Han Ji Wook membatalkan janjinya pada Juno, membuat putraku murung hingga dirinya terlelap. Meski jam sudah menunjukkan hampir tengah malam dan tubuhku super lelah, namun, aku belum mampu memejamkan mata. Ingatan tentang wajah Han Ji Wook yang menatapku marah masih terbayang jelas di benakku. Mengapa dia marah? Itulah pertanyaan yang terus berputar dalam kepalaku. Kenapa dia harus marah? Gerakan memutar tubuh yang kulakukan membuat Juno bergerak gelisah dalam tidurnya. Segera kupeluk Juno dan menepuk – nepuk punggungnya, agar dia tahu aku tidak kemana – mana. Segala kemungkinan mampir dalam benakku, tapi yang paling nyaring adalah, mungkin Ji Wook menyukaiku? Kugelengkan kepala, menepis dugaan gila itu. Tertawa, aku bergumam pada diri sendiri. “Maldo andwae!”* Siapa kau, Park Ae Ri

