"Kenapa?"
Pandanganku yang tersentak pun berpindah menuju Sam. Dia baru saja kembali setelah meminta izin untuk berbincang dengan Adelin. Katanya sih hal penting, tapi aku tidak peduli.
"Ian tidak membalas pesanku sedari pagi. Padahal dia sedang online."
"Mungkin dia sibuk."
"Aku kira begitu. Nah dia langsung offline."
Ini tidak seperti biasa. Meskipun sibuk Ian akan selalu berusaha mengirimkan aku satu atau dua buah pesan untuk bertanya kabar. Apa kali ini kesibukannya melampaui batas? Ataukah dia tengah tidak berminat untuk berkirim pesan padaku?
Aih malah jadi negatif. Jelas-jelas Ian belum mengkonfirmasi. Dasar kepala! Suka benar menyiksa jiwa sendiri.
"Andromeda itu penuh kesibukan. Bahkan ketika jam pelajaran berakhir mereka masih harus melakukan serangkaian kegiatan atas nama sekolah."
Aku kira Sam bukan hanya ingin menghibur. Andromeda memang berbeda. Kesibukan mereka melebihi siswa biasa. Ian sebagai salah satu muridnya tentu juga begitu. Ditambah lagi sifat dasar Ian yang ambisius aku jadi semakin yakin dia benar-benar sibuk di Andromeda.
Sam menekan klakson, membawa pandanganku lurus ke depan. Adelin di sana, berdiri di samping motor ninjanya dan melambai tanda perpisahan.
"Dia pandai mengendarai sepeda motor?"
"Sangat."
Tidak aneh juga sih. Dari wajah saja Adelin telah terlihat berbeda dari perempuan kebanyakan. Sisi feminim yang bertahan padanya hanyalah nektar untuk menarik Sam. Sementara sisi aslinya adalah kasar dan berani. Dia kebalikan dari segala yang melekat pada perempuan. Namun memiliki kemampuan luar biasa dalam memainkan peran.
"Kalau kamu mau belajar aku dengan senang hati menjadi guru privat."
Sepeda motor? Yang benar saja. Memang keren, tapi kan tidak anggun. Sebelum ini aku tidak terlalu berpihak pada keanggunan, namun setelah bersama Ian aku mulai paham. Dia menyukai gayaku yang anggun alih-alih sexy. Dalam sekejap hal tersebut pun mempengaruhi gaya hidpuku. Aku ingin menjadi seperti yang dia inginkan. Berkendara sepeda motor pula adalah kebalikan dari keanggunan dan Ian sepertinya juga tidak menginginkan kemampuan tersebut melekat pada kekasihnya.
"Bagaimana? Aku bisa meminjamkan motor ninjaku untuk kamu."
"Terimakasih, tapi aku tidak tertarik."
"Ayolah, kamu perlu mencoba sesuatu yang baru."
"Kamu benar, namun aku rasa mengendarai motor bukanlah jawabannya."
"Lantas? Kamu mau apa?"
Aku mengedikkan bahu. Tidak pernah memikirkan hal baru apa yang perlu aku tambahkan ke dalam hidup ini.
"Tentang latihan taekwondo dan les memasak. Apa itu jadi?"
Aku bahkan hampir lupa jika Sam tidak membicarakannya. Padahal waktu belum lama bergulir. Entah daya ingatku yang mulai melemah atau tumpukan masalah berhasil menyembunyikannya.
"Aku tidak tahu. Papa belum mengkonfirmasi apa-apa."
"Kalian masih perang dingin?"
Aku tertawa kecil. "Terdengar aneh ya?"
Menurutku pribadi jelas aneh. Ayah dan anak kok perang dingin. Apa fungsi ikatan darah yang kental?
"Sama sekali tidak. Hanya saja aku khawatir kamu semakin kesulitan nantinya."
"Simpan perasaan khawatirmu, Sam. Papa telah sejak lama memasukkan aku dalam situasi-situasi sulit semacam ini. Kerap kali aku akan menangis sebagai pelampiasan, tapi sebenarnya aku telah terbiasa. Hanya saja masih belum dapat mengatasi."
"Kamu terlampau penakut."
Kepalaku mengangguk. Setuju akan label yang Sam berikan.
"Iya, aku memang penakut. Menginginkan terbang di angkasa, namun enggan mengambil langkah apa-apa. Bahkan mengembangkan sayap saja tidak."
Rasa penasaran tiba-tiba menggelitik. Sam tidak pernah takut akan apapun sejauh yang aku tahu. Padahal semua orang tahu bahwa dia memiliki kehidupan yang tidak baik-baik saja.
"Sam, hal apa yang paling kamu takutkan?"
"Hal apa ya?" gumamnya tidak yakin. Dahinya sampai berkerut kecil untuk memikirkan jawaban. Oh God, bahkan dia tidak mengetahui apa yang dia takutkan. "Aku telah lama tanpa kasih sayang, hidup dalam kegelapan dan kekerasan. Rasa takutku pernah ada. Sangat banyak dan kental. Namun kini aku tidak dapat menemukannya lagi. Time changes, so am I. I guess," tandasnya masih dengan suara bimbang.
"Kamu senang berkelahi. Apa tidak pernah takut bahwa kamu akan mati?"
"Kenapa harus begitu? Aku tidak memiliki seorangpun yang akan menangisi aku. Ketika aku mati, maka ya begitu saja. Aku akan hilang dari bumi dan pindah ke alam yang baru. Sekitarku menangis, tapi hanya sebatas kasihan. Hal sementara yang beberapa jam kemudian dapat sirna seiring kebahagiaan mereka yang datang. Aku bukan apa-apa di hati siapapun."
"Ada Paman Ryn."
Dia sangat menyayangi Sam. Aku percaya benar bahwa dia akan menangis jika Sam mati. Apalagi dia telah menganggap Sam sebagai anaknya sendiri. Saat kehilangan maka akan berkali lipat kesedihannya, kehilangan keponakan dan kehilangan anak.
"Takut kehilangan dirinya adalah hal yang paling sia-sia, Seria. Sejak aku kecil dia sudah hidup di dalam kekerasan. Bukan sekali dua kali aku menemukannya pulang dalam keadaan hampir mati. Luka di sekujur tubuh dan darah yang memancar tiada henti. Dia memang hidup seperti itu. Jadi aku berhenti menyimpan ketakutan bahwa dia akan mati, karena setiap hari dia memang nyaris demikian."
"Baik, kamu tidak takut kehilangan Paman Ryn. Tapi aku yakin Paman Ryn adalah orang yang pertama kali menangisi kepergian kamu."
"Tidak-tidak." Kepala Sam bergerak pelan dari kanan ke kiri. Berulang kali sampai senyum tipisnya muncul. "Kamu jangan tertipu dengan perhatian di matanya untukku. Semua aksi baiknya hingga apapun itu yang tidak dapat aku namakan bukanlah apa-apa. Memang, aku berharga di hatinya. Dia bilang bukan hanya keponakan saja, tapi juga putra dan sebagian kebahagiaan. Tapi dia memiliki prinsip hidup yang tidak terbantahkan. Kematian bukan urusannya, jika saatnya harus mati, maka begitulah. Dia tidak akan menangis sedih. Seperti yang aku katakan sebelumnya, hidup Paman Ryn sejak awal adalah kekerasan. Jika hanya kematian, maka itu bukan apa-apa baginya."
"Bagaimana dengan Adelin? Dia sejak kecil telah berada di sampingmu, mendukung, membagi kebahagiaan dan tempat kamu berkeluh kesah. Kamu mungkin takut jika dia tidak ada di sampingmu."
"Adelin tidak selalu di sampingku, Seria." Pernyataan yang paling mengejutkan. Aku kira pada kenyataannya Sam dan Adelin selalu bersama di dalam jutaan skenario, baik karena saling ingin maupun terpaksa. Maksudku, mereka sejak awal sudah seolah ditakdirkan bersama. Tapi pernyataan baru Sam ini sangat tidak dapat dipercaya, juga mengejutkan. Dia menolak keberadaan Adelin seolah perempuan itu tidak pernah bermakna baginya. How can? Aksinya jelas-jelas menunjukkan bahwa Adelin begitu berharga.
"Meskipun kami dekat, tapi pada waktu tertentu kami akan berpisah ke dalam lingkaran masing-masing. Aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri di waktu itu. Jadi kalau aku boleh jujur, Adelin sebenarnya tidak seberarti yang kamu kira. Dia tetap perempuan biasa seperti kamu yang tidak selalu mengerti atau dapat aku harapkan. Dalam berjuta seknario kami memang kerap bersama, tapi aku yakin bahwa hati kami di dalam sana belum tentu saling mendukung. Dia tidak seberharga yang tampak di mata."
Berani sekali Sam mengakui segalanya. Tidak takut sama sekali akan melukai Adelin yang telah lama berdiri di sisinya. Tepatnya dia ini sungguh tidak tahu cara membalas budi.
"Dari aksi-aksiku sebelum ini aku memang masih menunjukkan bahwa dia sangat berharga." Senyumnya tertarik manis saat menoleh kepadaku. Entah apa maknanya, namun itu jelas bukan kebahagiaan. Lebih mirip seperti ejekan pada dirinya sendiri. Eh? "Di dalam hatiku begitulah yang aku percaya. Dia berarti karena telah lama berada di sisiku. Padahal jauh di lubuk hatiku, ada seberkas titik yang mengatakan tidak. Sulit untuk mengatakannya, namun sebenarnya aku tahu hal tersebut."
Dia mengedikan bahu ketika memutar stir ke kiri. Aksi yang tidak bermakna sama sekali.
"Apa kamu tidak mau jujur juga? Mungkin saja Ian Hirataga tidak seberarti yang kamu kira. Kamu hanya bersikeras bahwa dia berharga."
"Kamu salah." Aku dan Sam berbeda. Apa yang dia katakan tidak dapat sesuai dengan apa yang aku pegang. "Dia sangat berarti bagiku. Seperti cahaya matahari yang muncul di antara kegelapan, dia memberi aku sebuah harapan bahwa aku dapat hidup dalam dunia yang aku impikan. Dunia dimana tidak ada kekacauan, hanya ada kedamaian dan kelembutan saja. Ian satu-satunya yang dapat membawa aku pada impian tersebut."
"Oh aku kira kamu sungguh mencintainya?"
Dia mengatakan apa?
"Kamu hanya menginginkan dia untuk mewujudkan dunia impian yang ada di kepala kamu. Jika dia tidak memiliki esensi yang kamu perlukan, itu berarti kamu tidak akan memeluknya."
Hatiku bergejolak cepat seperti ombak yang dihantam angin kuat. Penolakan besar berkecamuk hebat. Tapi seperti kata Sam. Jauh di dalam sana ada seberkas titik yang mengatakan setuju. Anehnya titik kecil tersebut yang terasa paling menyakitkan. Apa mungkin aku tidak sadar bahwa titik tersebut adalah masalah terbesarnya? Lalu yang selama ini menutupi titik itu dinamakan apa?
"Manusia dinamis, Seria. Kelembutan yang ada pada dirinya tidak dapat selamanya bertahan. Sama seperti kekerasan yang ada padaku, itu juga tidak akan selamanya bertahan. Akan ada saat-saat berguncang. Kamu berpikir Ian selalu penuh kelembutan. Lalu bagiamana jika dia mengeluarkan tanduknya? Kamu tidak akan menerima kan? Itu bukan cinta namanya."
Aku sungguh membenci kalimat Sam. Itu karena hatiku terasa nyeri seperti ditusuk ribuan jarum.
"Cinta itu penerimaan penuh akan kekurangan. Kemudian dilanjutkan dengan saling melengkapi. Jika kamu masih kukuh mengatakan cinta, maka kamu harus belajar memahami maksudnya. Aku takutnya kamu sembarang berkata tanpa tahu makna. Bukan hanya dia yang berdarah, tapi kamu juga."
Sepanjang perjalanan yang tersisa kami akhirnya tanpa suara. Aku tidak peduli apa yang Sam pikirkan. Ofc, aku lebih peduli pada apa yang aku pikirkan saat ini.
Apa benar aku sungguh mencintai Ian?
Tentu saja benar. Aku sangat mencintainya, tapi..
Titik kecil di tengah kepercayaan tersebut begitu menganggu. Dia menyetujui kalimat Sam. Lantas apa benar bahwa aku tidak sungguh mencintai Ian?
Unbelievable.
But..it seems true.
"Aku sepertinya lapar. Mau makan sesuatu?"
Terpaksa aku bersyukur akan pertanyaan Sam. Itu memutuskan rantai pikiran sialan di kepalaku.
"Kamu yang lapar, kenapa jadi bertanya padaku?"
"Untuk pertimbangan, sayang. Kita berdua, jadi tidak mungkin aku saja yang mengambil keputusan."
"Tolong berhenti memanggil aku begitu."
Pandanganku menembus kaca jendela, menelusuri aneka gedung-gedung yang menjulang tinggi. "Zion bilang ada restauran masakan Jepang baru di sekitar sini."
Kecepatan mobil berubah drastis. Mata Sam mulai mencari-cari restauran yang aku maksud. Dia menemukannya tanpa bantuanku beberapa menit kemudian.
"Lagi-lagi masih mengenakan seragam sekolah."
"Memangnya kenapa?"
"Tidak asthetic dong, Sam." Huh! Begitu saja tidak tahu.
"Apa itu penting?"
"Yes for me, but not for you." I guess.
Di dalam resaturan pengunjung tidak ramai. Hanya ada beberapa belas tamu saja. Maklum, restauran baru kan? Ya aku harap meskipun begitu cita rasa makanannya tidak mengecewakan.
Seorang waiters dalam balutan seragam hitam dan putih mendekat. Tersenyum manis dan menyapa ramah.
"Saya mau ramen."
Sam membuka buku menu. Ah cowok satu ini pasti tidak akan kenyang hanya dengan satu porsi makanan. Jadi dia harus mencari beberapa menu untuk dinikmati.
"Satu porsi ramen, takoyaki dan yakitori."
Dasar perut karet!
Ngomong-ngomong kenapa Ian masih belum juga membalas? Padahal hanya perlu lima atau enam detik untuk mengatakan "aku sibuk". Aku tidak mengharapkan yang lebih, sungguh. Hanya ingin dia memberikan tanda bahwa dia tidak menghilang.
"Ayolah jangan muram begitu. Selingkuhanmu tidak mungkin akan mengabaikan kesayanganku ini."
"Jangan menggodaku, Sam."
Malah tertawa kecil. Dasar i***t!
Tunggu, Devi kan ada. Kenapa aku tidak bertanya padanya saja? Dia dan Ian memiliki hubungan yang cukup dekat. Hal begini mungkin dia tahu jawabannya.
Devi terakhir online pukul delapan pagi. Itu beberapa detik setelah aku bertanya kenapa dia tidak masuk sekolah. Katanya ada urusan keluarga yang penting. Mungkinkah urusan tersebut juga berimbas kepada Ian?
Sebaiknya aku tanyakan agar lebih jelas. Menduga-duga seperti ini sungguh melelahkan.
"Maaf."
Kolam matanya sungguh berisi penyesalan saat aku meluruskan pandangan. Apa maksudnya itu?
"Ucapanku tadi memang sedikit, maksudku sejujurnya itu sungguh tajam. Tapi aku hanya tidak ingin kamu berdarah-darah di kemudian hari." Mataku tidak bergerak bahkan saat Sam mengulurkan tangan untuk menyelipkan anak rambut yang terjatuh ke belakang telinga. "Belajarlah mengerti makna apa yang kamu katakan dan perbuat, Seria. Itu adalah kunci agar kamu tidak terluka."
Kenapa selalu seperti ini Sam? Kamu memberikan kata bukan hanya sekedar kata, tapi juga sinar ketulusan yang tidak mampu aku hadapai.
Kenapa?
Apa kamu mau menambah masalah di hatiku?
"Setelah ini temani aku ke dokter kulit ya?" lanjutnya kemudian.
Apa aku tidak salah dengar? Sam mau ke dokternya kulit. Ah iya. Sebelum ini dia juga sudah pernah mengatakan niatnya tersebut. Aku kira hanya sebatas niat. Ternyata sungguh dilaksanakan.
"Aku kira kamu tidak akan pernah mau pergi ke sana."
"Aku berubah pikiran."
"Kalau begitu sekalian temani aku ke klinik kecantikan. Aku mau manicure."
"Deal."
Masih dengan seragam sekolah. Kami memasuki sebuah klinik kecantikan dan kulit. Awalnya Sam ingin ke dokter kulit khusus di rumah sakit, namun dia berubah pikiran karena aku mengatakan ingin manicure. Katanya di satu tempat yang sama saja biar selesai bersamaan.
Tidak masalah juga. Toh dokter kulit di klinik kecantikan ini juga telah terkenal akan kehebatannya. Ya aku harap dia dapat membantu Sam berubah menjadi pangeran tampan.
"Bagaimana?"
Satu jam lewat tiga puluh lima menit Sam bergabung di sampingku. Wajahnya tampak seperti baru mendapatkan tekanan berat.
"Terlalu banyak yang dia katakan, aku sampai pusing sendiri. Dan ini produk yang harus aku pakai."
Ada begitu banyak rangkaian skincare di dalam plastik. Aku merasa pesimis Sam akan menyisakan waktu setiap hari untuk memakainya.
"Aku tidak yakin bisa memakainya secara rutin."
Tuh kan. Dia langsung pesimis.
"Kamu ini, belum apa-apa sudah tidak yakin."
"Ayolah, kamu sendiri bahkan sudah tidak yakin juga."
Aku menyipitkan mata. "Dari mana kamu tahu?"
Ia mendorong wajahnya kepadaku. "Your eyes."