Lima Puluh Enam

1687 Kata
Halaman Hirataga yang luas dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian serba hitam. Wajah-wajah mereka didominasi oleh kesedihan. Bahkan beberapa terang-terangan menangis sebagai bukti. Nyonya Hirataga adalah wanita kelas atas yang ramah dan dermawan. Banyak orang menyayanginya. Tentu menjadi sebuah kesedihan luar biasa begitu sosoknya tiada. Meski belum begitu dekat, tapi aku sendiri mampu merasakan kesedihan yang sama karena tidak memiliki kesempatan bertemu wanita seramah Nyonya Hirataga lagi. Bisa dibilang dia adalah tipe karakter ideal aku di masa depan. Bukan sebuah rahasia bahwa istri seorang elit dihadapkan dengan begitu banyak masalah. Mulai dari hubungan romantis yang kompleks hingga hubungan sosial sekalipun. Semua masalah-masalah tersebut akan bermuara pada tekanan diri. Anehnya Nyonya Hirataga terkesan santai dalam menanggapi. Dia seperti selalu berhasil melihat kebaikan dari berbagai keadaan sekalipun yang terburuk. Itu adalah sebuah hal yang patut aku tiru di masa depan. Ya siapa tahu aku menjadi istri Ian. Tentu dengan posisi Ian yang mewah aku akan terkena imbas yang mewah pula. Kini seorang yang dapat aku contoh sudah tiada, sangat disayangkan padahal aku belum belajar apa-apa. Aku rasa semua orang juga merasakan yang sama, kehilangan sosok panutan sempurna seperti dia. Dalam perjalanan panjang menembus keramaian aku menemukan beberapa informasi. Katanya Nyonya Hirataga telah memiliki penyakit bawaan sejak lahir. Itu adalah sebab yang tidak mengherankan akan kematiannya. Syukurlah. Setidaknya Nyonya Hirataga meninggal dalam keadaan mengenaskan seperti kecelakaan. Aku pada akhirnya sampai di aula Hirataga. Di tengah-tengah ruangan ada jasad Nyonya Hirataga yang diletakkan di atas kasur berseprai putih. Sekujur tubuhnya diselimuti oleh kain dengan warna yang senada. Sementara itu orang-orang di sekelilingnya membacakan doa. Hanya Tuan Hirataga dan Ian yang terdiam di sana. Bahu tegap Ian begitu lemah. Sama seperti wajahnya. Memang tidak ada air mata, tapi sisa bengkak dan kemerahan jelas menunjukkan bahwa dia telah menangis dalam waktu yang lama. Aku ingin menepuk pundaknya, menunjukkan pada dia bahwa aku ada di sini untuk menemani. Tapi aku sama seperti orang-orang di sekitar, tidak berani mendekat. Devi tiba-tiba datang membelah kerumunan. Dia berbisik ke telinga Tuan Hirataga, lalu Ian. Keduanya beranjak dengan berat hati. Kerumunan membelah lagi, memberikan jalan bagi keduanya untuk berlalu. Pandangan Ian tiba-tiba melurus. Di momen itulah aku mampu melihat semua kesedihannya. Tanganku bergetar halus, ingin segera merengkuh kerapuhannya. "Ia..." Dia memelukku erat sebelum aku sempurna memanggil namanya. Devi di belakangnya mengedikan dagu ke arah tangga. "Bawa Ian ke atas." *** Kami kini berada di sebuah kamar dengan nuansa putih. Perabotan-perbotan mewahnya tampak tidak tersentuh meski aku yakin ini adalah kamar Ian. Jelas bukan? Hidupnya dihabiskan di Andromeda. Kamar ini hanya persinggahan dua mingguan sekali saja. Itu pun belum tentu digunakan olehnya mengingat Hirataga memiliki begitu banyak rumah. Belum lagi akan fakta bahwa anak elit kebanyakan mendapatkan apartemen pribadi ketika mereka memasuki usia remaja. Aku rasa Ian pasti memiliki setidaknya satu sebagai tempat tinggalnya di saat-saat tertentu. "Padahal sehari sebelumnya aku masih berkomunikasi dengan mama." Suaranya terseret berat. Aku yakin sama seperti hatinya, masih berat menerima fakta bahwa ibunya telah tiada. Aku pun kalau berada di posisi yang sama pasti akan merasakannya. Hal ini jadi membuat hatiku semakin mudah menyerap kesedihan Ian. "Mama adalah segalanya bagiku." Air matanya merebak keluar membasahi pipi. Ian menjatuhkan kepala di antara lutut untuk menyembunyikannya. "Sekarang dia tidak pernah akan ada lagi di sisiku. Aku sendiri. Tidak tahu harus bersandar pada siapa. Tidak tahu perjuanganku selanjutnya untuk apa." Tidak ada kata yang keluar dari bibirku meski sebenarnya sudah terancang di kepala. Aku takut itu berlawanan dengan apa yang kini Ian rasakan. Satu-satunya cara adalah dengan membiarkan dia mendominasi. Jadi dia akan merasa sungguh masih memiliki seseorang yang dapat dia andalkan. "Tuhan terlalu jahat." "Bukan begitu, Ian." Kuelus lembut lengannya. "Tuhan selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. Meskipun kita berpikir itu terlalu jahat, buruk hingga tidak adil pada kenyataannya itu hanya berdasarkan apa yang kita pikirkan." Ian menyandarkan punggungnya pada sofa. Menarik kedua tangannya kemudian untuk menutupi wajah. Sebagai pria dia pasti merasa sedikit malu akan kondisinya saat ini. Menangis dan berantakan. Sama sekali bukan pria yang dinginkan oleh wanita manapun. "Aku akan mengambil air. Kamu tunggu di sini." Tidak ada respon, tapi aku anggap itu adalah 'iya'. "Di mana Ian?" Aku menutup mata sembari menahan emosi. Begitu membuka mata Devi masih seperti sebelumnya, menatap seolah tidak pernah berbuat salah. Dia sungguh melupakan fakta bahwa dia baru saja membuat aku hampir terkena serangan jantung. "Dia ada di dalam. Aku mau mengambilkan minuman untuknya lebih dulu." "Lurus saja, begitu koridor berakhir kamu belok ke kanan. Di sana ada pantry penyimpan camilan dan minuman. " Aku mengangguk mengerti. Lanjut mulai mengambil langkah untuk pergi. "Seria, tolong bawakan beberapa kue. Dia belum makan sejak semalam." Reflek pikirank di dalam kepala menahan kakiku. Sejak semalam? Apa Ian gila? Dia bisa mati kehabisan cadangan energi. Kalau begitu aku harus cepat. Sebentar lagi waktunya pemakaman, jika tidak dipaksa bisa-bisa Ian tidak akan makan sampai pemakaman selesai. Pantry yang aku temukan sangat mewah dan rapi. Namun sepertinya jarang tersentuh. Terbukti jelas oleh persediaan yang masih memenuhi setiap kabin maupaun freezer. Padahal ini sudah hampir akhir bulan, harusnya persediaan sudah menipis. Usai mengambil segelas air mineral, aku memilih-milih kue untuk Ian. Selama kami makan bersama Ian kerap memesan makanan manis. Aku kira itu adalah makanan kesukaannya. Jadi aku menjatuhkan pilihan pada kue coklat. "Aku tidak percaya kamu masih memiliki muka untuk datang." Sejujurnya aku terkejut menemukan Rin yang mendekat dengan tatapan jahat. Akan tetapi aku teringat bahwa hari ini adalah hari duka bagi seluruh Hirataga. Rin sebagai salah seorang yang menganggap Ian penting tidak mungkin akan berbuat jauh. Kalaupun iya dia akan segera dilempar keluar. "Kamu mungkin berpikir lebih pantas daripada aku untuk Ian." Senyum miringnya menimbulkan gejolak panas bagiku. Dia meremehkan seolah hanya dia yang pantas. Dari segi wajah dan tubuh aku jelas tidak kalah. Kalau urusan hati aku memang masih tidak tahu pasti. Hanya saja aku yakin bahwa Ian tidak mungkin menginginkan perempuan gila sepertinya. Jadi bisa dibilang dari segi sifat aku lebih unggul. "Tapi sebenarnya kamu sadar kan? Perempuan bertopeng kebohongan seperti kamu hanyalah pembawa luka." "Itu bukan urusan kamu." Dia gila. Berlama-lama dengannya hanya membangkitkan emosi saja. Lebih baik aku segera kembali sebelum dia semakin bertindak tidak masuk akal. "Seria, aku tidak akan tinggal diam jika kamu membuatnya berdarah." "Oh ya?" Aku berbalik, tidak tahan lagi akan keangkuhan yang mendominasi wajah Rin. "Bagiamana dengan kamu? Bukankah kamu telah membuat Ian berdarah lebih awal?" "Aku hanya mengatakan kebenaran. Itu juga demi kebaikannya sendiri. Banyak perempuan mendekati Ian hanya karena dia mesin feromon yang menggairahkan. Lalu juga karena kekayaan dan kekuasaannya. Dengan menyebarkan kebenaran aku membuka mata pada mereka bahwa Ian bukanlah pria yang sempurna. Jika mereka berniat mencintai, mereka harus tahu konsekuensinya. Dengan begitu mereka memiliki kompas sebelum mengambil keputusan. Hal yang sama juga berguna bagi Ian. Dia jadi tahu kemana seharusnya hatinya diletakkan. Bukan pada seseorang yang hanya mengatakan cinta kepadanya, tapi yang menerimanya luar dan dalam." Aku benci mengatakan ini, tapi Rin memang sangat baik daripada sekedar perempuan gila untuk Ian. Lihat saja, dari kalimatnya dia menaburkan seluruh perhatian. "Kamu sendiri bagiamana? Menerima kekurangan tersebut?" "Tentu. Dalam hubungan pernikahan anak memang menjadi tujuan. Tapi yang lebih penting lagi adalah fakta bahwa Tuhan tidak memberikan kesempatan yang sama pada setiap pasangan. Aku jadi dibuat tidak memiliki alasan untuk membantah jika pada kenyataannya kami tidak dapat memilikinya." Kenapa dia tidak segila yang pertama kali aku temui? Kalimat-kalimatnya syarat kepedulian. Jujur itu membuat aku merasa terganggu. Sangat-sangat terganggu. Rin mendekat, mendorong telunjuknya pada dadaku. "Bagaimana dengan kamu? Aku penasaran. Kamu adalah perempuan yang mendambakan kesempurnaan. Apa bisa menerima kekurangan Ian tersebut? Oh.." Dia mendorong telapaknya ke udara. "Jangan langsung katakan iya dengan menggebu-gebu. Tanya hatimu. Apa siap di masa depan tidak memiliki buah hati? Lalu keluargamu akan menuntut pewaris, kemudian masyarakat juga menggosipi kalian. Apa kamu siap?" Jari-jariku terkepal kuat. Tahan! Dia perempuan gila. Semakin aku membantah malah dia semakin akan banyak bicara. Mana hampir seluruh yang dia katakan menunjukkan cinta yang mendalam pada Ian pula. Tidak peduli jawabanku, aku yakin dia akan terus menyudutkan untuk untuk memamerkan perasaannya. Kuputar tubuh dan mulai mengambil langkah. Pilihan terbaik sebelum hatiku kian panas. "Aku dengar kamu mencintai Ian. Bagaimana bisa kamu begitu kurang ajar di saat kamu sendiri telah terikat dengan pria lain. Apa kamu berniat menjadikan Ian sekedar pelarian?" Kakiku berhenti seolah ditahan sesuatu yang berat. Lalu api panas menyala hebat di dalam d**a. Rin semakin keterlaluan. Aku harus segera menutup mulutnya. "Tentu saja tidak." Kuserang matanya dengan tajam. "Aku sungguh mencintai Ian. Tali yang saat ini mengikat bukan apa-apa. Dan lagi, ini bukan urusanmu!" Usai itu aku benar-benar berbalik pergi dengan langkah cepat. Rin tidak lagi menyela, mungkin sadar bahwa dia memang tidak berhak. *** "Aku tahu kamu bersedih." Tanganku yang hendak memutar knop pun berhenti. Devi masih di dalam. Dia pasti membutuhkan ruang untuk menyampaikan kesedihan dan semangat pada Ian. "Namun kematian bukanlah hal yang dapat kita kendalikan. Jika sudah waktunya terjadi, maka itu akan terjadi. Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Ibumu pergi berlibur berkat keinginannya.." "Benar." Suara Ian yang lemah. Apa dia baik-baik saja? "Mama pergi berlibur berkat keinginannya. Namun itu semua terjadi karena dia ingin melepas stress akan masa depanku yang tidak menjanjikan. Aku putra satu-satunya, tapi tidak dapat memberikan pewaris. Bagaimana jerih payah papa, mama dan kakek di masa depan?" "Itu bukan salah kamu!" Tanganku terlepas begitu saja dari knop pintu. Mereka benar-benar butuh ruang. "Tidak ada yang menginginkan ketidaksempurnaan. Tapi bukan kesalahan jika kamu memilikinya." "Kamu tidak mengerti Devi." Suara Ian terisak. Menggores hatiku hingga menciptakan nyeri. "Kekuranganku ini memang bukan kesalahan, tapi ini menyiksa aku dan orang-orang di sekitarku. Papa dan mama terus mengkhawatirkan aku. Sementara di luar sana aku tidak mampu diterima penuh." Bukan hanya rasa bersalah, tapi Ian juga khawatir dia sendirian. Pantas saja kesedihannya begitu mendalam. Ternyata sebabnya juga dua kali lipat. "Kamu memiliki Seria." Jantungku berdegup kencang mendengarnya. Ada perasaan tidak enak yang menyertai. Kenapa begini? Harusnya aku senang karena dipercayai oleh Devi mampu di sisi Ian. "Dia akan berada di sisi kamu, menerima kekurangan dan memberikan kasih sayang. Kamu memiliki dia, kamu tidak sendirian." Perasaanku semakin tidak enak. Saat aku tidak mampu menemukan jawaban dan kian tersiksa, aku pun memilih mengetuk pintu. Mengakhiri pembicaraan yang menjadi sumber hatiku tidak nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN