Someone I Don’t Know

1090 Kata
Cahaya mentari dari luar sukses mengganggu tidur nyenyak Berliana di pagi hari. Kepalanya terasa pening dan tubuhnya mendadak lemas. Dia masih mengingat kejadian di malam hari, dimana dia dan Abiyan sempat berdebat kecil membahas masalah kehamilan. Berliana dengan pikirannya yang sudah overthingking dan Abiyan yang bingung harus memberikan keyakinan seperti apa lagi, agar istrinya berhenti menyudutkannya. Dan beruntunglah hari ini adalah hari minggu, jadi Berliana tak bersusah payah untuk membangunkan suaminya. Lagipula ini sudah sangat terlambat untuk memulai aktivitas pagi, apalagi jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat 15 menit. Ah ini semua salah Abiyan, pria itu yang semalam menyerang Berliana dengan sentuhan-sentuhan memabukkan, bahkan di tengah-tengah perdebatan mereka yang belum usai. Tatapan matanya menajam, menelisik lebih jauh paras wajah tampan sang suami. Rasanya sudah sangat lama dia tidak bisa menikmati wajah tampan itu. Padahal awal-awal pernikahan mereka begitu intens, tidak ada jarak diantara mereka. Namun semakin lama mereka semakin jauh, semakin renggang. Dengan segara Berliana bangkit, menguncir rambut sebelum turun dari atas kasur. Mungkin dia akan cuci muka sebelum turun ke bawah untuk mengisi perut. Sesaat setelahnya ponsel Abiyan bergetar, panggilan telepon masuk. 10 detik 30 detik Panggilan itu berhenti, menyisakan runtutan notifikasi pesan yang masuk secara bersamaan. 'Hallo Mas Abiyan. Kamu enggak lupa kan sama aku?' **** Berliana menghembuskan napas panjang, entahlah tiba-tiba mood nya berubah menjadi berantakan tat kala ibu dan adik iparnya duduk bersama di ruang tamu. Minus Vicky, Icha, dan Dina. Memiliki ipar sebanyak itu sungguh menyebalkan, apalagi jika tipe mereka adalah manusia pengganggu. Abiyan ini lima bersaudara, hidup tanpa ayah sejak kecil. Adik pertama Abiyan, namanya Vina yang sudah menikah dengan seorang pria pengangguran yang kerjaannya cuma mabuk-mabukan setiap harinya. Sudah memiliki satu anak laki-laki, dan masih tinggal menumpang di rumah ini, rumah Berliana. Tiga adiknya yang lain adalah Vicky, Icha dan Dina. Vicky anak kedua, laki-laki tapi kepribadiannya sunggu menyebalkan. Sering sekali membuat masalah yang ujungnya pasti Abiyan dan Berliana yang membereskan. Icha ini juga sudah menikah dan mempunyai dua anak perempuan. Sayang, keduanya berbeda ayah, ibunya saja tak tahu siapa ayah dari anak-anaknya. Dan Dina? Entahlah Berliana tidak terlalu dekat dengan wanita itu, bahkan jarang melihatnya dirumah. Namun Dina juga sama menyebalkannya. Jauh lebih menyebalkan dibandingkan yang lain. Jangan salahkan Berliana jika menganggap keluarga suaminya adalah pengganggu, kenyataannya memang seperti itu bukan. Tidak ada angin tidak ada hujan, mereka menatapnya dengan tanpa rasa bersalah. Seolah melupakan kejadian kemarin. "Kamu baru bangun? Siang banget bangunnya." "Emang abis ngapain Mbak kok bisa bangun kesiangan? Lain kali biasain bangun pagi, biar produktif, biar tubuhnya sehat, subur." Ucapan Vina menyentak hati Berliana. Diakhir kalimat, Berliana merasa tersinggung, dan menatap sang adik ipar dengan tatapan intens. "Biasanya kenapa kalau seorang istri bangun kesiangan? Ini juga gak pertama kalinya aku bangun siang, kenapa emang? Lagipula produktif bukan masalah bangun pagi atau enggaknya kok." Rasanya Berliana ingin mengumpat saja, emang dasar ya, adik iparnya yang satu ini bisa saja membuat darah tingginya naik dengan tiba-tiba. Hmm, lain kali mungkin akan Berliana ceritakan tentang mertua beserta adik-adik iparnya. Bagaimana sifat mereka yang menyebalkan, serta hati busuk yang mereka miliki. "Mas Abiyan lama banget sih bu, ngapain aja sih dia. Kita udah nunggu dari tadi loh." gerutu Vina, merenggut kesal kepada Tari—ibunya. Berliana menyengrit, bingung dengan ucapan Vina barusan. Mereka menunggu Abiyan? Ada apa? "Mungkin dia masih di kamar mandi, tunggu aja sebentar lagi." "Ada apa sih bu, kok kayaknya penting banget. Mau bicarakan apa sama Mas Abiyan?" tanya Berliana, dia bertanya dan tidak berharap mendapatkan jawaban. Karena ya—Berliana tahu apa yang akan dia dapatkan dari pertanyaannya barusan. "Tumben tanya, biasanya juga bodoh amat. Biasanya juga gak peduli, gak mau tahu." ucap Vina sarkas. Berliana hanya bisa diam, meladeni lagi juga nanti akan terjadi pertengkaran. Tanpa basa basi lagi, Berliana segera pergi dari sana. Dia kembali naik ke atas untuk memanggil sang suami, entahlah kenapa Abiyan lama sekali turun ke bawah. Dan apa yang ingin mereka bicarakan dengan Abiyan. Apakah terkait permasalahan kemarin? "Astaga Mas! Ngagetin aja sih kamu!" Wanita itu tersentak kaget saat akan membuka pintu kamar, tetapi Abiyan lebih dulu membukanya, "Nyebelin banget, sana buruan turun ke bawah. Ditunggu ibu sama adik kamu tuh." "Ada apa emangnya sayang?" "Mana aku tahu, tanya aja sendiri sana." Melihat raut wajah istrinya yang sudah berbeda, Abiyan tidak lagi bertanya. Pasti tadi ibu dan adiknya sudah membuat jengkel hati Berliana, "Ya udah aku mau temuin ibu dulu. Kamu ikut gak?" "Gak, aku di kamar aja. Takut kebablasan kalau ikut kamu ke bawah, soalnya mulut ibu sama adik kamu gak bisa ke kontrol. Emang mau ada pertengkaran lagi?” Dengan cepat Abiyan menggeleng, "Udah-udah kamu masuk aja." Berliana masuk ke dalam kamar, segera menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Sial, mereka mengacaukan mood ku hari ini." "Muak banget lihat wajahnya, tapi lebih memuakkan lagi kalau aku harus pura-pura ramah di depan mereka." "Ini gila sih. Dari sekian banyak musuh ku di luaran sana, haruskah ibu dan adik iparku salah satunya? Tapi mereka yang mulai, masa iya aku harus ngalah terus? Hampir 10 tahun." monolog Berliana pada dirinya sendiri. Dia merasa sebal, karena harus memiliki mertua dan ipar yang menyebalkan. Tidak pernah terbayangkan akan semenyebalkan ini. Karena tidak pernah terbayang di benaknya, akan memiliki mertua yang jahat. Jahat? Sepertinya, sebab Tari tidak menyukainya tanpa alasan yang jelas. **** ‘Ini sudah saatnya Abiyan’ Kalimat itu terus terngiang, berulang kali terputar diotak seperti kaset rusak. Semakin dipikirkan semakin membuat Abiyan sakit kepala. Pria itu tidak pernah menyangka jika hari ini ibu dan adik perempuannya membahas sesuatu yang sensitif. Sensitif bila didengar oleh Berliana, dan risih saat Abiyan mulai memikirkannya. "Kenapa mas? Kok aku perhatiin kamu ngelamun dari tadi, mikirin kerjaan? Atau yang lain?" tanya Berliana saat wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi. Abiyan mendongak, tersenyum kepada wanitanya, "Sedikit mikirin masalah kerjaan, kenapa hem? Mau keluar gak nanti malam?" tawarnya tiba-tiba. Tidak langsung menjawab, Berliana berjalan ke arah lemari seraya memilih beberapa baju yang akan ia kenakan, "Ibu sama Vina tadi ngapain Mas? Katanya penting, emang apa?" Abiyan yang sebelumnya menyenderkan tubuh di kepala ranjang, langsung menegakkan tubuh seketika Berliana bertanya seperti itu. Tidak mungkin dia berkata jujur kepada Berliana, yang ada beberapa detik setelahnya akan terjadi pertengkaran antara mereka berdua. Abiyan juga tidak bodoh. "Enggak sih, gak penting. Cuma mau minta saran aja, soalnya Vina mau buka cafe." "Buka cafe?" "Iya. Yang setahun lalu sempat dia omongin ke kita.” "Ohh." Tidak ingin terlalu ikut campur lebih jauh, Vina hanya melibatkan kakaknya saja, bukan Berliana. Berliana juga tidak akan melarang sang suami jika ingin membiayai pembukaan cafe adiknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN