39. Mencoba Tetap Tegar

1096 Kata
"Hujan. Memiliki banyak arti dalam kehidupan, memaksa diri untuk menahan jerit ketakutan dan tangis haru kebahagiaan." Hari sebelum Bram harus mengorbankan status lajangnya esok hari. Ingatan Acha terseok-seok memikirkan hari penting bagi Bram dan Anya juga memikirkan mimpi buruk yang tak diharapkan malam kemarin. Apakah tandanya Devid akan kembali? Jika benar, Acha berjanji takkan menyambut lelaki itu dengan penuh tanya dan jerit histeris. Namun, dengan sebuah peluk erat kerinduan. Acha berjanji. Takkan membiarkan Devid yang kembali begitu saja pergi lagi. Sayang, kedatangan lelaki itu tak dipastikan kapan pulangnya, kapan membagi cerita selama sepuluh tahun lamanya. Lagi-lagi Acha mendekap kedua tangannya di d**a, menatap lampu jalanan dan gedung pencakar langit yang bertebaran satu per satu mulai redup. Tepat pukul tiga dini hari Acha tak mampu memejamkan kelopak matanya. Pikirannnya yang terus mengganggu, sampai Devit anaknya terbangun mendapati sang ibu yang sudah duduk merenung di luar balkon. Menatap kosong ke depan. "Besok om Bram, mau nikah, Dev," terang Acha, mengetahui Devit menatapnya sendu di belakang. Devit sedikit terperanjat, ia kira Bram mencintai ibunya. "Sama siapa? Perasaan belum pernah ngenalin calonnya ke Devit, Ma?" Acha beranjak dari duduknya. "Pokoknya, sabtu pagi kamu harus ikut biar tau siapa pengantin perempuannya," jelasnya seraya melangkah pergi memasuki dapur, mulai menyiapkan sarapan. Tanpa menunggu lama Devit segera menyambar handuknya. Jam dinding sudah menunjuk pukul lima pagi, mengharuskannya cepat membersihkan diri karena hari jumat ini terakhir ia memakai seragam sekolah juga menemui Gita si Putri Judes. Tak disadari, Devit mengulum senyum mengingat bibir monyong Gita saat kesal. Selesai memakai seragam, Devit keluar dari kamarnya. Aroma sayur daging ayam menyeruak masuk ke rongga hidungnya. Acha sudah menyelesaikan masakan paginya, lalu bersiap duduk di samping Devit. Namun, suara bel pintu bergema menghentikan tarikan tangannya untuk bersiap duduk. "Biar mama yang buka, kamu makan duluan aja," titah Acha seraya berjalan cepat membuka pintu apartemen. Devit pun menurut ia segera mengisi piring kosongnya dengan nasi yang lembut dan sedikit mengepul. Dari tempat lain, Acha tak sempat mengintip terlebih dahulu siapa gerangan tamu di pagi harinya. Ia berharap Dinda ibu mertuanya. Deg! Pintu terbuka lebar, tubuh tegap Bram yang terbalut jaket hitam terasa menahan napas Acha beberapa detik. Tak disangka oleh Acha akan gerakan tiba-tiba Bram yang dengan cepat mendekap tubuhnya! Mendekap tubuh mungil Acha yang semakin tenggelam karena tubuh Bram besar dilapisi jaketnya. Acha membatu ia segera tersadar, siapa pun penghuni apartemen lain akan melihat mereka tak lama! Acha bersiap mendorong Bram. Namun, kekuatan lelaki itu lebih kuat, sedangkan Acha hanya seorang wanita lemah tak mampu mengimbangi. "Gua sayang sama lo, Cha," bisik Bram tepat di samping telinga Acha. Acha gemetar, seketika bayangan Devid membuatnya sekuat tenaga mencoba melepaskan pelukan Bram. "Lepasin, gua," geram Acha. Kepala Bram yang mencari kehangatan di antara lekuk bahu Acha menggeleng pelan. "Gua bakal nikahin lo, bukan Anya, Cha." Sekali lagi Acha mendorong d**a bidang Bram tetap tidak ada sedikit pun perubahan. "Lo gila! Lepasin!" Sampai ide briliannya mengharuskan Acha menginjak keras kaki kanan Bram, bertepatan Devit yang datang dengan raut wajah penuh tanya. Beruntung pelukan Bram sudah terlepas. "Ohh ... Om Bram? Kirain siapa," kekeh Devit. Acha tak merespon, ia menatap tajam Bram yang masih meringis sedangkan bibirnya sedikit melempar senyum, mungkin agar Devit tidak berpikir macam-macam tentangnya? Namun, Devit tak diam ia menebak-nebak raut wajah ibunya terlihat menahan amarah dan Bram yang menyembunyikan rasa sakitnya entah di daerah mana. "Suruh dia pulang, Dev!" ketus Acha, menjauhi keduanya masuk ke dalam kamar. Bram menatap kepergian Acha, tak mampu berkata apa pun selain mengembuskan napas kasar. "Om, gak papa kok, Dev." Bram menatap penampilan Devit. "Mau om antar? Biar sekal—" "TUTUP PINTUNYA, DEVIT!" teriak Acha. Devit melempar senyum kaku. "Terima kasih atas tawarannya, Om." Tanpa menunggu lama Devit menutup pintu. Acha keluar dari kamarnya dengan kedua matanya yang sudah sembab. Ada masalah apa sebenarnya? Pikir Devit, lalu memutuskan untuk melanjutkan sarapannya yang tertunda. Acha sendiri langsung menghubungi salah satu guru di tempat mengajarnya, bahwa ia tidak bisa masuk dengan beralasan tidak enak badan. Diam-diam Devit melirik Acha yang mulai memejamkan kedua matanya. Setetes bulir air mata tak tertahankan mulai membasahi kedua pipinya. Devit menunduk dalam, sampai kapan penderitaan ibunya berakhir? Mengapa selalu saja ada masalah di dalam kehidupan kecilnya? Kapan pula lelaki yang pantas ia panggil papa pulang dan memberikan peluk kerinduan? "Devit, berangkat sekolah dulu, Ma." "Hem," gumam Acha diakhiri sebuah ciuman di punggung tangan dan kedua pipi basahnya. Suara pintu tertutup menjadi awal sunyi, sendiri yang dirasakan oleh Acha pagi ini. Kakinya melangkah masuk ke dalam bilik kamar mandi. Mulai melucuti satu per satu kain yang menempel di tubuhnya, melangkah menenggelamkan tubuhnya ke dalam bak mandi. Kedua matanya terpejam, kenangan masa lalu terbayang jelas, sekelebat bayangan Devid melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. Acha menatap sedih kepergian lelaki itu sambil mengelus sayang janin yang berada dalam kandungannya. Janin yang sudah tumbuh besar, sudah mengenal mencintai lawan jenisnya, menjaili teman sebangkunya dan menggoda guru perempuan agar mengurangi tugas pekerjaan rumah yang selalu banyak harus dikerjakan dalam waktu singkat. Kedua tangan Acha menggapai pegangan, lalu menatap kosong ubin kamar mandi. Ia harus melangkah, berani mendatang dunia dengan kenyataan pahit hidupnya. Acha percaya, Tuhan memberikan ujian karena ia mampu melewatinya dan Acha akan mencoba. Segera membersihkan diri, mengenakan pakaian terbaiknya. Bersiap mengunjungi salah satu toko buku, ia akan membeli lalu membacanya di ujung rak buku. Mungkin ku takkan bisa ... Jadikan dirimu kekasih yang seutuhnya mencinta ... Namun kurelakan diri, jika hanya setangah hati kau sejukan jiwa ini .... Lagu yang mengalun dari sebuah kafe yang Acha lewati terasa menyayat hatinya. Mengingat Devid yang dulu selalu bersenandung, diiringi gitar yang dimainkan. Sesungging senyum menghiasi, Acha merasa hidup sekarang. Terasa nyata dan bisa ia bayangkan Devid akan selalu ada. Walaupun tak nyata berada untuk ia gapai, sentuh dan peluk nyata. "Selamat siang ...," sapa seorang penjaga toko, seraya membukakan pintu untuk Acha. Acha melempar senyum kecil, mulai mencari deretan buku fiksi remaja. Hanya untuk mengingat masa lalunya, di saat Devid dengan jail menggodanya pernah membaca buku khusus 18 tahun ke atas padahal ia baru duduk di bangku SMP waktu itu. Baru tersadar, sejak SMA rasanya Acha jarang bisa mengajak Devid ke toko buku. Tentu saja karena banyak drama cinta di setiap waktunya. Acha menarik salah satu novel berbau bad boy. Lalu berjalan cepat ke pojokan, bukan untuk merobek plastik yang masih tersegel membungkus buku di genggamannya. Namun, untuk menatap jelasnya keramaian di bawah sana. Tanpa memberi aba-aba, tepat pukul satu siang, hujan turun dengan derasnya memaksa pejalan kaki menepi untuk menghindari tetesan aiar langit yang menghunjam. "Hujan. Memiliki banyak arti dalam kehidupan, memaksa diri untuk menahan jerit ketakutan dan tangis haru kebahagiaan," lirih Acha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN