Lima Puluh Dua

2364 Kata
Hari minggu akhirnya datang. Meskipun tubuhku belum sepenuhnya sehat, namun aku memaksakan diri untuk tetap menemui Ian. Of course, Sam sebelumnya mengomel panjang lebar. Bahkan dia sampai mengancam akan membunuh Ian jika aku pulang dengan panas yang kian bertambah. Aku sendiri tidak mau memikirkannya lebih jauh. Toh seandainya aku demam kembali aku hanya perlu meminta maaf. Itu bahkan mungkin tidak diperlukan karena dia akan lebih dulu ditelan kekhawatiran. Lalu secara otomatis dia akan melupakan kesalahanku dan sepenuhnya fokus untuk merawat. Ah manisnya. Dari kejauhan aku sudah melihat mobil Ian mendekat. Berbeda dari sebelumnya, kali ini kami menggunakan sore hari sebagai latar. Kemudian akan menggunakan waktu hingga sebelum pukul sembilan malam. Mobilnya berhenti di depanku. Ia membuka pintu dan keluar dengan seulas senyum. "Ian." Tetap saja pada akhirnya aku yang paling tidak tahan untuk menyapa. Senyum di bibirnya kian dalam. Menambah kesan manis di wajah tampannya hingga berkali lipat. "Ayo." Dia memutari mobil dan menarik pintu. Dengan senang hati aku menerima perlakuannya. "Terimakasih." Ian menyusul kemudian di kursi kemudi. "Kamu tampaknya bahagia sekali." "Tentu, aku bisa melihat kamu lagi." "Kamu seolah berkata aku menghilang dari peredaran dalam waktu yang lama. Padahal kita masih terhubung melalui telepon dan pesan." Aku pun tercengir lebar. Hadiahnya adalah cubitan di pipi dari Ian. "Kamu bilang semalam kamu demam," ujar Ian sembari memijak pedal gas. Mobil dalam sekejap bergerak di keramaian jalan. Kudorong wajahku ke arahnya. Seakan mengerti, dia segera menempelkan tangan kirinya pada dahiku. "Yang benar saja? Kamu masih panas, Seria." Suaranya meninggi beberap oktaf. Gusar lalu menyusul tampil di wajahnya. "Kalau begini lebih baik kamu di rumah saja." "Tidak. Aku tidak mau kehilangan kesempatan bersama kamu. Minggu depan kamu tidak akan keluar, di minggu selanjutnya baru ada kesempatan lagi. Itu sangat lama. Aku tidak dapat tahan, Ian." "Tapi harusnya kamu mementingkan kesehatan kamu, Seria. Itu adalah kunci hidup kamu. Ayolah, jangan terlalu mengadaikan hal berarti begitu untuk aku. Kamu jadi membuat aku seolah pria yang tidak berguna." "Kenapa tidak? Aku kan mencintai kamu." "Cintanya memang tidak masalah, namun sikap kamu yang membuatnya menjadi masalah. Sebenarnya aku cukup senang mendapati posisi terbaik di hatimu seperti itu. Tapi aku juga tidak mau kamu jadi terluka karena aku." "Aku tidak terluka," kilahku. "Aku juga cukup mengerti batasan." Ian tidak melanjutkan kalimat. Dia sepenuhnya menjadi fokus pada keramaian jalan. Rahangnya lebih ketat dari biasanya, menjadi pertimbangan bagiku bahwa dia tengah dikuasai amarah. "Kamu mungkin tidak terlalu mengerti, Seria. Kamu adalah perempuan pertama yang berharga melampaui arti romantis di hatiku. Ketika aku masih anak-anak, ibuku adalah pemilik posisi tersebut. Namun kini kamu adalah pemiliknya. Mungkin seperti dunia, kamu tidak hanya membuat aku memiliki alasan untuk hidup, tapi juga menyediakan ragam kebahagiaan dan kenyamanan." "Sebenarnya kamu pasti tidak asing akan fakta bahwa anak-anak dari para elite seperti kita lebih haus akan kebahagiaan. Tentu aku juga begitu. Kemudian menjadi sangat puas karena kamu dapat membuat kehausanku tersebut sirna. Di saat yang sama perasaan takut tidak dapat dihindari kemunculannya, menggerogoti dadaku setiap hari karena arti kamu melebihi yang seharusnya. Jika kamu hilang maka aku akan kehilangan segalanya. Jadi aku mohon agar kamu membantu aku untuk menjaga diri kamu sebaik-baiknya. Ini demi kita, kamu dan aku." Tangan kirinya terulur ke depan wajahku. "Mari kita saling menjaga agar tidak kehilangan." Senang hati aku menyambutnya. "Aku berjanji. Lain kali tidak akan bertindak seperti ini lagi." "Itu yang aku mau." Ian mengusak-usak puncak kepalaku. Kehangatan di wajahnya pula kembali seperti semula. Ian juga tidak kalah menyayangi aku seperti Sam. Harusnya tidak ada lagi alasan bagi ketakutan di dalam d**a untuk bertahta. Kalaupun aku terjatuh, Ian siap menangkapku. Tapi kenapa aku masih ragu? Belenggu pula semakin hari akan semakin kuat. Sebelum aku benar-benar tidak dapat bergerak, aku harus melepaskan diri. "Ian, bagaimana caranya menjadi berani?" "Berani?" Ia tampak meneliti serius wajahku untuk beberapa saat. "Paling utama tentu saja kamu harus siap dengan segala resikonya," lanjutnya kemudian menatap lagi pada jalanan yang mulai semakin padat. Maklum saja, ini telah waktunya para pekerja pulang. Jawaban yang tidak jauh berbeda dari Sam. Juga mirip sedikit dengan ringkasan kalimat Aera. Intinya sama-sama menekankan bahwa aku harus melepas takut yang ada. Yang lebih akurat lagi aku satu-satunya yang harus mengambil langkah. Jika aku tidak melakukannya atau justru mengharapakan keajaiban, maka kebebasan sungguh mustahil untuk diperoleh. Aih, ini sangat berat sekali. "Memangnya apa yang kamu takutkan?" "Kehilangan kamu." Bukannya membuat dia tersipu, aku justru malah mendapatkan sentilan di dahi. "Aku tidak akan meninggalkan kamu. Jadi jangan berkata seperti itu lagi." Aku juga tidak berminat, Ian. Karena kalimat tersebut hanya terus mengingatkan aku bahwa kamu sungguh bisa menghilang sewaktu-waktu. "Lihat, itu sudah ramai." Ian berseru semangat saat tempat yang kami tuju sudah terlihat di depan mata. Itu hanya jalanan dengan gerobak di sisi kanan maupun kirinya. Yang membuatnya hebat adalah fakta bahwa tidak ada sampah yang berserakan di sekitar gerobak-gerobak mereka. Bukti jelas bahwa tempat tersebut bersih dan layak untuk menjadi pilihan mengisi perut. "Ayo." Ian melepas seatbeltnya. Segera aku melakukan yang sama. Begitu keluar, dia sudah menjulang tinggi dan mengulurkan tangan. "Mau coba yang mana dulu?" Mataku memendar. Saat aku kembali pada wajahnya, ternyata dia tengah melihatku. Aish, Ian. Membuat hatiku jadi berdebar-debar saja. "Mau apa?" "Bagaimana dengan crepes?" "Boleh." Kami memesan dua crepes. Menikmatinya kemudian di salah satu bangku taman bersama smoothies taro. "Suka?" Aku mengangguk. Crepesnya begitu renyah dan manis. Semakin lezat pula karena ditambahkan dengan taburan keju. "Mau coba punyaku?" Hoho dia sudah pandai menggoda ya. Jelas-jelas crepes kami berdua memiliki rasa yang sama. Tidak ada gunanya mencoba, namun boleh juga. Siapa tahu crepes miliknya berubah rasa karena sentuhan bibirnya. "Aaa." Dia menyodorkan crepesnya. Kuambil satu gigitan kecil. "Eum, rasanya sama saja." Ian terkekeh kecil. Senang sepertinya melihat aku terbodohi begini. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan praktek kamu? Sudah selesai?" Ian terlalu sibuk untuk itu. Aku jadi sangat menanti-nantinya selesai. "Sudah. Lumayan ribet di awal, tapi setelah mengulangi beberapa kali aku akhirnya mengerti." "Kamu yang pintar saja membutuhkan waktu untuk mencerna, apalagi aku. Jadi merasa beruntung tidak masuk ke sana." "Benar kah? Padahal kalau kamu masuk Andromeda kita jadi lebih sering bertemu." "Kalau itu tujuannya aku mau. Tapi tetap saja. Sudah terlambat. Jika aku masuk, kamu sebentar lagi juga akan pindah." "Kalau begitu bagaimana dengan universitas. Kita bisa memulainya dari sana." Tidak ada yang bisa aku lakukan selain merengutkan bibir. "Kenapa? Kamu sudah memiliki universitas impian sendiri?" "T-idak eum maksudku iya. Papaku sudah menetapkan universitas. Meski saat ini aku belum tahu universitas yang mana satu, tapi aku kira lebih baik kamu tidak berharap." "Baiklah, jangan merengut." Ian membelai lembut suraiku. Lumayan menambah ketenangan di hati dari badai yang hampir terjadi. "Jauh atau tidak yang terpenting adalah komitmen kita. Sejauh ini kita sudah melakukannya dengan baik. Aku kira ke depannya kita pasti juga dapat melakukan yang lebih baik." Senyumnya adalah keyakinan yang menguatkan. Mendesak aku ikut percaya bahwa kalimatnya adalah yang paling benar. "Sebentar lagi ujian semester satu. Kamu belajar yang benar ya." "Aku selalu belajar dengan benar meski tidak terlalu sering." "Itu kesalahannya. Kamu harusnya belajar setiap hari meski dengan jam sedikit. Bukannya belajar banyak namun tidak rutin." "Kamu menerapkannya?" Tanpa dijawab sebenarnya aku sudah dapat menebak. Hanya saja ingin mendengar langsung dari bibirnya. "Iya. Sejak kecil aku sudah dipaksa dengan sistem belajar seperti itu. Ketika semakin beranjak remaja aku menemukan bahwa sistem tersebut memang yang terbaik, jadi kini aku menerapkannya dengan senang hati. Tentunya akan berlanjut saat kuliah nanti." "Aku jenis orang yang sulit konsisten. Melakukan seperti yang kamu katakan malah hanya membuat mental aku terjatuh. Sebagai jalan aman aku membiarkan diriku belajar semaunya. Tidak ada jadawal dan hanya sedikit tuntutan." "Itu cara yang bagus. Selain mengutamakan progres, ada juga kenyamanan jiwa dan raga kamu yang harus diperhatikan. Akan tetapi jika terlalu memanjakan diri sendiri kamu akan semakin berpeluang kalah dengan yang lain. Jika kamu tidak menginginkannya, maka kamu harus mulai berusaha." "Merubah kebiasaan tidak mudah. Pada akhirnya aku hanya membuang-buang waktu." "Kamu benar. Namun jika kamu terus begitu hasilnya tidak akan memuaskan, sayang." Cubitan di pipi ikut sampai ke hati. Apalagi panggilan sayang yang dia alunkan terdengar selembut kapas. "Ian ihh." "Kenapa? Aku kira panggilan itu pantas untuk kamu." "Y-a tapi.." "Tapi?" Kupalingkan wajah darinya. Mau bagaimana lagi, cara menatapnya terlihat meledek. Bukan hanya membuat aku tersudut, tapi juga tersipu. Kan bisa parah jika wajahku memerah di depannya. "Hey." Aish malah main cubit-cubit. Pipi tirusku kan jadi teraniaya. "Seria?" Suara lembutnya merendah. Dilanjutkan pula dengan aksi memajukan wajah. Alhasil aroma parfumnya yang manis terhirup jelas oleh hidungku. Sesuatu yang aneh terasa di hati. Seperti letupan-letupan yang mendebarkan, namun juga menyenangkan. "Boleh aku memanggil kamu dengan itu?" Sebenarnya dia tidak perlu bertanya. Panggilan romantis dalam lingkaran pacaran adalah hal yang wajar. Malah beberapa mengatakannya sebagai salah satu indikator kerapatan hubungan. Eum, kalau dipikir-pikir Ian ini tipe pria yang kurang inisiatif ya. "Bukankah Sam lebih bagus? Dia penuh inisiatif dan gentleman?" Suara hatiku yang tak terkendali membuat aku melotot. Apa-apaan ini? Kenapa jadi Sam? Aku pasti sudah gila. "Seria, kamu melamun?" Mata kami bertemu saat aku menolehkan leher. Wajahnya begitu dekat. Hembusan nafasnya pada pipiku terasa hangat dan lembut. "T-tidak." Kumundurkan sedikit wajah. Posisi tadi sangat berbahaya. Sedikit saja aku maju, maka hidung kami akan saling bersentuhan. Jika latarnya tidak di antara keramaian mungkin tidak masalah. Namun kami ini tengah berada di taman. Pasangan bukan hanya kami, lalu juga ada orang tua dan anak di bawah umur. Kurang etis benar jika kami demikian. Terlebih ini Indonesia, negara yang menjunjung tinggi budaya ketimuran. "Jadi, aku boleh memanggilmu sayang?" tanyanya lagi. Aku mengangguk. "Tentu." "Kamu sendiri. Tidak ingin memanggil aku begitu?" "Ingin, hanya saja aku merasa canggung." "Loh kenapa? Apa kamu takut aku akan marah?" "Bukan begitu." "Lantas?" Aku mengedikan bahu dengan sedikit senyum. Tangannya bergerak menjepit hidungku sesaat. "Coba, aku ingin mendengar kamu memanggil aku sayang." Sialan, bibirku tidak mampu menahan senyum. Apaan sih? Padahal cuma diminta memanggil sayang. Meski pertama kali memanggilnya untuk pria, tapi panggilan tersebut bukan sesuatu yang berlebihan. Baik aku salah. Itu sesuatu yang berlebihan sampai-sampai panas menjalari pipiku. Jantung pula tidak mau diam apalagi saat lidahku mulai bergerak-gerak. Gelak tawa Ian yang tiba-tiba menghancurkan segalanya. Loh kenapa? "Seria, wajahmu..." Dia memegang perutnya dan lanjut tergelak. Hey come on, aku jadi merasa tersindir. Perbuatanku mana yang menyebabkan dia begitu? Aku bahkan belum membuka mulut. "Wajahmu memerah seperti kepiting." Akhirnya dengan sisa-sisa tawa dia memberitahu alasannya. Sontak membuat aku pipi kiriku dengan sebelah tangan. Apa iya semerah kepiting? Memang aku merasakan panasnya di kulit, tapi tidak mungkin menjadi merah kentara untuk Ian ketahui kan? "Sudah, jangan ngambek begitu." Ian berdiri, menarik lembut tangan kiriku untuk melakukan hal yang sama. "Tapi tadi itu sangat manis." Senyum yang dia tarik sampai ke matanya. Apa sebahagia itu mentertawakan aku? Sepertinya iya. Terbukti jelas meski kami telah berpindah-pindah dari satu stand makanan ke stand lain senyum Ian masih tetap menyala terang. Padahal kesumpekan dari antrian orang-orang sedikit menyesakkan. Namun itu sama sekali tidak mempengaruhinya. Aku ikut tersenyum akhirnya. Ini yang aku inginkan. Membuat Ian bahagia. Jadi rasa bersalah akan kebohongan-kebohongan yang pernah aku buat sedikit sirna. *** "Sampai bertemu minggu depan." Kudorong pelan pintu, siap menurunkan kaki pada trotoar. "Seria, apa kamu menyembunyikannya sesuatu?" Refleks kakiku tertahan, sedangkan leherku memutar ke arahnya. "Maksudnya?" "Kenapa kamu tidak mengizinkan aku mengantar sampai ke rumahmu? Apa aku.." Sudah aku duga. Rahasia ini tidak dapat berlangsung lama lagi. Harus segera aku atasi sebelum Ian merasa lebih curiga. Kupejamkan mata sejenak seraya mengatur nafas sebelum kembali menatap mata hitamnya. "Ian, papaku bahkan telah menentukan universitas pendidikan aku selanjutnya. Harusnya kamu mengerti dari itu bahwa papaku adalah seorang raja absolut yang tidak dapat dibantah. Dia selalu bercita-cita aku menjadi anak yang sukses. Tentu saja pacaran adalah hal terlarang yang menurutnya hanya membawa pada hal-hal kontraproduktif." "Seria jangan perlakuan aku seperti ini lagi," ucapnya seraya memegang kedua tanganku. "Aku adalah pacarmu. Bagian kecil dari lingkaran kamu. Seharusnya kamu mengatakan tentang itu dengan jujur. Memang sedikit menyebalkan di telinga, tapi lebih menyebalkan lagi bahwa kamu secara tidak langsung tidak mempercayai aku." "Aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja.." Sesuatu yang basah dan lembut menekan bibirku untuk berhenti mengeluarkan kata. Di detik itu juga jantungku rasanya berhenti berdetak. Tubuhku pula menegang sempurna seolah-olah berubah menjadi sebuah patung. Kulit tangan Ian menyapu tengkuku. Membawa lebih dekat pada wajahnya. Secara tidak langsung dia mendesak agar bibirku kian menempel. Yang mana mampu membuka kesempatan baginya untuk menyesap lebih dalam. Aku pun akhirnya hanyut dalam semangat untuk membalas. Kutekan pelan bibirnya. Sangat pelan karena ini ciuman pertama kami. Aku tidak berani bertindak lebih, namun saat dia mulai menyesap lebih agresif secara naluri aku terdorong untuk melakukan yang sama. Menyesap, mencicip, dan menekan. Untuk pertama kalinya kami saling menuntut. Akhirnya aku yang mendorong d**a keras Ian untuk mundur. Kalah karena tuntutannya lebih dominan. "Maaf." Suara rendahnya diantara deru nafas. Terdengar sexy di telinga. Lalu siapa sangka itu kembali memunculkan gelenyar panas di dalam tubuhku yang hampir padam. Beruntung setengah dari kewarasanku terpengaruh oleh kata maaf yang dia keluarkan. "Aku tadi merasa terlalu kesal. Kamu tahu? Meski kita belum lama bersama, tapi nama kamu sudah mutlak di hatiku. Terasa kesal karena tindakan kamu sebelum-sebelumnya seolah menunjukkan aku tidak pantas ditunjukkan ke orangtua kamu. Tapi kini aku mengerti." Jari-jarinya menyisiri rambutku sementara aku berusaha memperbaiki aliran nafas agar stabil. "Aku juga minta maaf. Harusnya aku bercerita lebih awal. Namun aku terlalu takut kamu langsung mengambil jarak. Jadi aku memilih diam." Ian mendorong dahinya padaku. Jarak yang sempit, memberi kebebasan bagiku menikmati ketampanan yang terpahat di setiap inchi wajahnya. "Sudah jangan dibahas lagi. Lain kali kamu hanya perlu jujur kepadaku." Matanya bergedik pada tasku. "Telepon supirmu. Aku akan menunggu di sini sampai kamu dijemput." "Oke." Kuhubungi supir, mengabaikan pesan dari Sam yang menyembul di atas layar notifikasi. Sepintas terlihat pesanannya yang berisi pertanyaan apakah aku sudah pulang atau belum. Lalu ada lagi beberapa di bawahnya, namun aku tidak mau Ian menemukan itu bahkan secara sekilas. Jadi segera aku menghapusnya. Tidak butuh waktu lama bagi supir untuk sampai. Aku membuka pintu lagi. "Terimakasih untuk hari ini." Ian hanya tersenyum, mengawasiku sampai masuk ke dalam mobil. Bahkan saat mobil berjalan dia masih di sana dengan tatapan yang sama. Tring "Terimakasih juga untuk hari ini." Senyumku tidak tertahan, segera menyembul begitu saja. Ternyata cinta semanis ini. Membuat hal-hal kecil begitu berarti. Aih, aku jadi semakin ingin terus bersama Ian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN