Aku menolehkan kepala ke kiri kanan, dan melongok ke beberapa tempat. Jangan-jangan ada pegawai yang tak pulang. “Aldar!” bisikku pelan. “Cuma kita berdua yang ada di sini,” jelasnya seolah mengerti kekhawatiranku. “Ihh! Sudah, cepet mau ngomong apa?” ucapku mengalah. “Aku pengen bisa begini terus setiap hari,” ujarnya sambil menatapku. “Coba katakan yang lain!” perintahku dengan santai. “Kita tinggal di rumah kita,” lanjutnya bersikeras. “Minggir!” seruku sambil berusaha menggeser kepalanya. “Iya, enggak. Aku serius sekarang,” balasnya sambil bertahan dalam pangkuan ini. Laki-laki ini menatapku sambil mengangkat tangannya ke atas untuk memilin-milin rambutku. Aku membiarkan tangannya seperti itu, karena pasti bakal percuma jika dilarang, seperti biasa, kalimat aku masih suamimu p

