia anak-anak, Seria."
Kutegakkan tubuhku, lalu menoleh pada papa. Keterkejutan yang pertama kali terasa, tak lama di susul oleh kebingungan. Aku tidak memancing sedikitpun, namun papa bercerita. Apa ini memang keinginan papa atau bisa jadi hasil campur tangan Sam?
"Tujuh jam di sekolah. Latihan taekwondo di sore hari. Kemudian belajar manajemen bisnis dan mengerjakan tugas di malam hari. Subuh papa harus bangun lebih awal untuk membaca materi dan berolahraga. Di hari sabtu dari siang hingga sore papa akan berada di kantor. Bisa atau tidak, papa tetap dipaksa duduk untuk mengambil pelajaran dari apa yang kakek kamu kerjakan."
Tatapan papa turun pada ranjang. Meredup seolah dia melihat ranjang itu sebagai objek yang menyedihkan. "Hari minggu yang parah. Pagi-pagi sekali papa sudah pergi belajar tata krama, siang hari belajar komputer dan sore waktunya mengikuti kakek kamu bertemu rekan-rekan kerjanya. Itu yang menyesakkan, papa dipaksa memahami pembicaraan mereka yang sulit dicerna. Malam harinya adalah bimbingan langsung dari kakek kamu. Tidak ada kata berhenti sebelum papa dapat menjelaskan dengan detail apa yang dia ajarkan."
Hatiku terasa diremat kasar. Sesuai dugaan Sam. Papa memang berasal dari masa lalu yang pedih. Jadi apa yang kini dia lakukan padaku adalah dorongan hatinya yang tidak mau menyedihkan seorang diri. Aku tidak mampu mengatakan papa sepenuhnya jahat, sebab aku dapat merasakan posisinya.
Merasa satu-satunya yang paling menyedihkan. Secuil kebahagiaan tidak pernah ada, sedangkan di sekelilingnya orang-orang bercanda tawa seenaknya. Bagaimana hati tidak merasa nyeri karena paling sendirian tanpa kebahagian begitu?
Sekeliling pula terus-menurus menyadarkan diri bahwa kita adalah satu-satunya yang tidak pantas bahagia. Ketidakadilan yang menyesakkan. Kemudian tanpa sengaja membuat kita mentransfer yang sama pada orang sekitar agar rasa sesak tersebut sedikit berkurang. Lambat laun tanpa sadar menjadikan sifat egois yang mendarah daging.
Bukan akhirnya yang aku lihat dari papa, tapi awalnya. Itu yang membuat aku terdiam, tidak tega untuk membantah keegoisannya.
"Papa tidak memiliki waktu untuk bernafas bebas. Kata main pula secara otomatis terhapus. Sepanjang hari waktu papa adalah untuk belajar dan belajar. Itu tidak masalah jika tidak ada tuntutan. Masalahnya setiap minggu papa harus selalu memperlihatkan progres. Jika tidak ada progres, mau tidak mau papa harus mendapatkan kekerasan fisik. Papa berjuang untuk hidup sejak saat itu, Seria. Tapi.."
Papa mengangkat dagu, membuat aku melihat jelas adanya genangan kesedihan di dalam matanya.
"Ketika kakek kamu meninggal papa mengerti. Dia ingin papa mendapatkan hak yang seharusnya. Usia papa masih delapan belas tahun. Paman-paman kamu berebut untuk mendapatkan kekuasaan, tapi tidak bisa karena papa naik dengan percaya diri untuk mengambil alih sesuai pesan kakek kamu. Di situlah papa mengerti bahwa apa yang kakek kamu lakukan selama ini adalah untuk kebaikan papa. Sangat menyesal rasanya karena bahkan saat kakek kamu mengembuskan nafas papa malah merasa senang."
"Jadi papa melakukan yang sama agar aku hidup di tempat terbaik di masa depan?"
Papa mengangguk di detik pertama kalimat tanyaku terputus. "Iya, papa juga ingin menjamin kamu di tempat terbaik saat masa depan datang."
"Papa menginginkan aku seperti papa kecil yang tidak mengenal bahagia?"
Bibir papa akan terbuka, namun tertutup rapat kembali. Matanya lalu bergerak ke arah lain. Mengindari aku yang menuntut perasaan kasih darinya.
"Papa sudah melalaui masa-masa itu. Harusnya papa mengerti seberapa sakitnya aku saat ini. Tidak mendapatkan kebebasan dan hidup dalam ketakutan."
Mataku memanas. Meskipun tadi telah berusaha memahami keegoisan papa, nyatanya aku tetap tidak dapat menahan sakit karena menjadi sasaran pelampiasan kesedihan. Harusnya dia merubah keadaan. Memastikan hanya dia yang cukup dengan rasa sakit itu. Tidak dengan putri-putrinya. Jika begini aku tidak dapat lagi bertahan dengan opini bahwa apa yang papa lakukan adalah tindakan baik, melainkan sungguh keegoisan. Dia hanya mencintai dirinya sendiri.
"Egois," kataku dengan isak tertahan. "Papa egois!"
Kuangkat kedua telapak tangan untuk menutupi tangis yang meluruh. Tidak ada gunanya papa melihat hal tersebut. Bukannya iba, yang ada dia malah berpikir aku membantah.
"Semua orang egois, Seria." Suara kursi dimundurkan berderit kecil. Kini papa menjadi seperti pecundang. Lari setelah mengetahui bahwa dia membuat luka di hati orang lain. Kenapa? Karena dia pengecut. Enggan hatinya bergetar untuk kebaikan atau sekedar kasihan.
"Habiskan makananmu selagai hangat. Setelah itu minum obatnya. Dokter Rick mungkin akan datang sebentar lagi untuk memeriksa. Papa akan menemuinya lebih dahulu."
Tangisku meluruh kian deras. Pedihnya bukan main. Apalagi saat memikirkan bahwa aku dan Ian akan kalah dengan keegoisan papa. Tidak lupa Sam yang akan terkena imbas sakitnya.
Pintu yang baru ditutup terdengar ditarik kembali. Aku tidak mau melihat, hanya bisa menebak bahwa itu mungkin Bibi Felina atau justru mama.
"Kenapa kamu menangis?"
Kasur di sisi kiri terasa menurun. Aroma maskulin yang keras menusuk hidung, meyakinkan aku bahwa itu adalah Sam. Tidak mungkin yang lain.
"Seria?"
Kedua telapak tanganku ditarik paksa. Namun derai air mata menganggu untuk melihat sosoknya.
"Sam—" Suaraku serak. Air mataku terus mengalir, menjadi-jadi untuk menunjukkan seberapa sakit yang aku rasakan kepadanya.
Dia mendorong wajahnya mendekat, kemudian mengusap air mata yang membanjiri pipiku dengan sangat lembut.
"Apa yang membuatmu menangis? Katakan, aku akan mendengarkannya."
"Papa.." Kedua tanganku terkepal erat-erat. "Papa egois, Sam. Dia benar-benar ingin membuat aku tidak bahagia agar dapat menjadi temannya. Dia tidak mau sendirian dengan luka di masa lalu tersebut. Dia ingin aku juga merasakannya."
Kepalaku jatuh tak berdaya. Ditangkap cepat oleh kedua tangan besar Sam. Dia kemudian menarik aku masuk ke dalam dekapan hangatnya.
Tangisku tidak terkendali. Ini saatnya aku menumpahkan segalnya pada Sam agar tidak terbebani sendiri.
"Kenapa hidupku seperti ini, Sam?"
Kupukul pelan dadanya sebagai pelampiasan. "Kenapa? Aku juga mau seperti remaja lainnya yang hidup dalam kebebasan."
Puncak kepalaku terasa ditekan pelan oleh bibirnya. Berulangkali dan diiringi dengan kedua tangannya yang kian erat merengkuh.
"Kamu tidak memerlukan keputusan siapapun untuk terbang tinggi, Seria. Detik ini pun jika kamu siap terjatuh, kamu akan dapat terbang hingga ke bulan."
Sam benar. Aku dapat membuat kebebasan sendiri. Mengambil resiko semaunya dan segera hidup dalam lingkaran yang aku inginkan. Namun ketakutan menggerogoti keinginan tersebut, semakin lama semakin membuat aku tidak sanggup berdiri.
"Tapi aku.."
"Ketakutan hal manusiawi, Seria. Kamu tidak perlu berusaha keras melawannya. Karena sebenarnya, pada waktu yang tepat apa yang seharusnya berubah akan berubah."
Aku menyukai Sam. Dia memahamiku. Terus menempatkan aku dalam kebenaran. Perasaan ini sangat mewah. Bukan seperti tunangannya ataupun teman saja, namun seperti ratu.
Dia meletakkan aku di tahta tertinggi di mana akan selalu dia yang salah dan terluka sebelum aku. Tidak heran Adelin menyukainya. Barangkali dia juga menempatkan Adelin di tahta yang sama. Jika begitu, perempuan mana yang tidak akan terpesona?
Tangisanku akhirnya selesai puluhan menit sesudahnya. Bubur ayam yang dibawa papa telah mendingin. Dokter Rick juga tidak kunjung datang, jadi aku kira papa pasti mengerti bahwa saat ini aku tengah membutuhkan waktu untuk menangis.
Sam seperti biasa. Menunjukkan kebaikan hatinya. Dia turun ke bawah untuk memasakkan bubur baru dan segelas s**u hangat.
Porsi yang dia bawa bukan main banyaknya. Aku berkata hanya akan memakan sebagian saja, namun aku kalah oleh suapan Sam yang terus menerus. Belum lagi perutku seolah selalu siap untuk lebih banyak bubur lezat buatannya. Parah, masakan Sam adalah musuh nyata dietku.
"Sini."
Sam menepuk bantal. Aku yang telah terdiam beberapa menit setelah makan pun menurut.
"Mau menonton televisi?" tanyanya dengan tangan bergerak menaikkan selimut sebatas dadaku. "Atau mau dibacakan cerita? Aku tidak tahu cukup banyak, namun aku mampu."
"Aku bukan anak kecil, Sam!"
Ditariknya hidungku pelan. Aish, sakit tahu.
"Baiklah. Anak besar mau apa? Dinyanyikan lagu tidur?"
"Memangnya kamu pandai menyanyi?"
"Tidak."
Tahu begitu kenapa bertanya. Dasar Sammy!
"Tapi akan aku coba."
Sam menopang dagunya, menjalin kembali tatapannya kepadaku lebih erat lagi.
"I found a love for me."
Suara beratnya mengalun rendah. Itu jadi membuatnya terdengar seperti Ed Sheeran versi sexy.
Lalu entah lirik lagunya yang terlalu dalam atau suaranya, aku pun tenggelam dalam manik coklatnya.
Tidak ada alunan, namun suara Sam terasa sudah cukup. Berlebihan malah karena aku jadi merasakan setiap kalimat dari lantunannya menyentuh hati. Pasti lebih pas jika Ian yang menyanyikan ini. Maksudku dia adalah kekasihku. Akan menjadi sanjungan besar jika dia yang memuji aku sempurna lewat lagu tersebut.
"You look perfect tonight."
Sam merendahkan bibirnya ke dahiku. Spontan membuat mataku menutup rapat, menikmati kelembutan bibirnya yang menekan dahiku penuh syahdu.
"Kamu sempurna," bisiknya.
"Kenapa?" tanyaku ingin tahu.
Wajahku? Itu sudah jelas, namun aku penasaran apa itu juga alasan Sam.
"Karena kamu memiliki jiwa dan ragaku. Keduanya bahkan tidak mau mencintai aku, melainkan kamu seorang. Keduanya siap terluka dan menjadi apa saja demi kamu. Aku jadi iri. Dua-duanya milikku, namun malah memihak pada kamu. See! Itu bahkan menunjukkan bahwa aku memang tidak memiliki cinta sama sekali."
Tangan Sam menjepit pelan hidungku. "Jadi berhentilah mengeluh. Kamu sempurna di sini. Hanya akulah yang cacat, tanpa cinta dan anugrah lebih."
"Sam, aku mau bersama Ian."
Maaf, Sam. Aku memang sangat jahat. Juga egois seperti papa. Jelas-jelas aku melihat isi matamu yang penuh cinta dan ketulusan, namun aku berpura-pura buta demi kebahagiaan sendiri. Sepenuhnya melupakan bahwa kamu perlu mendapat secuil dari pengorbanan yang telah kamu kerjakan.
Anehnya dia malah menarik senyum kecil alih-alih meredup sedih. Sikunya mendarat lagi pada kasur, menopang dagu kemudian di atasnya. "Aku tidak dapat mengiyakan sepenuhnya. Namun aku akan berusaha untuk kebahagiaan kamu."
Jemari-jemari dari tangan kirinya menelusuri lembut sepanjang suraiku. "Aku akan menjadi anjing yang baik. Aku tidak akan pergi pada tuan yang lain sekalipun kamu memiliki anjing lain."
Aku merengut. "Ian bukan anjing, Sam!"
"Anggap saja begitu agar aku tidak terluka karena menjadi satu-satunya anjing di sini."
Tetap saja aku tidak dapat mengiyakan. Lagipula Sam bukan anjing. Aku hanya memanfaatkannya sementara. Tapi dia sungguh sepenuhnya bukan anjing. Dia manusia, manusia dengan jenis kelamin pria dan sangat baik.
Seperti malaikat, namun dalam sampul iblis. Mengesankan bukan? Dia berbeda dari jutaan orang yang pernah aku terima.
"Tidurlah. Biarkan kepala dan hatimu beristirahat."
Sam menurunkan suhu AC dan mematikan lampu. Dia bahkan juga memeriksa pintu balkon dan setiap jendela. Usai keduanya ia mengusak rambutku.
"Tidur yang nyenyak. Semua masalah kamu titipkan padaku saja. Kamu cukup beristirahat."
Aku menarik selimut sampai d**a, lalu memiringkan tubuh ke kanan. Menonton Sam yang kini berjalan pergi. Pintu perlahan-lahan ditutup.
"Terimakasih, Sam."
***
"Aku dengar semalam kau menangis karena papa."
Kuangkat kepala dari mangkuk cream soupku. Aera mendudukkan diri di sisi ranjang. Dia rapi dengan dress warna merah. Kelihatannya siap untuk pergi berpesta. Tentu saja.
Nanti malam adalah malam minggu. Malam kebebasan bagi semua remaja. Sayangnya aku baru bisa merayakan esoknya saat Ian keluar dari Andromeda. Mengingat hal itu tiba-tiba aku rasanya ingin sembuh.
Bertemu Ian adalah hal yang lumayan sulit, jadi ketika ada kesempatan harus segera dimanfaatkan.
"Jadi bagaimana?" Dia menyunggingkan alisnya. "Dia masih sebaik yang kamu kira?"
Bibirku terlalu malu untuk membalas. Selama ini aku terus saja berkoar-koar bahwa papa tidak seburuk yang Aera kira, tapi pada kenyataannya itu adalah fakta. Dan inilah yang menyakitkan. Apa yang kita bela ternyata salah seratus persen. Bukan hanya air muka yang tercoreng, tapi juga perasaanku.
"He's our dad. Tidak aneh jika sisi kecil dari hati kita akan tetap membela seberapapun dia salah. Namun kamu terlalu membesar-besarkannya sejak lama. Kini kamu baru sadar bahwa kamu yang dilukai."
Kepalaku tertunduk. Malu benar melihat kesenangan di wajah Aera. Itu mengingatkan bahwa aku begitu bodoh selama ini. Membesar-besarkan kebaikan papa yang tidak seberapa. Lalu akhirnya aku terlelap dalam luka dengan fakta nyata.
