"Terasa nyata dan mungkin mengartikan bahwa ia takkan kembali lagi. Setelah menanti sepuluh tahun lamanya."
"Sampe rumah, Putri Judes ...!"
Gita dengan cepat turun dari jok motor Devit. Masih dengan gerutuan kesal karena sepanjang jalan teman satu kelas yang digilai anak perempuan itu tak bosan menyindirnya. Menjadikan topik bahwa Gita menyimpan fotonya diam-diam adalah hal paling mengejutkan, sekaligus membuat Devit salah tingkah. Bahkan sudah ada rasa curiga.
Apakah cewek judes itu diam-diam menyukainya? Memuji kegantengannya seperti cewek lainnya? Sepertinya iya! Jika tidak untuk apa Gita mengambil fotonya diam-diam? Sungguh sebuah rahasia besar dan memalukan begitu saja dibongkar oleh ayah sendiri. Bagaimana keadaan Gita sekarang? Mulai mencaci ayahnya? Atau menyalahi keteledorannya menyimpan ponsel sembarangan?
"Makasih!" ketus Gita seraya berjalan cepat menuju pagar tinggi hitam yang tertutup rapat.
Devit mendekap kedua tangannya di atas stang motor, sedangkan helmnya masih dipakai menutupi wajah menahan tawa.
"Makasih doang?" tanyanya menggoda Gita untuk berbalik ke arahnya.
Benar saja, Gita berbalik cepat. Raut wajah kesalnya nampak geram menahan amarah. "Bukan waktunya mempersilakan tamu cowok kayak elo ke rumah, udah malam dan besok masih harus sekolah!" jelasnya.
"Ohh ... gitu, ya, Putri Judes?" sindirnya, sekaranag Devit sudah mempunyai panggilan khusus untuk Gita.
"Iya, Tuan Sok Ganteng!" Secepat kilat, Gita menarik pagar memberikan jalan untuk tubuh ramping dengan setelan gamis berwarna biru tua.
Devit mengulum senyum, sebelum pagar rumah ditutup kembali Devit segera berkata, "Gua emang ganteng kali!"
Idih, bodoamat! Gita segera berlari menuju pintu rumahnya. Tidak berselang lama suara motor di luar terdengar menggerung keras. Meninggalkan kesunyian tepat pukul 20.35 dan Gita memilih menghentikan langkahnya. Mengambil napas panjang, lalu diembuskan dengan tenang.
"Dari awal kenal juga, berhadapan sama tuh orang berasa ngadepin setan! Mancing-mancing biar marah mulu!" gerutunya.
Di tempat lain Devit segera masuk ke dalam apartemen menemukan ibunya sendiri masih fokus menonton TV. Mengetahui anaknya sudah pulang, Acha melempar senyum Devit pun segera duduk di samping ibunya itu.
"Katanya jam sembilan? Kurang lima menit lagi, tuh!"
"Gak, jadi nongkrong!"
Acha menoleh. "Lah, terus kamu ke mana aja?"
"Muter-muter doang," balas Devit berbohong.
"Udah salat isya?"
"Udah, Mama?"
"Udah, dong!"
Hanya suara saluran televisi yang memenuhi ruangan tanpa percakapan antara keduanya lagi. Diam-diam Acha memikirkan pesan yang baru saja diterima dari Bram lewat panggilan telepon. Memberitahukan, bahwa pernikahan teman yang dulu sangat dekat dengan sang calon Anya akan dilangsungkan dua hari lagi.
Begitu cepatnya dan Acha bimbang. Apakah ia harus hadir bersama Devit? Apakah ia mampu menahan rasa sakit dalam lubuk hatinya? Tiba-tiba Acha tersadar, mengapa ia merasa tersakiti? Bukankah harusnya ikut bahagia akan kabar pernikahan itu? Kabar di mana Bram bisa move on darinya dan memilih menikah di usia siap kepala tiga.
Jarum jam tepat menunjuk pukul 21.20 mengharuskan Devit beranjak pergi membersihkan diri sebelum merebahkan badannya di tempat tidur. Acha tidak berkomentar melihat anaknya siap masuk ke dalam kamar. Ia butuh menenangkan diri. Menelan habis kenyataan, mempertanyakaan hari kebahagiaan yang tertinggal dua hari lagi.
"Bram aja, udah dapet calon pendamping hidupnya. Masa lo gak bisa kembali nemenin gua, Dev?" gumam Acha, kedua tangannya mencengkeram remot TV. "Gua salah apa, sih? Kenapa lo gak muncul mulu? Apa perlu kabar kematian gua membuat lo dateng, Devid?!"
Setetes air mata berhasil meluncur, menggenang di pelupuk matanya. Dari arah lain, Devit menyaksikan tangis Acha yang semakin pecah juga mendengar gumaman penuh luka ibunya.
"Gua capek, Dev ...," lirih Acha, menyandarkan tubuhnya mencoba menenangkan diri sejenak, lalu kedua matanya terpejam.
Di dalam kamar, Devit dilanda kebingungan. Sangat sulit memecahkan masalah yang bersangkutan dengan papanya yang hilang entah ke mana.
"Semoga baik-baik aja," harapnya, seraya menyelimuti dirinya dengan selimut tebal.
Bukan kokok ayam yang memaksa kelopak mata mengerjap cepat, terbuka lebar menyadari waktu sebenarnya. Harum telur goreng memenuhi penciumannya, ia segera beranjak melihat jelas punggung tegap seseorang yang sibuk dengan masakan yang dibuat. Siapa dia? Acha melangkahkan kakinya, tinggi badannya melebihi perkiraan tinggi badan anaknya sendiri.
"D—devid?" gagap Acha.
Tubuh tegap lelaki itu berbalik, sesungging senyum menghiasi wajah yang sudah lama bertahun-tahun hilang dari pandangan. Acha hampir ambruk ke lantai.
"Morning, Changcuts ...."
Changcuts? Acha tak mampu melupakan panggilan gila Devid sahabat yang menjadi suaminya itu. Anaknya sendiri tak tahu panggilan itu, berarti ia sekarang sedang berhadapan dengan Devid suaminya? Acha tidak percaya, ia mencari-cari keberadaan anaknya untuk memastikan bahwa manusia di depannya itu nyata atau hanya imajinasi saja.
"Kenapa? Lo gak kangen apa?" tanya Devid, kakinya melangkah siap mendekati Acha.
Melihat pergerakan nyata yang bisa digapai dengan gampang, Acha malah mundur ke belakang cepat. "Gua gak percaya!" pekik Acha.
Devid menghentikan langkah kakinya. "Gak percaya?" Devid menatap kecewa Acha. "Apa jangan-jangan lo udah jatuh hati sama Bram! Dan lupain gua gitu aja?"
"Lo ngomong apa, sih! Selama ini gua bertahan karena nungguin lo!" jerit Acha.
"Tapi lo gak percaya gua pulang!" ketus Devid, kakinya melangkah lebar melewati Acha begitu saja.
"Lo mau ke mana?" Acha berbalik, menatap punggung Devid yang semakin menjauh mendekati pintu keluar. Lelaki itu tidak berniat untuk menghentikan langkah kakinya. "DEVID!"
Langkah Devid terhenti, lalu berbalik. "Lo gak percaya gua pulang, kan? Ok, gua gak bakal balik lagi, Cha."
Hening.
Dada Acha terasa sesak. Tolong, siapa pun bangunkan Acha dari mimpi buruknya. Tatapan mata Devid sangat tajam, tergambar jelas bahwa ia sangat kecewa dan takkan kembali lagi.
"Maksud lo apa? Gua udah nunggu bertahun-tahun! Buat apa? Ya buat nunggu lo datang, DEV! Dan sekarang lo mau pergi gitu aja?"
"Bukannya itu mau lo? Ada Bram 'kan yang bakal selalu ada buat lo!"
Acha menggeleng tegas. "Gua nunggu lo, Dev ....," lirih Acha, pandangannya mulai buram karena tetesan air mata.
Devid memalingkan tatapannya. "Kenyataannya, lo udah gak butuh kehadiran gua lagi, Cha." Langkahnya kembali siap pergi, meninggalkan luka yang semakin menganga.
Acha ambruk ke lantai, tangisnya semakin pecah. "DEVID! DEVID!!"
Lelaki itu tidak mempedulikan teriakannya, suara pintu terbanting membuktikan bahwa Devid sudah pergi dan mungkin takkan kembali lagi. Dengan tergesa, Acha mencoba bangkit mengejar Devid yang sudah berdiri tegang di hadapan lift.
Acha mengatur napasnya, lalu menjerit, "GUA NUNGGUIN LO DATENG, DEV! SEPULUH TAUN GUA MENCOBA SABAR!"
Tubuh tegang Devid masih membelakangi Acha. "Terus sekarang lo malah mau pergi lagi? Bram udah mau nikah, Dev!"
"Tapi hatinya masih neriakin nama lo, Cha," sela Devid tepat pintu lift terbuka untuknya. Sebelum melangkah masuk, ia berbalik. "Gua gak bakal balik lagi, Cha. Lupain gua."
"GAK! GAK AKAN ...!"
Tubuh Devid sepenuhnya masuk ke dalam lift, dilanjut pintu yang tertutup perlahan. Acha kembali hilang keseimbangan, kedua tangannya mengepal.
"DEVID! DEVID ...."
"MA! MAMA!!"
Tangan seseorang mengguncang tubuh Acha. Seketika Acha sadar, bahwa semua yang dilaluinya adalah hanya sebuah mimpi buruk. Kedua tangannya menarik rambutnya kasar, Devit di samping segera menyodorkan segelas air.
"Minum dulu, Ma."
Acha tetap diam, kedua matanya mulai berkaca-kaca lalu ditatapnya Devit. "Mama capek, Dev."
Tanpa menunggu lama, dipeluknya Acha dengan erat. Mencoba memberikan ketenangan. Namun, Acha tak butuh pelukan dari anaknya. Ia hanya ingin Devid kembali, hanya itu.
Note : Maaf baru up, heheh. Insya allah bakal rajin up lagi, ya, semoga aja bisa membagi waktu soalnya sekolah mulai normal lagi hihi.