Laki-laki ini menatap dengan tajam. Mulut ini masih tak menjawab pertanyaan laki-laki yang entah siapa dalam keluarga ini. “Memang Tante Mona tak cerita siapa aku?” serunya pongah, aku menggeleng lalu melanjutkan mengunyah roti yang masih setengah. “Ah ...!” teriaknya kesal dan menggumam dengan perkataan yang tak tertangkap telinga. “Berarti Kamu tak penting,” cercaku sebal. “Hei, ternyata Kamu lebih baik ketika diam daripada ngomong,” sindirnya dengan muka sebal. “Lebih baik lagi kalau Kamu ambil gelas tehmu sendiri daripada ngambil punya orang tanpa permisi,” balasku tak mau kalah. “Oh! Benar-benar! Kamu nggak tahu lagi ngomong dengan siapa,” bentaknya lalu meletakkan gelas teh dengan kasar, sebagian isi yang masih berada dalam gelas menciprat ke luar. “Dengan orang yang tak punya

