Aku sejenak terdiam dan mencoba mencari alasan untuk menghindar. “O gambar itu ya? E ...,” ucapku pupus, apa kira-kira alasannya ya? “Iya ... gambar itu, ‘kan kalungnya sudah dikembalikan, kalau gambar itu?” ujarnya sambil menatapku lekat. “Oh ... oh, em ... kalau terakhir ... baju yang Tante pakai ketika kita bertemu itu ada di laci, kalau gam-bar i-tu ...,” ucapku bingung. “Ya, ada kan?” kejarnya dengan tanpa melepaskan tatapan. “Em itu, aku cek lagi nanti ya, Tante,” pungkasku menghindari dilema untuk tidak berbohong dan tidak berterus terang. “Jangan hilang ya, Kesh. Kata Aldar kalau dikembalikan bakal dikasih tahu siapa gadis itu,” pinta Tante Mona sambil mempererat genggaman tangan. Aku menganggukkan kepala dan berharap Ibu Aldar ini melupakan gambar itu. “Udah, Tante pulang

