Tring
Pandanganku terlepas dari buku, bergeser menuju ponsel yang berkedip-kedip. Sebuah pesan dengan nomor tidak dikenal masuk. Aku kira mungkin pesan penipuan atau salah satu cowok iseng yang ingin berkenalan. Tapi aneh, bukan kalimat sapaan yang pertama muncul. Melainkan sebuah foto.
Itu meloncat cepat ke dalam pikiranku. Menumpahkan sup panas yang menjalar sampai ke hati.
Pena di tanganku kemudian terlepas. Lalu sepenuhnya aku mulai mengetik panjang lebar. Detik berikutnya hal itu menjadi pesan yang siap dikirimkan kepada Ian. Tapi..
Bagaimana jika salah? Aku akan melukainya. Akhirnya kuhapus kembali pesan yang telah diketik rapi. Kusandarkan punggung pada kursi, menatap lekat-lekat foto yang tampil di layar tanpa berkedip.
Dari segi kualitas itu tidak terlihat seperti editan sama sekali. Namun dari segi isinya aku merasa curiga. Di hari pertemuan pertama aku dan Ian,dia sudah terlihat tidak menyukai perempuan tersebut. Aku tidak tahu nama aslinya. Tapi dari profil pengirim pesan dia bernama Rin.
Kembali pada masalah, Ian sudah terlihat tidak menyukai Rin sejak awal. Tatapan matanya pada perempuan tersebut adalah kebencian. Jadi kemustahilan bagi Ian untuk merangkul mesra pinggang Rin dan menghadap pada kamera. Namun Rin juga sedari awal terlihat berlebihan. Alih-alih perasaan cinta, dia malah seperti terobsesi pada Ian. Perasaan tersebut pasti menggebu-gebu. Bahkan aku yakin dia rela berbuat apapun demi memuaskan perasaannya itu.
Di antara keyakian bahwa foto tersebut adalah kesalahpahaman, ada terselip perasaan curiga. Maksudku, aku tidak selalu berada di dekat Ian. Aku tidak tahu bagiamana dia sebenarnya berinteraksi dengan perempuan, baik secara langsung maupun verbal melalui alat komunikasi.
Ketidakpercayaan awal kehancuran suatu hubungan. Jadi aku memaksa diri percaya selama berjam-jam hingga hampir gila.
"Katanya mau belajar."
Kuangkat dagu, alhasil mempertemukan aku langsung dengan dua manik gelap Sam. Dia masih mengenakan jaket kulitnya. Jadi aku kira dia pasti baru datang beberapa menit yang lalu.
Sebelumnya dia mengajak aku menemaninya makan malam di salah satu warung makan. Namun aku menolak dengan alasan belajar. Itu bukan kebohongan. Aku memang harus belajar lebih awal untuk persiapan ujian, juga menuntaskan beberapa PR untuk minggu depan.
"Apa ini?"
Tangannya merebut ponselku sebelum aku sempat mencegah. Padahal aku takut dia melabeli Ian buruk dan mentertawakan nasibku yang ternyata tidak dapat memiliki pria setia. Akan tetapi aku malah membiarkan Sam menguasai ponsel tersebut.
"Perempuan ini kalau aku tidak salah bernama Rin."
"Kamu mengenalnya?"
Sam menggeleng. Menyodorkan kembali ponselku. "Tapi aku beberapa kali menemukannya di sekitar para pemain sepak bola Andromeda, mungkin tepatnya lagi pada selingkuhanmu itu. Dari gerak-geriknya dia tampak agresif. Di sisi lain, selingkuhanmu seolah menganggapnya angin. Meski aku berharap foto tersebut adalah fakta agar tentunya dapat mejelek-jelekkan namnya, tapi aku dapat jujur bahwa foto ini tidak tampak seperti yang seharusnya."
Alisnya merengut-rengut aneh. Barangkali kebingungan mencari nama yang tepat untuk melabeli foto tersebut. "Berlebihan, ya itu yang paling pantas untuk foto tersebut."
Tuk
Kepalan tangannya menumbuk pelan puncak kepalaku. "Jangan dipikirkan lebih jauh. Tanya saja pada selingkuhanmu itu. Manusia paling mudah salah sangka. Hal tersebut adalah bumerang bagi diri kita sendiri. Jadi sebaiknya kamu segera bertanya sebelum bertindak ke arah yang salah."
Sam seratus persen sangat benar. Aku sebaiknya segera bertanya pada Ian. Awalnya dia mungkin akan sedikit terluka, tapi tidak mengapa daripada kami malah salah paham.
"Aku berniat memasak mie. Apa kamu mau?"
Hampir aku mengangguk saat Sam mengangkat tangan ke udara. "Tidak, papamu akan menguliti aku jika ketahuan memberikan makanan tidak sehat."
"Kalau begitu tolong buatkan sandwich isi daging. Ah, dan segelas cola dingin."
"Tidak ada minuman dingin. Suhu tubuh kamu nanti turun lagi. Kemudian naik menjadi demam. Itu akan sangat merepotkan."
"Yah, padahal aku lagi ingin meminum cola."
Sam mengibaskan tangan. Tidak mau mendengar lagi dan segera beranjak.
Kelonggaran tersebut segera aku gunakan untuk mengirim pesan pada Ian. Awalnya hanya centang dua tanpa jawaban. Setelah beberapa detik berjalan, sebuah panggilan telepon masuk.
"Darimana kamu mendapatkannya?"
Ian menyerang begitu aku menjawab panggilan.
Kutarik nafas pelan dan menghembuskannya ke udara sesaat. Kami harus menyelesaikan dengan kepala dan hati yang dingin. Jika tidak, aku takutnya malah peperangan yang terjadi.
"Rin. Aku tidak tahu itu nama aslinya atau samaran saja, tapi begitulah dari profil namanya."
"Apa dia mengatakan hal lain?"
"Tidak."
"Dia perempuan gila." Untuk pertama kalinya aku mendengar suara gusar Ian. Namun itu membuat aku lega. Pasalnya secara tidak langsung dia menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah. "Sejak dia muncul di Andromeda, dia sudah mendekati aku. Awalnya aku sedikit tertarik karena dia cantik dan hangat. Tapi itu sebelum aku tahu bahwa ternyata ada sifat agresif, kasar dan bermuka dua di baliknya."
"Dia yang pertamakali menyatakan perasaan, di waktu yang sama aku langsung menolaknya. Lalu entah bagaimana dia mengenal orangtuaku hingga pertunangan diangkat tiba-tiba. Dalam dunia bisnis, pertunangan dengan tujuan tertentu adalah hal biasa. Jadi aku kira tidak apa-apa jika aku setuju. Aku juga tidak memiliki kekasih dan lagi kata papa ada keuntungan besar dari pertunangan tersebut."
"Devi pula sejak awal membenci Rin. Dia terus memprovokasi dan mendorong aku pada kesadaran bahwa aku tidak nyaman dengan Rin. Lalu kejadian malam itu adalah puncak dimana aku tidak dapat menahan diri lagi. Rin terlalu cemburuan. Itu menjadi memuakkan karena dia langsung menunjukkannya secara brutal."
"Dia sangat menggilai kamu."
"Benar, bahkan sekarang dia masih berkoar-koar sebagai kekasihku pada semua orang. Meski tidak ada yang mempercayainya, tapi dia terus menganggap dirinya sebagai kekasihku. Dia itu seperti orang gila. Otaknya tidak berfungsi sempurna."
"Lalu bagiamana dengan foto itu? Editan atau memang nyata?"
"Nyata, itu diambil saat pertandingan pertama aku ke Cendana."
Sebenarnya ada sedikit hawa panas yang bertahta. Tapi hanya sesaat saja karena kemudian aku menyadari bahwa apa yang terpenting adalah Ian mengatakan kejujuran. Lagipula saat itu terjadi aku memang belum memiliki hak apa-apa atas jiwa maupun raga Ian.
"Blokir saja nomornya. Eh tunggu, kirim padaku. Aku akan meminta temanku untuk menyelidikinya. Dia memiliki kemampuan meretas yang baik. Aku harap itu bisa digunakan untuk menemukan beberapa hal yang penting.
Kusetujui permintaannya. Segera mengirimkan nomor Rin kepada Ian. Usai itu aku memblokir nomor Rin dari ponsel.
"Ini nomor berbeda dengan yang dia gunakan untuk menghubungiku."
"Eh? Maksudmu, ini kemungkinan tidak dilakukan olehnya?"
"Salah, jelas aku percaya dia sebalik ini. Hanya saja aku ingin tahu lebih jelas apa yang dapat dia gunakan dengan nomor samaran tersebut. Maksudku, kenapa dia memasang namanya. Jelas-jelas dia mengerti itu akan membuatnya terekspos."
"Dia sengaja?"
"Aku kira begitu. Dia sepertinya tidak berniat melakukan lebih, hanya ingin mengukuhkan bahwa dia adalah kekasihku atau yang lebih parah langsung ingin kita berpecah belah. Eh, dari mana dia tahu hubungan kita?"
Iya juga. Dia menyerangku dengan foto kemesraan. Jelas benar berniat memukul aku mundur. Itu tidak akan terjadi jika dia tidak mengetahui peranku bagi Ian. Yang mengherankan, bahkan hubungan aku dan Ian tidak pernah sampai ke publik. Jadi dari mana dia tahu?
"Sebentar, aku akan membicarakan ini dengan temanku. Kita lihat siapa yang memberikannya informasi."
Jariku hampir bergerak menekan ikon merah sebagai persiapan.
"Jangan matikan panggilannya. Tetap berbicara, aku ingin mendengar suaramu."
Cih bucin. Meski begitu tetap saja pada akhirnya aku menurut. Bertanya bagaimana dengan harinya dan mengangkat beberapa topik lain. Dia menjawab sebisanya meski bentrok dengan temannya yang terus bertanya.
"Se.."
Kuhunus tajam mata Sam. Mengangkat sedikit ponselku sebagai kode. Dia membulatkan bibir saja, lanjut berjalan mendekat.
Satu cup mie mendarat di samping buku pelajaranku bersama segelas teh hangat. Keduanya bukan perpaduan yang tepat, tapi aku tidak dapat membantah sekarang.
Eh, tadi bukannya dia bilang tidak akan membuatkan aku mie ya?
Ah sudahlah.
"Seria?"
"Ah iya, kenapa?"
Pembicaraan aku dan Ian berlanjut. Sedikit tidak nyama karena Sam di sebelahku terus menerus mengangkat kepala dari cup mienya. Sorot yang dia bawa tidak dapat dimengerti, hanya terlihat seperti kedataran saja, namun itu jelas malah membuat aku terintimidasi. Sialan!
"Kamu apa-apaan sih Sam?" bentakku begitu panggilan usai.
Ia mengangkat wajah dengan tampang tidak bersalah. "Memangnya aku kenapa?"
"Tatapan kamu itu membuat aku risih."
Kutarik cup mie mendekat. Isinya sudah hampir mengembang. Tapi tidak masalah karena belum sepenuhnya. Lagipula toping tambahan yang diberikan Sam tidak dapat ditolak oleh perut. Itu adalah bawang goreng, potongan sosis, bakso, daging ayam dan kerupuk.
"Memangnya aku menatapmu seperti apa?"
"Lupakan."
Eum seperti yang kepalaku duga. Mie ini jadi lebih sedap karena Sam yang memasaknya. Entah apa yang dia tambahkan. Selalu saja berakhir sedap.
"Seria, papamu ada di bawah."
Tanpa aku minta bahuku turun sendirinya. Vibes memang tidak dapat menipu.
"Lalu?" sinisku.
"Mereka tengah membuat pizza dan spaghetti. Mungkin juga beberapa makanan lain. Kamu diundang untuk datang menikmati."
"Aku sedang tidak berminat pada pizza ataupun spaghetti. Lagipula mie porsi besar dari kamu ini sudah cukup."
"Aku rasa juga begitu, tapi sepertinya papamu tidak akan menyerah sampai kamu turun."
Itu benar-benar menjadi kenyataan. Papa mengetuk pintu sebelum mie di dalam cup-ku habis. Mengajak turun untuk menikmati pizza dan spaghetti dengan senyum mengembang. Sungguh usaha berlebihan. Padahal papa bisa sedikit menurunkan ego dan meminta maaf sebagai jalan sederhananya.
"Ayo makan."
Kuangkat garpu dan sendok tanpa minat. Bukan spaghetti di piring yang terlihat tidak lezat, melainkan fakta pembuatnya adalah papa. Jangankan maaf, papa bahkan bersikap seolah tidak pernah memiliki salah. Sungguh menyebalkan.
Bahkan sepanjang makan malam papa terus mengangkat topik kepadaku. Papa sungguh berlaku seolah kami tidak pernah saling berkonflik.
"Kenapa makan kamu begitu sedikit, Seria? Kamu baru sakit loh."
Perkataan mama menarik atensi Sam dan papa pada piringku. Aku baru memakannya beberapa suap. Faktanya spaghetti tersebut sangat lezat apalagi sausnya. Namun aku kehilangan selera karena ini buatan papa.
"Ini."
Papa menggeser piring steaknya. Itu telah dipotong-potong kecil. Sedari awal papa tidak memakannya, jadi aku dapat berkata bahwa kemungkinan besar steak tersebut memang dipersiapkan untukku.
"Aku diet."
Mata papa langsung berkilat. Ya ampun cepat benar menyadari bahwa putrinya ini berbohong.
"Kamu baru sembuh, Seria. Kenapa diet segala?" omel Mama. "Habiskan itu semua."
Aku menurut meski merasa begitu malas. Tapi Sam yang perhatian mengelus lembut punggungku. "Tidak perlu memaksakan diri jika memang tidak mau."
Dia menggeser kursinya. "Biar aku buatkan salad buah saja."
"Kamu lihat itu."
Mataku melurus kepada papa. "Sam adalah pria yang perhatian padamu. Apa itu masih tidak dapat membuat kamu menerimanya penuh?"
"Hujan selalu membawa kebaikan, tapi masih banyak yang tidak menyukai kehadirannya."
Papa melirik penuh permusuhan pada Aera. "Itu karena manusia terlalu tidak tahu diri. Tidak pernah bersyukur akan apa yang diberikan padanya. Selalu ingin lebih seolah masih ada yang terbaik lagi."
"Manusia memang kurang ajar." Aku akui Aera memang cukup berani. Dia membalas perkataan papa tanpa sedikit guratan takut. Malah balas melemparkan permusuhan nyata. "Atau mungkin justru hati manusia yang begitu? Selalu memiliki isi yang berbeda dengan kenyataan. Tapi itu sepertinya bukan kesalahan. Toh Tuhan yang memberikan perasaan tersebut."
Senyum Aera berkembang saat menatap mama. "Perasaan tidak suka juga bukan kesalahan. Benar kan, Ma?"
Mata mama berlarian. Aku dapat merasakan kebingungannya. Membela suami yang dia cintai atau putrinya sendiri. Ah memang pilihan yang sulit.
"Sudah-sudah, jangan berdebat. Ayo makan."
Begitulah akhirnya mama menghentikan ledakan antara papa dan Aera. Tidak sepenuhnya padam, mereka masih saling menatap tajam dalam diam.
"Makanlah."
Sam menggeser piring spaghetti miliku ke samping, menukarnya dengan semangkuk salad buah. Aneka warna dari buah segar menarik mintaku dengan cepat.
"Lain kali jangan menambahkan terlalu banyak yoghurt dan mayonaise. Buah kiwinya juga tidak perlu. Seria tidak menyukainya."
Pemberitahuan papa seperti kritikan. Sam sampai terdiam sesaat untuk mencerna maksud kalimat tersebut. Lalu akhirnya dia mengangguk kecil.
"Saya mengerti."
"Mood papamu buruk sekali," adu Sam ketika kami selesai makan malam. Tidak ke kamar, tapi kami memilih naik ke rooftop.
"Biasanya juga tidak pernah terlalu baik. Kenapa kamu heran?"
"Tapi yang kali ini berbeda."
Sam menjatuhkan dirinya ke sofa yang tersedia. Aku mengikuti di sebelahnya.
"Berbeda bagimana?"
"Kritikannya itu bukan cuma sekedar memberitahu, tapi seolah mengatakan bahwa dia lebih mengenal kamu daripada aku."
"Itu sudah jelas. Aku hidup bersama papa sejak lahir. Tentu dia lebih mengenal aku daripada kamu."
"Aku tahu, tapi kenapa dia mencoba mengatakan itu? Apa dia cemburu?"
"Ngaco kamu."
"Atau.." Suara Sam yang menggantung memang sialan. Ketenanganku jadi langsung terganggu. "Papamu tidak suka kamu bergantung padaku. Tidak mustahil kan? Papamu itu sangat menyayangi kamu. Lama kelamaan pasti dia merasa bahwa kamu hanya pantas bergantung padanya."
"Entahlah."
Aku terlalu malas berpikir lanjut. Papa memang plin plan. Terkadang begini, namun di lain hari akan begitu. Sulit untuk benar-benar mengertinya.
"Bukankah itu jadi masuk akal? Di masa lalu papamu hanya hidup untuk memenuhi tuntutan orangtuanya. Dia kekurangan kasih sayang. Lalu menganggap kamu sebagai salah satu .."
"Sam.."
Tatapanku bahkan ikut memohon. Tidak mau Sam membahas papa lebih jauh. Telingaku tidak ingin mendengarkan apapun dari objek itu.
"Oke."
Sam memutar balik topik akan ujian tengah semester pertama yang sebentar lagi akan diadakan. Ya apapun itu asalkan jangan papa.