Menjalani rumah tangga tidak semuda yang Berliana kira. Awalnya dia masih memegang prinsip, yaitu menikah haruslah diatas 30 tahun, minimal dia sudah siap dengan semuanya. Namun siapa sangka jika dia malah jatuh cinta dengan salah satu pegawai di kantornya. Cinta yang sangat membutakan, sampai membuat kedua orang tuanya kecewa padanya.
Tapi, kesan pertama bertemu, Berliana memang sangat tertarik dengan Abiyan, dan terkesima dengan cara bicara pria itu yang terkesan tegas dan berwibawa meskipun hanya seorang staf administrasi. Semua yang ada pada diri Abiyan membuat Berliana tertarik, apalagi parasnya yang tampan menjadi nilai plus bagi Berliana.
Bagaikan terhipnotis, selain tampan, cakap dan berwawasan luas, Abiyan juga sangat kompeten dalam urusan pekerjaan. Apa sih yang tidak bisa Berliana dapatkan, disaat dirinya berada pada posisi tinggi yang mau apapun pasti akan terkabulkan. Termasuk berkencan dengan Abiyan.
Dan Yap!
Berliana mendapatkannya. Meskipun sempat ditolak berkali-kali, akhirnya pria itu luluh juga. Dan Berliana sukses mengambil hati Abiyan dan berakhir mereka menjalin asmara satu kantor. Jika ditanya kenapa Berliana tidak berpacaran sebelumnya, jawabannya karena dia tidak menemukan orang yang pas. Pas dalam artian pria yang Berliana suka, dan pria yang menarik perhatiannya.
Tapi bisa dibilang juga Berliana menginginkan pria yang pintar juga berjiwa pembisnis yang nantinya akan serasi jika disandingkan dengannya. Dan itu ada pada diri Abiyan, pria yang mampu menaklukan hatinya. Ya meskipun hanya sebatas staff kantor, jika dirinya sudah suka, maka lainnya bisa apa? Sebenarnya banyak juga pria yang dijodohkan dengannya yang lebih dari Abiyan. Tapi hati Berliana hanya tertuju pada pria itu, entah kenapa dia semakin jatuh cinta setiap menatap matanya.
Namanya juga cinta, membutakan mata dan hati.
Menjalin asmara dari yang awalnya pacaran, dan sampai ke tahap pernikahan tentu tidaklah mudah. Tapi ketika berada di fase menjalani rumah tangga, justru jauh lebih sulit dari yang Berliana pikirkan. Mungkin awal pernikahan mereka baik-baik saja, lebih tepatnya ‘better that now’ sampai menginjak usia pernikahan yang ke 4 tahun, semuanya mulai berubah. Seperti ada dinding penghalang antara Berliana dan Abiyan. Bahkan di usia pernikahan mereka yang hampir menginjak 10 tahun, rasanya tidak ada momen romantis antara mereka. Malah yang ada hanyalah ketegangan dan percekcokan.
Sebenarnya sebelum menikah dengan Abiyan, Fathan sudah menyiapkan rumah besar untuk ditempati oleh Berliana setelah acara pernikahan. Namun Berliana tidak bisa membantah ketika Abiyan akan membawa ibu beserta adik-adiknya tinggal di rumah yang sama. Meskipun Berliana keberatan, dia hanya bisa menyetujui saja dan ya—berujung membuat alasan ketika orang tuanya bertanya perihal keluarga Abiyan yang tinggal di rumah putrinya.
Dari awal memang ada rasa tidak suka yang ditunjukkan keluarga Abiyan padanya. Namun Berliana masa bodoh dengan itu, karena dia selalu berpikir bahwa ketika Abiyan berada di sampingannya dan selalu bersamanya, maka masalah restu dari keluarga Abiyan tidak begitu Berliana jadikan masalah. Pada dasarnya dia juga keras kepala, apa yang diinginkannya harus terpenuhi, termasuk menikah dengan Abiyan.
Bahkan Berliana rela berdebat panjang dengan orang tuanya. Dia merasa durhaka kepada Fathan dan Ariana, meskipun hanya orang tua angkat, keduanya sudah mengurus Berliana sejak kecil. Jadi ada rasa bersalah ketika memaksa orang tuanya merestui hubungannya dengan Abiyan, meskipun pada awalnya Fathan dan Ariana menentang.
Keluarga Abiyan sebenarnya cenderung ikut campur masalah rumah tangga mereka dan berakhir perdebatan yang mana Berliana selalu disuruh mengalah oleh sang suami. Apalagi ibu mertua dan adik-adik ipar Berliana, mereka selalu mengejek dan meremehkan. Tidak menyukai Berliana tanpa sebab, padahal sejak menikah dengan Abiyan, terhitung mulai dari biaya sekolah adik-adik Abiyan sampai lulus, pembelian rumah di desa serta biaya pembuatan ruko semuanya ditanggung dan diberikan Berliana tanpa pamrih.
Bisa dikatakan kehidupan mereka tersangkat derajatnya karena putranya menikah dengan Berliana.
"Ini udah yang kesekian kalinya adik-adik kamu kurang ajar sama aku! Aku ini kakak iparnya, apa enggak ada rasa hormat sedikitpun sama aku? Seenggaknya dia menghormati aku sebagai istri kamu, istri dari kakaknya!"
"Sayang, udah ya. Kita bicara baik-baik, kamu jangan teriak-teriak." ucapnya selembut mungkin. Mungkin dia tahu bahwa hati istrinya sedang tidak baik-baik saja. Jadi jangan sampai salah kata yang bisa membuat hatinya bertambah sakit.
"Apa? Kenapa heh? Kamu mau suruh aku mengalah lagi dan sabar lagi? Iya Mas? Hah, bosan aku dengarnya, muak Mas!"
"Setiap pertengkaran antara aku, ibu dan adik-adik kamu, kamu selalu suruh aku yang mengalah. Suruh sabar, suruh memaklumi mereka. Tapi apa pernah kamu suruh mereka untuk berhenti memojokkan aku dan menghargai ku?"
"Aku udah cukup bersabar selama ini Mas, emang dari dulu keluarga kamu gak suka kan sama aku? Makanya mereka sering cari gara-gara sama aku, terus aja cari-cari kesalahanku. Andai watak dan perilaku manusia bisa ditebak dalam sekali bertemu, mungkin aku akan pikir dua kali buat nikah sama kamu!"
Deg
Tidak pernah sekalipun kalimat semacam ini keluar dari mulut Berliana. Hampir 10 tahun pernikahan, meskipun sering dilanda masalah rumah tangga, tak sekalipun kalimat tersebut terlontar dengan jelas.
Abiyan yang mendengarnya langsung terpaku ditempat, jantungnya rasanya mau copot saat mendengarnya. Dia tahu kali ini keluarganya cukup kelewatan, tapi Abiyan rasa masalah tadi tak perlu sampai dijadikan bahan pertengkaran mereka malam ini.
Sejujurnya juga Abiyan sudah berulang kali mengingatkan ibu dan adik-adiknya untuk menghormati Berliana sebagai istrinya, menantu dan kakak ipar. Namun, nyatanya ucapan Abiyan hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri, mereka mendengarkan namun tidak diserap ke dalam otaknya. Jujur saja pria itu juga membenarkan ucapan Berliana, siapa juga yang tahan mempunyai mertua yang terus saja mencari-cari kesalahannya. Juga ipar yang terus saja mencari gara-gara dengannya.
"Sekarang, mau kamu nilai aku baik apa enggak itu urusan kamu. Yang penting, kamu harus ingat Mas, kalau ini adalah terakhir kalinya aku sabar sama tingkah laku mereka. Kalau nanti ibu sama adik-adik kamu buat ulah lagi, jangan salahkan aku kalau bertindak sesuatu yang mungkin enggak pernah kamu sangka sebelumnya."
"Mungkin kamu bisa beri mereka peringatan untuk yang terakhir kalinya. Untung-untungkan kalau di dengar sama mereka."
Belum sempat memberikan respon atas perkataan sang istri, ponsel di sakunya bergetar. “Sebentar ya, setelah ini kita lanjut pembicaraan kita.” ujar Abiyan, dia mengambil ponselnya dan melihat sang penelepon. Sial ekspresi wajahnya yang kaget jelas terlihat oleh Berliana.
Bukan panggilan suara, itu yang membuatnya gelagapan.
“Siapa?”
“Aku rasa itu sangat penting sampai bisa mendistrack kamu dan pembicaraan kita malam ini!” ujarnya pelan namun penuh dengan penekanan.
Abiyan menatap ponselnya, panggilan itu terputus, namun belum juga mengalihkan pandangan dari layar ponsel, panggilan itu masuk lagi.
“Kita bicarakan ini besok ya sayang. Lebih baik kamu istirahat, aku mau angkat telepon ini dulu. Ini dari orang kantor.”
***