"Jangan menyalahkan. Ini adalah kemauan yang dipaksakan, tanpa memikirkan masalah yang sedang dihadapi."
Ada kalanya sabar menghadapi kenyataan berakhir runtuh merasa gagal. Kini, dirasakan Bram dalam keraguan. Tepat malam minggu yang Anya minta agar dia datang ke rumahnya, bukan untuk memperkenalkan diri sebagai kekasih Anya. Namun, untuk peresmian bahwa keduanya akan maju ke jenjang pernikahan. Takkan ada lagi penantian.
Tanpa sadar, Bram sudah mengiyakan apa yang Anya minta. Dari waktu tepat mengenalkan diri kepada semua saudaranya, membelikan segala macam bagi Anya. Sampai di tiitk tepat malam pergantian tahun ini. Malam yang Anya harapkan Bram memasangkan cincin di jari manisnya.
Disaksikan puluhan tamu yang Anya undang. Termasuk Nijar, lelaki yang tetap berharap Anya meliriknya, lalu membatalkan hubungannya dengan Bram. Sayang, mungkin harapan Nijar takkan bisa terlaksana di malam itu. Keluarga sudah menyiapkan untuk acara paling penting bagi Anya. Tidak lupa, Anya sengaja meminta Bram berjanji agar tidak mengundang Acha ataupun Devit.
"Aku bakal bantu, Mas Bram lupain perlahan masa lalu. Jadi, jangan undang mereka, ya?" pinta Anya.
Tatapan kosong Bram seketika teralihkan, menatap bingung Anya. Tiba-tiba, ia hanya mampu mengangguk menuruti kemauan Anya. Bukan karena diguna-guna tingkah Bram hanya diam dan mengangguk saja, ia terlalu lelah memikirkan kehidupannya. Masalah bersama Acha saja belum selesai, selang tiga bulan Anya malah memintanya segera menggelar acara tunangan.
Padahal hatinya sedang tidak baik-baik saja. Meskipun telinganya sempat mendengar kabar bahagia, bahwa Devit berhasil menjadi juara di perlombaan pertamanya. Ingin sekali memberikan hadiah, juga sambutan hangat. Namun, Bram selalu memilih diam saja. Hanya mampu mengirim pesan dan dibalas Devit dengan senang.
Tepat pukul tujuh malam, kerabat Bram yang sudah bersiap dengan penampilan rapinya sudah menunggu di halaman depan. Menunggu Bram keluar dari kamar, sampai ketukan di luar kamar membuat Bram tersadar dari lamunan. Memaksa bangkit, menarik laci lemari dan menggenggam lembut sebuah kotak berlapis beludru merah. Di dalamnya, sepasang cincin tunangan yang Anya pilih.
"Gua mau tunangan sama siapa?" gumam Bram.
Tok! Tok!
"Kamu udah siap, Bram?" tanya ibunya dari luar kamar.
Bram segera memasukkan kotak cincinnya ke dalam saku celana. Dengan balutan jas warna abu, Bram keluar dari kamar. Masih tersisa wajah penuh keraguan membuat ibunya mengelus lengan anak lelakinya itu.
"Kamu udah siap?"
"Kalo belum siap juga, gak mungkin dibatalin, kan?"
"Bram, kamu kok ngomong gitu? Bukannya ini pilihan kamu?"
"Mba!"
Keduanya menoleh. "Ayo, nanti keburu malem, loh!" ajak Wina, adik dari ibu Bram.
Terpaksa Bram mengikuti langkah ibunya. Duduk di samping kemudi, malam ini Bram tidak perlu mengemudi. Ia hanya diminta menenangkan pikiran. Karena selain memasangkan cincin tunangan, ia juga harus menyepakati tanggal pernikahan di bulan depan nanti. Maksimal menunda pernikahan hanya tiga bulan.
Tatapan Bram fokus ke samping, menatap suasana malam yang penuh kendaraan. Pikiran terus melayang memikirkan apa yang harus ia pilih sekarang, berjalan menuruti keinginan Anya atau memperjuangkan rasanya yang masih untuk Acha? Perempuan yang mungkin sama sekali tidak memikirkan nasibnya malam ini?
"Aduh ... Bram! Jangan banyak ngelamun, dia punya masalah apa, sih, Mba?" oceh Wina.
"Dasar, Bram emang suka gitu, Win," balas ibu Bram, padahal ia juga sangat khawatir takut saat acara di rumah Anya berjalan lancar, tetapi Bram menghancurkan semuanya.
Tidak sampai menghabiskan waktu setengah jam, akhirnya tiga mobil dari keluarga Bram sampai di depan rumah cukup megah milik Anya. Suasana di dalam sangat ramai, penuh dekorasi yang sudah disiapkan dengan penuh semangat. Mengingat Anya yang tidak gampang menaklukan Bram agar mau menerimanya. Setelah berjuang mendapatkan Acha dan dikecewakan.
Rombongan Bram disambut hangat, langsung dipersilakan masuk. Duduk beralaskan karpet lembut. Pernak-pernik di dalam rumah tidak perlu diragukan berapa harganya. Bram segera duduk di samping Anya yang sudah melempar senyum dari tadi untuknya. Bram membalas kaku. Anya tidak mempermasalahkan, toh ia tahu Bram mungkin belum bisa mengikhlaskan Acha.
"Selamat datang, kepada semua tamu dari keluarga Mas Bram yang kami tunggu kedatangannya dari jauh hari. Akhirnya bisa berjumpa, bertanya kabar juga berbagi cerita," sambut seorangt lelaki dengan setelan rapinya.
Anya berbisik, "Itu paman aku, Mas, dia jauh-jauh dari Solo, loh."
Bram tidak peduli. Karena ia tidak pernah meminta kepada Anya untuk mengundang paman jauhnya itu. Toh, mereka hanya melangsungkan tunangan yang wajarnya hanya dihadiri oleh keluarga saja.
"Untuk mempersingkat waktu, terlebih dahulu kepada Anya dan Mas Bram mungkin ada yang ingin disampaikan?"
Anya segera merapikan baju yang ia pakai. Gaun putih, dipadukan selendang warna abu yang disamakan dengan jas milik Bram.
"Terima kasih, atas kedatangan keluarga dari Mas Bram yang menghadiri acara sederhana ini. Semoga, harapan kita semua dapat berjalan lancar sampai hari H," harap Anya, tatapannya tak bisa berpaling dari Bram yang sebaliknya tetap menunduk, menatap kosong jemari yang dimainkan.
"AAMIIN!" sorak semua keluarga dari Anya ataupun Bram.
Paman Anya melirik Bram yang terus saja menunduk. "Mas Bram? Ngantuk, ya?" tanyanya diakhiri tawa untuk mencairkan suasana.
Bram mendongak memberikan senyum malu. "A—ah ... maaf, bisa dipercepat saja acaranya?"
Kedua orang tua Anya saling memandang, masih dengan suasana canggung karena Bram yang bersikap aneh. Akhirnya acara dilanjut membaca doa bersama agar acara berlangsung lancar juga hubungan Anya dan Bram semoga tidak ada halang melintang. Selanjutnya, memasang cincin.
"Cincinnya di mana?" tanya Anya, sebelum mereka berdua diminta berdiri untuk saling memasangkan cincin.
Bram merogoh kotak cincin di dalam sakunya. Anya tersenyum senang. Akhirnya inilah momen yang ditunggu-tunggu.
"Baiklah, sebagai simbol bahwa Mas Bram sudah mengikat Anya sebagai calon istrinya, dipersilakan saling menautkan sepasang cincin di jari manis."
Pertama, Bram harus memasangkannya ke jari manis Anya. Digenggamnya tanpa rasa, hampa. Tak ada detak jantung yang berpacu dengan cepat. Yang ada Bram malah memikirkan Acha, bayangan wanita itu melayang-layang.
"Lo mau 'kan jadi Devid gua sementara?"
"Bram! Lo itu harusnya bisa move on!"
"Om Bram ... Devit kangeen!!"
"Lo ke mana aja, Bram? Tumben gak nemuin gua?"
Ting!
Suara cincin berdenting, terlepas sebelum Bram memasangkannya di jari manis Anya. Seketika beberapa bisikan dari keluarga Anya terdengar, berfirasat bahwa hubungan keduanya mungkin takkan baik-baik saja.
"Bram," geram Anya, wajahnya sudah memerah menahan amarah.
Dengan polosnya, Bram menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Paman Anya menyerahkan cincin yang terjatuh ke lantai. Ditatapanya bola mata Bram, secepat kilat Bram berpaling.
"Maaf, jari saya tadi berkeringat," ucap Bram bohong.
Anya menggigit bibir bawahnya menahan amarah, sudah tidak bernafsu dengan acara memasangkan cincin itu. Seorang fotografer yang siap mengabadikan momen keduanya Anya hiraukan. Ia terlanjur kesal karena Bram sangat ceroboh! Mengapa cincinnya bisa terjatuh? Apakah Bram sengaja?
Selesai cincin dipasang, melingkari jari manis Anya, selanjutnya Anya memasangkan di jari manis Bram. Suasana kembali penuh senyum bahagia. Mereka tidak melupakan kejadian tadi, tetapi mencoba memeriahkan kembali acara. Jangan biarkan diam membisu karena memikirkan kejadian tadi. Semua keluarga segera mengantre untuk makan bersama, kecuali ibu Bram dan kedua orang tua Anya. Tidak lupa paman Anya ada di samping mereka juga.
"Bagaimana? Kita sepakati malam ini juga tanggal pernikahan kalian," ucap ayah Anya.
Anya memandang Bram. "Ada masukan gak, maunya kapan, Mas?"
"Terserah," balas Bram datar.
Note : Maaf baru upp, soalnya udah dimulai tatap muka lagi sekolahnya heheh. Mohon maklum ya