Tangan siapa? Dalam hati sibuk bertanya, pikiran ikut menerka-nerka, sayang sekali kelopak mata ini sulit dibuka. Sebentar kemudian sepertinya aku masuk ke dalam tidur yang lebih dalam, berharap setelah mata ini terbuka, tangan yang berada dalam genggamanku adalah milik Aldar.
Entah berapa lama tubuh ini pulas tertidur, yang jelas ketika mata ini membuka, tangan ini terasa kembali dingin.
“Ah!” keluhku kesal.
Ini bukan kisah dari sebuah filem di mana ketika dua tokoh utama yang digambarkan berpisah, ternyata di scene berikutnya tokoh yang lain telah berada di sampingnya dan menggenggam tangan tokoh yang lain, setelah itu muncul tulisan mereka hidup bersama dan bahagia selama-lamanya. Sepertinya aku hanya mimpi.
“Ah ...!” keluhku berulang untuk mengeluarkan rasa kesalku, harusnya aku sadar.
“Ya?” seru sebuah suara perempuan.
“Hah!” seruku terkejut.
Ternyata di sampingku duduk seorang perempuan berkacamata dengan rambut yang sudah memutih.
“Oh ... maaf, Bu. Saya tadi baru saja mimpi buruk,” jelasku sambil tersenyum sungkan.
Perempuan yang sudah tidak muda itu mengangguk dan tersenyum, mengatakan tidak apa-apa lalu menyandarkan punggung dan kemudian memejamkan mata.
Gerak angka di jam digital seolah macet, waktu terasa enggan berjalan tanpa Aldar di sisiku lagi. Syukurlah setelah ribuan kilometer dilampaui pesawat ini, akhirnya besi terbang ini mendarat di bandara negara sendiri dengan selamat. Aku memutuskan menjadi penumpang yang terakhir turun. Desak-desakan tentu bakal menambah mood ini tambah hancur. Walaupun hal itu tidak mungkin, imajinasi bergerak tak terkendali, membayangkan Aldar sudah berada di terminal kedatangan bandara ini dan menyambutku dengan senyumnya yang ternyata sudah membuatku rindu.
“Hei! Sadar! Ini dunia nyata, bukan drama yang biasa ditonton orang-orang,” seruku pada diri sendiri dengan suara lirih.
Untung saja tidak ada yang memperhatikan aku saat ini, jika tidak, bisa-bisa dikira orang yang gak beres. Karena hanya membawa baju yang ada di dalam tas punggungku, jadi dengan senang hati melewatkan turunnya bagasi barang yang tentu saja lama. Em ... menurutku satu koper berisi baju-baju cuaca dingin yang dibawa ke negara itu tidak akan diperlukan di negara dua musim ini. Memang ada juga baju-baju yang masih bisa digunakan di negara ini, tetapi dengan membawanya ke sini, tentu akan menambah kesedihan.
Bukan! Bukan kota asal, destinasi selanjutnya. taksi ini menuju satu kota yang telah kurencanakan ketika melihat sisa uang untuk bayar utang beberapa bulan yang lalu. Kota tempat melanjutkan pendidikan. Ya ... tentu saja, setelah mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan, dengan sisa uang ini masa depan harus diukir.
“Terima kasih, Pak,” ucapku pada sopir taksi setelah menyerahkan sejumlah uang begitu mobil angkutan ini sampai di tempat yang telah kupesan sebelum berangkat ke Bali.
Dengan cepat taksi itu segera meluncur meninggalkan jalan raya ini. Di depan mata kini menjulang satu bangunan belasan atau mungkin bahkan puluhan lantai.
“Dengan Marakesh?” ucap pengelola bangunan bertingkat ini ketika aku sampai ke bagian kantornya.
Aku mengangguk dan perempuan ini segera mengeluarkan berkas serta kunci kemudian menyerahkan barang-barang setelah jari ini membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas yang ditunjuk. Berikutnya briefing peraturan, hak dan kewajiban sebagai penghuni apartemen ini diberitahukan dengan cepat.
Syukurlah, akhirnya aku sampai di kamar dengan tipe studio yang menurutku cukup untuk hidup sendiri. Walaupun apartemen ini tidak tergolong mewah, tetapi keamanannya kurasa cukup lumayan. Mungkin karena pengalaman pahit pernah berurusan dengan banyak debt collector, jadi, keamanan berlapis di bangunan ini membuatku merasa aman. Sekuriti 24 jam, cctv dan pintu rangkap manual dan smartlock tersedia. Kamar yang dibeli dalam keadaan kosong ini hanya terisi dengan beberapa benda pendukung yang memang perlu saja. Hemat. Banyak lagi yang harus dikeluarkan untuk pendidikan dan lain-lain.
Hidup baru dimulai, setelah beberapa hari menghabiskan waktu dengan menangis, dengan perpanjangan kesepakatan yang ditambah satu setengah bulan, aku hanya memliki waktu yang singkat untuk mempersiapkan kuliah disalah satu universitas swasta yang ternama di pusat kota ini. Untungnya, tempat yang kutinggali berjarak cukup dekat, dengan bantuan angkutan kota mempercepat persiapan yang pendek ini. Untuk urusan perceraian kuserahkan pada seorang pengacara yang juga berkantor di kota ini. Namun, bulan demi bulan berlalu, urusan itu tak kunjung membuahkan hasil. Selain menunggu kabar itu, waktu kuisi dengan giat belajar agar kuliah ini cepat selesai dan cepat membuahkan hasil.
Dan waktu yang berlari bagai anak panah yang melesat dari busur, hari ini setahun sudah berlalu dari hari pertama aku menginjakkan kaki di kota ini.
“Kesh!”
Aku menoleh, Denis yang duduk se-meter di sebelahku menunjuk dengan isyarat gerakan kepala.
“Lihat!” serunya sambil kembali melakukan hal yang sama, aku mengikuti isyaratnya.
“Jadi, cewek itu kayak gitu lo, Kesh. Bajunya membuat dia tambah cuan ... tik dan men ... nuarik,” ucapnya dengan sengaja membuat penekanan dan memperpanjang definisi kata yang disukai para wanita.
“Lihat Kesh! Rok selutut, kemeja press body, blazer, rambut rapi, wangi, dandan cantik, uhm ...,” lanjutnya sambil menatap tak berkedip pada cewek dari jurusan lain yang tengah menyambangi pacarnya di jurusan ini.
“Press body, kayak mobil aja,” celetuk suara yang juga ikut menunggu di ruang kelas, beberapa menit lagi, kelas kami akan dimulai.
“Dia ‘kan memang jurusan akuntansi wajarlah,” bela Zahdan tegas.
“Bukan begitu, Dan ..., coba kalau Marakesh dandan seperti itu, pasti tambah terkenal ‘kan jurusan kita. Wah ... ada cewek paling cantik di jurusan yang didominasi para cowok, gitu,” jelasnya dengan ekspresi seolah kagum dengan ungkapan yang belum nyata itu.
“Nggak gitu aja udah paling cantik, gimana nggak, satu jurusan aja, ceweknya cuma tiga, dan dandanannya mirip-mirip,” celetuk yang lain sambil ikut memperhatikan sepasang kekasih yang duduk agak jauh dari kerumunan kami.
“Emang kalau terkenal gitu untungnya apa buatku,” ujarku sambil meluruskan kaki.
“Betul itu, aku dukung kamu, Kesh,” sahut Dena semangat.
“Yang untung kalian, kan? Bisa cuci mata, lihat! Dari tadi menatap tak berkedip ke pacar orang,” protes Kya Sewot.
Kami bertiga yang beda gender dengan para cowok dalam jurusan ini selalu kompak.
“Tenang ... tenang ...!” seru Dennis.
“Kalau kalian tampil dengan begitu indah gitu, selain untuk diri kalian sendiri ‘kan, bakal attract cowok-cowok. Contohnya aku, aku ‘kan jadi mau sama Kamu, Kesh,” lanjutnya sambil merentangkan kedua tangan.
“Wooo ....” Kompak terdengar suara dari kami yang berkerumun di depan ruang kelas.
“Kamu kayak gitu aja aku juga mau sama Kamu kok, Kesh,” ucap Zahdan setelah koor tak teratur itu mereda.
“Ah ...,” keluhku lelah.