Aku mengambil bantal yang biasa digunakan sebagai alas. “Kamu ...?” ucapanku urung terucap, tentu saja, gadis ini pasti lebih dulu dapat kabar dari orang tuanya atau malah dari calon mertuanya langsung. Entah dalam hati ini tumbuh sedikit rasa iri tanpa terkendali. “Pernikahanmu hanya kesepakatan yang rapuh, beda dengan pernikahan sesungguhnya yang akan dilakukan oleh Maya dan Aldar, wajar saja,” batinku mencoba memangkas tunas iri dalam hati, tentu saja dengan perasaan yang perih. “Em-acara-em ...,” jawabku tergagap, jika aku mengatakan dengan jujur, apa enggak ketahuan jika aku baru saja mendengar itu dari calon suaminya? Tangan ini mencari handphone yang tergeletak entah di mana. “Belum dapat berita ya?” ucap Maya melihat polahku, aku mengangguk kaku, maaf bukan maksudku untuk ti

