Lima Puluh Tujuh

1212 Kata
"Apa seseorang menyakitimu?" Aku menjatuhkan tubuh pada kursi. Kepala ini penat benar. Padahal tema utamanya hanya tentang kesedihan, namun pertemuan dengan Rin membuat temanya pecah kemana-mana. Aku tidak tahu harus berfokus pada yang mana satu. Itulah yang berakhir menjadi beban di kepala. "Seria.." Tangan Sam mendarat di bahuku. Entah kenapa tubuhku langsung merasa tidak nyaman, jadi aku menepisnya pelan. "Aku baik-baik saja. Tidak ada yang menyakitiku." Sam mendorong wajahnya lebih dekat untuk mencari jawaban. "Lantas, kenapa wajah kamu begitu muram?" "A-ku.." Pandanganku berlari menjauhinya. Merasa enggan Sam menemukan jawaban. Dia akan semakin menunjukkan kepedulian dan itu akan membuat hatiku masuk ke dalam ambang kebingungan. "Aku tahu kamu sedih akan kepergian Nyonya Hirataga." Sam menarik tubuhku ke dalam pelukannya. "Padahal itu cukup sebatas sedih. Kamu malah terlihat mendalaminya. Apa mau melukai diri sendiri?" Kudorong pelan d**a Sam. Ini bukan hanya tentang tubuh kami yang saling menempel, tapi juga aroma maskulinnya yang mengundang gairah. Sialan, dia pakai parfum apaan sih? "Aku tidak bersedih berlebihan untuk Nyonya Hirataga. Lagipula kematian merupakan hal pasti dan di luar kendali manusia. " "Lalu?" Aku akui Sam memang jenis manusia hiperaktif. Tangannya tidak bisa diam bahkan untuk sedetik saja. Jika tadi dia membawa aku langsung ke dalam dadanya, kali ini dia mengulurkan jari-jemari untuk membelai rambutku. "Apa yang membuat kamu sesedih ini?" Apa aku sedih karena tidak dapat menemui Nyonya Hirataga lagi? Sejujurnya itu tidak dapat dijadikan alasan utama. Karena jika aku jujur aku hanya bersedih benar untuk Nyonya Hirataga berkat Ian. Jika saja Ian tidak begitu sedih mana mungkin aku juga berlebihan menanggapi kematian Nyonya Hirataga. Lalu, apa wajahku muram karena kesedihan Ian? Lumayan benar. Aku tidak dapat tenang saat mata sembabnya menatapku penuh luka. Parahnya pula aku tidak dapat mengatasi luka tersebut. Tapi ini yang lebih mengganjal. Rin. Benar, dia begitu tepat menjadi alasan wajahku muram. Dari kalimatnya menimbulkan begitu banyak cabang. Aku tidak dapat mengerti dan parahnya lagi merasa begitu terpengaruh. Pikiranku akan Rin mendadak hangus begitu tangan Sam menarik daguku agar menatapnya. "Seria, aku akan mendengarkan apapun yang ingin kamu katakan." Aku tahu itu, Sam. Hanya saja aku sendiri bingung dari mana harus mulai bercerita. Dan lagi aku takut semakin berhutang pada kamu. Karena aku mengerti, aku tidak akan bisa membayarnya kembali. "Berpikirlah sesaat. Aku akan mengambilkan segelas air." Katanya hanya air. Namun pada kenyataannya Sam kembali dengan sepiring nasi goreng. Dia bilang itu yang paling mudah dan cepat untuk disajikan. Terserahlah. Aku hanya butuh sedikit untuk mengembalikan energi yang menghilang seharian ini. "Aku tahu kamu tidak ingin dia terluka seperti ini." Sam memanfaatkan kesenggangannya saat aku menikmati nasi goreng untuk kembali menenangkan. Berlebihan benar. Aku bahkan merasa tidak perlu ditenangkan. Memang benar, di dalam sana tengah terjadi kekacauan. Namun berusaha kerasa mencari jalan keluar sekarang hanya akan membuatnya menjadi keributan baru. Jalan terbenar adalah membiarkan masalah tersebut puas membuat keributan. Di titik tertentu pada akhirnya akan merasa jemu, lalu itu berhenti dengan sendirinya. Sam sepertinya tidak mengerti, dia menjadi gencar mencarikan aku jalan keluar. "Seria, masalahnya itu lingkarannya. Kamu mungkin merasa bersalah karena hanya mampu memberikan semangat. Namun memang itu saja yang bisa kamu beri." Aku tersenyum tipis. "Aku tahu, Sam. "Kalau begitu apa alasan wajah muram kamu ini? Aku memikirkannya dari berbagai sudut dan masih salah. Apa kamu berniat menyiksa aku?" "Ew! Sejak kapan kamu jadi selebay ini?" Bahunya dengan santai bergedik pelan. Eh? Aku kira dia akan tersinggung. "Katakan, Seria. Kepalamu tidak boleh menanggungnya sendiri." "Tapi ini adalah masalahku pribadi Sam. Lingkaranku!" "Baiklah." Dia menyandarkan kepala pada sofa. Sepertinya benar-benar menyerah memaksa aku bercerita. "Sam, aku sungguh hanya menginginkan Ian." Matanya menyorot cepat. Memang tidak ada tanda-tanda korban api atau kilat kebencian, namun aku menemukan luka dibalik lapisan dinginnya. "Apa kamu akan tetap sebaik ini jika aku mematahkan sayapmu?" "Aku tidak yakin. Tapi kamu pernah mendengar kan? Cinta tidak harus memiliki. Aku tidak keberatan menjadi menjadi sebatas kakak atau selingkuhanmu. Yang terpenting aku tetap berada di dekatmu. Itu lebih dari cukup, sungguh." Sam gila! Tapi anehnya bibiku menarik senyum. Hati di dalam sana juga terasa lega. Dia tidak akan pernah meninggalkan aku. Itu terasa seperti obat dari semua sakit yang mampir di hatiku hari ini. "Sam, terimakasih sudah selalu mendukungku." "Tidak perlu terbebani begitu. Aku melakukannya dengan senang hati." *** Kutekan bel satu kali. Menunggu sesaat sembari memperhatikan plastik yang aku pegang. Isinya adalah satu kotak pizza, ayam goreng dan cola. Aku berencana mengajak Ian menikmatinya sembari menonton televisi. Semoga saja itu akan membuat dia kembali merasa hidup. Karena tidak ada tanda-tanda pintu terbuka aku memutuskan untuk menekan bel sekali lagi. Kali ini pintu langsung terbuka. Ian menyambut dengan wajah lesu. Kesedihan masih bersarang di wajahnya tersebut. Dia juga terlihat lemah di saat yang sama, membuat aku curiga bahwa dia mungkin saja belum makan sama sekali. "Aku kira kamu di kediaman utama." Saat Ian masih menutup pintu aku mendekati meja untuk meletakkan plastik makanan. Meja itu sendiri bersih, tidak ada bekas makanan sama sekali. Segera mataku bergeser pada pantry. Keadaannya juga bersih. Sama sekali tidak ada tanda Ian menghabiskan suatu makanan ataupun minuman. "Aku tidak bisa." Ian menarik tanganku lembut. Aku pun terjatuh di atas pangkuannya. Deru nafasnya terasa begitu jelas menyapu kulit. Sontak membuat aku ingin menjauh, tapi tangannya dengan sigap menarik lebih dekat. Kemudian dia membenamkan wajahnya ke dadaku. Nafasku tercekat di tenggorokan. Posisi kami berdua terlalu dekat. Seknario beraneka ragam tanpa diminta tergambar di benak. Sekujur tubuhku mendadak terasa panas. Jelas saja. Dia adalah seorang pria. Sekali sentuhan terjadi akan menimbulkan efek lain bagi tubuh. Beruntung kali ini vibesnya lemah, jadi segala keanehan tersebut lenyap seketika. "Semua sisi tempat itu membuat aku tidak menerima fakta bahwa mama telah tiada." Bersama dengan kalimat tersebut pelukan Ian di sisi tubuhku kian menguat. Dia mencari kekuatan untuk bertahan. Aku sebaiknya segera mengalihkan agar dia tidak semakin terjebak. "Aku membawa pizza dan ayam goreng. Ayo makan." Tangannya enggan aku singkirkan. Meski begitu aku tetap melepaskannya. Dia harus segera makan. Aku tidak mau kepalaku terus kepikiran. Ian sendiri tidak menolak saat aku menyuapinya sepotong pizza. Matanya bahkan terfokus padaku. Secara keseluruhan memang tidak terlihat penolakan, namun di matanya tidak ada cahaya. Kekosongan saja yang mendominasi hingga aku kira aku tengah berhadapan dengan sebuah patung. "Kamu adalah segalanya setelah mama bagiku, Seria." Sejujurnya aku sedikit terkejut karena dia tiba-tiba menangkap tanganku yang hendak meraih potongan pizza. Belum lagi kekosongan di matanya berubah menjadi belati yang siap menggores. "Itu bukan hanya sekedar kata, tapi memang kesungguhan dari hatiku. Jadi berjanjilah jangan pernah meninggalkan aku." Kepalaku belum sempat memproduksi jawaban saat dia memberi kejutan lain dengan menambah kekuatan pada genggaman tangannya. "Aku tahu, tidak mungkin kita selamanya akan baik-baik saja. Konflik pasti akan terjadi. Tapi aku mau kamu tahu bahwa itu hanya siklus. Pada akhirnya kita tetap akan bersama. Kamu tidak boleh lelah apalagi meninggalkan aku selama siklus tersebut. Apa kamu mengerti?" Ancaman di matanya tidak membuat aku takut. Sebaliknya aku justru tenggelam dalam, ingin tahu kesakitan apa lagi yang dia simpan. Berharap dari itu semua aku dapat mulai mencari penawarnya. "Seria?" Aku tersenyum tipis dan mengangguk. "Aku mengerti." Kurengkuh tubuhnya erat-erat. Mengambil semua kekuatan darinya agar aku dapat menyimpannya menjadi semangat perjuangan. Di saat yang sama aku juga menyalurkan kekuatan padanya agar dia merasa lebih kuat untuk bangkit. Aku berjanji, Ian. Aku akan menjadi pelengkap kamu untuk kembali hidup. Bagaimanapun caranya, aku akan mulai berusaha mewujudkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN