“Coba Tante bicaranya satu-satu, trus pelan-pelan gitu,” saranku sambil mengambil posisi bersandar dengan bantal. “Heh ... gimana harus satu-satu itu ... enggak ngerti ah!” balasnya sambil membaringkan badan dan menarik selimut. “Entar ... Tante jangan tidur dulu ...,” pintaku sambil membuka sebagian selimutnya. “Ah ... ngomongin gadis itu bikin Tante kesal,” omelnya sambil kembali menarik selimut. “Tante ... coba dijawab, kenapa aku dianggap bahaya oleh Tante Stel-la, em terutama untuk cewek itu,” ucapku dengan sedikit penekanan pada nama rival Tante Mona itu. Tante Mona langsung bangkit dari tidur dan duduk sambil menghadapku, matanya menatapku serius. Sesaat kemudian wanita ini mengembuskan napas panjang. “Tentu saja, Stella menuduhmu berniat buruk pada anakku. Dengar ya, sudah la

