Abiyan’s POV: A Deep Talk

1044 Kata
Belum sempat aku berbicara, Berliana sudah lebih dulu pergi naik ke lantai atas. Huft, lelah sekali menghadapi perseteruan antar istri, ibu dan adik-adikku. Aku juga bingung, harus melalukan apa agar mereka bisa berdamai dan tidak berseteru lagi. Aku berjalan lunglai dan mendudukkan diri di atas kasur. Hari sudah malam, di luar juga, awan pekat mulai meredupkan pencahayaan. Aku rasa sebentar lagi akan turun hujan, pas sekali momennya bukan? Sudah cukup sering kita bertengkar dan berakhir dengan pisah ranjang. Perdebatan antara kita seolah menjadi kebiasaan rutin selama hampir 10 tahun pernikahan. Bosan tentu saja. Tapi ini tidak sesederhana yang dikira, jauh lebih rumit jika terus dipikirkan. Padahal aku sendiri tak pernah membayangkan akan menjalani rumah tangga seperti ini. Aku menerawang jauh ke beberapa tahun lalu. Dimana mendapatkan restu untuk menikahi Berliana sangatlah sulit sekali. Mulai dari menghadapi orang tua, sampai berhadapan dengan keluarga besar Berliana. Tapi perjuanganku saat itu tidak main-main, walaupun aku sempat menyerah dan pesimis tentang hubungan kita. Aku takut hubungan ku dan Berliana kandas di tengah jalan karena terhalang restu keluarga. Aku sadar dulu aku hanyalah karyawan yang bekerja di perusahaan milik ayah mertuaku. Jadi jika dilihat dari status sosial, jelas aku tidak ada apa-apanya. Aku si miskin yang dipertemukan dengan si kaya. Yang diangkat derajatnya dan diperbaiki hidupnya oleh istriku sendiri. Awalnya seperti tidak ada masa depan untuk hubungan ini. Dan mungkin sekarang aku juga berpikir demikian. Walaupun menikah sudah hampir 10 tahun, tepatnya tiga bulan lagi hari anniversary pernikahan kita yang ke 10. Aku rasa semakin hari semakin terasa berat apa yang aku dan Berliana lalui. Jujur saja aku lelah dengan semua ini. Aku sering kali mempertanyakan hal yang seharusnya tak pernah aku pertanyakan. Kenapa? Keputusan menikahi Berliana adalah keputusan yang aku buat sendiri, lantas masih bisakah aku pertanyakan hal itu? Jelas ini sangat menyakitkan jika terdengar telinga, dan semakin memercik api amarah diantara kami jika Berliana mengetahui isi pikiran ku saat ini. Kembali aku jelajahi memori lama, aku ingat ibuku pernah berkata, ‘Dia dari keluarga kaya, menerima kamu pun nantinya tidak akan menjamin dia akan baik ke ibu dan adik-adik mu. Dia cinta kamu, bukan berarti dia juga mencintai kami. Orang kaya itu sukanya merendahkan, pasti dia nanti meremahkan keluarga kita.’ Kepala ku menggeleng, sampai detik ini pun tidak pernah sekalipun Berliana bertindak kurang ajar kepada ibuku. Dia menghormati sebagaimana dia menghormati orang tuanya. Tidak ada perkataannya yang meremehkan, kecuali siang tadi yang mungkin terdengar sedikit jahat. Lantas apa kurangnya Berliana dimata ibu dan adik-adikku? Padahal wanita inilah yang sudah menjadikan keluargaku hidup makmur sampai pada saat ini. Tapi aku memaklumi, Berliana juga manusia yang memiliki batas kesabaran. Dia juga bisa letih, tidak bisa terus-terusan dituntut untuk mengerti ibu dan adik-adikku yang pada dasarnya mereka keras kepala. Bagiku mereka cukup bebal, kadang akupun muak jika terus dihadapkan pada situasi seperti ini! ***** Benar apa kataku, hujan turun sangat deras membasahi kota. Suara petir saling bersahutan, menandakan hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. Aku masuk kedalam kamar, kami melewatkan makan malam kali ini. Aku tersenyum mendapati istriku duduk termenung di atas kasur. Pintu balkon masih terbuka lebar, kelambu putihnya basah terkena air hujan, bahkan lantai kamar basah akibat cipratan air dari luar. Padahal aku sempat mengira kami akan pisah ranjang lagi, karena memang itu yang terjadi sebelumnya. Tapi sepertinya malam ini berbeda, Berliana turun dari kamar atas dan kembali ke kamar ini. Berjalan mendekat, aku menutup pintu kamar. Tidak memperdulikan hawa dingin akibat balkon yang dibiarkan terbuka begitu saja. Aku lebih memilih mendekat ke arah Berliana. "Sayang." "Maaf kalau selama ini aku menuntut kamu untuk terus mengalah. Aku enggak pernah memikirkan gimana perasaan kamu. Aku janji ini yang terakhir kalinya.” aku menatap matanya, wanitaku ini begitu baik. Sekalipun wataknya keras, Berliana mempunyai seribu kebaikan yang tidak diketahui banyak orang. Aku semakin merasa minder, pantaskah perempuan dihadapannya ini mendapatkan suami yang belum bisa memberikan ketenangan dalam hidupnya? Aku mendekat, semakin menghilangkan jarak antara kami. Angin dari luar sukses membuat anak rambutnya mengayun indah, sampai aku lupa jika pembicaraan kami belumlah usai. "Yakin kamu? Selama ini yang aku tahu adalah, Abiyan si pria plin plan, yang enggak bisa tegas membela istrinya dihadapan ibu dan adik-adiknya. Benarkan?" Berliana bertanya, tanpa memandang ke arah ku. Aku akui benar, aku tidak memberikan bantahan apapun. Aku mendekat, semakin mengikis jarak antara kita, aroma rambut yang membuat candu, aku menenggelamkan kepalaku dicerekuk lehernya, menghirup aroma candu itu, "Maaf, jika selama ini aku tak memperdulikan perasaan kamu. Tapi mulai sekarang, aku akan lebih tegas lagi ke ibu dan adik-adikku. Ini terakhir kalinya.” "Aku enggak mau berantem sama kamu Mas. Tapi seengaknya kamu harus bisa pegang ucapan kamu, karena ibu dan adik-adik mu emang keterlaluan." "Maaf untuk apa yang sudah mereka perbuat. Aku tahu perkataan mereka tadi sangat melukai hati kamu—" "Sangat. Rasanya sakit sekali.” “Ayolah mas, ini bukan yang pertama kalinya. Bukan pertama kalinya aku dibilang mandul sama ibu dan adik-adik kamu. Ini juga bukan pertama kalinya mereka seperti ini ke aku.” "Iya, aku tahu. Tapi aku bisa menjanjikan kalau hal seperti tadi tidak akan terulang lagi. Dan jangan terlalu dibawa pikiran, anggap saja kejadian tadi tidak pernah ada." “Udahlah mas, masalah kita itu ada dianak. Ibu sama adik-adik kamu terus mempermasalahkan tentang anak dari awal pernikahan kita sampai sekarang ini. Aku bilang apa, ayo kita periksa ke dokter, ayo kita program kehamilan. Tapi kamu selalu nolak mas!” “Aku selalu bilang aku lagi program kehamilan, tapi apa? Itu enggak pernah terjadi, kamu enggak pernah mau mas!” Satu kecupan aku berikan tepat dibibir manisnya. Aku berharap amarahnya sedikit mereda. Ah, aku tergila-gila dengan ini. Berliana selalu bisa membuatku mabuk bertekuk lutut kepadanya. Aku mendekat lagi, kali ini aku menciumnya dan mendapatkan balasan yang sangat menggebu. Entah kapan terakhir kali kami berada dikondisi seperti ini. Aku lupa rasanya, tapi akan terus selalu ingat candunya. Matanya sayu, menatapku dengan lekat, seperti ada yang ingin dia ucapkan. “Sayang..” desisku saat dia mengikuti tempo permainan panas ini. Tapi saat aku terbawah nafsu dunia, tiba-tiba saja aku merasakan pasokan udara sekitar kian menipis. Ada yang harus aku keluarkan, tapi lidahku terlanjur keluh dan memilih untuk bungkam. Aku merasakan balasan ciuman yang lebih menggebu, menuntut dan seolah ikut melampiaskan sesuatu. "Apa kalau aku mandul juga, tidak akan kamu pikirkan?" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN