23:00
Jelas sudah sangat larut. Aku harusnya telah berada di alam mimpi, bukan duduk di meja belajar lagi. Tadinya aku memang belajar, kemudian menunggu-nunggu pesan dari Ian yang sampai sekarang masih belum kunjung dibalas. Melalui info di profil akunnya dia terakhir kali online pada pukul empat sore tadi. Harapanku sungguh sudah sangat tipis.
“Kenapa belum tidur?”
Malah pesan dari Sam yang masuk. Kemudian karena kegelisahanku kian tidak tertahankan, aku pun menceritakan kepadanya. Dia marah-marah, mengatakan aku bodoh karena sampai merelakan waktu istirahat untuk menunggu Ian. Dia mana mengerti perasaan ini. Bukan hanya khawatir Ian kenapa-napa, tapi juga takut Ian akan meninggalkan aku. Hubungan kami berdua terkesan seperti long distance relationship. Meski jaraknya tidak sampai berjuta kilometer, tapi spasi yang ada memungkinkan orang lain untuk masuk atau yang lebih mengerikannya lagi kami bebas pergi saat merasa ingin.
Bagaimana jika tiba-tiba Ian merasa begitu? Aku sebenarnya cukup sadar bahwa ketidakpercayaan hanya akan membawa pada perpecahan lebih awal. Hanya saja kepala ini tidak dapat berhenti berpikir demikian. Akhirnya aku pun hanya bisa pasrah menerima perasaan tersebut.
“Dia pasti sangat sibuk. Berhenti memikirkannya dan segera tidur!”
Aku merengut melihat tanda perintah dari pesan Sam. Mudah benar dia meminta berhenti di saat dia sendiri tidak mengerti seberapa rumitnya isi kepala dan hatiku saat ini. Akan tetapi aku mengalah, mengatkan iya dan segera membereskan meja belajar. Sampai aku berbaring di ranjang harapan bahwa Ian membalas pesan masih bersemayam di d**a. Tapi itu sia-sia, Ian tetap tidak membalas pesanku.
Esok paginya ketika bangun aku segera membuka ponsel. Beberapa notifikasi pesan datang membombardir. Rasa bahagia membuncah di d**a, lalu tertahan di tenggorokan sebelum senyum sempat tertarik. Semua pesan berasal dari satu nama, yakni Samuel Dagantara. Beberapa berupa pesan biasa, sementara beberapa yang lain adalah pesan suara. Keduanya sama, berisi omelan Sam akan kebodohan aku yang kemudian berubah menjadi nasehat bijak. Dia berusaha keras benar agar aku tidak gelisah. Eum, apa dia tidak punya kerjaan lain ya?
Dering panggilan menjerit . Bola mataku yang awalnya menatap malas kini berubah menjadi antusias. Tanpa menunggu lebih lama, segera aku mengangkat panggilan.
“Maaf, aku memiliki hal penting semalam.”
Ian menjelaskan tanpa ditanya. Bukti besar bahwa dia sadar akan perbuatannya yang telah mengundang kegelishan. Namun suaranya terlalu lemah untuk sebuah penyesalan, jadi aku kira mungkin dia sakit atau tengah dalam masalah besar.
“Ibuku meninggal.”
Reflek tanganku menutup mulut tak percaya. Aku dan Nyonya Hirataga telah sejak lama saling mengikuti di media sosial. Hal tersebut membuat aku cukup tahu kegiatannya. Terlebih Nyonya Hirataga memang aktif di dunia maya. Baru-baru ini dia membagikan liburannya bersama Tuan Hirataga di Maldives. Siapa sangka kalau semalam dia malah meninggal dunia.
Hari ini aku putuskan untuk bolos. Aku mau pergi ke kediaman Hirataga untuk menenangkan Ian. Dia sendiri masih berusaha tegar dan mengatakan bahwa aku cukup memberinya waktu berduka saja. Mana mungkin aku begitu. Ian butuh lebih, minimal sebuah pelukan agar dia tidak merasa sendiri.
“Seria, apa kamu tidak berangkat sekolah?”
Itu adalah reaksi mama saat aku bergabung dengan dress hitam berlengan panjang.
