ALICE Aku baru menyadari bahwa… sangat banyak waktu yang kuhabiskan dengannya. Aku baru sadar bahwa dialah yang mengisi hari-hariku, membuatnya lebih berwarna. Sekarang? Hidupku kembali monoton, hanya berputar pada kerja, makan dan tidur. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga. “Fokus Al, focus.” Tegurku. Tadi aku sudah hampir selesai menghitung budget yang akan terpakai jika harus merombak penuh sebuah kamar. Dan karena pikiranku yang melayang kemana-mana, semua perhitungan itu buyar. Aku menyumpah dalam hati sebelum mengulang semuanya untuk kesekian kalinya. Aku tahu, disaat seperti ini harusnya aku berhenti dan beristirahat, tapi jika aku melakukannya... entah apa yang akan kulakukan. “Maybe some coffee will help.” Gumamku. Aku berdiri meninggalkan kursiku menuju ke pantry. “Al! Lo