"Ambil jalanmu sendiri. Kita tidak perlu selamanya di jalan yang sama dengannya. Aku mengerti, dia adalah orangtua kita. Namun terlepas dari itu yang menjadi fakta adalah kita memiliki lingkaran masing-masing. Apa yang papa lakukan meskipun menyangkut kamu tetap saja dalam perspektif lingkarannya. Kini giliran kamu hidup dalam lingkaran kamu sendiri. Katakan saja egois, tapi itu adalah hal yang harus kita lakukan untuk hidup sepenuhnya."
Ranjang yang Aera duduki terasa bergerak. Aku kira dia akan beranjak, ternyata malah mendekat kepadaku. Aroma parfumnya yang feminim nan mewah segera menusuk hidung. Sedikit menciptakan perasaan aneh mengingat bahwa kami terakhir kali seperti ini di lima tahun yang lalu. Ya, hubungan kami memang begitu buruk.
"Kamu kira aku tidak menyayangi papa? Tidak, Seria. Aku sangat menyayangi papa. Meskipun grandpa mengambil perannya. Namun bagiku papa tetap adalah papa. Hanya dia dan tidak dapat berubah."
Segera aku meluruskan pandangan pada Aera. Mencari-cari apakah ada kebohongan di dalam sana. Sialnya aku malah menemukan hal yang tidak pernah aku temui sebelum ini dari dirinya, yakini sebuah lembah kejujuran yang hangat.
"Kamu pasti heran kenapa akhirnya aku tetap memilih mengambil lingkaran sendiri, bukan? Padahal aku jelas tahu itu adalah sebuah tali yang melepas hubunganku dan papa."
Untuk pertama kalinya aku melihat Aera seperti seorang kakak. Dia menepuk lembut bahuku dan tersenyum tipis.
"Cepat atau lambat pada akhirnya aku maupaun kamu akan terlepas dari lingkaran orangtua kita. Bagi beberapa orang itu seperti pemberontakan. Karena mereka tidak memahami bahwa lingkaran-lingkaran tiap manusia hanya bisa beririsan, tidak dapat bersatu padu."
"Papa malah mengira lingkaran semestinya bersatu, dia bahkan tidak dapat berpikir bahwa jika itu terjadi akan adanya d******i. Ya seperti kamu, lingkaran kamu dan papa bersatu. Didominasi oleh papa, sementara kamu menjadi terpijak. Apa kini kamu masih dapat menahan diri? Lingkaran kamu direbut olehnya."
Aera menarik tangannya pergi, tapi itu tidak dapat memutus jalinan mataku pada wajahnya.
"Kamu tidak perlu takut apalagi seolah merasa bersalah untuk mengambil lingkaran kamu sendiri. Itu adalah hak mutlak kita sebagai manusia. Juga sebuah kunci utama jika kamu ingin bahagia. Awalnya memang terasa pedih, tapi bukankah malah semakin pedih jika kamu terus mengusahakan kebahagiaan untuk lingkaran orang lain? Kamu akan semakin kehilangan lingkaran kamu sendiri. Lalu pada akhirnya menjadi mati. Sedikit egois itu diperlukan. Dan tidak perlu munafik, hati kecil kamu sebenarnya juga ingin egois."
Dia beranjak. Melirik sedikit pada nakasku dimana beberapa toples kue kering berada. Sam membawanya tadi pagi dengan alasan bahwa aku butuh mengisi ulang nutrisi yang hilang karena sakit.
"Sam memang buruk rupa, tapi sejujurnya dia tipe pria yang sempurna. Kamu bukan hanya prioritas baginya, namun hal berharga yang membuat dia rela bertindak hati-hati sekalipun menekan emosi terbesarnya."
"Hah, kenapa kamu selalu mendapatkan yang terbaik?" Aera menghembuskan nafasnya kasar. "Sialan, aku jadi semakin iri."
Dia beranjak dan berbalik penuh. "Belle dan beast ternyata bukan fiksi. Kenapa aku baru tahu ya?"