35. Gita, Si Cerewet

1142 Kata
"Benci jadi cinta. Benar adanya dan tanpa sadar sangat sulit 'tuk tidak dipedulikan. Karena rasa nyaman, enggan terpisahkan." Memang tidak ada undangan datang, menjelaskan status Bram setelah Acha dengan jelas menolak kehadiran lelaki itu. Dalam keadaan apa pun dan sekarang rasanya sulit melepaskan, setelah bertahun-tahun menjadi seseorang paling penting. Selalu ada dalam keadaan apa pun. Namun, tak seharusnya menyesal sudah melepas pergi. Jika pilihan kuatnya tetap mengharapkan Devid kembali. Menatap keadaan malam penuh ramai lampu kota. Secangkir kopi hitam yang masih mengepul menjadi teman sunyi, sedangkan di dalam kamar dengan lampu menyala terang. Devit tak mampu menahan senyum. Tatapannya sedang menanti tak sabar balasan pesan, dari seseorang yang ia masukkan ke daftar list orang tersayang. Gadis berkerung cantik. Yang terus saja meminta dibuatkan puisi lagi oleh Devit. Setelah permintaan waktu lalu sudah dikabulkan. Bukannya cepat mengabulkan permintaannya, sebaliknya devit malah menggoda Gita banyak bertanya soal apa arti kasih sayang di balik tema yang akan Devit bahas dalam puisinya. Gita juga bingung maksud dari tema tersebut, apakah nengungkap kasih sayang orang tua? Saudara? Atau malah seorang kekasih? Devit Sayang sama siapa, sih? Bingung ngerangkai katanya kalo belum tau siapa objeknya ;( Gita Terserahlah, mo sayang ama kucing juga! Cepet, ya, soalnya buat pembukaan acara di sekolah lain Devit Terserah? Ya udah objeknya cewek yang namanya GITA cerewet anaknya, baru juga sampe rumah udah nagih gak jelas! Kayaknya rada judes deh dia, kenal gak lu sama dia? Gita Lu nyindir gua? Kalo gak ikhlas ngomong! Lagian, ya, gua juga bisa buat puisi tapi gak sebagus punya lo. DASAR SOMBONG! SOK GANTENG! Devit hampir terbahak setelah membaca balasan dari Gita. Seketika tulisan online di layar hilang. Pasti gadis itu sudah muak meminta Devit agar segera membuatkan puisi lagi untuknya. Berkat puisi buatannya, yang dibaca penuh perasan oleh Gita dalam perlombaan. SMP Bima berhasil mendapat piagam penghargaan lagi, menambah koleksi piala berkat Gita dan Devit. Saat pengumuman hari senin itu, keduanya berjalan penuh bangga menghadap Kepala Sekolah dan ditonton oleh penghuni sekolah yang memberikan ucapan selamat dengan meriah. Dari sanalah, Devit melihat paras cantik Gita dari samping. Kedua alis hitamnya sangat lebat. Bukan hanya itu saja, hidung mancung bak seluncuran membuat Devit menelan ludah kasar lalu cepat berpaling. Tinggi tubuh gadis itu hanya sampai sebahu Devit. Kerudung menutupi dadanya semakin menambah kesan menutupi mahkota paling berharga, sedangkan perempuan lainnya malah dengan bangga memamerkan daerah tertutup mereka. Walaupun sangat terlihat wajar, tetapi jika ditutup rapat kesannya bahwa dia spesial. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya. "Gua bukan TV yang bisa lo liatin seenaknya!" Devit tersadar. "Emang siapa yang bilang lu TV?" "Lah, lu liatin gua gak kedip-kedip juga!" protes Gita, inginnya ia segera meninggalkan perpustakaan lalu mulai menghafal puisi karangan Devit. Namun, sangat disayangkan karena makhluk bernama Devit itu bukannya membuatkan puisi untuknya. Ini malah diam membisu menatap wajah Gita. Apakah ada sisa nasi yang menempel? Atau mungkin sebuah jerawat yang tumbuh tanpa diundang? "Gua 'kan lagi mikir, Git, lo tadi udah izinin jadi objek karangan puisi tema kasih sayang!" balas Devit membela diri. Gita mengembuskan napas kasar. "Ya udah! Mikirnya jangan lama-lama!" Devit mengulum senyum. "Kenapa, sih, ngomongnya gak bisa lembut apa? Perasaan ngegas mulu," komentarnya dan berhasil memancing emosi Gita lagi. "LO, TUH, Y—" "PMS?" potong Devit, lalu pulpen di tangannya segera mendarat di atas kertas putih. "Menyayangi seseorang selalu tanpa alasan, kecuali menyayangi mereka yang paling berarti di setiap liku kehidupan." Gita mengiyakan apa yang Devit tulis di dalam kertas. "Kadang, orang baru juga bisa disayangi dalam waktu singkat. Hanya, mungkin karena momen langka dalam kehidupannya?" "Momen langka kek gimana?" tanya Devit. Gita berpikir sejenak, lalu menjawab, "Memberikan payung di saat hujan datang dengan tergesa? Sampai tak mampu berlari untuk menghindari tetesan air langitnya? Bukannya itu momen romantis yang sulit dilupakan?" Kedua bola mata Devit lekat memandang mimik wajah Gita yang mengutarakan pendapatnya. "Kalo penolong itu malah ngajak hujan-hujanan gimana?" "Aduh ... emang ada? Yang ada dia, tuh, ngajak sakit bareng!" "Kalo emang mau sakit bareng gimana? Kenpaa lo protes?" Gita tergagap, "B—bukan protes! Kalo gua yang diajak hujan-hujanan pasti nolak, gitu maksudnya!" Devit menganggukkan kepalanya. "Siapa juga yang mau ngajak lu ujan-ujanan," sindir Devit seraya beranjak pergi, menandakan bahwa ia akan menghabiskan waktu merenung siap membuat puisi. Gita tetap diam di tempat. Lalu memilih membaca buku novel yang ia pinjam kemarin. Dari deretan rak buku, sudut mata Devit mengintai gerak-geriuk gadis itu. Bermain hujan dengan gadis keras kepala dsan luar biasa cerewet? Mungkin bisa jadi tantangan baru? Namun, bagaimana caranya air dari langit akan datang menerjang? Membiarkan Devit menarik tangan Gita lalu berteriak di tengah bisingnya gemuruh hujan. Suara rintik hujan menjadi momen favorit bagi Devit juga. Karena ia sering sekali mendapati ibunya keluar, menghirup harum air langit, tetapi kebanyakan selalu megurung diri diam-diam menangisi masa lalu yang sudah Devit dengar dari mulut ibunya itu. Selalu memiliki cerita luka dan bahagia. Itulah kehidupan, jangan menyesali telah melaluinya diawali kegagalan. Butuh proses dalam segala hal, termasuk mendapatkan kekasih dambaan. Selesai dengan rangkaian puisinya, Devit menyerahkannya kepada Gita. "Nih!" Terpaksa Gita menghentikan bacaannya, lalu menarik secarik kertas dengan beberapa coretan tangan Devit. Bukannya pergi dari hadapan, Devit malah menekuk kedua tangannya di atas meja. Menatap dengan sabar Gita yang mulai membaca dalam hati. Mengetahui tatapan maut Devit, dengan cepat Gita menatapnya balik tajam. "Nunggu apalagi? Udah, kan?" ujarnya kesal. Devit menegakkan tubuhnya. "Nunggu ujan dateng!" ketusnya, lalu keluar dari perpustakaan meninggalkan Gita yang menahan kesal. "Sok ganteng! Jutek! Ngeselin ... lagi!" gerutu Gita. Devit yang sudah menjauhi perpustakaan berjalan lurus, melewati beberapa siswa yang menyapanya penuh semangat. Sampai ada yang senggol-senggolan mulai cari perhatian. Devit sudah terbiasa, mengingat umurnya yang lebih muda, juga beberapa prestasi yang banyak diketahui orang mengharuskannya bersikap manis dan sewajarnya. Ucapan orang yang tidak menyukainya tak menjadi masalah besar. Yang terpenting, Devit sama sekali jangan sampai merendahkan apalagi mengajak teman dekatnya berbuat onar. Sesampainya di dalam kelas, tiga manusia yang tak diharapkan datang sudah menyerbu siap melayangkan tanya. Dari mana saja Devit? Bukankah jam istirahat seharusnya dihabiskan hanya bersama Nesha saja? Gadis yang sudah menyebarkan berita bohong bahwa ia telah menjadi pacar Devit. "Ihhh! Tau, gak, aku sampe harus naik turun tangga buat nyari kamu, Dev! Ke mana aja, sih?!" Devit tersenyum kecil. "Udah BAB, sorry, kelamaan, ya," balasnya berbohong. Bola mata Nesha terbelalak, seketika dua dayangnya meringis jijik. "Bau, ya? Balik sana, udah mau masuk juga!" Nesha terpaksa mengajak dua temannya itu keluar. Padahal sudah menunggu Devit lama, diam-diam Devit mengingat kejadian bersama Gita tadi saat Nesha mencarinya ke dalam perpustakaan. "Gila, lu, ogah gua!" tolak Gita, saat Devit mengajaknya bersembunyi di bawah meja berdua. "Cepet! Lu mau diteror pertanyaan sama tuh manusia! Terus gak bakal selese, tuh, puisi hari ini juga, mau lu?" Dengan wajah kesal, Gita terpaksa menurut. "Kenapa, sih, gua harus berurusan sama manusia macem, lo!" gerutu Gita, sebelum menundukkan kepalanya siap bersembunyi di samping tubuh Devit. "Hanya Allah yang tahu, Git ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN