Bab 1
Pagi yang cerah, seorang gadis tengah semangat menjemput masa depannya.Sabrina Ayudia, gadis berusia 27 tahun. berparas cantik, hidung mancung, senyum manis.
Sabrina, anak yang baik dan sayang pada keluarga. Dia tidak pernah mengeluh dengan beban hidup yang Ia jalani bersama ibunya.
apapun akan Ia lakukan untuk menyenangkan ibunya. namun beberapa bulan ini, pemasukan Sabrina tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari hari karena untuk membiayai berobat Ibu Mina, orang tua Sabrina
" Sab, gimana jadi melamar ke PT. Satu Rasa, enggak ? " Tanya Karli
" Jadi kok Ar, kamu juga mau ikut ? " Tanya Sabrina
" kamu dulu saja, nanti aku menyusul kalau kamu sudah diterima di sana. " Jawab Karli dengan senyum
" hemm kebiasaan, temannya suruh jadi bahan uji coba dulu deh. " Canda Sabrina membuat keduanya tertawa bahagia
" Nak, sarapannya sudah siap. Sana ajak Karli sarapan. " Sahut Mina ibunya Sabrina
" Iya buk. Yuk Ar sarapan, ibu masak kesukaan Mu lho. Terong balado. " Kata Sabrina
" Sruppp sedap tuh. Mari gas ah. " Kata Karli dengan tak sabar
Empat puluh menit berlalu, mereka sudah sampai di tempat kerja masih - masing. Karli berkativitas di kantor sedangkan Sabrina menunggu di panggil interview.
" Semoga nanti HRD nya baik ya. Saya dengar pimpinan di sini tampan dan masih single lho " bisim peserta lain
" Aku sih yang penting di terima dulu. Tadi Aku juga dengar pegawai di sini mengatkan kalau hari ini CEO akan ikut menyeleksi. " Kata peserta lain
" Wah, kalau begitu Aku harus tampil cantik. Aku ke kamar mandi dulu ya, titip ini sebentar. " Kata salah satu peserta yang sangat genit. Sementara Sabrina duduk jauh dari mereka dan berselancar dengan handpone.
" Sabrina Ayudia ! "
" Iya saya " jawab Sabrina lembut sambil berdiri
" Silahkan masuk " kata sekretaris Niel, Sabrina berjalan di belakangnya
sepuluh menit Sabrina interview, karena berhasil menjawab dengan baik dan benar. Setelah selesai interview, Sabrina belanja sayur untuk stock di kulkas. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah.
" siang Buk. " Sapa Sabrina sambil membuka pintu rumah
" Sudah pulang, Nak ?. Gimana tadi interviewnya ? " Sambut Mina ibunya
" Syukurlah. berkat doa ibu, Semuanya lancar. Semoga kabar baiknya tidak menunggu lama ya Buk. " Kata Sabrina dengan senyum manisnya di balas dengan anggukan oleh Mina
" Oh ya, ini Aku mampir beli sayur dan ikan untuk stock kulkas. Aku lihat sudah menipis sayurannya. Ibu harus makan yang sehat, jangan di hemat. " Kata Sabrina
" Iya Nak, tenang saja. Ibu akan tetap selalu sehat selama mellihat senyuman manis mu. "
" Ibu bisa saja. Aku ke kamar dulu ya. "
hari yang melelahkan, mengangkan sudah Sabrina lewati dengan baik. Tinggal menunggu harapan baik.
" Lei, sudah menemukan kandidat excelent belum ? " Tanya Niel
" Sejauh ini belum, namun ada beberapa yang Aku pikir perlu di coba kemampuannya. ini kamu bisa lihat sendiri. " Kata Lei sambil menyodorkan tiga map data peserta interview
" hem lumayan, tapi belum tahu kemampuannya. " Kata Niel membaca sambil menganggukkan kepala
" kalau saya pribadi, pilih ini. karena Aku yakin dia bisa, cara menjawabnya tidak teburu buru tapi bagus. Dan terlihat good attitude. " Kata Lei sambil menunjuk salah satu map
" Kalau itu menurutmu cocok, langsung suruh masuk saja besok. " Kata Niel dengan santai
" Ok, saya akan minta Sisi menghubunginya sekarang. oh ya, nanti malam ada pertemuan dengan keluarga Nata. Dan Nyonya Besar meminta anda untuk datang. " Kata Lei dengan senyum
" Aku malas, kamu saja yang menggantikanku. " Kata Niel
" Ini tidak bisa diwakilkan, karena mama mu akan mengenalkan calon isteri mu. " Kata Niel
" What ! Calon isteri ?"
" sepertinya begitu. "
" Gak gak gak, ini gak bisa. Aku tidak akan datang. Cari cara atau ide agar orang tuaku tidak memaksaku. " Kata Niel memaksa Lei
" Hummm lagi deh. Ide apalagi ini " gumam Lei sambil menggaruk kepala
" Dengan saudara Sabrina Ayudia ? "
" Iya saya sendiri. " Jawab Sabrina di telepon
" Saya Sisi dari PT Satu Rasa, ingin memberitahu bahwa mbak di terima. Dan besok sudah bisa langsung bekerja. besok pagi menemui saya. " Kata Sisi
" baik Bu. Terima kasih sebelumnya, besok pagi saya akan menemui Bu Sisi. " Kata Sabrina dan gak lama telepon ditutup Sisi
" Buk ! Aku di terima, besok mulai kerja. " Teriak Sabrina dengan riang menghampiri ibunya sambil memeluk bahagia
" Syukurlah, Ibu ikut senang. " Senyum lebar Mina
" Ibu tidak perlu khawatir soal biaya rumah, semua Aku yang tanggung. Bentar, Aku harus kasih tahu Karli kabar baik ini. " Kata Sabrina begitu semangat dan bahagia. Sementara ibu hanya bisa tersenyum bahagia melihat anaknya
" Ar, aku di terima ! " Kata Sabrina
" Serius ! Wah Aku ikut senang Sab. Harus di rayakan ini. " Kata Karli
" Itu nanti dulu setelah Aku terima gaji pertama ku. Nanti kita rayakan sama ibu. " Kata Sabrina
" Oke deh. Trus kapan kamu mulai kerja ? "
" Besok pagi. Semoga aku bisa ya Ar. "
" Pasti bisalah, kamu kan pintar. "
Keesokan harinya Sabrina dengan langkah pasti menemui Sisi.
" Selamat Pagi Bu sisi. " Sapa Sabrina
" panggil mbak saja. Pagi Sab, sudah siap kan ? " Kata Sisi dengan ramah
" Iya Mbak. " Jawab Sabrina dengan anggukan kepala
" baiklah, Aku tunjukkan meja mu. Setelah itu kamu selesai administrais ke HRD ya, soal gaji dan lainnya. " Kata Sisi
" Baik mbak. " sambil mengikuti langkah Sisi
" Ini ruangan Pak Lei, asisten Ceo. Dan ini ruangan CEO. Tidak boleh sembarangan masuk ke sana tanpa di minta. Kamu harus ingat itu ya. dan itu meja mu sebelah dengan meja ku " kata Sisi
" Hanya kita berdua saja mbak di sini ? " Kata Sabrina
" Iya, karena kamu nanti akan lebih banyak membantu Aku dan Pak Lei. " Kata Sisi
" Tapi kemarin ? "
" Iya, memang kita sedang cari devisi marketing. Tapi Pak Lei lebih membutuhkan notuler seperti posisi mu sekarang. Kamu keberatan, kamu masih ada waktu untuk me . . . "
" Oh tidak mbak. Saya tidak keberatan, saya bisa kok. Maaf mbak saya tidak bermaksud menolak. Saya hanya kaget saja dan tidak menyangka ada di posisi ini. Berdampingan dengan Mbak sisi orang terpenting di perusahaan ini. "
" jangan begitu, kita ini sama kok. Bedanya saya lebih dulu di sini dan kamu baru memulainya. ya sudah, sekarang kamu bisa memulainya, kamu bisa ke ruang HRD dulu di lantai dua. " Kata Sisi
" Baik mbak, terima kasih banyak. Saya ke HRD dulu ya " pamit Sabrin
" Pagi Si, orang baru sudah masuk ? " Tanya Lei
" Sudah pak, baru ke ruang HRD. " Jawab Sisi
" Bagus. Nanti langsung kasih tugas seperti yang sudah kita jadwalkan ya. hari ini akan ada meeting penting, usahakan dia bisa semaksimal mungkin. "
" Baik pak. " Jawab Sisi. Selang Lei pergi, Sabrina datang
" Mbak, saya sudah menyelalesaikan administrasi. Sekarang apa yang bisa saya kerjakan ? " Tanya Sabrina
" Ok, sebentar ya. Kamu hidupkan pc dulu. Ini aku akan siapkan tugas mu. " Sabrina menghidupkan pc dan mengeluarkan pena serta buku
" ini tugas kamu, kamu list semua dengan rapi setelah itu kamu email ke aku. Dan ini materi dasar dalam tiap meeting. Hari ini akan ada meeting penting, jadi aku harap kamu bisa membantu aku mempersiapkannya. Kamu pelajari dulu untuk meeting hari ini. Dan nanti ak jelaskan semuanya ya. " Kata Sisi menerangkan dengan jelas
" Baik mbak. " Jawab Sabrina dengan cekatan Ia mengerjakannya tanpa ragu
10 menit kemudian
" Sis, semua sudah beres ? " Tanya Lei
" Sudah Pak. "
" Good, sekarang lakukan kerjaanmu seperti biasa. " Kata Lei lalu pergi ke ruangan meeting, di sana sudah ada Niel dan tamu lainnya
meeting pun berjalan lancar, dan selesai dengan baik walau tidak terlalu cepat, di karenakan ada penolakan dalam beberapa program.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa Sabrina sudah hampir tiga bulan bekerja di PT Satu Rasa
Di suatu malam, Niel masih berada di kantor menyelalesaikan kerjaannya. begitu juga Sabrina yang tanpa Ia ketahui bahwa CEO juga overtime.
Dengan serius Niel dan Sabrina mengerjakannya. Hingga mereka merasa perlu sedikit perengaangan. Sabrina berdiri dan berjalan menuju pantry membuat minuman untuk diri sendiri.
" Erghh. . . Capek juga. " Gumam Sabrina. Tangan kiri sambil memegangi pundak. Tangan kanan mengaduk teh.
" Sruppp . . . Arghhhh segarnya. " Gumam Sabrina
Suara pintu terbuka perlahan, Sabtina yidak menyadari hal itu. Hingga Niel masuk pantry dan sempat melihat Sabrina menikmati secangkir teh
" Tidak ada untuk ku ? " Kata Niel membuat Sabrina Terkejut
" Erghhh Pak Niel !, maaf pak. Bapak masih di sini ? " Tanya Sabtina dengan wajah panik
" kamu pikir saya hantu. bisa buatkan Aku. " Kata Niel langsung duduk
" E . . Iya Pak. Ehmmm mau Teh atau Kopi ? " Tanya Sabrina
" Teh panas tanpa gula. " Jawab Niel singkat, Sabrina segera membuatkan sambil gemetaran