Later That Day?

1006 Kata
Seusai balik ke rumah usai pertemuannya dengan sang sepupu, membuat Berliana kepikiran sesuatu. Ada yang mengganjal di hatinya, dan itu membuatnya gelisah sepanjang perjalanan. Niatnya Berliana akan mampir sebentar ke perusahaan, mengingat sudah lama Berliana tidak melihat langsung kondisi di sana. Apalagi sejak dia memutuskan berhenti menjabat, dan memercayakan perusahaan sepenuhnya kepada Abiyan, Berliana mulai jarang mengurusi masalah pekerjaan. Tapi mood Berliana sudah kacau saat Sania berkata seperti itu. Iya Sania, dia merupakan sepupu dekat dengan Berliana, sepupu yang memang dari garis keluarga kandungnya. Sebenarnya dia sudah tidak mau berurusan lagi dengan keluarga dari ayah dan ibu kandungnya. Namun sebelum diadopsi dan menjadi anak angkat Fathan dan Ariana, Berliana dan Sania tumbuh bersama. Sama-sama kehilangan peran orang tua, beruntungnya Sania masih punya nenek dari pihak ibu. Dan di antara semua keluarga kandungnya, bisa dibilang Sania yang paling dekat dengan dirinya. Perkataan Sania di akhir membuatnya kepikiran sampai sekarang. Apa yang dikatakan Sania tidak ada yang salah, justru Berliana membenarkan semuanya. Namun, ada satu yang sulit Berliana terima. Yaitu, kenyataan jika saja suaminya punya wanita lain di belakangnya dan anak yang hanya menjadi alibi selama ini. Ini tidak menutup kemungkinan. Tapi Berliana sulit untuk menerima. Mengingat Abiyan adalah anak yang—ya begitulah. Berbakti kepada ibunya, apalagi dia hidup sejak kecil tanpa adanya sosok ayah. Jelas dia pasti menyayangi Tari. Dan—yang Berliana takutkan adalah, apa yang dikatakan oleh Sania. 'Bisa aja Abiyan terhasut sama ibunya. Apalagi ibunya gak suka sama lo, pasti dia jadi provokator biar anaknya gak sama lo lagi.' 'Kalau mereka gak bisa lepas dari lo seperti apa yang lo katakan tadi. Mertua sama ipar lo bisa hasut Abiyan buat selingkuh sama wanita lain.' ‘Lo mungkin kaya, lo unggul dalam segala hal. Tapi kalau lo bukan menantu yang dia harapkan dari awal, lo bakalan kalah juga.’ Ucapan itu terngiang-ngiang di kepala Berliana seperti kaset rusak. Dia yang semula baik-baik saja, menjadi kepikiran dan berakhir overthinking. Karena yang dikatakan Sania juga tidak salah. Tari membencinya, Tari juga pernah berkata kalau tidak ingin mempunyai menantu seperti Berliana. Ah, ini gila. Kepala Berliana terasa berat, dia tidak bisa berpikir apapun untuk saat ini. Yang ada di kepalanya hanyalah ucapan Sania dan rasa khawatir yang entah dari mana usulnya. Padahal tadi jelas dia mengatakan, bahwa rasa cintanya perlahan mulai terkikis. Lantas perasaan khawatir ini sebagian dari apa? *** "Kamu udah makan belum?" "Udah tadi." "Tadi katanya kamu mau ke kantor sayang. Padahal udah aku tunggu, niatnya mau ajak kamu makan siang bareng." Abiyan menaruh tas kerjanya di atas sofa kamar. Dia beranjak mendekati Berliana yang sejak tadi asik dengan ponselnya. "Sayang." panggilnya. "Kamu lagi apa? Kayaknya sibuk banget, lagi balas chat nya siapa sih?" tanya Abiyan, ikut naik ke atas ranjang dan mendempetkan tubuh nya pada tubuh sang istri. Pria itu ikut melihat apa yang dilakukan istrinya. Hanya berbalas chat biasa dengan temen dan—ah di baris chat teratas ada nama 'mama' yang artinya Berliana baru saja bertukar pesan dengan ibunya. "Besok hari Minggu, gimana kalau kita ke Makassar? Udah lama kita enggak berkunjung ke rumah orang tua kamu. Mau enggak?" tawar Abiyan, pria itu tiba-tiba saja mengajak Berliana untuk ke Makassar. Biasanya saja sibuk dengan pekerjaan. "Tumben mas? Gak sibuk sama urusan kantor? Katanya lagi ada project besar. Lain kali aja kita ke Makassar." "Ya gapapa dong. Kita bisa ke Makassar besok, nginep sehari dua hari gitu. Kalau iya aku pesankan tiket pesawat sekarang juga." "Pekerjaan kamu gimana?" Abiyan tersenyum, "Aku bukan kamu yang bekerja sampai lupa waktu. Lagian kita cuma beberapa hari aja kan di sana, ya sekalian liburan berdua gitu." Berliana menghembuskan napas panjang, sudah lama juga dirinya tidak berkunjung ke kediaman kedua orang tuanya. Terakhir kali itu 3 tahun yang lalu, dan seterusnya Berliana hanya berkomunikasi via telepon, itupun jarang. " Terserah deh, yang penting ini bukan aku ya yang paksa kamu buat ke Makassar." "Iya sayang." *** Abiyan malam ini memutuskan mengajak Berliana pergi keluar untuk menyegarkan pikiran. Sekalian juga quality time sebagai sepasang suami istri. Mengingat akhir-akhir ini Abiyan sibuk dengan pekerjaan dan Berliana yang sedang sibuk-sibuknya dengan urusan butik. Iya, wanita itu launching butik baru, yang mana sekarang masih on proses. Meskipun sudah hiatus dari perusahaan, Berliana tetap mengejar karirnya meskipun tidak terlibat lagi di dunia bisnis. "Mas, aku mau beli tas—" "Abiyan. Kita bertemu disini, apa kabar?" Abiyan dan Berliana menoleh secara bersamaan ke sumber suara, ekor mata Berliana melirik ke arah suaminya, "Siapa Mas?" tanyanya, masih dengan menatap pria dengan setelan formal di hadapannya. Mungkin pria tersebut rekan bisnis suaminya. "Istri lo?" "Hah? Ah iya—ini istri gue." "Waw cantik ya, cantik banget ternyata aslinya. Emang parah banget sih lo." ucap pria itu, entah kalimat terakhir ditujukan untuk siapa, tapi nada cengengesan dan matanya tak lepas menatap Berliana dengan kagum. "Vano." ujarnya memperkenalkan diri, dengan tangan terulur ke arah Berliana. Sepasang suami istri tersebut saling bertatapan, entah apa yang saling mereka ungkapkan lewat isyarat mata. "Berliana. Anda teman Abiyan?" "Ah Berliana, kayaknya nama itu enggak asing di telinga. Hmm beberapa tahun lalu, sepertinya nama Berliana mengguncang pasar bisnis. Bukankah begitu?" Berliana berdecak pelan, matanya menatap tak suka pria bernama Vano tersebut. Dari nada bicaranya barusan, terdengar seperti tengah meledek. Jika pun si Vano ini adalah pembisnis atau rekan kerja Abiyan, Berliana tidak mengenalnya. Walaupun sepertinya Vano mengenal dirinya. Entah sebagai istri Abiyan atau sebagai Berliana si workaholic beberapa tahun lalu, saat masih memimpin perusahaan. Tidak mau ambil pusing, Berliana memilih meninggalkan dua pria itu untuk berbicara. Lagian Berliana kurang nyaman dengan pria di hadapannya ini. "Aku mau beli tas, kamu ngobrol aja sama dia." "Sendirian?" "Iya." "Gapapa?" "Gapapa." Berliana berlalu pergi, langkahnya yang semakin jauh membuat Abiyan sedikit-agak bernapas lega. Dia menoleh, menatap pria dihadapannya dengan tatapan menyalang. “Lo harus tahu situasi, kita enggak sedekat itu sebagai rekan kerja. Jadi jaga batasan selayaknya kolega saja.” ucap Abiyan dengan penuh penekanan. Namun pria dihadapannya hanya tertawa meremehkan. “Santai aja, tadi cuma bercanda. But, I'm being honest when I say your wife is very beautiful, bro.” “Much prettier.” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN