“Mak-maksudnya gimana ya, Om?” seruku tanpa meminta maaf karena telah berteriak kaget.
“Perinciannya akan dijelaskan lebih lanjut pada pertemuan Om dengan pengacara suamimu berikutnya. Bisa jadi kesepakatan berlanjut, ada pembaharuan kesepakatan atau batal dan jika itu terjadi otomatis Kamu tetap menjadi istrinya atau bisa juga mungkin ... ada yang lainnya.” Penjelasan Om Ronald terasa enggak jelas dicerna otak ini.
“Kesepakatan bukannya harus dikedua belah pihak, Om?” protesku heran.
“Iya, tapi ... suamimu itu sepertinya tak ingin menceraikanmu,” lanjut pengacara ini.
“Duh ... kok gitu sih ...,” keluhku geram.
“Sebentar, Nak,” ucap Om Ronald.
Laki-laki seusia bapakku ini beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan ke luar ruangan dan beberapa menit kemudian kembali masuk sambil membawa nampan berisi secangkir teh yang uapnya menyebarkan aroma wangi.
“Minum dulu, Nak,” ucapnya sambil meletakkan cangkir keramik putih itu di dekatku.
Aku menghirup aroma teh yang wangi itu.
“Terima kasih,” ucapku sambil sedikit meniup dan menyeruput teh itu.
“Em ... apa Kamu nggak mau ini menjadi pernikahan sesungguhnya, Nak,” kata laki-laki ini dengan lembut.
Aku terdiam, lalu meletakkan cangkir ini ke atas meja.
“Em ..., apa akan baik-baik saja?” ucapku ragu, bukan tak mau sebenarnya.
Pengacara yang kini kenal dengan baik keadaanku ini menghela napas panjang.
“Om mengerti alasanmu, Nak,” ujar laki-laki ini sambil menyandarkan punggung ke kursi lalu menatap dengan pandangan menerawang.
“Keluarga itu memang berpengaruh. Bahkan, di beberapa bidang sangat berpengaruh,” ucap Om Ronald masih dengan pandangan mata menerawang.
“Keluarga ...?” tanyaku mengambang.
“Harran,” jawab laki-laki ini tanpa mengubah posisi badan.
“Harran?” tanyaku lagi.
“Ya, keluarga suamimu. Keluarga Harran,” jelasnya, lalu diam sejenak.
“Kamu tak tahu itu?” ucapnya dengan ekspresi wajah heran.
Aku menggelengkan kepala.
Pengacara yang telah lama membuka usaha di bidang hukum ini kemudian tersenyum.
“Tentu saja, dalam dokumen nikah itu tidak disertakan nama keluarga. Biasanya memang di negara ini kadang nama keluarga bisa dilekatkan atau tidak ... ya kecuali memang telah dibubuhkan pada akta lahir. Berbeda di luar negeri. Meskipun demikian, suami itu memang seorang Harran. Aldar Andromeda Harran,” jelas teman ayakku ini sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Oh,” ucapku pelan tanpa memahami maksud dari apa efek dari nama keluarga itu.
“Di garis keturunan lurus ke atas masih ada darah jerman mengalir di tubuhnya,” jelasnya lebih lanjut.
“Oh,” sahutku tanpa menduga jika laki-laki yang kemarin bersamaku itu memiliki hal yang diungkapkan barusan.
Om Ronald geleng-geleng kepala sambil tersenyum mendengar aku hanya mengatakan oh.
“Atau mungkin ada alasan lain, em faktor internal yang kita tidak mengerti hingga di dalam dokumen hanya tertulis sebagai Aldar Andromeda seperti yang Marakesh ketahui,” ucapnya, mungkin untuk menyelamatkan muka ini agar tidak tampak clueless.
Aku hanya tersenyum menyeringai, karena tak ada informasi tentang Aldar yang tersimpan di pikiran selain apa yang kulihat ketika bersamanya.
“Em ... Om apa ada cara lain, em maksudnya langkah hukum lain agar kesepakatan itu berakhir sesuai rencana?” ujarku setelah sejenak tertunduk.
“Saya dengar ada perceraian sepihak dan pasangan tinggal menerima surat cerainya,” lanjutku mencoba mencari celah.
“Bisa. Itu pernikahan yang dipisahkan melalui tangan hakim karena sebab yang kuat. Em, tapi itu artinya tetap terbuka, karena proses pengadilan akan dilakukan di sini secara terbuka. Dan mungkin pihak keluarga suamimu itu bisa tahu. Karena keluarga itu adalah keluarga yang penting di beberapa sektor perekonomian lintas negara, jadi mungkin jika masalah ini mencuat, bisa jadi itu akan digunakan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan sebagai celah.” Laki-laki ini mengatakan dengan dengan nada suara penuh penekanan.
“Oh,” kataku melongo, aku benar-benar enggak tahu telah berurusan dengan siapa.
“Jadi, apa yang bisa saya lakukan, Om?” ucapku setelah keheningan mendominasi di antara kami.
Pengacara ini diam sejenak. Lalu, mengangkat punggung dari sandaran kursinya.
“Bagaimana kalau Kamu menghubunginya secara pribadi, Nak?” ucapnya pelan.
“Hah!” Mulut ini kembali terbuka tanpa kontrol.
“Bisa jadi itu yang suamimu inginkan atau mungkin malah Kamu bisa membujuknya,” saran Om Ronald.
Duh! Kepala ini auto menunduk. Nomer kontakku yang dulu langsung musnah ketika memulai hari baru. Dimusnahkan tepatnya. Bukan hanya nomor kontak itu telah terkenal di seantero rentenir di kota asal, tetapi di nomor itu tersimpan nomor kontak Aldar yang mungkin bakal menambah hati ini ambyar. Menurutku hati ini bakal lebih selamat jika tidak mendengar suaranya, takut kena mental.
“Gimana, Nak?” desak Om Ronald.
Huh ... helaan napas ini semoga menjadi tanda keterangan untuk Om Ronald bahwa aku selalu kalah dengan Aldar. Eh itu kan dulu, mana tahu sekarang enggak ya? Ah tapi, mending enggaklah. Dalam hati ini berdebat sendiri.
“Em ....” Ucapan ini ternyata tak sampai di bibir, kepala ini menggeleng sebagai ganti.
Pengacara ini mengembuskan napas panjang melihat gelengan kepalaku.
“Kalau gitu kita hanya bisa menunggu ...,” ucapnya tanpa daya.
Kaki ini melangkah lunglai meninggalkan gedung milik pengacara ini setelah berpamitan. Salahku ... salahku yang tidak mengetahui siapa yang dihadapi. Naif. Angkutan yang akan membawaku pulang berada di seberang jalan, jadi dua jalan raya dengan arus yang beda arah harus diseberangi. Fokus! Jangan sampai kesambar yang bersliweran dari dua arah ini.
“Ah ...!” teriakku kencang, entah ada yang memperhatikan atau tidak, tak peduli.
Otot-otot di kaki terasa ada yang mencabut hingga akhirnya berjongkok di trotoar tepi jalan.
“Kenapa bodoh sekali?” gumanku menyesal.
Hal seperti ini benar-benar tak terprediksi, apa sih maksudmu, Aldar ...? Aku benar-benar ingin ini cepat selesai biar ringan langkah ini.
Apa saja yang akan kuhadapi di masa depan, setidaknya yang satu ini selesai. Pertanyaan apakah aku sama saja dengan para gadis di luar sana yang berbuat buruk untuk uang kembali menerpa mental. Ampun ... kok gini banget sih? Coba apa yang harus kulakukan jika dalam waktu dekat aku menemukan seseorang yang menerimaku apa adanya? Tidak masalah menceritakan apa yang telah terjadi, tetapi bagaimana harus mengatakan jika saat ini masih terikat pernikahan resmi dengan orang lain?
Kepala ini menunduk menatap paving yang ditata dengan rapi. Ingin marah tetapi tak tahu apa yang dimarahkan, akhirnya hanya mampu merutuki kebodohan dan ketidakberdayaan.
“Kesh! Kamu baik-baik saja?” Seru sebuah suara yang sepertinya tak jauh dari kepalaku yang menunduk.
Aku mendongak dengan cepat.
“Julian?” Seruku kaget.