21. Menyakiti dan Mengkhianati

1199 Kata
"Tak seharusnya meminta kepada seseorang untuk menjadi dia yang telah lama menghilang. Lalu menyesal, merasa menyakiti juga mengkhianati." Jika kenyataan yang sedang dirasakan adalah sebuah ungkapan yang sangat dan mungkin memang terdengar lebay, sama sekali Acha tidak peduli. Karena ia merasakan bahagia yang mungkin hanya sesaat saja? Merasakan nyata kehadiran Devid lelaki yang diharapkan cepat pulang, tiba-tiba sekarang datang menggantikan sosok Bram sebenarnya. Ah, salah! Bukan datang sosok Devid yang menciptakan tawa, tetapi Bram terpaksa Acha rubah menjadi lelakinya. Apakah sangat keterlaluan? Tanpa sadar ia menyakiti hati Bram bukan? Meminta menjadi seseorang yang dibayangkan adalah lelaki lain. Tanpa menjanjikan, Acha akan siap megarungi semua likuan tajam bersama Bram bukan Devid. Langkah kaki Bram terus berjalan menurun, mengikuti jejak pendaki yang terlebih dahulu sudah meninggalkannya. Termasuk beberapa pendaki yang tadinya ada di belakang mereka, menjadi berpindah posisi. Mungkin sudah sampai ke pedesaan? Bram sama sekali tidak peduli, ia masih berbagi tawa dengan Acha. Enggan menyia-nyiakan waktu berduanya. "Berat badan lo berapa, sih? Lama-lama kayak gajah yang lagi hamil!" sindir Bram, masih berjalan pelan penuh kehati-hatian. Acha tergelak, lalu membalas, "Ternyata, lo pernah gendong gajah yang lagi hamil? Kapan? Gua, kok, gak tau!" Bram mendelik kesal. "Gajah jadi-jadian!" Sebuah jitakan keras mendarat di puncak kepala Bram, dengan cepat Acha mencengkeram kedua tangan Bram yang tepat menahan berat tubuhnya di belakang. Agar tidak membalas menjitak kepalanya. "Lepasin, dong! Enak aja lu main jitak kepala gua!" kesal Bram, masih berusaha melepas cengkeraman Acha. "Ya kali ... gua harus minta izin dulu? Bram, gua mau jitak pala lu gitu?" "Gak gitu juga kali, ah!" Bram semakin berusaha melepas cengkeraman Acha di kedua tangannya. Kepala Acha mendekati samping wajah Bram dan tiba-tiba Bram menoleh. Keduanya saling memandang dalam kesunyian, apa yang Acha pikirkan bukanlah Bram yang sebenarnya, tetapi Devid yang ada bersamanya. Ke mana saja dia? Mengapa tidak pernah memberi kabar? Apakah ia kembali lupa ingatan? Berarti Acha harus menyadarkannya lagi? Mengapa harus mengulang perjuangan dulu? Mengapa? "Cha," panggil Bram. Acha tersentak, seketika tangannya yang mencengkeram kedua tangan Bram telepas. Sial! Ia hilang keseimbangan. Jangan, jangan sampai! Mereka pasti akan terjungkal, lebih tepatmya Acha berada di posisi paling bawah menghantam krikil kasar, lalu akan dihantam oleh tubuh Bram yang besar! Habis sudah pertahanannya karena Bram tidak bisa menahan tubuh Acha yang sudah terlanjur oleng ke belakang. Bruk! Mereka berdua ambruk menghantam krikil yang terasa menyakitkan, Acha meringis menahan sakit begitu juga Bram yang susah payah agar tidak menimpa tubuh mungil Acha. Ia langsung memposisikan diri dengan baik, dengan cepat mengulurkan tangan menarik Acha dari acara rebahan yang sangat tidak diharapkan. "Bener, ya, lo tuh gajah!" sentak Bram seraya menyingkirkan beberapa kerikil yang hinggap, menempel di tangan kanannya. Acha mendengkus sebal. "Apaan, sih! Salah sendiri, gak bisa nahan tubuh gua. Badan aja gede, ototnya gak bisa nahan beban dikit aja!" Acha siap berdiri dengan cepat, sebisa mungkin tanpa bantuan Bram yang sok manis. Namun, sayang cara mempertahankan diri itu berakhir gagal. Pergelangan kaki kanan Acha yang masih sakit, ia lupakan begitu saja dan tidak bisa dihindari! Acha kembali hilang pegangan! Tubuh Bram yang masih duduk meregangkan kedua kakinya menjadi tempat paling pas bagi Acha untuk menghempaskan tubuhnya. Bram yang masih sibuk dengan pikirannya sontak meringis lagi, tubuh Acha sudah terjatuh tanpa aba-aba menghantam tubuh bawahnya. Tepat wajah Acha bersandar nyaman di d**a bidangnya. Lagi, mereka saling berpandangan. Degug jantung keduanya benar-benar tidak beraturan, terasa lebih cepat memacu. Tak ada yang berani berbicara, keduanya tetap diam membisu. "E—eh, sorry." Acha segera mencoba, bergerak cepat menghindari kontak fisik dengan Bram. Benar-benar tidak karuan. Bukan lagi membayangkan sosok Devid yang diharapkan. Acha malah semakin merasa bersalah, soalah ia mengkhianati lelaki yang sudah ia tunggu bertahun-tahun lamanya. Lalu sekarang akan ternodai karena saling memandang, tanpa jarak di antara keduanya? Sungguh, hubungan macam apa ini? Apakah normal? Dapat dianggap biasa oleh semua orang? Tentu saja tidak! Dan semuanya adalah keinginan Acha sendiri. Ia meminta Bram menjadi Devid lelakinya. Devid Kucrut penuh tawa, penuh rahasia dan lagi pastinya pengingat luka. Acha mencoba berdiri dengan susah payah. Sampai Bram memberikan trekking pole untuknya membantu Acha berdiri, tanpa menunggu lama Acha langsung menerima. "Hati-hati." Bram tetap diam di tempat, tidak mengulurkan tangannya untuk membantu. Bram tahu, Acha akan menjauhinya lagi juga takkan membiarkan Bram berbicara banyak. Acha sudah kembali seperti kemarin sore, malam dan tadi pagi. Bukan beberapa jam yang lalu, apakah mampu melewati turunan yang tersisa di depan sana, sedangkan keduanya enggan membuka percakapan? Parahnya lagi Acha akan tetap sok bisa dan mampu melewati turunan di depan. Ada apa sebenarnya? Ya, Acha kembali tersadar akan statusnya. Bukan pacar apalagi istri Bram. Dia tetap menjadi milik Devid seorang, ibu dari Devit yang entah di mana sekarang anaknya itu. Acha menahan sesal, mengapa ia tidak meminta Willy berada di antara mereka juga? Mengapa harus hanya Bram saja sekaramg? Merasa bukan waktunya menyesali sesuatu yang sudah terjadi, perlahan tapi pasti Acha mencoba melangkahkan kakinya. Sangat lamban! Bram yang tak sabaran ingin sekali menggendong lagi Acha seperti tadi. Penuh tawa, lemparan tanya konyol dan lihatlah! Bram tak salah lihat, ada Irsad, Willy, Aldo, dan Tedy yang datang membawa tandu. Untuk siapa? Tentu saja untuk Acha yang masih juga belum bisa berjalan normal! Melihat kedatangan mereka berempat, Acha mengembuskan napas lega. Akhirnya, bisa terbebas dari kesunyian yang teramat membosankan. "Kita gak tega kalo Mas Bram bawa, Mba Acha dari atas. Jadi, setelah meminta Atul dan Risa menenangkan Devit, kami kembali naik bawa tandu," jelas Aldo seraya mempersiapkan tandu untuk Acha. "Makasih, Acha emang udah gak enakan gua gendong mulu," jelas Bram. Irsad mengangguk. "Ya udah, langsung aja, ya?" Tanpa menunggu lama, Acha segera merebahkan tubuhnya. Beberapa tali mengikat sebagian tubuhnya agar tetap terjaga. Setelah merasa aman dan membuat Acha nyaman, mereka kembali berjalan. Bram tidak menjadi salah satu yang mengangkat tandu, ia tetap berjalan di belakang dan Acha menyadari itu semua. Bram kembali menggendong carrier-nya di belakang punggung. Langkahnya gontai tanpa tenaga. Acha tidak peduli. Mau Bram marah ataupun benci kepadanya, ia ikhlas. Karena kenyataannya ia ingin Bram menjauh pergi. Cepat menikah dengan perempuan lain. Paling diharapkan lagi, menikah dengan Anya. Perempuan manis dan cantik. Perempuan yang benar-benar mencintai Bram dengan tulus, tanpa alasan. Namun, Bram yang tidak peduli, membuat Anya banyak memaki. Sampai di depan base camp, Acha segera dipapah oleh Irsad menuju salah satu ojek di sana. Mereka berlima sepakat memakai jasa tukang ojek di sana. Walaupun mahal, tetapi dapat mempercepat perjalanan menuju desa terakhir. Di mana rombongan lain sudah menunggu tak sabar. Begitu juga dengan Devit. Mulai menyesali sikapnya karena menjauhi Acha begitu saja. "Mama, gak kenapa-napa 'kan, Tante Cantik?" Atul mengelus kedua bahu Devit menenangkan. "Mama Devit pasti baik-baik aja, percaya kita semua bakal pulang dalam keadaan selamat." "Iya, kamu 'kan tau sendiri, Mama Acha 'kan wanita kuat!" sela Risa, memberikan semangat agar Devit tidak terlalu khawatir. Devit menunduk, menatap sepatu gunung yang Bram berikan di hari ulang tahunnya ke lima. "Devit, mau minta maaf ke Mama," lirihnya. Sontak, Atul dan Risa saling memandang. "Jangan sedih, dong, Mama Acha pasti dateng gak lama," tegas Atul. Tidak lama, suara motor meraung yang terasa memekakkan telinga datang membawa orang-orang yang dinanti. Devit menoleh, melihat Acha yang segera dipapah oleh Irsad bukan Bram yang hanya mampu menunduk pasrah. Sekali lagi, ia gagal mencuri hati Acha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN