“Emang ada yang harus dibicarakan?” sahutku cuek. Perempuan ini membelalakkan matanya yang cantik, kemudian tanpa diminta duduk di pintu gazebo dengan posisi miring. Jari-jari lentiknya menyelah-nyelah rambut hitam lurus sentuhan salon. Entah gadis ini berdarah campuran atau tidak, tetapi wajah cantik Hispanic-nya pasti membuat para lelaki dengan mudah tersihir. “Benar namamu Marakesh, kan?” ucapnya dengan ekspresi mengejek. “Nama yang aneh,” ejeknya sambil melirik, aku hanya mengedikkan bahu. “Tak perlu repot datang ke sini kalau hanya untuk mengatakan itu,” sahutku dengan santai, tak lupa menyandarkan punggung untuk menikmati angin sepoi-sepoi yang juga menggoyangkan dedaunan pohon-pohon di taman ini. Gadis ini menggerakkan jemari untuk menyelipkan rambut di balik kuping, lalu memir