“Tidak, Ma. Temanku sedang tertimpa musibah. Ibunya meninggal dunia, jadi aku akan melayat.”
“Teman kamu yang mana satu?”
Papa bertanya bersama tatapan menyelidik. Membuat aku bimbang saja untuk memilih antara jujur atau berbohong. Selama ini ‘teman’ yang papa ketahui hanya merujuk pada Devi, Mila, Aliya, Zion dan Kevin. Jika aku mau berbohong, maka tetap sulit dipercaya. Namun tidak ada pilihan lain, aku harus mengarang agar tidak dicurigai.
“Itu salah satu temannya Zion, Pa. Kami sudah lama berteman, tapi tidak cukup dekat. Meski begitu dia sangat baik. Aku akan merasa tidak enak hati jika tidak datang di saat dia membutuhkan dukungan seperti ini.”
“Apa harus sekarang?”
Ketidaksukaan berkilat terang di mata papa. Tuh kan dia masih merasa curiga. Padahal karanganku sudah cukup masuk akal. Sialnya aku tidak menemukan bantahan yang pas, jadi aku pun memilih menikmati sarapan dalam diam.
“Mama tahu kamu ingin membantunya mengurangi kesedihan, tapi kamu sendiri juga memiliki tanggung jawab. Selesaikan tanggung jawab tersebut lebih dulu. Setelahnya kamu bebas menemuinya.”
Mama selalu saja begini. Berdiri di sisi papa, membenarkan setiap perbuatannya dengan cara apapun. Ternyata bukan aku saja. Mama juga pengecut. Membiarkan lingkarannya didominasi oleh papa, sementara miliknya dipijak tanpa sisa. Sepertinya aku mengerti kini kebodohan apa yang paling parah. Yakni membiarkan lingkaran kita diambil alih orang yang dicintai. Menyiksa diri sendiri, sementara yang dikasihi semakin tidak sadar diri. Sekarang aku jadi mengagumi Aera sebab di anatara kami bertiga dialah yang paling berani hidup dalam lingkarannya pribadi.
“Seria, apa kamu mendengarkan yang mama katakan?!"
Dadaku untuk pertama kalinya terasa panas akan kalimat mama. Padahal selama ini aku selalu merasa pasrah, baik akan kalimat papa maupun mama. Aera benar, rasa egois sebenarnya selalu ada. Terkadang memang membuat diri gegabah, namun di lain sisi memberikan dampak positif berupa motivasi untuk berani melangkah. Perasaan tersebut bukanlah kesalahan, melainkan naluri alami sebagai manusia. Mungkin mulai dari sekarang aku harus belajar menerimanya, lalu mengolah menjadi dorongan untuk menjalani lingkaranku sendiri.
“Apa selamanya aku harus seperti ini?”
Pupil mata mama melebar. Tidak sendiri, papa juga terkejut. Aera pula hanya terlihat mengerutkan kening sesaat, kemudian lanjut menikmati makanan di piringnya seolah tidak melihat ketegangan di antara kami.
“Sejak kecil aku selalu hidup berdasarkan apa yang mama dan papa inginkan. Itu bahkan berlanjut hingga sekarang. Aku jadi mulai bertanya-tanya untuk apa hidup sebenarnnya jika bukan aku yang menjalani. Mama dan papa tidak akan mengerti seperti apa kekosongan di dalam sana akibat d******i kalian. Terkadang saat aku benar-benar merasa kosong, aku ingin segera mengakhiri hidup. Perasaan tersebut sangat menyakitkan. Tapi kalian tidak pernah mengerti dan terus mengatur aku seperti benda mati.”
Mataku jadi memanas setelahnya. Ini pertama kalinya aku mampu mengatakan isi perasaanku yang sebenarnya, kesakitan nyata yang aku tutupi dengan rapi. Juga keinginan yang selalu membayangi. Meski ketakutan masih mendominasi, namun aku berhasil mengatakannya. Setidaknya ini berarti bahwa aku mulai selangkah lebih dekat pada apa yang seharusnya aku miliki.
"Aku hanya pergi melayat. Itu bagian kecil saja dari apa yang aku inginkan. Benar, dulu aku akan mengabaikan keinginan-keinginan semacam itu demi mama dan papa. Tapi kali ini aku tidak mau lagi."
“SERIA!”
Kepalaku terjatuh, tidak berani melihat seperti apa ekspresi mama saat ini. Dia membentak seolah aku baru saja melakukan dosa besar. Padahal dalam kenyataanya mama tahu bahwa aku hanya menginginkan hakku saja, tidak lebih. Kini aku sepenuhnya sadar bahwa selama ini memang mama dan papa telah memijak lingkaranku, bukan lagi sekedar irisan untuk memberi kasih atau perlindungan.
Keheningan mengambil alih. Hanya denting sendok dan garpu tanpa semangat yang terdengar mengudara. Sisanya adalah aura dingin yang berbahaya dari mama dan papa. Meski begitu dapat aku katakan bahwa mama yang paling emosi. Jenis mama mungkin yang paling toxic di dunia ini, terlalu mencintai hingga menutup mata akan kebenaran di sekitar. Apapun itu, kini aku tidak akan mau mengalah lagi.
Dan seperti yang telah aku putuskan. Pagi ini aku tetap akan pergi ke kediaman Ian. Terserah mama dan papa mau mengomel seperti apa, aku tidak mau peduli meski tahu ketakutan jelas bersarang di d**a.
"Sebentar lagi ujian tengah semester pertama akan diadakan. Sebaiknya kamu memikirkan lagi tindakan kamu. Jangan sampai niat menolong orang malah membuat kamu berakhir buruk."
Bisa-bisanya mama rela datang ke kamarku hanya untuk mengatakan itu. Maksudku, kenapa mama kesal sekali? Ini adalah lingkaranku. Semua kerugian dari yang aku kerjakan akan masuk ke dalam rekening pribadiku, bukan rekening mama apalagi papa. Lantas kenapa dia peduli?
"Kamu sendiri sangat sadar bahwa nilai-nilai kamu tidak cukup bagus. Bagaimana bisa kamu membawanya untuk ke tempat yang sama dengan Sam? Ingat, Seria. Kamu dan Sam adalah sepasang yang akan selamanya bersama. Jangan mengambil tindakan yang membuat kamu menjauh darinya atau kamu akan tahu akibatnya."
"Mama mengancam?"
Tawaku tidak dapat tertahan untuk pecah. Seorang mama mengancam putrinya sendiri. Apa ini masih dapat dikatakan keluarga? Ataukah hanya bernama keluarga saja, namun tanpa makna.
"Tidak." Mama melipat tangan dengan angkuhnya. Sosoknya menjadi tidak dapat aku kenali sama sekali. Jelas, ini bukan mama yang biasa aku kenal. "Mama hanya memberitahu. Jangan kamu kira mama tidak tahu, kamu mulai ingin berpaling dari Sam. Oh tidak perlu terkejut. Sedari awal semua orang tahu bahwa kamu adalah pemberontak. Mengecewakan karena papa kamu masih tetap menganggap kamu putrinya."
Ini sungguh bukan mama. Karena mama yang aku kenal adalah perempuan yang sangat menyayangiku dan lembut. Kalimatnya tidak pernah menajam apalagi menjadi seperti belati. Lalu ada apa dengan mama pagi ini?
"Seria, terimalah bagianmu. Jangan melewati batas. Tidak akan ada toleransi jika kamu membantah. Mama tidak akan membantu kamu keluar dari siksaan papa, malah dengan senang hati mencoret nama kamu dari daftar keluarga. Buat diri kamu berguna seperti yang seharusnya. Pahami dan lakukan itu. "
"Tapi ini kehidupanku, Ma. Aku pemiliknya. Kenapa malah mama dan papa yang mengatur?"
"Kamu tidak mau diatur?" Senyum miring dari bibir merah mama tercipta. Mengerikan benar untuk dinikmati. "Kalau begitu kamu bisa pergi sekarang dari rumah ini. Kami juga tidak terlalu membutuhkan anak seperti kamu."
Tubuhku merosot ke lantai. Hal yang sama terjadi dengan tangisku, merosot sejadi-jadinya. Mudah benar mama mengatakan begitu seolah aku memang tidak punya arti sama sekali. Padahal aku adalah anak dari rahimnya sendiri.
“Seria.”
Suara papa serta ketukan pelan pada pintu menggerakkan tanganku untuk mengusap tangis. Tidak, aku tidak boleh terlihat selemah ini. Nanti papa akan semakin merasa berkuasa.
Klek
Tanganku semakin sibuk membersihkan sisa tangis akan suara isyarat pintu yang siap terbuka tersebut. Langkah kaki papa mendekat, berhenti beberapa centimeter di depanku.
“Mama sedang datang bulan. Kamu sendiri tahu bahwa emosi mama tidak pernah seperti tadi.”
Lihat! Papa bahkan tidak memahami apa yang mama lakukan. Dia hanya memikirkan pendapatannya sendiri. Tidak mau mempertimbangkan apa yang dia lihat sama sekali.
“Tidak apa-apa, Pa. Ini juga bukan pertama kalinya aku dibentak.”
Sebisa mungkin aku menarik senyum untuk menunjukkan kekuatan. Aku tidak akan kalah lagi. Ini adalah langkah pertama. Meski tidak sukses, tapi aku cukup merasa puas karena akhirnya aku berjuang.
“Mama tidak bermaksud buruk. Hanya ingin kamu tidak melalaikan sekolah. Itu juga demi kebaikan kamu."
Kuberanikan untuk menatap mata papa. Getar-getar ketakutan dari bentakan mama masih tersisa. Bergabung pula akan ketakutan akan kemarahan papa yang mungkin akan mengudara. But it is ok. I'll try my best. For the better and the future.
“Jadi, hanya keinginan aku yang buruk?”
Tangan besar papa terasa di bahuku. Namun setelahnya tidak ada kata yang keluar dari mulut papa. Aku mengerti maksudnya. Papa sebenarnya tahu di dalam hatinya bahwa keinginanku bukanlah kesalahan, namun dia menutupinya dengan sesuatu yang tidak dapat aku mengerti. Mungkinkah ketakutan bahwa hidup yang aku putuskan tidak akan berakhir baik? Ataukah untuk keinginan pribadinya?
"Papa akan meminta Sam mengantar kamu."
Bukan itu yang ingin aku dengar. Memang, aku mau papa setuju akan pilihanku pagi ini. Tapi aku lebih ingin lagi mendengar bahwa papa mengakui apa yang aku inginkan bukanlah kesalahan.
"Papa akan berangkat. Sampai bertemu nanti."
Suraiku terasa diusak beberapa kali. Lalu aroma parfum maskulin papa menjauh bersama ketukan sepatu yang menghantam lantai, menandakan papa benar-benar beranjak pergi.
***
“Aku turut berduka."
Itu adalah sambutan yang aku terima begitu masuk ke dalam mobil Sam. Dia sendiri telah mengenakan seragam sekolah, membuktikan bahwa dirinya mungkin bolos pagi ini demi aku.
"Makanlah."
Tidak langsung menekan pedal gas. Sam membukakan satu kotak roti padaku.
"Aku sudah sarapan, Sam."
"Sarapan dalam perdebatan. Aku yakin kamu tidak makan dengan benar."
Tangannya masih bertahan. Baiklah, dia sudah sangat baik. Aku tidak boleh mengecewakannya.
"Terimakasih."
Kami tidak langsung pergi ke kediaman Ian, melainkan berhenti di sebuah taman. Sam memaksa benar aku menghabiskan beberapa roti yang ada di dalam kotak, menambahkan juga salad buah dan satu kotak s**u. Usai itu dia memesan taksi, katanya agar tidak ada yang menemukan aku dan dia berhubungan di kediaman Hirataga nanti.
Aku padahal tidak keberatan. Tapi dia sepertinya sungguh ingin yang terbaik bagiku. Kalian tahu? Itu membuat aku sedikit merasa tersentuh.
"Beritahu aku jika kamu sudah selesai."
"Tentu."
Aku menarik pintu taxi. Kendaraan tersebut langsung bergerak meninggalkan taman. Sam pula tidak pulang. Dia mengikuti taxi yang aku kendarai hingga sampai di persimpangan kediaman Hirataga.
Dia melakukannya meski tahu tidak akan mendapatkan imbalan apa-apa. Bukankah dia adalah malaikat paling nyata?