Perkembangan Terbaru

1088 Kata
“Jangan ganggu Marakesh!” seru Julian yang dari tadi berdiri bersandar di dinding kelas. “Hei manusia, Kau salah jurusan, kalau jadi pembela, ambillah jurusan hukum,” seru Dennis sewot. “Aku ingatin biar Kau nggak terjebak dalam kegiatan bersakit-sakit dahulu malah mati kemudian,” balas Julian santai. “Tuh kata-kata apa doa sih?” protes Dennis tak terima. “Kalau aku terima Marakesh apa adanya, Kau bela aku ‘kan Jul?” tanya Zahdan berharap. “Peringatan tadi juga untukmu, Kawan,” jawab Julian dengan ekspresi prihatin. “Huuu ....” Koor suara kembali terdengar bersahut-sahutan. “Dengar-dengar hei kalian semua klan cowok, apa pun yang kalian katakan kita tetap akan menjadi the best version of us, cam ‘kan itu!” seru Kya sambil berdiri. “Setuju ...,” seruku sambil bertepuk tangan. Dena ikut melakukan hal yang sama. Ya ... walaupun isi klan cewek enggak sampai lima jari, tetapi jika berbarengan teriak tetap rame. Keriuhan langsung berhenti begitu dari kejauhan dosen terlihat mendekat. Kerumunan di depan kelas bubar karena semua masuk ke kelas untuk memulai proses belajar. Hari ini aku harus berusaha berkonsentrasi dengan sempalan dunia coding yang sedang ditransfer ke dalam pikiran ini. Konsentrasi yang dengan keras kubangun terganggu dengan proses perceraian yang masih berkabut. “Hari ini kita akan membuat dan membuka file hanya dengan coding Phyton,” ucap dosen laki-laki berkaca mata itu. “Jangan lupa untuk menggunakan syntax open, seperti biasa misalnya kita akan membuat text file dengan nama ‘“Helloworld.txt”’. Jadi, file baru = open ( “Helloworld.txt”, “a” ). Nah, “a” di sini adalah Append. Jika ingin membuka, “a” ini diganti dengan “r” di mana variabel itu adalah Read ....” Suara dosen itu seakan kadang mendekat dan kadang menjauh. Aku melirik ke kanan dan kiri, mereka semua sedang fokus pada apa yang sedang dijelaskan oleh dosen. Uh ... sepertinya aku tidak bisa seperti mereka dan harus mencari referensi lain di perpustakaan untuk subject ini. Ampun ... proses perceraian itu tak jelas itu benar-benar mengganggu. “Aldar! Kamu ngapain aja sih?” jeritku dalam hati. Tak terasa tangan ini menggenggam erat menahan geram. “Perhatikan baris berapa yang akan kalian buka ....” Suara Dosen tertangkap di telinga dengan sempurna. “Kita cukupkan ini dulu, siapkan tugasnya dan jangan lupa jadwal untuk quiz, selamat siang,” ucap dosen itu sebagai penutup. Dosen itu kemudian keluar kelas diiringi keriuhan yang keluar dari mulut-mulut yang tadi terdiam. “Akhirnya ... selesai, sudah tak tahan aku mau jalan,” seru Dena dengan ekspresi bahagia, yang lain menimpali dengan celetukan-celetukan yang menambah gaduh. “Aku juga sudah tak tahan ingin ke kantor pengacara, Den,” ucapku dalam hati. “Jadi gimana Kesh? aku juga siap berjalan denganmu,” seru Zahdan yang duduk di bangku pojok. “Huu ....” Suara riuh kembali terdengar. “Udah jalan sama aku aja Kesh, ada spot cantik yang bisa kita kunjungi,” bujuk Dennis tak mau kalah. “Katanya disuruh pakai baju cewek dulu,” celetuk yang lain. “Huu ....” Suara ribut kembali terdengar, bahkan kali ini beberapa cowok bersuit-suit. Kami semua bergegas keluar kelas setelah membereskan alat tulis dan laptop kami masing-masing. “Kesh makan bareng yuk!” seru Dennis sambil menjajari langkahku. “Sorry aku keburu,” balasku sambil mengacungkan dua jari. “Wuih bisa-bisanya melewatkan tawaran influencer top,” sahut Dennis sambil nyengir, kontan suara huu terdengar lagi. Aku bergegas keluar kampus dan mencari angkutan yang menuju kantor pengacara. Walaupun masih berada dalam satu kota, tetapi kantor pengacara berada di ujung utara kota ini. Kadang aku bertanya, sama tak ya yang kulakukan ini dengan apa yang dilakukan chicken kampus? Ya walaupun dari sisi cerita yang berbeda, tetapi garis besarnya sama, kan? Sama-sama demi uang. Untuk apa pun uang itu digunakan. Ada rasa luka dalam d**a ketika pikiran ini melintas. Aku menghela napas panjang agar luka itu mereda sakitnya. Enggak perlu usaha keras untuk mendapatkan angkutan umum di jam-jam ini dan hanya butuh sekitar dua puluh lima menit untuk kendaraan roda empat ini untuk sampai ke tempat tujuan. Sebuah ruko besar dengan papan nama terpampang di depannya. “Selamat datang, Nak,” ucap pengacara yang kusewa ini ketika aku sudah berada di kantornya , aku tersenyum menyambut sapaannya. “Maaf lama menunggu,” ujarnya untuk waktu yang terbuang selama sepuluh menit di ruangan ini sebelum ia datang. Pengacara ini adalah teman ayah semasa hidup, teman dekat malah. Laki-laki ini mengetahui dengan tepat apa yang terjadi dengan keluargaku. Dan ia cukup prihatin dengan keadaan yang menimpaku sebelum ini. Meskipun begitu, laki-laki dengan rambut yang sudah memutih ini sangat terkejut mengetahui pernikahan kesepakatan yang kujalani. “Apa Marakesh sehat-sehat saja?” ucapnya setelah duduk di kursinya. “Iya, sehat banget, Om,” balasku sambil tersenyum. “Kuliahnya lancar?” lanjutnya sambil membuka satu berkas. “Iya, syukur tidak ada halangan,” balasku lagi sambil tersenyum. “Om akan me-review apa sudah kita lakukan dan perkembangannya, oke?” ucapnya sambil menatapku lembut. “Ya, Om,” ucapku sambil mengangguk. “Begini, pertama kasus ini masuk, Om langsung menghubungi nomor kontak dan alamat dari dokumen Kamu. Dan suamimu itu tidak dapat dihubungi. Kontak selanjutnya mengatakan beliau sedang berada di luar negeri. Lalu, kontak berikutnya beliau menunjuk pengacara karena kesibukan yang dijalani. Em ... mungkin ini pendapat pribadi Om ya, Om merasa, pihak pengacara ini, entah bagaimana terkesan mengulur-ulur waktu. Email yang seharusnya dibalas cepat, terkadang ditanggapi dalam waktu yang lama,” jelas Om Ronald ditutup dengan embusan napas panjang. Laki-laki ini diam sejenak lalu menatapku dengan penuh perhatian. “Apa pernikahan ini dirahasiakan dari keluarga suamimu?” tanyanya tanpa berkedip. “Ya?” jawabku terhenyak. “Em ... e-e ... mungkin saja, Om, bisa jadi,” jawabku tergagap, tiba-tiba aku teringat tebakanku ketika aku dan Aldar membicarakan hal yang berkaitan dengan itu. Ya, bisa jadi pernikahan itu memang disembunyikan dari keluarganya. Em ... lalu, siapa tamu-tamu itu, siapa juga orang-orang di kantor pemerintah itu. Ini membuatku bingung dan banyak pertanyaan yang bersliweran di kepala. “Memang kenapa, Om?” tanyaku untuk sedikit menurunkan kadar penasaran. “Pihak sana juga meminta ini untuk dirahasiakan,” jelasnya sambil saling menangkupkan kedua jari-jarinya. “Sebagai perkembangan terbaru ... Em ... yang akan Om sampaikan ini entah merupakan berita baik atau berita buruk untukmu, Nak,” lanjutnya sambil sedikit menganggukkan kepala. “A-apa itu?” balasku dengan sedikit deg-degan. “Em, suamimu membatalkan kesepakatan itu,” ucapnya hati-hati. “Hah?” teriakku tanpa sadar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN