"Akan selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan." "Om, Devit pulang duluan, ya," pamit Devit, mengingat kadaan ibunya sedang tidak baik-baik saja. "Anak muda, ada apa gerangan dengan cepat kau beranjak pergi?" Salah satu kenalan Pak Ginan bertanya. "Eh, anu ... biasanya saya langsung pulang, Pak," balas Devit dengan senyum lebarnya. "Ya udah, asalkan jangan mampir ke tampat yang tidak berguna!" seru Pak Ginan. Devit mengangguk cepat, lalu mencium satu per satu punggung tangan para jemaah sambil mengucap salam. Dalam perjalanan pulang, Devit memikirkan perkataan Pak Ginan soal ayah kedua. Jadi, tidak ada salahnya bukan curhat kepada orang yang memberikan tempat? Memastikan rahasia terjaga dan Devit memang sedang membutuhkan orang yang hanya cukup menjadi pendengar. Hanya itu dan Pak Gi

