"Ada amarah terpendam yang lama-lama terasa membosankan. Jadi, bolehkah memaafkannya sementara? Mungkin sebuah kesempatan lagi untuknya?
Selesai menghabiskan sarapan yang terasa tawar, juga tanpa obrolan bermakna hampir membuat Acha meneteskan air mata. Karena Devit benar-benar menghindarinya, dengan alasan masih lelah. Namun, jika pendaki lain yang mengajaknya bercanda, pasti Devit dengan senang akan mendengarkan, lalu tawa lebarnya pun terdengar.
Sekali lagi diingatkan, Acha merasa jauh dari anaknya itu. Sekarang mereka sudah bersiap untuk turun, jemari mungil Devit sudah beralih tergenggam oleh tangan berotot Irsad, sedangkan Bram? Lelaki itu juga dijauhi oleh Devit untuk sementara. Alasannya, Devit kembali mengingat akan kemarin sore.
Masih terasa bayangan dua orang yang ia sayangi, tetapi tidak mendengar teriakannya karena suara hujan dan guntur lebih keras, mengalahkan jeritan mungilnya. Setelah berdoa terlebih dahulu sebelum melangkah pergi, barulah rombongan pun mulai berjalan menurun. Beberapa tenda pendaki lain terlihat masih sibuk membersihkan sisa sampah, ada juga yang tak bosannya mengabadikan momen bersama kekasihnya.
Acha menoleh sekali lagi, ada beberapa pasangan kekasih yang mengabadikan momen dengan saling melempar senyum, ada juga yang saling berbagi kehangatan lewat pelukan. Acha mengembuskan napas kasar. "Kapan, ya?" batinnya.
Dari barisan paling akhir, Bram menangkap tatapan Acha. Menatap sedih keadaan nyata yang tak bisa dihalangi oleh telapak tangan. Rasanya, Bram benar-benar tidak seharusnya mengajak Acha yang masih terluka, masih berharap Devid datang memberikan kebahagiaan lagi. Willy yang tepat di belakang Acha mengajaknya untuk menyusul rombongan lain, mereka berempat hampir ketinggalan.
"Santai aja, Kak, cuma turun doang!" ujar Willy, diakhiri senyum kecilnya.
Acha mengangguk kaku merasa bersalah, ia berada di barisan keenam, lalu tatapannya berakhir menangkap tatapan Bram yang sedang memandangnya.
Bram melempar senyum. "Lanjut?"
Tanpa membalas ucapan Bram, Acha segera berbalik melanjutkan perjalanan. Carrier di belakang punggungnya tidak seberat beban kemarin sore, sebagian makanan ringan sudah habis, hanya tersisa baju kotor dan cemilan sisa juga sebotol air mineral. Kemarin yang dilalui adalah tanjakan terjal, sedangkan sekarang adalah turunan panjang yang ditemani krikil dan batuan di samping kanan kiri.
Cuacanya juga tidak semenakutkan seperti kemarin, sekarang cerah tanpa suara guntur menggelegar di tengah hutan. Hanya suara cicit burung pagi, mereka tepat turun pukul sebelas. Setelah melewati turunan dengan lebatnya hutan, barulah mereka menyaksikan sabana dan beberapa bukit menjulang berwarna hijau. Di tempat datar sebelum melewati kemiringan, rombongan kembali beristirahat.
"Mana air minumnya?" tanya Irsad, seraya duduk di samping Devit yang bermandikan keringat.
Devit masih mengatur napas, lalu mengeluarkan air minumnya. "Ini!" serunya, tanpa menunggu lama segera menegak airnya tergesa.
Irsad tertawa melihat tingkahnya, lalu tatapannya mencari keberadaan Acha yang belum terlihat batang hidungnya juga. Sampai, kelima orang di sana, melihat jelas Acha yang dipapah oleh Bram dan Willy, sedangkan carrier miliknya dibawa oleh Bayu di belakang. Bola mata Irsad membulat lebar, ia segera meminta kepada Atul dan Risa untuk menjaga Devit.
"Kenapa?" tanya Irsad, ia melihat kaki kanan Acha tak mampu menahan berat badannya saat berjalan.
Perlahan, Bram mendudukkan Acha, dari arah lain Devit sudah berkaca-kaca, mengkhawatirkan keadaan ibunya. Namun, kehadiran Atul mampu membuatnya tenang melihat kondisi ibunya di sana. Bram segera memberikan air minum untuk Acha. Terpaksa Acha menerimanya.
"Kayakanya harus dibenerin dulu lukanya, gara-gara nyangkut gak, sih, ke akar pohon?" tanya Willy memastikan, mengingat ia orang yang tepat berjalan di belakang Acha.
"Gua cuma butuh waktu, buat ngobatin lukanya," lirih Bram, tatapannya terpaku memerhatikan pergelangan kaki kanan Acha.
"Wil, lo yang nem—"
"Gak usah, gua tau jalan pulang. Sad, lo bawa rombongan sampe desa, jangan nunggu kita. Terus gua titip Devit juga," jelas Bram memotong ucapan Irsad, Acha yang siap protes terpotong oleh perkataan Bram lagi. "Kalian percaya, kan? Gua udah kenal alam terbuka, tau juga apa yang harus gua lakuin kalo ada seseorang yang cedera."
Irsad dan Willy mengangguk cepat. "Ok, jadi kita duluan, ya?" Irsad segera mengajak rombongannya turun, Devit yang sudah ada di sampingnya tidak melempar tanya.
Karena Atul sudah menjelaskan semuanya bahwa Acha akan baik-baik saja bersama Bram. Diingatkan pula, bahwa Bram sudah mengenal dalam tentang alam. Ditinggalkan oleh rombongan hanya bersama Bram seorang, hampir membuat Acha memaki lelaki itu. Lelaki yang memanfaatkan situasi agar bisa berduaan dengannya. Ia memang terlalu ceroboh, banyak memikirkan sesuatu sampai tak melihat pijakan di depan tadi.
"Lo masih banyak pikiran juga, bisa gak, sih, lupain sementara?" sungut Bram segera mengambil sebuah kotak P3K dari dalam carrier-nya.
Mengeluarkan sebuah botol berisi minyak, Acha baru melihatnya dan tentu saja tak tahu namanya apa.
"Izin mau mijit kaki lo," ucap Bram, seraya menggulung ke atas celana panjang hitam yang menutupi pergelangan kaki Acha, tak lupa melepas sepatunya juga.
Orang yang masih menunduk itu sedang memerhatikan kakinya, tiba-tiba Acha merasa bosan juga dengan sikapnya yang sangat kekanak-kanakan. Marah kepada Bram, lalu akan begitu saja melupakan apa yang sudah ia berikan?
"Kaki gua gak bau?" ringis Acha
Pertanyaan Acha sontak membuat Bram mendongak, jarak di antara keduanya sangat dekat dan Bram dapat merasakan napas Acha yang teratur.
Seulas senyum tergurat, Bram berkata, "Gak terlalu!"
"HAHA!" Acha memberikan tonjokan halus di pundak kiri Bram. "Lo mau, gak, jadi Devid gua selama perjalanan pulang?"
Tawa yang tertular dari Acha tiba-tiba hilang, Bram menatapnya penuh tanya. "Maksud, lo?"
Acha menggigit bibir bawahnya dalam, apakah Bram takkan marah? Lalu begitu saja meninggalkannya dengan keadaan kaki yang sulit digerakan?
"Emm ... ya, lo tau gua bener-bener sayang sama dia, dan lo pasti tau gua banyak pikiran karena ngebayangin dia ada deket gua."
Bram mengangguk kaku, tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera mengoleskan minyak pengobat luka. Acha yang masih memikirkan tentang permintaannya barusan, sedikit terkejut karean tangan Bram menekan titik rasa sakit di pergelangan kakinya.
"AWW ...!"
"Sakit?"
Pertanyaan bodoh macam apa itu! Acha mendengkus sebal, seraya menjauhkan pergelangan kakinya. Bram tersunyum geli. "Devid, bukannya suka jail?"
"Ha?" Acha menatapnya bingung, masih tersisa rasa kesalnya karena Bram menekan titik yang terasa sakit, tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepadanya.
Bram menghirup udara dalam. "Lo, mau gua jadi Devid sementara?"
"Emang lo mau?" tanya Acha balik, dalam hati ia berharap Bram mengangguk mengiyakan.
"Pakek syarat?" tawar Bram, Acha memicingkan sebelah matanya.
"Mau lo apa?"
Kening Bram mengerut. "Gua ... masih jadi temen lo, kan?"
Acha diam membatu, lalu mengangguk kaku. "Ya kali, lu jadi bapak gua, Bram!"
"Jadi? Gua samaran Devid, mau gendong lo gimana?"
Acha mengulum senyum. "Ok, berarti gua yang bawa carier, lo?"
Gelengan tegas Bram menandakan bahwa Acha takkan membawa beban apa pun. Karena dengan cepat, Bram segera memasang carrier-nya di depan d**a! Apa maksudnya? Apakah Acha benar-benar akan digendong di belakang panggungnya? Ya, lihat saja, Bram sudah memunggungi Acha.
"Naik Tuan Putri!" titah Bram, menekan panggilan baru untuk Acha.
"Devid itu, gak selabay kayak lo, Bram!"
Bram menoleh dengan tatapn tajamnya, meminta Acha cepat naik ke punggungnya. "Cepet!"
Acha mencebik kesal. "Devid gak suka kasar ke gua!" komentarnya.