Chosen to Marry Ordered to Leave

1176 Kata
Gagal sudah rencana berlibur Abiyan dengan Berliana ke Makassar. Merelakan tiket pesawat yang harusnya siang ini mereka flight ke Makassar, karena adanya permasalahan antara mereka berdua. Oh tidak, lebih tepatnya masalah yang Tari—ibu Abiyan timbulkan. Lagi dan lagi Tari membuat ulah dan mengganggu rumah tangga putranya sendiri. Kali ini mungkin Abiyan tidak akan tinggal diam, raut wajahnya jelas sekali jika dia tengah menahan amarah, Tari memang sudah kelewat batas kali ini. Wanita baya itu sukses membuat Berliana naik pitam, dan sekarang tengah menuntut penjelasan yang Abiyan sendiri tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Brakkk. Dorongan kuat itu membuat pintu berdecit keras, seseorang di dalamnya sukses tersentak kaget. "Abiyan! Apa-apaan sih kamu. Datang-datang banting pintu kamar. Gak ketuk pintu dulu, asal masuk aja. Kenapa?!" "Seharusnya aku yang tanya, kenapa bu? Kenapa ibu lancang sekali?" "Lancang apa sih? Gak jelas banget kamu ini!" Deru nafasnya tidak karuan, Abiyan mengacak rambut frustasi, kepalanya terasa berat memikirkan ini semua. Di satu sisi rumah tangganya sedang runyam, Berliana menuntut penjelasan dan Tari yang notabenenya ibu Abiyan adalah biang permasalahannya. Harus apa Abiyan merespon masalah ini? Harus bagaimana agar bisa memberi pengertian kepada Ibunya tanpa menghilangkan rasa hormat sebagai anaknya. "Kenapa bu?" "Kenapa apa sih?" "Kenapa ibu ganggu rumah tangga ku lagi? Kenapa bu? Kenapa harus masalah itu pada Berliana? Kenapa bu?" "Kenapa bu! Jawab! Jangan diam aja, aku gak enak lama-lama sama Berliana kalau begini caranya.” *** Berliana meninggalkan rumah, pikirannya sedang kacau tidak karuan. Sejak tadi ia uring-uringan sendiri dan Sania yang menjadi pelampiasannya. It's okay kalau memang benar Tari menginginkan dia dan Abiyan berpisah. Tapi itu bagaikan sinyal perang yang dikirimkan sang mertua untuk Berliana. Karena selama ini Berliana cukup diam dan melihat sejauh mana ibu mertuanya berani bertindak. Ternyata sampai di titik ini, "Gue mau ibunya Abiyan minta maaf langsung ke gue." "Mustahil." Berliana menatap spontan ke arah Sania, wanita itu tengah asik meminum kopinya. "Kenapa? Mustahil suami lo bisa buat ibunya minta maaf sama lo. Juga, nenek lampir itu gak bakal mau lah ngerendahin dirinya dengan dia minta maaf ke menantu—eh lebih tepatnya ke wanita yang gak dia suka. Iya kan? Ibu mertua lo enggak suka sama lo kan? Lo bukan menantu yang dia inginkan Lin. Ayolah, itu harapan yang sia-sia.” "Arggghhhh gak tahu lah, pusing gue lama-lama. Kayaknya rumah tangga gue semakin hari makin banyak aja masalahnya, prahara nya ituloh ada aja. Tapi kalau mertua gue gak ikut campur, kayaknya pernikahan gue sama Abiyan bakalan adem ayem deh." "Gak cuma mertua lo aja biang kerok nya, tapi ipar-ipar lo juga tuh." "Makanya, pembelajaran buat kita. Mending nikah sama orang yatim piatu, dan gak punya kakak gak punya adik. Beres gak ada masalah dari keluarganya." lanjut Sania. "Ngawur." *** "Masih mempertahankan apalagi sih kamu? Kita udah bisa bebas dari Berliana, kamu masih mempertahankan apa dari pernikahan kamu itu? Toh dia juga gak bisa ngasih kamu anak." "Ibu tahu kamu sekarang sama Berliana. Pernikahan kalian juga udah menginjak tahun kesepuluh. Tapi Abiyan, dengarkan ibu, kamu juga butuh pewaris, butuh anak buat jadi penerus kamu. Berliana juga mandul, gak bisa kasih kamu keturunan—" "Dia gak mandul!" "Tahu dari mana kamu kalau istri kamu itu gak mandul? Tapi, ibu tanya deh ke kamu, apa selama ini kamu gak kepingin gitu punya anak. Jadi ayah di usia kamu yang sekarang ini, kamu gak kepingin apa? Padahal seumuran kamu semuanya udah punya anak loh." Menjadi seorang ayah adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi para suami di luar sana. Sebelum menikah pun, Abiyan sudah membayangkan memiliki keluarga bahagia dengan dua anak, laki-laki dan perempuan. Tapi itu hanyalah harapan, harapan yang terjadi jauh sebelum dia mengenal Berliana. Tapi mungkin Tuhan berkehendak lain, atau masih ada hal lain yang belum tuntas, karena sampai sekarang pun Berliana masih belum diberi kesempatan untuk mengandung. Siapa yang tidak mau menjadi ayah, Abiyan sangat ingin memiliki seorang anak dari wanita yang dia cintai. Wanita yang dicintai. "Berliana bukan menantu yang ibu inginkan Abiyan. Bukan Berliana yang ibu inginkan buat jadi istri kamu. Seharusnya kamu sadar itu." Abiyan menoleh, ibunya benar-benar tidak bisa ia mengerti. "Aku tahu itu, ibu terus-terusan menyuruh kita cerai bukan karena anak, tapi karena ibu gak suka dengan Berliana. Iya kan?" "Iya. Kamu tahu itu, ibu gak pernah setuju kamu menikah dengan wanita itu, dari awal sampai sekarang. Ibu gak suka sama dia!" “Kamu punya wanita yang kamu cintai, ibu punya calon menantu idaman ibu, tapi semua itu harus usai, semuanya gak pernah berjalan sesuai rencana kita. Kenapa Abiyan? Karena ekonomi itu jadi pembunuh paling kejam untuk kebahagiaan seseorang.” "Aku dari awal paham bu. Disini ibu hanya memanfaatkan Berliana, Ibu cuma memanfaatkan dia untuk menggapai keinginan ibu dan keinginan kita. Tapi bisa gak Bu, sekali aja hargai wanita itu, tanpa dia, kita bukan siapa-siapa Bu.” Sorot mata itu sangat sayu, Abiyan menatap nanar ke arah Tari, perasaannya begitu campur aduk hari ini. Tidak ada emosi, tidak ada ekspresi, Abiyan benar-benar terlihat lelah, “Selama ini aku udah jadi orang jahat untuk wanita yang berstatus sebagai istriku.” Sekali lagi, dia mengingatkan diri kalau wanita baya di depannya ini adalah ibu yang sudah melahirkannya. "Jahat apa sih? Kenapa kamu malah ngerasa jadi orang jahat? Ingat ya dari dulu ibu gak setuju kamu sama wanita itu. Dia anak orang kaya, mau bagaimanapun juga orang kaya akan tetap merendahkan kita yang orang miskin. Dia akan merasa lebih unggul dan bisa semena-mena sama kita—" "Apa pernah Berliana semena-mena sama ibu?” tanya Abiyan dengan suara lirih, bahkan nyaris tidak terdengar. "Apa pernah dia merendahkan ibu? Merendahkan aku? Merendahkan keluarga kita?" "Yang aku tahu, Berliana lah yang mengangkat derajat kita, perekonomian kita dan menjadikan kita sampai di titik ini. Dan apa ini balasan ibu untuk dia? Setidaknya ibu bersikap baik pada Berliana. Jangan terus-terusan bertengkar, jangan selalu sakiti hatinya Bu.” "Terserah apa yang kamu bilang, ibu tetap gak suka sama dia. Dan sekarang ibu rasa udah saatnya kamu bebas dengan pilihan kamu sendiri Abiyan. Kamu udah gak ada tanggungan untuk terus bersama Berliana, ibu juga gak akan menahan kamu lebih lama lagi. Kita sudah kaya, kita punya segalanya sekarang, kamu bisa mengejar apa yang dulu kamu inginkan.” "Enggak!" "Kenapa enggak? Kamu berat hati menceraikan wanita itu?” Sorot mata Abiyan memancarkan kekecewaan yang mendalam kepada ibunya. Ibunya sendiri ingin menghancurkan kebahagiaannya, ibunya yang mengacaukan segala harapan indah itu. Begitu seringnya mengecewakan Abiyan, namun terus berlagak seperti ibu yang memperjuangkan kebahagiaan anaknya. Tidak. Memikirkan berpisah dengan Berliana saja rasanya Abiyan tidak sanggup. 10 tahun bukan waktu yang lama, meskipun pernikahannya selalu dibumbui dengan pertengkaran, tapi selama itu pula dia hidup bersama Berliana. Tidak menampik jika ada rasa nyaman karena terbiasa bersama. Entahlah perasaan seperti apa yang tengah pria itu rasakan. Tidak bisa dijelaskan, namun mampu membuat dirinya gelisah. Jika Tari terus menjadikan keturunan dibalik alasan sebenarnya, sebagai alasan untuk sebuah pernikahan bertahan. Maka Abiyan akan menjadikan rasa nyamannya sebagai alasan untuk dia bertahan bersama-sama dengan Berliana. Nyaman itu karena terbiasa, dan Abiyan terbiasa dengan kehadiran Berliana di hidupnya. "10 tahun Abiyan. Dia juga bisa capek nunggu kamu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN