It's The Time

1089 Kata
“Perintahmu nggak bisa ditolak ya?” ujarku dengan ekspresi wajah kesal. “Itu sepaket dengan konsep Istri Terbaik,” jelasnya sambil menatap lekat. “Hem ... baik, laksanakan perintah” ujarku mengiyakan. “Kesh ...,” ucapnya membuatku pilu, entah ... aku jadi merasa ingin marah. “Aldar, please deh!” seruku sambil membesarkan mata dan mencubitnya. “I-iya aku nggak ngomong itu lagi, padahal aku pengen banget Kamu ikut,” ucapnya sambil mengusap-usap bekas cubitan. Jangan bertanya yang membuatku tambah sedih, begitu kalimat yang terulang dalam hati. Seperti sebuah pertanyaan dari dunia lain dan harus dijawab dengan dunia yang berbeda. “Kesh!” “Apa lagi sih?” seruku yang masih merasa dongkol. “Em ... kenapa ayahmu memberi nama Marakesh?” Pertanyaan itu membuatku tertawa. “Emang kenapa?” ucapku yang sedikit menyesal karena telah menuduh ia bakal melanjutkan pertanyaan awal. “Apa karena ayahmu seorang pendidik em ... guru sejarah mungkin atau kedua orang tuamu bertemu di Maroko mungkin ..., namamu nama ibukota negara itu ‘kan?” ucapnya, mungkin ia mencoba meredakan emosiku yang mulai tampak nyata. “Ya ‘kan terserah ayahku mau kasih nama apa,” jawabku dengan kecepatan maksimum. Aldar tergelak. “Memang di duniamu semua serba terserah,” ujarnya sambil memelukku. Mata ini mulai menghangat, sepertinya stok air mata ingin mengalir. Aku berusaha sebisa mungkin menahannya. Malam berlalu begitu cepat. Sepertinya mata ini baru terpejam dan kini sinar matahari menyilaukan mata. Pasti tirai kamar ini sudah dibuka Aldar. Aku meletakkan tangan di atas mata agar sinar itu tak menembus mata yang tertutup. “Kok nggak ada suara Aldar ya? Biasanya teriakannya membangunkan aku dari tidur yang nyaman sudah terdengar di saat cahaya matahari sudah menerpa seperti ini?” ucapku dalam hati. Em... mulai besok seratus persen suara itu tidak akan terdengar lagi, kita sudah kembali ke dunia masing-masing. “Eh apa dia sudah pergi?” Kembali hati ini berbisik. Pelan-pelan aku mengangkat tangan sebelum membuka kelopak mata untuk mengetahui keberadaannya. “Ah ...,” ucapku pelan ketika membuka mata. Laki-laki yang ingin kucari ini ternyata sedang duduk di samping tempat tidur sambil menatap wajah ini. “Aku nggak papa kalau ketinggalan pesawat hari ini, Kesh,” ucapnya sendu. “Apa sih ...?” balasku dengan suara malas sambil beranjak dan bergegas menuju kamar mandi, dalam hati aku mengiyakan ucapannya. Sama aku juga. Tetapi, walaupun pesawat keberangkatan tertunda tiap hari, suatu ketika memang kami harus benar-benar kembali ke kehidupan masing-masing. Dia dengan dunia dan statusnya, aku dengan rencana-rencanaku. Hari ini Aldar seperti enggan bergerak, pun aku sebenarnya merasakan hal serupa. Kami duduk di lobi tempat menginap ini menunggu mobil yang akan mengantar ke bandara. “Beberapa bulan ini ternyata hidup kita seperti kehidupan purbakala ya? Nomaden, berburu dan meramu,” celetukku memecah keheningan, laki-laki ini jadi lebih banyak diam. “Maksudnya berburu dan meramu di supermarket?” ucapnya ringan. Aku tergelak mendengar candanya. “Ya maksudnya yang pindah-pindah tempat,” jelasku sambil terkekeh. “Em ... nanti urusanku kutitipkan ke pengacara ya,” ucapku dengan suara yang hampir-hampir tidak bisa keluar dari kerongkongan. Laki-laki yang duduk di sampingku dengan menyilangkan kaki ini tidak menyahut. Beberapa detik kemudian tak satu pun suara tampak akan keluar dari mulutnya. “Aldar!” seruku, dan laki-laki ini masih diam. “Al-,” Enggak sabar aku menunggu jawabannya, tangan ini kembali bergerak dan mencubit lengan kekar ini. “Iya aku dengar Marakesh ..., Sayang ...,” ucap Aldar sambil menangkap tangan ini dan kemudian memeluk dengan erat. Oh! Yang benar saja, pernikahan apa ini? Dengan posisi dan kemesraan seperti ini tetapi membicarakan perceraian. Ada dua kutub perasaan yang bergolak dalam hati dan bertabrakan membuat sebongkah rasa ngilu yang menyesakkan d**a. “Apa secepatnya Kamu akan mencari pasangan lagi, Kesh?” bisik Aldar dengan nada sedih yang kental. “Ngomong apa sih ...?” seruku sampil menepuk tangan yang memeluk erat ini. “Menurutmu gampang bagiku melakukan hal seperti itu? Udah jangan mikir yang enggak-enggak!” seruku kesal, ah ... andai ...andai dia tahu sedang ada kecelakaan besar dalam hati ini tentu dia tidak akan mengatakan hal seperti itu. Aldar tetap diam sampai mobil yang ditunggu datang. Walaupun aku berharap waktu melambat, tetapi tetap saja, kenyataan tak mengabulkan harapan ini dan mobil ini sampai juga ke bandara. “Tolong jangan menangis di depannya!” Begitu kuteriakkan berulang kali dalam hati. “Kesh, tujuan kita beda,” ucapnya sambil menyerahkan tiket. “Ha?” seruku kaget. “Em ... aku harus pergi ke negara lain,” jelasnya dengan suara lembut. “Oh!” jawabku dengan sedikit menyesal, kupikir kita bakal satu pesawat dan lebih lama berada di dalam pelukannya seperti dalam perjalanan tadi. “Kamu ingin kucarikan teman?” ucapnya sambil merogoh sakunya, mungkin mencari mobilphone-nya. “Eng-enggak, nggak perlu.” Sebenarnya aku ingin merajuk, menunjukkan kekesalan, tetapi itu mungkin jika hal ini terjadi beberapa bulan kemarin. Laki-laki ini menangkup kepalaku dan menatap dengan teliti setiap sudut wajah ini. “Aku pasti akan merindukanmu setiap waktu, Kesh ...,” ucapnya dengan nada sedih. Tahu enggak Aldar kalau saat ini saja aku sudah merindukanmu? Sayang sekali mulut ini berubah menjadi mode terkunci. “Kamu gadis yang logis, tentu kamu dengan cermat mempertimbangkan banyak hal. Aku berharap konsep Hidup Bersama Selamanya itu akan ada,” lanjutnya sambil tersenyum. “Terima kasih ya, Kesh ... walaupun sebentar, tapi itu momen paling bahagia dalam hidupku,” ucapnya sambil mengusap pipiku. Pemberitahuan untuk segera check-in dengan tujuan negara masing-masing terdengar bersautan. Aldar memelukku erat. Aku ingin juga membalas pelukannya, tetapi sepertinya itu bakal menambah perih sesuatu dalam hati ini. “Hari ini sepi sekali, Kesh. Nggak ada yang mendebatku.” Duh perih itu makin mengiris mendengar ucapannya. “Pergilah! Jangan sampai ketinggalan pesawat,” candanya sambil tersenyum. Kemudian, aku mengambil tangannya meletakkan di pipi dan kemudian melepasnya, berbalik, berjalan tanpa menoleh. Tidak! Jangan sampai laki-laki itu melihatku menangis. Aku mempercepat langkah kaki agar segera sampai ke pesawat. Untung proses check-in dan masa menunggu pesawat tidak terlalu lama. Tubuh ini langsung terasa lemas ketika sampai di kursi pesawat. Aku tahu waktu ini akan datang, perpisahan pasti terjadi, tetapi tak menyangka bakal sesakit ini. Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dan ketika melihat layar, terpampang satu laporan uang masuk dalam jumlah besar. Dari siapa lagi coba? Akhirnya air mata yang sudah lama tertahan ini tumpah, perasaan ini campur aduk tak menentu, kubiarkan beberapa orang yang berjalan kadang melirik ke arahku. Biarkan saja, aku tak peduli, yang penting perih ini sedikit berkurang. Mungkin karena lelah menangis mata ini terpejam. Tiba-tiba tangan ini terasa ada yang menggenggam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN