What If She Was Right?

1036 Kata
Ya mungkin awalnya hubungan ku dan keluarga Abiyan baik-baik saja, tapi entah kenapa semakin lama aku semakin disadarkan dengan sifat asli mereka. Maksudku tidak sebaik itu juga, lebih mending daripada sekarang. Mungkin awal pernikahan ku dan Abiyan mereka terlihat baik—maksudnya lebih baik kepadaku.Tapi lambat laun semua mulai berubah. Aku sangat menyadari perubahan itu, ketika keadaan ekonomi mereka sudah lebih dari kata baik, satu persatu sifat aslinya mulai keluar. Dan yang paling menjengkelkan adalah, keluarga Abiyan mulai ikut campur kedalam rumah tangga kami. Bagi ku mereka tidak semestinya ikut campur terlalu dalam. Karena bagaimanapun yang menjalani pernikahan adalah aku dan Abiyan. So, aku keberatan kalau ibu dan adik-adiknya masuk kedalam lingkup rumah tangga kami. Dengan aku yang mengizinkan dan menerima mereka tinggal bersama dengan ku, seharusnya mereka harus tahu diri. Dan dengan aku yang selama ini mengalah dan memilih diam, tak seharusnya mereka semena-mena terhadapku. Aku juga mulai muak saat Abiyan menyuruhku mengalah saat ibu dan adik-adiknya berbuat ulah. Mereka mulai menunjukkan ketidaksukaannya kepadaku secara terang-terangan. Selalu berbuat ulah dan suka mencari gara-gara kepadaku. Dan yang paling membuat aku terkejut adalah, ibunya menerimaku hanya karena statusku saat itu. Pewaris tunggal dari pengusaha kaya raya. Wow hebat sekali ya, aku bahkan tidak menyadari maksud terselubung mereka. Aku hanya mengira pernikahan kita hanya terhalang restu, akupun yakin bisa meluluhkan hati ibu dan adik-adik Abiyan. Tapi kenyataannya, sampai sekarang mereka semakin menunjukkan rasa tidak sukanya kepadaku. Aku kira itu hanya prasangka mama saja yang mengatakan keluarga Abiyan tidak setulus itu. Dan memang benar. Tapi untungnya hanya ibu dan adik-adik Abiyan, bukan Abiyan nya. Awalnya aku juga sempat tidak percaya, tapi Abiyan sendiri yang membuktikan kalau dia tidak ikut campur dengan masalah itu. Ya meskipun jika Abiyan menikahinya hanya karena statusnya pada saat itu, aku juga akan memaafkan dan tidak memperpanjang masalah. Karena pada saat itu aku sangat mencintainya. Tapi jika sekarang, aku akan melepaskan Abiyan, dan aku tentu tidak akan tinggal diam. Lagipula rasa cinta ini sudah perlahan terkikis, entah tersisa seberapa banyak, aku rasa jika terus menerus seperti ini, cinta itu juga akan habis. Siapa sih yang cintanya masih tetap utuh jika pernikahannya selalu dipenuhi dengan pertengkaran? 10 tahun pernikahan, waktu selama itu hanya terisi pertengkaran yang tidak ada gunanya. Mungkin rasa sayang yang masih menyelamatkan pernikahan ini. "Mereka memang gila, sukanya cari-cari masalah. Andai dia bukan ibu mertua dan adik iparku, udah aku kasih pelajaran mereka." Bisa dikatakan kehidupan mereka tersangkat derajatnya karena putranya menikah denganku. Tapi sepertinya mereka tidak tahu diri, semakin dibiarkan mereka semakin berulah sesuka hatinya. "Orang tua lo belum tahu kan sampai sekarang kalau lo bermasalah sama keluarga suami lo?" "Ya gila aja, orang tua gue udah wanti-wanti dari awal kalau mereka gak setuju gue sama Abiyan. Terus sekarang gue ngadu ke mereka kalau keluarga suami gue terlalu ikut campur dan bermasalah sama gue? Ah jangan sampe orang tua gue tahu." aku bergidik ngeri, membayangkan kedua orang tuaku tahu tentang permasalahan ini. Jelas rasa gengsi ku terlalu besar, aku malu bila mereka tahu. Ya sebenarnya tidak apa-apa sih, tapi entah kenapa aku ragu saja memberitahunya. Lagipula selagi aku bisa mengatasi masalah ku sendiri, orang tua ku tak perlu mengetahuinya. Aku juga tak mau mengganggu waktu istirahat mereka, yang ingin menikmati hari tua tanpa ada beban yang dipikul di pundak. "Lo gila ya. 10 tahun pernikahan itu bukan waktu yang sebentar. Lagian nih ya, gue heran banget sama mertua lo. Bisa dibilang, mereka hidup atas bantuan dari lo kan. Kok bisa-bisanya ya mereka kayak gak ada rasa malu berbuat kayak gitu." "Ibunya Abiyan sering bilang kalau dia takut gue injak-injak harga diri keluarga mereka soalnya gue lebih unggul dari segi apapun. Terus adik-adiknya sering bilang kalau gue selalu anggap remeh keluarga mereka karena gue orang kaya. Dan yang lebih gilanya lagi, mereka bilang kalau orang kota, orang kaya kayak gue ini gak bisa menghormati mereka dan juga minus akhlaknya." Wanita berambut pirang di depanku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia sepertinya tak habis pikir dengan keluarga suamiku, apalagi aku yang notabenya adalah menantu, sekaligus iparnya. "Tapi suami lo ada dipihak lo kan Lin? Maksud gue, dia gak ikut-ikutan mertua sama ipar-ipar lo kan?" "Suami gue mah aman. Dia tuh sabar banget, tapi yang gak gue suka dari dia itu, dia selalu nyuruh gue buat sabar. Gila kan, bahkan dia sering suruh gue buat ngalah kalau lagi aduh bacot sama ibu dan adik-adiknya." "Jangan mau lah, selagi lo gak salah ya jangan mau ngalah. Lagian gue tuh jadi heran sama lo Lin, dulu sebelum nikah kayaknya lo itu garang deh. Tapi sekarang kok taringnya enggak muncul lagi. Lo takut apa gimana?" Takut? Ah ya Tuhan. Itu tidak ada di kamus ku. "Gue cuma liat Abiyan disini. Selagi dia gak terpengaruh sih, gue fine fine aja." "Tapi ada kalanya suami lo nanti bakal terhasut sama ibunya. Dan dengan dia yang terus-terusan suruh lo sabar dan ngalah, itu udah memperlihatkan kalau dia belum bisa tegas jadi suami. Artinya dia masih ada di bayang-bayang ibunya. Gue ngomong gini karena ini udah terjadi ke gue ya. Lo tahu sendiri kan rumah tangga gue hancur karena keluarga mantan suami gue yang terlalu ikut campur. Ya awalnya sama kayak suami lo, tapi lama kelamaan juga tuh mantan gue ke hasut juga sama keluarganya. Terus ujungnya gue yang digugat cerai. Gila, padahal seharusnya gue yang gugat cerai tuh laki." Ah itu jelas tak mungkin. "Tapi Lin, gimana kalau mertua sama ipar-ipar lo hasut Abiyan buat cerai in lo." ucapnya ngawur. Jelas ngawur, bahkan aku sendiri tidak pernah berpikir kearah sana. "Gak mungkin!" jawab ku. Lagian kalau benar, Abiyan juga tidak akan terpengaruh. Dia mencintaiku. Masalah dia yang terus menyuruh aku mengalah, ya mungkin dia memang tidak ingin ada pertengkaran di rumah. "Bisa aja." "Mereka masih butuh gue." "Kalau Abiyan terpengaruh dan selingkuh di belakang lo gimana? Keluarganya pasti dukung, soalnya kan mereka gak suka sama lo." “Pikiran lo udah gak bener sih. Gak mungkin.” “Come on Lin. Nasib buruk gak ada di kalender. Kan gue udah bilang, siapa tahu kan? Dan sorry to say ya, gue yang udah ngasih dua anak aja, ibu mertua gue tetep gak suka sama gue. Dan suami gue juga ujungnya selingkuh. Berarti masalahnya bukan dianak aja Lin. Anak itu cuma alibi aja.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN